BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan 1. Simpulan Umum 1.Simpulan Umum
Kemampuan keberaksaraan pada tunaaksara dewasa dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang disajikan dengan menggunakan model pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal. Simpulan ini berdasarkan bukti hasil uji efektivitas model yang menunjukkan adanya perbedaan kompetensi keberaksaraan pada warga belajar antara sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal.
Perbedaan tersebut merupakan efek dari model pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal yang diterapkan, di mana efek model memberikan dampak positif kepada warga belajar. Simpulan ini juga diperkuat dengan hasil uji coba pada kelas kontrol yang menghasilkan nilai pascauji yang lebih rendah dibanding kelas eksperimen.
Hasil penelitian ini menguatkan beberapa penelitian terdahulu yang terkait, di antaranya yang dilakukan oleh Benson (2005) dan Ramdhani (2008) yang menyebutkan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal-dalam kasus ini bahasa ibu—dalam pembelajaran mampu memperbaiki kondisi pembelajaran.
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
a. Kabupaten Cirebon memiliki kekayaan budaya lokal masyarakat pesisir yang dapat digunakan sebagai pendekatan dan muatan pembelajaran. Hal ini ditandai dengan tingginya profesi sebagai nelayan, buruh nelayan, pedagang hasil laut, dan secara umum berpendapatan relatif rendah. Diketahui sebanyak 668 KK atau 39% berprofesi sebagai nelayan, sebanyak 504 KK atau 29% sebagai buruh nelayan, dan 416 KK atau 24% bekerja sebagai pedagang/wiraswasta. Terkait daya beli, terdapat 17% (305 KK) dengan pendapatan di bawah Rp 1 juta (yang merupakan upah minimum provinsi tahun 2013). Sebagai masyarakat pesisir, warga Desa Gebang Mekar memiliki kekayaan budaya yang bisa dimanfaatkan sebagai muatan pembelajaran. Beberapa sistem kebudayaan yang bisa dimanfaatkan, misalnya: pengetahuan tentang musim, angin, pengetahuan jenis ikan, cara menangkap ikan, alat tangkap dan cara memperbaikinya, perahu dan cara memperbaikinya, serta kuliner kelautan (seperti membuat ikan asin atau ikan asap). Beberapa kesenian khas dan kegiatan budaya tahunan juga bisa dijadikan sebagai bahan ajar, seperti: kesenian burok, tarling, topeng, dan wayang. Pada bulan-bulan tertentu mereka mengadakan ritual sedekah laut (nadran) dan barikan. Biasanya mereka mempersembahkan kepala kerbau untuk dilarung ke laut. Di sisi lain, warga Gebang Mekar masih memiliki keterbatasan dalam penggunaan bahasa Indonesia sehingga memerlukan media pembelajaran dengan bahasa pengantar bahasa ibu (mother tongue). Bahasa yang biasa digunakan oleh warga Desa Gebang Mekar dalam kegiatan sehari-hari adalah bahasa Jawa logat khas daerah Cirebon, atau biasa disebut bahasa Cerbon.
b. Situasi keberaksaraan di Jawa Barat tahun 2012 masih sangat memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan masih terdapatnya 3,52% (1.072.160
271
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
jiwa) penduduk usia 15 tahun ke atas, dari jumlah penduduk 30.459.084 jiwa usia tersebut, yang masih tunaaksara murni. Dari jumlah tersebut di antaranya tersebar di Kabupaten Cirebon sebanyak 88.550 jiwa. Dalam hal indeks pembangunan manusia (IPM), Kabupaten Cirebon memperoleh IPM 69,27 yang berarti masih berada di bawah rata-rata IPM Jawa Barat (72,73) dengan selisih 3,36 poin. Di Desa Gebang Mekar Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon, sampai tahun 2013 masih terdapat 288 tunaaksara dari sebanyak 5.757 penduduk, atau sekitar 5% dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut tersebar di enam RW dengan jumlah paling banyak berada di RW 1 sebanyak 137 dan paling sedikit di RW 5 dengan jumlah 5 orang saja. Jika diperhatikan, kaum perempuan nampak lebih banyak menyandang tunaaksara dibanding kaum laki-laki, yaitu sejumlah 173 perempuan tunaaksara dan sisanya sebanyak 115 orang adalah kaum pria.Setelah pengembangan dan uji coba model ini dilakukan telah tertuntaskan sebanyak 21 (dua puluh satu) orang warga belajar tunaaksara, sehingga sisa tunaaksara di Desa Gebang Mekar pada tahun 2014 sejumlah 267 jiwa.
