• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan

1. Diharapkan pembelajaran karya sastra, khususnya dalam hal apresiasi, tidak hanya ditekankan pada unsur intrinsiknya saja, tetapi juga ekstrinsik. Hal ini dikarenakan, kedua unsur tersebut saling berkaitan satu sama lainnya sehingga tidak dapat dipisahkan begitu saja.

2. Cerpen yang terdapat pada Buku Bahasa Indonesia untuk Kelas VII SMP/MTs merupakan cerpen yang menarik dengan bahasa yang mudah dimengerti peserta didik. Untuk itu, diharapkan bagi pendidik dapat menggunakan cerpen tersebut sebagai salah satu media pembelajaran sastra nantinya.

3. Pembelajaran nilai moral yang tertuang dalam cerpen pada Buku Bahasa Indonesia untuk Kelas VII SMP/MTs diharapkan dapat menjadi panutan terhadap perilaku peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari dengan mampu membedakan sikap yang baik dengan buruk dan patut ditiru ataupun tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: CV. Sinar Baru, 1987. Anik Widiyanti, “Penggunaan Model Teams Games Tournament dalam

Pembelajaran Nilai Moral Kumpulan Cerpen Orang-Orang Kotagede Karya Darwis Khudori Pada Siswa Kelas X Sman 15 Semarang Tahun Ajaran 2013/2014”, Skripsi pada Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, IKIP PGRI Semarang, 2013. tidak dipublikasikan.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rhineka Cipta, 2010.

Bertens, K. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Budiningsih, Asri. Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rhineka Cipta, 2008.

Diah Rahmawati, “Nilai Moral Pada Novel Faza Faizah Karya Itmam Luthfi”, Skripsi pada Jurusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, IKIP PGRI Semarang, 2011. tidak dipublikasikan.

Fenanie, Zaenuddin. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press, Cet.III2002.

Hayati, A. dan Masnur Muslich. Latihan Apresiasi Sastra. Surabaya: Triana Media, tanpa tahun.

Indrastuti, RR. Novi Kusuji dan Diah Erna Triningsih. Cakap Berbahasa Indonesia Untuk Kelas VII SMP/MTs. Jakarta: Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional. 2010.

Maryati dan Sutopo. Bahasa dan Sastra Indonesia 1 Untuk SMP dan MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008.

Minderop, Albertine. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.

Nani Frigiawati, “Analisis Nilai Moral dalam Novel Pada Sebuah Kapal Karya NH. Dini dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA/MA”, Skripsi pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah, 2013. tidak dipublikasikan.

Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2010.

Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Sayuti, A. Suminto. Cerita Rekaan. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007. Semi, M. Atar. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya, 1980.

Stanton, Robert. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Sudjiman, Panuti. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya, 1988.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

Wirajaya, Asep Yudha dan Sudarmawati. Berbahasa dan Bersastra Indonesia 1 Untuk Kelas VII SMP dan MTs. Jakarta: Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional. 2010.

Burhan Nurgiyantoro Teori Pengkajian Fiksi Gajah Mada University Press Yogyakarta, 1994.

C.Asri Budiningsih Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta Pembelajaran Moral PT Rineka Cipta 2008.

Kelas/Semester : VII/1 Pertemuan Ke- : 1-3

Alokasi Waktu : 6 × 40 menit

Standar Kompetensi : 7. Memahami isi berbagai teks bacaan sastra dengan membaca Kompetensi Dasar : 7.1. Menceritakan kembali cerita anak yang dibaca

I. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran ini, Peserta didik mampu

- menyebutkan hal-hal yang menarik dan tidak menarik disertai alasan; - menceritakan kembali isi cerita.

Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines) Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility ) Berani ( courage )

II. Materi Ajar

Teks cerpen

III. Metode Pembelajaran

Contoh Tanya jawab Latihan

IV. Langkah-Langkah Pembelajaran Pertemuan Pertama, Kedua dan ketiga A. Kegiatan Awal

Apersepsi :

- Menyampaikan pengantar awal tentang kegemaran membaca dan segala Motivasi :

- hal yang berkaitan dengan cerita terjemahan

B. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

mampu bercerita dengan urutan yang baik,suara,lafal, intonasi, gesture dan mimik yang tepat

melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan

bertindak tanpa rasa takut;

memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

Menanggapi cerita teman

Membaca cerita ”Ikan bagi Sang Guru”

