Menurut para responden ahli yang tidak menyetujui rencana relokasi, lebih baik dilakukan mitigasi risiko terhadap kondisi pasar yang ada. Penilaian risiko yang dilakukan dalam penelitian ini yang telah berguna membantu menentukan pilihan-pilihan tindakan manajemen risiko aplikatif perlu diadopsi dengan diikuti sistem monitoring, pengawasan dan penegakan peraturan yang lebih baik. Perlu dibangun suatu sistem operasional pelaksanaan yang baik, perbaikan manajemen pasar, sistem surveilans yang kontiyu dan sensitif, serta sistem tanggap darurat terhadap suatu kejadian kasus. Selain itu, perbaikan dan penyediaan fasilitas biosekuriti perlu dilakukan secara bertahap diikuti sosialisasi kepada para pedagang dan seluruh komponen pasar untuk mendorong perubahan perilaku yang dapat mendukung usaha meminimalkan risiko pemasukan dan penyebaran penyakit AI.
4 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Identifikasi terhadap alur tapak risiko biologi menunjukkan hasil bahwa pemasukan burung kicauan ke PB Pramuka bersumber dari (1) tangkapan alam, (2) peternakan dan (3) negara lain (melalui proses importasi). Alur tapak risiko tersebut dikelompokkan berdasarkan enam kelompok unggas berisiko, yaitu (1) unggas air domestik, (2) unggas jenis ayam (ayam kampung, hias, atau hobi), (3) burung lahan basah (wetlands birds), (4) burung jenis perantara (brigdes species), (5) burung kicauan (singing birds), dan burung eksotis (exotic bird). Dalam alur pemasukan unggas tersebut terdapat titik-titik kritis yang perlu diperhatikan terkait dengan adanya praktik-praktik berisiko yang mendukung penyebaran virus AI, yaitu tempat penampungan unggas baik di tingkat penangkap maupun pengumpul, tempat atau area penjualan unggas, area peternakan, dan pintu pemasukan dan pengeluaran unggas antar wilayah. Secara umum, seluruh kelompok unggas dinilai penting untuk membawa risiko masuknya virus AI ke PB Pramuka terutama jika dilihat dari aspek kepekaan masing-masing spesies, sumber wilayah unggas yang merupakan wilayah endemis AI, tidak tersedianya dokumen kesehatan atau keterangan status AI, dan belum optimalnya penerapan biosekuriti sehingga diperlukan kewaspadaan yang tinggi. Kelompok unggas yang dinilai berperan paling penting untuk kemungkinan masuknya virus AI ke pasar adalah unggas air domestik dan unggas jenis ayam.
Nilai perkiraan risiko (risk estimation) pemasukan virus AI (H5N1) ke PB Pramuka melalui keenam kelompok unggas dari sumber tangkapan alam, peternakan, dan negara lain adalah sedang, dengan nilai ketidakpastian (uncertainty) sedang. Nilai estimasi risiko dalam kategori sedang berarti bahwa sebelum pemasukan komoditi diizinkan, diperlukan penilaian secara teliti terhadap tindakan atau usaha penurunan risiko yang meliputi kelayakan, efektifitas dan penerapan mekanisme verifikasi. Dari sisi manajemen risiko, nilai estimasi risiko dengan kategori sedang memerlukan upaya tindakan manajemen risiko untuk mencapai level risiko yang diharapkan atau dapat diterima
44
(appropriate level of protection – ALOP), yaitu level risiko “dapat diabaikan (negligible)”. Nilai ALOP ini ditetapkan berdasarkan sifat penyakit AI yang zoonosis dan risiko bahaya kematian yang ditimbulkan akibat AI. Dengan status penyakit AI yang masih bersifat endemis di Indonesia, sifat virus yang masih aktif bermutasi serta fakta tingginya pemasukan dan pengeluaran unggas di pasar, maka tindakan manajemen risiko yang aplikatif harus diterapkan pada setiap rantai pemasukan unggas ke pasar dan disertai dukungan penegakan peraturan dan komitmen berbagai pihak.
Saran
1. Perlu dilakukan penilaian risiko secara kuantitatif sebagai penelitian lanjutan. 2. Perlu dilakukan surveilans secara kontinyu terhadap keberadaan virus AI
(H5N1) pada berbagai jenis unggas di PB Pramuka.
3. Perlu dilakukan sosialisasi secara kontinyu kepada para peternak, penangkap, pengumpul, importir dan pedagang di pasar terkait informasi adanya potensi risiko terinfeksi dan peran penularan AI pada berbagai jenis unggas yang ada, serta pentingnya penerapan praktik biosekuriti yang aplikatif untuk mencegah masuknya virus AI (H5N1) dan penyebarannya di pasar.
