• Tidak ada hasil yang ditemukan

JATIBENING BEKAS

SIMPULAN DAN SARAN 1 Simpulan

Berdasarkan analisis yang telah diungkapkan dalam penelitian ini, maka dapatlah ditarik simpulan sebagai berikut: a. Profil situasi kebahasaan pada masyarakat

tutur Jawa di daerah Jatibening ditandai dengan adanya kontak bahasa yang menjadikan masyarakat tutur Jawa di daerah Jatibening sebagai masyarakat yang bilingual. Data dari peristiwa tutur dalam berbagai ranah pada penelitian ini memperlihatkan bahwa kode yang berwujud bahasa yang dominan digunakan dalam komunikasi pada masyarakat tutur Jawa di daerah Jatibening terdiri atas beberapa kode. Kode tersebut berupa Bahasa Indonesia (BI), Bahasa Jawa (BJ), Bahasa daerah lain (BL), dan Bahasa asing (BA). Dengan

menggunakan komponen tutur dari Hymes (1972).

b. Peristiwa alih kode dan campur kode dalam masyarakat tutur Jawa di daerah Jatibening dapat dikategorikan dalam dua variasi bentuk, yaitu (1) alih kode dan campur kode dengan dasar BI; muncul variasi alih kode dengan pemilihan kode BJ dan BA yang berupa bahasa Arab dan bahasa Inggris. (2) alih kode dan campur kode dengan dasar BJ, muncul variasi alih kode dengan pemilihan kode BI dan BA yang berupa bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Faktor-faktor penentu alih kode pada penelitian pemilihan bahasa pada masyarakat Jawa di daerah Jatibening ini ditentukan berdasarkan jenis alih kode sesuai dengan pendapat Hudson (1996), yaitu Situational code-switching dan

Metaphorical code-switching. Pada situational code- switching perubahan bahasa terjadi karena adanya (1) perubahan situasi tutur, (2) kehadiran orang ketiga, (3) peralihan pokok pembicaraan. Di lain pihak, Metaphorical codeswitching perubahan bahasa terjadi karena penutur ingin menekankan apa yang diinginkannya sehingga akan mendapat perhatian dari pendengarnya. Sedangkan penentu campur kode pada penelitian ini terjadi karena dua faktor utama, yaitu keterbatasan penggunaan kode dan penggunaan istilah yang lebih populer.

2. Saran-saran

a. Penelitian ini masih perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lain yang serupa namun memiliki ruang lingkup yang lebih sempit, agar analisis yang dilakukan dapat mencapai hal yang lebih mendasar pada masalah pemilihan bahasa.

b. Dimungkinkan adanya fenomena diglosia pada masyarakat dwibahasa, terutama pada masyarakat tutur Jawa di daerah Jatibening Bekasi yang belum diungkap pada penelitian ini. Untuk itu, diperlukan penelitian lebih lanjut yang sangat bermakna dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Daerah.

c. Perlu diteliti lebih jauh tentang pemertahanan bahasa Daerah, khususnya

pemertahanan bahasa Jawa karena adanya kekhawatiran tentang pergeseran dan kepunahan bahasa,

DAFTAR PUSTAKA

Bogaerde, B. van den., and A.E Baker. 2006. “Code Mixing in Mother- Child Interaction in Deaf Families”. Sign Language and Linguistics.

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. Diindonesiakan oleh Sutikno. I. 1 9 9 5 . Jakarta: PT. Gramedia.

Chung, Haesook Han. 2006. “Code Switching as a Communicative Strategy: A Case Study of Korean-English Bilinguals” dalam

Bilingual Research Journal, 30:2

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Metode Linguistik. Ancangan Metode Penelitian dan Kajian.

Bandung: PT Refika Aditama.

Fasold, Ralph. 1984. The Sociolinguistics of Society. Oxford: Basil Blackwell.

Farb, Peter. “The Ecology of Language” dalam Istiati Soetomo. 1987. R e a d i n g i n Sociolinguistics. Semarang: Universitas Diponegoro.

Fishman, Joshua A. 1972. Sociolinguistics a Brief Introduction. Third p r i n t i n g . Massachusetts: Newbury House Publishers. Gunarwan, Asim. 2001. Pengantar Penelitian Sosiolinguistik. Jakarta: P r o y e k Penelitian Kebahasaan dan Kesastraan Departemen Pendidikan Nasional.

Holmes, Janet. t994. An Inrroduction to Sociolinguistics. London ond NewYork: Longmon.

Hornberger, Nancy H. and McKay, Sandra Lee. 2010. Sociolinguistics and Language Educa- tion.Techset Composition Ltd.: UK.