Menyebutkan tokoh cerita disertai dengan bukti pendukung

Bertanya jawab tentang hal-hal menarik pada cerita

Mengidentifikasi peristiwa pada cerita

Mengerjakan latihan pada buku siswa Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,

memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,

memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;

membantu menyelesaikan masalah;

memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;

memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

C.Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;

melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

V. Sumber/Bahan/Alat

- Cerita dari majalah, surat kabar, buku kumpulan cerpen - VCD

- Narasumber

- Buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

VI. Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian Teknik Penilaian Bentuk Penilaian Instrumen Mampu menentukan pokok-pokok cerita anak yang dibaca

Mampu merangkai pokok-pokok cerita anak menjadi urutan cerita Mampu menceritakan

kembali cerita dengan bahasa sendiri secara lisan maupun tulis.

Penugasan individual/ kelompok Tes praktik/kin erja Proyek Uji petik kerja Tentukan pokok-pokok cerita anak yang kamu baca!

Rangkailah pokok-pokok cerita itu menjadi urutan cerita!

Ceritakanlah secara tertulis dan/atau lisan dengan bahasamu sendiri cerita anak yang kamu baca!

Bentuk tes: lisan

No Aspek Penilaian Bobot Nilai

1 Mengidentifikasi tema, latar, perwatakan, dan nilai dalam cerita anak terjemahan disertai bukti berupa kutipan cerita a. Semua benar (3)

b. Sebagian besar benar (2) c. Sebagian besar salah (1)

5

2 Mengapresiasi karya sastra 5 a. Baik (3)

b. Kurang baik (2) c. Tidak baik (1)

5

3 Membuat kalimat positif dan negatif a. Benar (3) b. Kurang benar (2) c. Tidak benar (1) 5 Keterangan Skor maksimum 3 (3 × 5) = 45

Nilai akhir : Skor yang diperoleh

X 100 Skor maksimak

MTs AL FALAH

Kelas/Semester : VII/2

Alokasi Waktu : 4 × 40 menit (2 kali pertemuan)

Standar Kompetensi : 14. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen Kompetensi Dasar : 14.2. Menjelaskan hubungan latar suatu cerpen (cerita pendek)

dengan realitas siswa I. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran ini, Peserta didik mampu

• menentukan pokok-pokok peristiwa dalam cerpen;

• menentukan latar peristiwa pada cerpen;

• menjelaskan hubungan cerpen dengan realitas sosial.

Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines) Rasa hormat dan perhatian ( respect ) Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility ) Berani ( courage )

Ketulusan ( Honesty )

II. Materi Ajar

Cerita pendek

III. Metode Pembelajaran

- Tanya jawab - Latihan - Contoh

IV. Langkah-Langkah Pembelajaran Pertemuan Pertama dan kedua :

A. Kegiatan Awal

Apersepsi

• Membuka kembali ingatan Peserta didik mengenai identifikasi latar dan penokohan

Motivasi :

• Meringkas cerita dari buku yang telah dibaca B. Kegiatan Inti

Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru:

mampu bercerita dengan urutan yang baik,suara,lafal, intonasi, gesture dan mimik yang tepat

melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;

menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain;

memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;

Dalam kegiatan elaborasi, guru:

memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;

memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;

Membaca cerpen ”Dia yang Tereliminasi”

Memberikan pendapat terhadap isi cerpen ”Dia yang Tereliminasi”

memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;

memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;

memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok;

memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;

memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

Konfirmasi

Dalam kegiatan konfirmasi, guru:

memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,

memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber,

memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan,

memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:

berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;

membantu menyelesaikan masalah;

memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;

memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

C. Kegiatan Akhir

Dalam kegiatan penutup, guru:

bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;

melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;

memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik;

VI. Penilaian Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian Teknik Penilaian Bentuk Penilaian Instrumen

Mampu mendata latar cerpen

Mampu mengaitkan latar cerpen dengan realitas sosial masa kini

Tes lisan Daftar pertanyaan

Bagaimanakah latar yang terdapat di dalam cerpen yang kamu dengarkan?