4. Perlu dilakukan koordinasi, keterlibatan dan komitmen bersama antara pemerintah daerah, pengelola pasar dan dinas teknis bidang kesehatan hewan untuk penerapan tindakan-tindakan manajemen risiko melalui pembuatan aturan atau SOP, perbaikan fasilitas biosekuriti kios dan pasar, penerapan praktik biosekuriti yang aplikatif bagi para pelaku perdagangan, dan penegakan peraturan melalui sistem reward dan punishment.
45
DAFTAR PUSTAKA
Amonsin A, Choatrakol C, Lapkuntod J, Tantilertcharoen R, Thanawongnuwech R, Suradhat S, Suwannakarn K, Theamboonlers A, Poovorawan Y. 2008. Influenza virus (H5N1) in live bird markets and food markets, Thailand.
Emerg Infect Dis.14(11): 1739-1742.
Alexander DJ. 2007. An overview of the epidemiology of avian influenza.
Vaccine 25:5637-5644.
Basuni S, Setiyani G. 1989. Studi perdagangan burung di Pasar Pramuka Jakarta dan teknik penangkapan burung di alam. Media Konserv 2:9-18.
[BKHI] Balai Kesehatan Hewan dan Ikan, Dinas Kelautan dan Pertanian, Provinsi DKI Jakarta. 2011. Hasil surveilans avian influenza pada unggas di DKI Jakarta tahun 2006-2011. Jakarta (ID): Dinas Kelautan dan Pertanian, Provinsi DKI Jakarta.
Boyce WM, Androck C, Kreuder-Johnson C, Kelly T, Cardona C. 2009. Review avian influenza viruses in wild birds: a moving target. Comp Immunol Microbiol Infect Dis 32:275-286.
Brown JD, Stallknecht DE, Berghaus RD, Swayne DE. 2009. Infectious and lethal doses of H5N1 highly pathogenic avian influenza virus for house sparrows (Passer domesticus) and rock pigeons (Columbia livia). J Vet Diag Invest 21(4):437-445.
Cardona CJ, Xing Z, Sandrock CE, Davis CE. 2009. Avian influenza in birds and mamals. Comp Immunol Microbiol Infect Dis32:255-273.
[CIVAS] Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. 2008. Deteksi virus avian influenza dan menilai penerapan biosekuriti dan higiene sanitasi pada tempat penampungan ayam di kota Depok. Laporan akhir kegiatan penelitian bersama: Colorado State University, Dinas Pertanian Kota Depok, Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies. Bogor (ID): CIVAS.
[DAFF] Department of Agriculture, Fisheries and Forestry, Bureau of Rural Sciences. 2005. Review of methodology for consequence assessment. Damayanti R, Dharmayanti NLPI, Indriani R, Wiyono A, Adjid RMA. 2005.
Monitoring kasus penyakit avian influenza berdasarkan deteksi antigen virus subtipe H5N1 secara imunohistokimiawi. JITV 10:4.
Daniel S. 2011. Perdagangan reptilia sebagai binatang peliharaan di DKI Jakarta [skripsi]. Bogor: Departemen Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
[Deptan RI] Departemen Pertanian Republik Indonesia, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Produksi Peternakan. 2000. Manual Analisa Resiko Kesehatan Hewan. Jakarta (ID): Deptan RI.
Dharmayanti NLPI, Indriani R, Adjid RMA. 2006. Identifikasi virus avian influenza pada beberapa jenis unggas di Taman Margasatwa Ragunan dan upaya eradikasinya. Media Kedokt Hew 22 (2):79-83.
Dharmayanti NLPI, Indriani R. 2006. Deteksi virus avian influenza subtype H5 pada beberapa jenis burung di Jakarta dan Sukabumi. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, hal 723-727.
46
Elfidasari D, Soejoedono RD, Noor YR, Murtini S. 2011. Serosurveillance of avian influenza virus subtype H5N1 with haemaglutination-inhibition on wild aquatic birds in Pulau Dua Serang Natural Reserves, Banten Province.
Makara Sains 15(2):179-184.
[EFSA] European Food Safety Authority. 2006. Scientific report on migratory birds and their possible role in the spread of highly pathogenic avian influenza. Scientific report prepared by Pfeiffer DU et al. Annex to The EFSA Journal 357:1-46.
[FAO] Food and Agriculture Organisation of the United Nations. 2008. Burung liar dan flu burung: pengantar riset lapangan terapan dan teknik pengambilan sampel penyakit (Edisi Bahasa Indonesia). D. Whitworth, S. Newman, T. Mundkur, P. Harris. Jakarta (ID): Departemen Produksi dan Kesehatan Hewan FAO bekerjasama dengan Wetlands International Indonesia Program.