c. Model pembelajaran akan berhasil jika mulai perencanaan sampai evaluasi programnya didasarkan atas pendekatan budaya lokal. Karenanya, rancangan model yang dikembangkan mengacu pada kondisi sosial budaya warga belajar yang secara ekonomi miskin, sebagiannya merupakan tunaaksara murni atau parsial, rendah tingkat penguasaan Bahasa Indonesia, dan tinggal di lingkungan yang memiliki kekayaan budaya masyarakat pesisir yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran.
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Setelah melalui proses penelitian dan pengembangan yang dilakukan, master model pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal untuk program penuntasan tunaaksara dasar ini memiliki aspek-aspek sebagai berikut.
1) Syntax (Struktur Pembelajaran)
Struktur pembelajaran dalam model ini memiliki enam tahapan, yaitu: Tahap pertama, pengondisian, warga belajar dikondisikan membangun skemata sesuai wacana. Tahap kedua, penyajian wacana budaya, tutor menyajikan wacana dalam satu aspek budaya, sedangkan warga belajar diarahkan untuk mengungkapkan aspek budaya yang menjadi topik wacana. Tahap ketiga, penciptaan makna budaya, tutor memfasilitasi warga belajar menggali pengetahuan budaya dari warga belajar, merumuskan tanggapan dari permasalahan, dan memfasilitasi penciptaan makna budaya. Adapun warga belajar difasilitasi untuk mengungkapkan pengalaman berbudaya, mengungkapkan makna budaya sesuai dengan topik, dan mengungkapkan permasalahan budaya. Tahap keempat, pembimbingan belajar keberaksaraan, warga belajar dibimbing dalam belajar calistung berorientasi budaya lokal, yaitu warga belajar difasilitasi untuk mengungkapkan aspek budaya yang menjadi topik, membaca dan atau menuliskan materi ajar, dan menyimak dan atau membicarakan materi ajar, serta melakukan kegiatan berhitung sesuai dengan materi ajar. Adapun tutor secara bersamaan melakukan kegiatan menggabungkan wacana budaya dengan belajar keberaksaraan, menerapkan pendekatan pembelajaran orang dewasa, dan melakukan pembimbingan individual dan kelompok. Tahap kelima, evaluasi, tutor bertanya pada masing-masing individu dengan minimal dua pertanyaan sesuai dengan topik. Adapun kegiatan yang dilakukan warga belajar adalah menjawab pertanyaan yang diajukan, dan menyimak jawaban dan komentar
273
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
warga belajar lainnya. Tahap keenam, penghargaan, tutor menuliskan poin bagi jawaban warga belajar yang benar, dan mengumumkan perolehan poin sementara. Adapun warga belajar melakukan kegiatan bertanya jika belum memahami, dan mengumpulkan hasil belajarnya kepada tutor (jika dibutuhkan).
2) Sistem Sosial
Aspek sistem sosial meliputi terciptanya hubungan yang kondusif antara; a) tutor dengan warga belajar, dan b) warga belajar dengan warga belajar dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
3) Peran Tutor
Setidaknya terdapat tiga peran utama yang harus dilakukan seorang tutor dalam pembelajaran model ini, di antara peran strategis tutor dalam pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal adalah sebagai berikut: a) perencana pembelajaran, b) pelaksana (pengelolaan) pembelajaran, dan 3) penilai dan pemberi balikan.
4) Sistem Pendukung
Sistem pendukung merupakan seperangkat aspek yang dapat mendukung suksesnya model pembelajaran ini diterapkan, yaitu; a) kelompok sasaran yang sesuai dengan kriteria, b) metode pembelajaran dengan pendekatan andragogi dan partisipatif, c) kurikulum pembelajaran berorientasi budaya lokal, d) bahan ajar harus sesuai dengan konteks lokal (fungsional), e) media pembelajaran yang tepat, f) waktu pembelajaran selama 114 jam pelajaran dengan @60 per pertemuan, g) sarana dan prasarana pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, dan h) evaluasi pembelajaran dilakukan dengan (1) evaluasi pra-pembelajaran, (2) evaluasi proses pembelajaran, dan (3) evaluasi akhir pembelajaran.