Bagaimanakah

keterkaitan antara latar yang terdapat di dalam cerpen yang kamu dengarkan dengan realitas kehidupan masa kini? Bentuk tes: lisan dan tertulis

No Aspek Penilaian Bobot Nilai

1 Meringkas peristiwa pada cerita pendek a. Benar semua (3)

b. Benar sebagian (2) c. Salah semua (1)

5

2 Menjelaskan latar suatu cerpen a. Tepat (3)

b. Kurang tepat (2) c. Tidak tepat (1)

5

3 Mengidentifikasi peristiwa dalam cerpen a. Tepat (3) b. Kurang tepat (2) c. Tidak tepat (1) 5 Keterangan Skor maksimum 3 (3 × 5) = 45

Nilai akhir : Skor yang diperoleh

X 100 Skor maksimak Mengetahui, Kepala Sekolah MTs AL FALAH Sanusi, S.Pd.I., MM NIP / NIK : ... Bogor, Juli 2012 Guru Mapel BHS. Indonesia

Maryati

1

sambil menikmati ketupat bekal dari rumahnya. Jika capek anak-anak tersebut bermain, berlompatan dan mandi sepuas-puasnya di lubuk Diwuamarni. Terkadang terdengar anak-anak gembala itu berpantun atau bernyanyi.

Hari itu panas menyengat, anak-anak telah lama bermain di dalam air melawan teriknya matahari. Tetapi satu di antara mereka itu ada yang masih duduk-duduk. Tidak mau mandi bersama teman-temannya yang lain. Di tangannya tergenggam sebatang seruling. Ditiupnya seruling itu. Setiap hari Mbawa bermain di sawah kering yang baru dibelinya. Pohon jamblang yang tumbuh di sudut timur tanah itu sangat menarik hati Mbawa yang rendah dan mudah dinaiki. Dari atas pohon itu Mbawa bisa melayangkan pandangan ke segala arah. Ke timur tampak kampung Jala danTeluk Bima, ke utara tampak semak panjang menyusuri parit pinggir Kawinda, ke barat terlihat kebun jagungnya sendiri, sedang ke selatan membentang Sobali dengan rumput hijaunya sepanjang waktu. Di situlah anak-anak gembala dari Daru, Pali Sambawa, dan Sondo menggembalakan kerbaunya setiap hari.

Terdengarlah alunan suara buluh perindu itu memecah kesunyian. Lagu-lagu klasik Bima dibawakannya dengan baik. Lancar sekali jari-jarinya menekan lubang yang berderet. Mbawa bangkit dari tempat duduknya pada dahan pohon jamblang. Diperhatikannya baik-baik dari mana suara itu datang.

”Dari seberang. Oh, itu dia orangnya,” katany asendirian. Mbawa menyeberangi sungai yang tidak begitu dalam. Ditujunya anak yang sedang meniup suling. Tetapi begitu anak itu melihat kedatangan Mbawa, ia segera berhenti meniup.

”Tiup, Bang,” kata Mbawa memanggil Abang pada Kawi. ”Trilili, lili, li . . .,” suara serulingnya.

”Di mana aku bisa mendapatkannya? Siapa yang membuatkannya?” tanya Mbawa kepada Kawi.

”Kalau engkau mau akan kubuatkan. Dirumahku tersedia buluh perindu seperti ini. Engkau mau ke rumahku sekarang?” tanya Kawi.

Tanpa pikir panjang Mbawa mengikuti ajakan Kawi. Sepanjang jalan ia berpikir tentang seruling yang akan diperolehnya dari Kawi. Mbawa menjuluk iKawi si baik hati.

Dipercepat langkahnya agar lekas tiba di rumah Kawi. Mereka memasuki sebuah kebun mangga yang teduh. Mereka menyusuri jalan yang tidak begitu lebar. Tampaklah sebuah kebun. Rumah panggung besar terletak di sisi kiri kebun itu. Dan pada tanah yang luas yang terletak di hadapan rumah itu terdapat deretan lubang-lubang. Teratur sekali lubang itu dibuat. Kawi mengambil sebatang seruling .Bagus sekali kelihatannya. Diukir dengan gambar ular yang membelit-belit. Senang sekali Mbawa memperoleh seruling itu.

”Coba kautiup, Mbawa,” kata Kawi.

”Li,li,li ….” Suara seruling itu tak menentu.