[FKH IPB dan Deptan RI] Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2005. Laporan akhir kajian seroepidemiologi penyakit avian influenza serta strategi penanggulangan dan pencegahannya di Sumatera dan Kalimantan. Bogor (ID): FKH IPB. [FKH UGM] Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. 2006.
Laporan kajian avian influenza di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta (ID): FKH UGM.
Halvorsen DA, Kelleher CJ, Senne DA. 1985. Epizootiology of avian influenza: effect os season on incidence in sentinel ducks and domestic turkeys in minnesota. Appl Environ Microbiol 49:914.
Hulse-Post DJ, Sturm-Ramirez KM, Humberd J, Seiler P, Govorkova EA, Krauss S, Scholtissek C, Puthavathana P, Buranathai C, Nguyen TD et al. 2005. Role of domestic ducks in the propagation and biological evolution of highly pathogenic H5N1 influenza viruses in Asia. Proc Natl Acad Sci USA
102: 10682-10687.
Iskandar S, Karlina E. 2004. Kajian pemanfaatan jenis burung air di pantai utara Indramayu, Jawa Barat. Buletin Plasma Nuftah 10(1):43-48.
[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Update kasus flu burung. [internet]. [diunduh 2012 Desember 10]. Tersedia pada: http://depkes.go.id.
Kung NY, Guan Y, Perkins NR, Bissett L, Ellis T, Sims L, Morris RS, Shortridge KF, Peiris JS. 2003. The impact of a monthly rest day on avian influenza virus isolation rates in retail markets in Hong Kong. Avian Dis 47:1037-1041.
Jamaksari H. 2011. Keanekaragaman Burung Pantai pada berbagai tipe habitat lahan basah di kawasaan Muara Ciamanuk, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Jatikusumah A, Basri C, Ramdhona D, Nugroho E. 2010. Hubungan tingkat pengetahuan peternak dengan infeksi virus avian influenza (AI) pada peternakan ayam aduan di Kecamatan Labuan, Banten. Prosiding Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional XI Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Jakarta (ID): Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, Jakarta.
47 Li KS, Guan Y, Wang J, Smith GJ, Xu KM, Duan L, Rahardjo AP, Puthavathana P, Buranathai C, Nguyen TD et al. 2004. Genesis of a highly pathogenic and potentially pandemic H5N1 influenza virus in eastern Asia. Nature
430:209-213.
Lupiani B, Reddy SM. 2009. Review the history of avian influenza. Comp Immunol Microb Infect Dis 32:311-323.
Metras R, Costrad S, Pfeiffer D. 2009. Overview of qualitative risk assessment for the introduction and spread of HPAI H5N1 Virus. A Collaborative Research Project Funded by Department for International Development on Controlling Avian Flu and Protecting People’s Livelihoods in Africa and Indonesia. HPAI Research Brief, No.8 – Year 2009.
Nidom C. 2012. Berperang melawan flu burung. [internet]. [diunduh pada 2012 Maret 16]. Tersedia pada: http://www.kompas.com.
Nijman V, Shepherd CR, Van Ballen S. 2009. Declaration of the javan hawk eagle Spizaetus bartelsi as Indonesia’s National Rare Animal impedes conservation of the species. Flora & Fauna International, Oryx 43(1):122-128.
Nguyen DC, Uyeki DC, Jadhao S, Maines T, Shaw M, Matsuoka Y, Smith C, Rowe T, Lu X, Hall H et al. 2004. Isolation and characterization of avian influenza viruses, including highly pathogenic H5N1 from poultry in live bird markets in Hanoi, Vietnam in 2001. J of Virol 79(7):4201-4212.
[OIE] Organization of Internationale Epizootica. 2009. Teresterial Animal Health Code. Paris: Organization of Internationale Epizootica.
[ProFauna] ProFauna Indonesia. 2004. Terbang tanpa sayap, bagian II. Laporan investigasi ProFauna Indonesia tentang penangkapan dan perdagangan burung paruh bengkok di Pulau Seram, Maluku Utara. Jakarta (ID): ProFauna Indonesia.
Prawiladilaga DM. 2010. Kajian potensi infeksi virus avian influenza pada burung liar dan burung yang diperdagangkan. [internet]. [diunduh 2012 Februari 14]. Tersedia pada: http://km.ristek.go.id.