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 5) Dampak Instruksional dan Pengiring
Ada dua dampak penerapan model ini, yaitu a) Dampak Instruksional, yang merupakan dampak langsung pembelajaran, yaitu perolehan (1) kompetensi keberaksaraan, dan (2) kompetensi berbahasa Indonesia, dan b) Dampak Pengiring, yang merupakan dampak tak langsung proses pembelajaran, yaitu: (1) keterampilan vokasional tertentu, (2) pemberdayaan diri, (3) penguatan budaya lokal, dan (4) penguasaan dan pemanfaatan TIK.
d. Pengembangan model pembelajaran akan efektif jika pendekatan pembelajarannya didasarkan pada kesesuaian dan keberpihakan kepada budaya lokal dan kebutuhan warga belajar sebagai sasaran program. Simpulan ini mengacu pada hasil uji coba model pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal yang dikembangkan peneliti terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi keberaksaraan, kompetensi berbahasa Indonesia, juga berdampak efektif terhadap penguasaan vokasional tertentu, penguatan budaya lokal, pemberdayaan diri, dan penguasaan dan pemanfaatan TIK. Hasil uji coba yang diukur dengan uji statistik menunjukkan ada perubahan tingkat penguasaan kecakapan keberaksaraan dari belum menguasai menjadi terampil.
B. Saran-Saran
Saran yang disampaikan berdasarkan temuan dan simpulan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Saran untuk Penyelenggara Program Keberaksaraan
a. Tata urutan dan prosedur pembelajaran harus dilakukan secara benar. Hal ini berarti penerapan model pembelajaran keberaksaraan berorientasi budaya lokal yang dikembangkan melalui penelitian ini, penting untuk
275
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
memperhatikan prasyarat dan prosedur implementasi program. Dengan demikian, efektivitas program yang diharapkan penyelenggara program dapat tercapai.
b. Belajar bukan hanya proses pengembangan kompetensi, tetapi juga persinggungan budaya. Karenanya, penerapan model pembelajaran ini perlu menggali dan memanfaatkan budaya setempat sebagai bagian dari sumber daya pembelajaran. Penggunaan bahasa ibu sebagai pengantar awal atau bahasa campuran dapat menjadi jembatan untuk pembelajaran keberaksaraan, sekaligus juga sebagai jembatan dalam penguasaan bahasa nasional.
c. Tutor memiliki peran sentral dalam pembelajaran wajib memahami dengan benar struktur pembelajaran (syntax) yang ada dalam model ini. Enam fase pembelajaran yang mesti dilakukan oleh tutor harus dilakukan secara berurutan. Enam fase tersebut merupakan induk atau inti dari seluruh model ini.
2. Saran untuk Lembaga Pembina Program Keberaksaraan
a. Keberadaan material learning dalam suatu proses pembelajaran menjadi sangat penting. Karenanya, untuk mendukung keberhasilan penerapan model pembelajaran ini perlu dikembangkan panduan, juknis, kurikulum, bahan ajar, media, dan alat evaluasi pembelajaran keberaksaraan dasar berbasis budaya lokal. Keberadaan aspek-aspek pendukung pembelajaran yang sudah siap pakai akan sangat membantu penyelenggara program di lapangan yang ingin menerapkan program keberaksaraan dasar berorientasi budaya lokal.
b. Pembiayaan pembelajaran harus menyesuaikan dengan program yang dijalankan. Hal ini mengingat pada fase keenam (pemberian penghargaan) dalam struktur pembelajaran di antaranya dilakukan dengan pemberian point
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang nantinya di akhir pembelajaran ditukar dengan sembilan bahan pokok (sembako). Artinya, perlu ada komponen dana khusus dalam pembiayaan program keberaksaraan model ini untuk dialokasikan sebagai pemberian penghargaan sebagai ragi belajar, atau penarik minat warga belajar dalam mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilakukan sampai tuntas.
