BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini beberapa temuan pokok, yakni sebagai berikut:
1. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka berdasarkan harga konstan selama periode tahun 2004-2010 secara rata-rata 6,76 % per tahun. dengan kontribusi terbesar bersumber dari sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor pertambangan penggalian.
2. Pertumbuhan ekonomi utamanya pada sektor jasa, meliputi: perdagangan, hotel, restoran/rumah makan, pengangkutan, komunikasi, listrik, keuangan, persewaan, jasa keuangan, dan jasa lainnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dari sektor industri dan pertambangan berpengaruh positif terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Kolaka.
3. Pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian dan jumlah penduduk berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat ketimpangan distribusi pendapatan penduduk yang bekerja di sektor pertanian yang mengakibatkan daya beli rendah, sehingga kurang mendorong peningkatan pendapatan asli daerah.
4. Kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) terhadap pendapatan daerah selama periode tahun 2001-2010 secara rata-rata sebesar 5,71 % per tahun dan untuk tahun 2010 kontribusi pendapatan asli daerah terhadap pendapatan daerah sebesar 10,26 %. Hal ini disebabkan oleh penerimaan pendapatan asli daerah yang bersumber dari sumbangan pihak ketiga sangat besar.
5. Secara rata-rata selama periode tahun 2001-2010 kemampuan/daya pajak daerah relatif rendah jika dihubungkan dengan Produk Domestik Regional Bruto. Sedangkan daya retribusi daerah jika dihubungkan dengan Produk Domestik Regional Bruto juga masih relatif rendah, namun mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan bahwa manajemen pengelolaan penerimaan retribusi daerah mengalami peningkatan.
6. Secara rata-rata selama periode tahun 2001-2010 realisasi penerimaan pajak daerah mencapai 94,15 % per tahun (efektif) dari target penerimaan pajak daerah. Bigitu pula realisasi penerimaan retribusi daerah mencapai 99,10 % per tahun (efektif) dari target penerimaan retribusi daerah. Sedangkan realisasi penerimaan laba BUMD hanya mencapai 57,43 % per tahun (tidak efektif) dari target penerimaan laba BUMD dan realisasi penerimaan lain-lain PAD yang syah hanya mencapai 55,63 % per tahun (tidak efektif).
7. Secara rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka sebesar 4,76 % per tahun, maka diharapkan elastisitas pertambahan penerimaan pajak daerah meningkat 8,90 % per tahun. Jika dihitung
setelah berpisah dengan Kabupaten Kolaka Utara sejak tahun 2004, rata-rata pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka sebesar 6,76 % per tahun, maka diharapkan elastisitas pertambahan penerimaan pajak daerah sebesar 12,64 % per tahun dan elastisitas pertambahan penerimaan retribusi daerah sebesar 12,91 % per tahun.
8. Tingkat efektifitas realisasi penerimaan pajak hotel, secara rata-rata selama periode tahun 2004-2010 hanya mencapai 58, 26 % (tidak efektif). Hal ini disebabkan:
a. Penetapan target penerimaan kurang memperhitungkan potensi pajak hotel dan restoran
b. Fungsi pengawasan pada dinas terkait kurang dilaksanakan dengan baik.
9. Tingkat efektifitas realisasi penerimaan pajak reklame secara rata-rata selama periode tahun 2004-2010 mencapai 122,22 % (tidak efektif). Hal ini disebabkan oleh penetapan target penerimaan kurang memperhi-tungkan potensi yang sesungguhnya.
10. Tingkat efektifitas realisasi penerimaan pajak penerangan jalan secara rata-rata selama periode tahun 2004-2010 mencapai 100,98 % (efektif). Hal ini menunjukkan bahwa selama ini pengelolaan pajak penerangan jalan telah sesuai potensi dan realisasinya.
11. Tingkat efektifitas realisasi penerimaan pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian golongan C (pajak mineral bukan logam dan batuan) secara rata-rata selama periode tahun 2004-2010 mencapai
97,79 %. (efektif), namun demikian penetapan target penerimaan belum sesuai dengan potensi yang sebenarnya.
12. Realisasi penerimaan bagi hasil pajak yang bersumber dari BPHTB tahun 2010 sebesar Rp 7.611.461.765,- atau 204,21 % dari target sebesar Rp 3.727.202.465,-. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah memberi kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mengatur BPHTB sebagai PAD Kabupaten Kolaka yang mulai berlaku 1 januari tahun 2011. Dengan demikian dana bagi hasil pajak yang bersumber dari BPHTB mulai januari tahun 2011 sudah tidak ada.
Jika memperhatikan tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kolaka selama tahun 2004-2010 secara rata-rata 6,67 % per tahun dan tingkat inflasi 7,63 % per tahun, serta aksesibilitas panjang jalan yang semakin baik, maka nilai jual obyek tanah semakin tinggi. Ini mengindikasikan bahwa potensi penerimaan BPHTB sebagai penerimaan PAD akan semakin prospektif di masa datang.
13. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin mendirikan bangunan Rp 1.199.630.542,14 dengan tingkat efektifitas sebesar 131,82 % (tidak efektif) per tahun dari rata-rata target Rp 910.052.000,00 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat potensi retribusi IMB. Belum tergalinya potensi retribusi IMB antara lain disebabkan oleh umumnya yang membayar retribusi IMB adalah badan atau perorangan di wilayah perkotaan, sedangkan di wilayah Kecamatan dan Pedesaan belum membayar retribusi IMB.
14. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi pemakaian kekayaan daerah Rp 418.228.313,86 per tahun dengan tingkat efektifitas 62,21 % per tahun (tidak efektif) dari rata-rata target penerimaan retribusi pemakaian kekayaan daerah Rp 672.257.142,86 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan retribusi pemakaian kekayaan daerah. Belum optimalnya penerimaan retribusi kekayaan daerah antara lain disebabkan:
a. Potensi penerimaan retribusi kekayaan daerah yang terkait dengan Dinas PU belum belum menghitung secara cermat. Hal ini ditunjukkan oleh penentuan target penerimaan beberapa tahun terakhir hanya sebesar Rp 100 juta.
b. Realisasi penerimaan retribusi kekayaan daerah yang terkait dengan Dinas Perhubungan sangat tidak mencapai target.
15. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi pelayanan pasar sebesar Rp 287.085.454,71 per tahun dengan tingkat efektifitas 78,05 % per tahun (tidak efektif) dari rata-rata target penerimaan retribusi pelayanan pasar Rp 367.842.386,28 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada potensi penerimaan retribusi pelayanan pasar, melalui:
a. Perubahan besarnya tarif retribusi pasar.
Berdasarkan pertimbangan (1) rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,67 % per tahun, (2) rata-rata tingkat inflasi 7,63 % per tahun, maka selayaknya struktur tarif retribusi pelayanan pasar menyesuaikan dengan pertimbangan tersebut. Di samping itu besaran tarif Rp 800,-, biasanya membayar dengan uang Rp 1.000,- sehingga
petugas retribusi pasar sulit mengembalikan uang logam Rp 200,-. serta besaran tarif Rp 500,- sangat kecil nilainya.
b. Berdasarkan penelitian terhadap 25 responden pengguna pasar, 80 % menyatakan tidak keberatan jika besaran tarif dinaikkan sepanjang mutu pelayanan juga ditingkatkan.
16. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin usaha perkebunan sebesar Rp 338.387.355,86 per tahun dengan tingkat efektifitas 80,23 % per tahun (tidak efektif) dari rata-rata target penerimaan Rp 421.788.342,86 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat potensi untuk meningkatkan penerimaan retribusi izin usaha kehutanan, melalui pembuatan database untuk menghitung estimasi target penerimaan retribusi izin usaha kehutanan.
17. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi terminal Rp 181.699.571,43 per tahun dengan tingkat efektifitas 78,66 % per tahun (tidak efektif) dari rata-rata target Rp 231.005.714,29 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan retribusi terminal belum optimal dan masih terdapat potensi penerimaan untuk meningkatkan penerimaan retribusi terminal. Belum tercapainya target antara lain:
a. Karcis retribusi terminal tidak dapat digunakan sebagai alat pengendali penerimaan retribusi, karena jumlah penerimaan tidak dapat dikaitkan dengan jumlah karcis retribusi yang keluar.
b. Kurang berfungsinya pengawasan atasan langsung atas pelaksanaan pungutan retribusi terminal.
c. Jika memperhatikan laju pertumbuhan ekonomi 6,67 % per tahun, pendapatan per kapita Rp 20.099.232,00 tahun 2009, dan laju inflasi 7,63 % per tahun di Kabupaten Kolaka, maka besaran struktur tarif terminal sudah termasuk rendah/kecil.
18. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin industri dan perdagangan Rp 168.996.167,14 per tahun dengan tingkat efektifitas 126,81 % per tahun (tidak efektif) dari rata-rata target penerimaan retribusi izin industri dan perdagangan Rp 133.271.428,57 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat potensi untuk meningkatkan retribusi izin industri dan perdagangan. Belum tergalinya potensi retribusi izin industri dan perdagangan, antara lain disebabkan:
a. Pengelola retribusi ini belum memanfaatkan data perkembangan jumlah industri dan perdagangan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan target penerimaan, karena data menunjukkan jumlah industri dan perdagangan dari tahun ke tahun meningkat, sedangkan target penerimaan retribusi izin industri dan perdagangan tidak mengalami peningkatan khususnya pada tiga tahun terakhir.
.b. Pengelola retribusi belum melakukan fungsi pengawasan terhadap pendirian industri dan perdagangan di wilayah Kabupaten Kolaka. 19. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin usaha perikanan dan kelautan
Rp 28.194.017,86 per tahun dengan tingkat efektifitas 115,41 % per tahun dari rata-rata target retribusi izin usaha perikanan dan kelautan. Hal ini menunjukan bahwa masih ada potensi penerimaan yang belum digali selama ini. Belum tergalinya potensi, disebabkan oleh belum
memanfaatkan database tentang jumlah usaha perikanan dan kelautan di Kabupaten Kolaka.
20. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin laik menyeberang kendaraan bermotor dalam wilayah Kabupaten Kolaka sebesar Rp 115.616.928,57 per tahun dengan tingkat efektifitas 93,42 % per tahun dari rata-rata target penerimaan sebesar Rp 123.764.285,71 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada potensi penerimaan yang belum dioptimalkan baik dari sisi target penerimaan maupun dari sisi realisasi. Potensi penerimaan yang belum optimal disebabkan karena:
a. Sesuai data statistik menunjukkan jumlah kendaraan bermotor yang menyeberang baik dari Bajoe ke Kolaka atau sebaliknya dari Kolaka ke Bajoe dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sedangkan target penerimaan retribusi ini pada dua tahun terakhir tidak mengalami perubahan.
b. Sesuai wawancara terhadap pemilik kendaraan bermotor tidak keberatan jika dinaikkan besaran retribusi sebesar Rp 5.000,- setiap jenis kendaraan bermotor.
21. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi penggunaan jalan bongkar muat Rp 77.850.000,00 per tahun dengan tingkat efektifitas hanya mencapai 34,11 % per tahun (tidak efektif) dari rata-rata target retribusi sebesar Rp 228.257.142,86 per tahun. Ini menunjukkan bahwa potensi penerimaan sangat besar, tetapi belum digali secara optimal.
22. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin gangguan / keramaian Rp 141.689.000,- per tahun dengan tingkat efektifitas 122,90 % per tahun
(tidak efektif) dari target Rp 115.285.714,28 per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa masih ada potensi penerimaan retribusi zin gangguan yang belum dioptimalkan. Hal ini disebabkan:
a. Fungsi dan pengawasan penerimaan retribusi izin gangguan relatif belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.
b. Penentuan target penerimaan belum sesuai dengan potensi yang ada. Sesuai data statistik menunjukkan jenis usaha konstruksi dan usaha non konstruksi, antara lain: toko, kios, warung, rumah makan, dan gudang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Artinya target penerimaan seharusnya mengalami peningkatan.
23. Rata-rata realisasi penerimaan retribusi izin trayek sebesar Rp 66.536.785,71 per tahun dengan tingkat efektifitas 103,00 % per tahun dari rata-rata target penerimaan sebesar Rp 64.592.875,71 per tahun. Namun demikian potensi penerimaan masih dapat ditingkatkan jika memperhatikan data statistik bahwa jumlah angkutan darat dari berbagai golongan mengalami peningkatan, artinya target penerimaan dari tahun ke tahun dapat ditingkatkan. Demikian pula besaran tarif retribusi dari berbagai golongan angkutan umum dapat ditingkatkan, jika memperhatikan tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, mobilitas penduduk, dan pendapatan per kapita Kabupaten Kolaka.
24. Jenis penerimaan baru Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kolaka yang bersumber dari retribusi jasa umum dengan berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi. Potensi penerimaan
retribusi pengendalian menara telekomunikasi di Kabupaten Kolaka cukup prospektif, karena disamping potensi retribusi pengendalian menara telekomunikasi juga akan memperoleh potensi penerimaan retribusi izin gangguan dan retribusi izin IMB Menara.
25. Rata-rata realisasi penerimaan pembagian deviden BPD sebesar Rp 1.940.128.017,33 per tahun dengan tingkat efektifitas secara 67,50 % per tahun (tidak efektif) dari target sebesar Rp 2.874.231.834,28. Rendahnya tingkat efektifitas realisasi penerimaan pembagian deviden BPD disebabkan oleh deviden sangat tergantung pada laporan keuangan BPD setiap tahun. Jika keuntungan yang diperoleh BPD besar, maka deviden Kabupaten Kolaka juga besar, sebaliknya jika keuntungan BPD kecil, maka deviden Kabupaten Kolaka kecil.
26. Rata-rata realisasi penerimaan jasa giro sebesar Rp 1.303.071.512,17 per tahun dengan tingkat efektifitas 149,90 % per tahun (tidak efektif) dari target sebesar Rp 869.285.714,28. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat potensi penerimaan yang perlu dioptimalkan melalui penetapan target secara cermat.
27. Rata-rata realisasi penerimaan sewa kontrak los pasar sebesar Rp 327.608.083,57 per tahun dengan tingkat efektifitas 92,40 % per tahun (kurang efektif) dari target penerimaan Rp 354.553.714,28 per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa potensi penerimaan sewa kontrak los pasar masih dapat ditingkatkan.
28. Kontribusi sumbangan pihak ketiga terhadap Pendapatan Asli Daerah untuk tahun 2010 mencapai 33,12 %. Hal ini menunjukkan bahwa potensi
penerimaan sumbangan pihak ketiga dalam menunjang peningkatan PAD sangat dominan, namun tahun sebelumnya penerimaan sumbangan pihak ketiga relatif kecil.