3

mereka bahagia dengan kehidupannya yang dijalani dengan indah. Aku pun mendapat kasih sayang yang penuh dari Bapak dan Ibu.Walau kami dulu tinggal di rumah kontrakan yang terbilang sangat sempit tapi kami bahagia. Sampai suatu saat pabrik garmen tempat Bapak dan Ibu bekerja gulung tikar dikarenakan krisis ekonomi dan kenaikan harga BBM yang memengaruhi kenaikan harga bahan baku dan penurunan penjualan.

“Bu, pabrik tempat kita bekerja tutup. Kita harus bagaimana, ya, Bu?”Aku ingat ucapan Bapak waktu itu, saataku masih duduk di bangku kelas 5 SD.

“Sabar Pak, kita co ba usaha saja,” jawab Ibu dengan penuh kesabaran. Ibu adalah seorang yang sabar dan penyayang terhadap aku dan adikk. Setelah tidak bekerja pada pabrik garmenter sebut, kehidupan kami mengalami penurunan yang drastis. Ibu mencoba berjualan lauk matang di rumah, dan Bapak mencoba menjadi pedagang kaki lima dan berjualan di depan perkantoran elit.Musibah yang datang tetap kami jalani sekeluarga dengan sabar, orang tuaku begitu ikhlas menjalani semuanya. Dan Bapak pernah berkata kepada kami sekeluarga,“Hidup itu berat, tetapi tetap harus dijalani seberat dan sesusah apa pun. Jangan mengeluhdan merepotkan orang lain.” Itulah prinsip Bapak. Aku salut kepada Bapak, walau dalam keadaan susah beliau tetap tegar sebagai tulang punggung keluarga.

Tetapi awan hitam masih menyelimuti keluarga kami. Ketika aku pulang sekolah aku melihat banyak orang berlari-lari di dekat rumah kontrakan kami sambil berteriak-teriak dan membawa ember untuk memadamkan api.

“Kebakaran... kebakaran ...,” begitulah orang-orang berteriak. Dan begitu pilu melihat rumah kontrakan kami habis dilalap si jago merah. Lalu aku pun panik mencari Ibu dan Bapak.

“Bang Roni, Ibu mana, Bapak kemana?”tanyaku. Aku pun menangis sekencang kencangnya melihat kejadian itu. Seorang yang kusapa Bang Roni, tetangga kami dalam rumah petak kontrakan kami, mengantarkan aku ke Ibu Kulihat Ibu sedang menangis sesenggukan di pojok mushola dan Bapak masih berusaha menyelamatkan barang berharga yang tertinggal di rumah kami, walau memang kami sebenarnya tidak memiliki apapun di rumah.

“Gusti Allah, mengapa Kau tidak berhenti memberi kami cobaan,” begitu ratap Ibu kala itu sambil menggendong adikku, Budi,dan dalam kondisi hamil 6 bulan. Begitu kulihat guratan kepedihan yang dialami Ibu.Setelah kebakaran padam, kami sekeluarga tidak mempunyai tempat tinggal lagi.

***

Karena tidak memiliki uang dan apapun, akhirnya kami dengan suatu pilihan berat, diajak oleh Pak Nainggolan, teman Bapak sewaktu berjualan di emperan, tinggal di bawah kolong jembatan.

“Ini rumah baru kita Ka, Bud,” terlihat Bapak dengan muka yang dibuat seolah Bapak bahagia dengan sesuatu yang dibilangnya rumah, walau hanya terdiri dari

tumpukan-4

hanya makan seadanya, alhamdulillah kami masih bisa makan tiga kali sehari, dengan porsi seadanya.

Kulihat Bapak tetap tegar menjalani harinya dan tetap menjalankan sholat lima waktu. Bapak selalu menggunakan baju koko kebesaran yang tersisa dari kebakaran rumah kami yang dulu.

“Bapak, kayaknya Ibu sudah mau melahirkan deh satu bulan lagi,” ucap Ibu waktu tengah malam. Saat aku pura-pura tidur dan mendengarkan percakapan Bapak dan Ibu.

“Iya, Bu, tapi melahirkan di mana? Bapak tidak punya uang untuk biaya melahirkan. Gimana, ya, Bu?” kulihat Bapak melamun di sana.

Sore itu sepulang mengamen dengan Budi, kulihat Bapak duduk diam di pojok rumah. “Sore, Pak, kok tidak narik, Pak?” tanyakupolos kepada Bapak.