Hudson, Richard A. 1996. Sociolinguistics. Second edition. Cambridge: Cambridge University Press.

Hymes, Dell H. 1972. “The Ethnography of Speaking”, dalam Readings in the Sociology of Language, edited by Joshua A. Fishman. Paris: Mouton.

Mackey, William F. 1972. “The Description of Bilingualism”, dalam Readings in the Sociology of Language, edited by Joshua A. Fishman. Paris: Mouton.

Nawawi, Hadari. 1993. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: G a d j a h M a d a University Press.

Ngadimin. 2006. “Bahasa Jawa Siswa Keturunan Cina di SMA Negeri 3 Surakarta”. Program Pascasarjana UNS. Http://pasca.uns.ac.id.

Poedjosoedarmo, Soepomo. 1978. “Kode dan Alih Kode”. Dalam Widyaparwa 15. Yogyakarta: Balai Penelitian Bahasa.

Rahardi, R. Kumjana. 2001. Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Rokhman, Fathur. 2003. Pemilihan Bahasa pada Masyarakat Dwibahasa: K a j i a n Sosiolinguistik di Banyumas. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Suhardi, B dan B Cornelius Sembiring. 2005.

“Aspek Sosial Bahasa”, dalam Kushartanti,

Yuwono, Untung, Lauder, Multamia RMT.

Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. G r a m e d i a Pustaka Utama.

Soetomo, Istiati. 1985. Telaah Sosial-Budaya Terhadap Interverensi, Alih Kode, dan Tunggal Bahasa dalam Masyarakat Ganda Bahasa. Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia. Suwandi, AM. 2001. Pilihan Tindak Tutur dan

Kode dalam Wacana Pidato K e p a l a D e s a Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Tesis. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Trudgill, Peter. 1974. Sociolinguistic: An

Introduction. Middlesex: Penguin Books. Wardhaugh, Ronald. 1992. An Introduction to

Sociolinguistics. Cambridge: Blackwell. Weinreich, Uriel. 1970. Language in Contact:

Finding and Problems, The Hague: Mouton. Wray, Alison., Trott, Kate, Bloomer, Aileen.

PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi seperti sekarang bahasa Inggris (BI) memegang peranan penting dalam komunikasi internasional baik dalam bidang pembangunan, teknologi, ekonomi, maupun pendidikan. Sejalan dengan arus globalisasi, kebutuhan akan kemampuan berbahasa Inggris semakin terasa. Oleh sebab itu tidak mengherankan bahwa para ahli yang berkecimpung dalam dunia pendidikan merasa perlu memberikan pelajaran BI secara intensif dan berkesinambungan kepada para anak didik di sekolah bahkan sejak anak-anak masih pada masa pra sekolah, salah satunya adalah pada pendidikan anak usia dini (PAUD).

Fenomena ini antara lain terpacu oleh obsesi orang tua yang menghendaki anaknya cepat bisa berbahasa asing, khususnya BI. Mereka berpandangan, semakin dini anak belajar BI, semakin mudah ia menguasai bahasa itu. Anak akan cepat sekali menanggkap apa yang didengar dan dilihatnya, dan akan tertanam di bawah sadarnya. Pada saatnya nanti memori bawah sadar ini akan muncul kembali manakala ada pemicunya.

Juga terdapat asumsi bahwa belajar BI

untuk anak akan lebih mudah jika dibandingkan dengan orangtua. Kemungkinan bagi orang tua memerlukan waktu khusus untuk belajar BI, tapi bagi anak kebiasaan mendengarkan BI, tanpa disadari akan menjadi bekal pada saat dia besar nanti untuk memberi kemudahan dalam belajar BI. Pandangan ini didukung oleh pakar bahasa seperti McLaughlin dan Genesee, dan pakar nueurolig seperti Eric H. Lennenberg.

Upaya pengenalan BI pada PAUD banyak dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar (PBM) dalam bilingual. Agar memiliki kemampuan bilingual anak harus mendapatkan banyak masukan dan latihan melalui kegiatan dan mengucapkan dari kedua bahasa yang d i p e l a j a r i , d e n g a n s t r a t e g i y a n g mempertimbangkan kualitas dan kuantitas dalam mengenalkan bahasa yang akan dipelajari supaya dapat diperoleh hasil yang nyata dalam perkembangan bilingualisme (Baker, 2000).

Dengan melihat adanya beberapa penyelenggara PAUD yang telah melakukan pembelajaran secara bilingual dan adanya pendapat yang menyatakan bahwa bilingual bagi pembelajar dini merupakan masa emas

PERSEPSI ORANG TUA SISWA

TERHADAP PEMBELAJARAN BILINGUAL

Dokumen terkait