Rotinsulu DA. 2012. Kajian keberadaan virus avian influenza pada unggas di Pasar Burung Pramuka Jakarta [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Spencer JL, Guan J, Brooks BW. 2007. Survival of avian influenza and other poultry viruses in the environment and during composting of carcasses – a review. Di dalam: Zhou J & Yan H, editor. The 15th World Veterinary Poultry Congress Abstract Book. Beijing 11-14 September 2007:14-19. Strum-Ramirez KM, Hulse-Post DJ, Govorkova EA, Humberd J, 2004.
Re-emerging H5N1 influenza viruses in Hong kong in 2002 are highly pathogenic to ducks. J Virol 78:4892-4901.
Sulandari S, Zein MSA, Astuti D, Sartika T. 2009. Genetic polymorphisms of the chicken antiviral Mx gen in a variety of Indonesian chicken breeds.
Jurnal Vet 10(2):50-56.
Susanti R. 2008. Analisis molekuler fragmen gen penyandi hemaglutinin virus avian influenza subtipe H5N1 dari unggas air [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
48
Suprayogi A, Satrija F. 2007. Keterkaitan karakter mikroklimat wilayah dengan kejadian penyakit zoonosis: flu burung dan anthraks. Seminar Regional dan Rapat Koordinasi Lokal KKR II Bogor.
Syafrison. 2011. Penilaian risiko kualitatif pemasukan virus avian influenza ke zona sekitar kompartemen di Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
[UPPAI] Unit Pengendalian Penyakit Avian Influenza. 2012. Update kasus avian influenza di Indonesia. [internet]. [diunduh 2012 September 21]. Tersedia pada: http://deptan.go.id
Yudianingtyas DW, Salman MD, Kim LM, Muflihanah, Saburo BK, Ratna, Supri. 2008. Evaluasi lapang dua AI rapid test kit komersial. [internet]. [diunduh 2012 Juni 20]. Tersedia pada http:
.
Wang M, Di B, Zhou DH, Zheng BJ, Jing H, Lin YP, Liu YF, Wu XW, Qin PZ, Wang YL et al. 2006. Food markets with live birds as source of avian influenza. Emerg Infect Dis 12(11): 1773-1775.
Wicaksono A. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik biosekuriti pedagang pada pasar burung di wilayah DKI Jakarta terkait avian influenza [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Widyastuti MDW, Setiyaningsih S, Sudarnika E, Basri C. 2010. Estimasi risiko penularan virus avian inluenza (H5N1) pada peternakan unggas skala rumah tangga yang menerapkan sistem mix farming. Prosiding Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional XI Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Jakarta (ID): Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.
Xue F, Peng D, Peng Y, Gu M, Qian Z, Zhang X, Liu X. 2007. Latent infection of avian influenza viruses in domestic ducks in Eastern China and the molecular genetic evolution of H5N1 influenza viruses. Di dalam: Zhou J & Yan H, editor. The 15th World Veterinary Poultry Congress Abstract Book. Beijing 11-14 September 2007:14-19.
Zepeda SC. 1998. Methodes d’Evaluation des Risques Zoosanitaries Iors des Echanges Internationaux. In Seminar on safeguarding animal health in trade in the Carribean, 9 Desember 1997, Port of Spain (Trinidad and Tobago). World Organisation for Animal Health, Paris.
49
LAMPIRAN
Lampiran 1 Kategori kualitatif pemasukan unggas ke pasar
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 1 Jumlah proporsi pedagang (%) ≤10 >10–40 >40–70 >70 2 Jumlah unggas yang dijual atau masuk
ke pasar per bulan (ekor)
≤100 >100–500 >500–1 000 >1 000
Lampiran 2 Kategori kualitatif kepadatan kandang dan kios
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Baik Sedang Buruk
1 Hewan dikandangkan individual √
2 Hewan dikandangkan berpasangan √ √
3 Hewan dikandangkan secara koloni, tidak tampak berdesak-desakan
√
4 Hewan dikandangkan secara koloni dalam jumlah banyak, berdesak-desakan dalam kandang
√
5 Kandang-kandang berjejer, bertumpuk √ √ √
Lampiran 3 Kategori kualitatif fasilitas pendukung biosekuriti di pasar
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Baik Sedang Buruk 1 Unit Pengolahan Limbah Padat dan atau cair
Ada √
Tidak ada √ √
2 Tempat sampah khusus pembuangan bangkai/feses
Ada √ √
Tidak ada √
3 Sumber air bersih
Ada √ √ √
Tidak ada √ √
4 Saluran air
Lancar √ √
Tidak lancar √