“Becak Bapak disita oleh polisi, Katanya Bapak melanggar peraturan lalu lintas. Polisi mengatakan apa Bapak gak lihat ditiang depan sana ada gambar becak dilarang masuk area sini,” begitu kata Bapak tentangkejadian diambilnya becaknya.

Kulihat Bapak menangis di depan rumah kardus kami.Bapak mengepal tangannya sambil memukul tanah tanda kekesalannya. Kekesalantentang garis hidup dan kemiskinan yangmenimpa kami.

Dia berteriak, “Aku benci pada-Mu, ya, Allah. Tidak habis pikir aku, pekerjaanku, rumahku dan kini becakku Kau ambil semua. Kenapa, apa salahku, aku benci pada-Mu, ya, Allah!”. Ibu hanya diam, tidak ada sepatah kata, hanya tersenyum dan memeluk Bapak dari belakang, seakan berusaha menenangkan Bapak.

Sudah tiga bulan ini Bapak menganggur,dan sejak saat itu kerjaan Bapak cuma luntang-lantung tidak jelas. Ibu mencoba mencari nafkah kami dengan memulung, sedangkan aku dan adikku tetap mengamen. Saat aku mengamen di perempatan lampu merah, kulihat seseorang seperti Bapak melakukan pencopetan dan orang tersebut dikejar-kejar massa. Untungnya orang itu berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa.

Ketika di rumah aku bertanya kepada Bapak, “Pak, tadi aku lihat seorang pencopet dikejar massa. Kasihan orang itu, Pak. Kenapa dia mencopet, ya, Pak?”

Tidak seperti biasanya Bapak yang kukenal ramah membentakku, “Sudahlah, anak kecil tau apa, sih!” Kulihat Bapak memegangi sebuah luka di kakinya yang sama kulihat dengan pencopet yang kulihat sempat terjatuh di lampu merah tadi.

Pada awalnya Bapak tidak berterus terang kepada Ibu, aku, dan adikku. Tetapi lama-lama kami tahu bahwa Bapak telah bergabung dengan kelompok preman Bang Hasan Palembang, sebuah gang (kelompok) preman yang sering merampok, menodong,dan berbuat kekerasan lainnya.

Suatu hari Bapak menyerahkan uang kepada Ibu,“Ini uang dari mana, Pak?” tanya Ibu kepada Bapak.

5

“Itu masalah pilihan Met, aku terdesak waktu itu, nggak ada pilihan lain!” Bapak membela diri.

“Tapi tidak harus dengan membunuhnya, kan?”“Aku tidak menyangka kalau sabetanku mengantarnya meregang nyawa.”

“Bodoh, kamu! Hasil sabetanmu nyaris memutuskan lehernya, mana mungkin nggak mati.”

“Oke, ike, aku mengaku salah. Saya kirakita tidak usah memperpanjang masalah ini,oke.”Sahabat Bapak yang dipanggil Memetdiam.

Aku bercerita kepada Ibu tentang kejadiantadi bahwa Bapak menjadi preman.Tetapi Ibu diam, seakan tidak bisa berkatalagi.

“Sudahlah Ika, kalian sekolah saja Biarkan bapakmu mencari uang. Kita doakan saja bapakmu selamat,” ucap Ibu pasrah dengan penjelasanku tentang Bapak.

Aku sangat bersyukur karena aku bisa diterima sebagai karyawan di kelurahan walaupun aku menjadi pegawai rendahan dikelurahan. Dengan begitu, aku bisa sedikit mengangkat kehidupan keluargaku. Alhamdulillah, aku bisa mengontrak rumah untuk kami sekeluarga walau hanya sebuah rumah petak seperti rumah kontrakan kami yang kebakaran dulu. Memang itu tekadku semenjak dulu, yaitu mengangkat martabat keluarga, dan ibu sudah tidak aku perbolehkan memulung lagi. Kini Ibu mulai membuka usaha menjual makan di depan rumah kontrakan. Tetapi Bapak masih dengan kegiatannya menjadi preman jalanan, tetapi sudah tidak seberingas dulu lagi. Bapak hanya memegang lahan parkir, tidak ikut mencopet, menodong atau tindak kekerasan lagi. Dan kini bukanhanya ada aku dan Budi, aku

Dokumen terkait