Lampiran 4 Kategori kualitatif intensitas kontak langsung unggas dengan unggas lain
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Rendah Sedang Tinggi
1 Unggas dikandangkan individual √
2 Unggas dikandangkan secara berpasangan / koloni dengan spesies yang sama
√ √
3 Unggas dikandangkan secara koloni dengan spesies yang berbeda
√
4 Unggas dilepasliarkan dan ada kemungkinan berkontak dengan unggas lainnya baik yang dikandangkan maupun yang diliarkan
50
Lampiran 5 Kategori kualitatif intensitas kontak langsung unggas dengan hewan lain
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Rendah Sedang Tinggi
1 Unggas dikandangkan individual √
2 Unggas dikandangkan bersama hewan lain selain unggas √
3 Unggas dilepasliarkan dan ada kemungkinan berkontak dengan hewan lainnya selain unggas baik yang dikandangkan maupun yang diliarkan
√
Lampiran 6 Kategori kualitatif intensitas kontak langsung unggas dengan manusia
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Rendah Sedang Tinggi
1 Unggas tidak pernah dipegang √
2 Unggas dipegang saat menunjukkan kepada pembeli dalam proses transaksi, penyortiran, pengambilan unggas dari pedagang di kios yang lain
√ √
3 Unggas dipegang saat memberikan pakan secara di loloh, dibersihkan bulunya, dimandikan
√
Lampiran 7 Intensitas kontak tidak langsung virus atau material yang diduga mengandung virus dengan unggas lain, hewan lain dan manusia
No. Penafsiran Kategori kualitatif
Rendah Sedang Tinggi 1 Praktik higiene personal pekerja (mandi setiap hari,
mencuci tangan setelah memegang unggas)
Baik √ √
Buruk √
2 Akses pedagang dari kios lain, pembeli, atau pedagang komoditi lainnya keluar atau masuk kios
Tidak ada √
Ada √ √
3 Foot dipping sebelum masuk kios
Ada √ √
Tidak ada √
4 Memakai kandang atau peralatan kios lain tanpa dicuci
Tidak √
Ya √ √
5 Pembuangan / penimbunan kotoran / feses / bangkai hewan / rontokan bulu di kios
Tidak ada √
Ada √ √
6 Transportasi kotoran / feses / bangkai hewan / rontokan bulu tanpa penanganan terlebih dahulu ke tempat penampungan di pasar melewati kios-kios lainnya
Tidak √
Ya √ √
Lampiran 8 Daftar istilah pengelompokan unggas yang diperdagangkan di Pasar Burung Pramuka Jakarta
No. Kelompok Unggas Ruang Lingkup
1 Unggas air domestik Spesies unggas air baik lokal maupun impor yang sudah didomestikasi.
2 Unggas jenis ayam (ayam kampung, hias, atau hobi)
Spesies unggas jenis ayam selain ayam pedaging (broiler) atau petelur (layer) dan spesies ayam lain yang sering digunakan untuk aduan, kontes atau dipelihara karena keindahan suara atau bentuk tampilan tubuhnya.
51 Lampiran 8 Daftar istilah pengelompokan unggas yang diperdagangkan di Pasar Burung Pramuka Jakarta (lanjutan)
No. Kelompok Unggas Ruang Lingkup
3 Burung lahan basah (wetlands birds)
Spesies burung yang mengandalkan habitat air tawar atau pesisir pantai yang secara berkala dipenuhi atau tertutup oleh air. Habitat lahan basah dibedakan berdasarkan keberadaan substrat, kadar garam, frekuensi genangan dan vegetasinya yang menentukan keberadaan spesies burung tertentu. Contoh habitat lahan basah adalah
teluk/danau, kolam, sungai, rawa yang secara musiman tergenang air, tanah berlumpur atau habitat yang sudah dialihfungsikan oleh manusia tetapi secara kontinyu atau dalam waktu tertentu tertutup air (misalnya penampungan air, kolam mina-padi, persawahan).
4 Burung jenis perantara (brigdes species)
Spesies burung yang tidak mempunyai ketergantungan terhadap habitat lahan basah dan mempunyai toleransi yang tinggi untuk beradaptasi dengan habitat-habitat yang telah diubah oleh manusia dikarenakan kepentingannya untuk memanfaatkan sumber makanan sisa manusia.
5 Burung kicauan (singing birds)
Spesies burung yang dijual karena dikagumi suaranya atau kecantikan bulu dan posturnya, baik yang berasal dari wilayah Indonesia maupun dari luar negeri melalui proses importasi.
6 Burung eksotis (exotic birds)
Spesies burung tertentu yang dipelihara karena kepandaiannya dan mudah dilatih, postur tubuhnya yang besar dan cantik, serta keberadaannya yang cukup sulit ditemukan karena populasinya yang semakin sedikit di alam.