c. Dalam proses pembelajaran keberaksaraan dasar yang berorientasi budaya lokal pendekatan fasilitasi jauh lebih efektif untuk diterapkan dalam mengembangkan kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Oleh karena itu, disarankan menggunakan pendekatan partisipatif dalam proses pembelajaran sehingga diperlukan tutor yang memiliki kemampuan memotivasi dan mengayomi warga belajar untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
3. Saran untuk Penelitian Lebih Lanjut
a. Mengingat model ini baru diujicobakan dalam latar masyarakat pesisir (aquakultural), diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan model serupa pada setting masyarakat pertanian (agrikultural) dan masyarakat di kota industrial. Perbedaan latar masyarakat itu dengan sendirinya akan melahirkan perbedaan jenis budaya lokal yang dapat dimanfaatkan dan pendekatan pembelajaran yang dilakukan.
b. Pada fase pemberian penghargaan perlu ada model khusus bagaimana bentuk-bentuk penghargaan yang dapat diberikan dalam penerapan model pembelajaran ini. Sistem poin dan pemberian sembako perlu diberikan metode atau rumus khusus dan atau membuat sistem penghargaan lain yang lebih menarik.
277
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
c. Penelitian ini belum mengkaji secara mendalam bagaimana kemampuan warga belajar dalam mengembangkan keterampilan vokasionalnya menjadi kegiatan usaha. Misalnya, ketika keterampilan vokasional yang dipilih adalah membuat baso ikan, apakah keterampilan tersebut mampu dikembangkan menjadi usaha bersama atau mandiri pascaprogram atau hanya menjadi kegiatan sesaat saja.
d. Model yang dikembangkan adalah model dalam setting pendidikan nonformal, perlu dikaji penerapan dan efektivitasnya pada program pendidikan formal dan atau informal. Perbedaan jalur pendidikan diperkirakan akan melahirkan perbedaan dalam pendekatan, metodologi, media, dan sistem pendukung pembelajaran lainnya.
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, I. (1995). Metodologi pembelajaran orang dewasa. Bandung: Andira.
Arif, Z. (1986). Penyelenggaraan program kejar paket A dalam hubungannya dengan respon petani di beberapa desa di Kabupaten Pamekasan Madura. Disertasi Doktor pada PPS IKIP Bandung: tidak diterbitkan. Archer, D. dan Cottingham, S. (1996). Reflect mother manual: A new approach
to adult literacy. London: Actionaid.
Badan Pusat Statistik. (2013). Kecamatan Gebang dalam angka tahun 2013. Cirebon: BPS Kabupaten Cirebon
Badan Pusat Statistik. (2013). Pembangunan manusia berbasis gender. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Barton, D. & Hamilton, M. (eds.) (1998). Reading and writing in one community. London: Routledge.
Baynham, M. (1990). “Adult literacy in the UK: Current issues in research and
practice.” Prospect 5:27–38.
Baynham, M. (1995). Literacy practices. London: Longman.
Benson, C. (2005a). Girls, educational equity, and mother tongue-based teaching. Bangkok: UNESCO
Benson, C. (2005b). Mother tongue-based teaching and education for girl Bangkok: UNESCO.
Bhola, H.S. (1984). Literacy in theori and practice. Cambridge University Press.
Bhola, H. S. (1990a). “Literature on adult literacy: New directions in the 1980s.”
Comparative Education Review 34: 139–144.
Bhola, H. S. (1990b). Evaluating “literacy for development” projects, programs and campaigns. Hamburg, Germany: UNESCO Institute for Education and German Foundation for International Development.
277
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Bingman, M. B., O. Ebert, B. Bell. 2000. Outcaomes of participation in adult basic education: The importance of learners perspectives. Cambridge: NCSALL.
Bloome D. & Green, J.L. (1992). “Educational contexts of literacy”. Annual Reviewof Applied Linguistics 12, 49–70.
Boelaars, Y. (1984). Kepribadian Indonesia modern. Jakarta: Gramedia.
Borg, W. R. & Gall, M. D. (1983). Educational research: An introduction (4thEdition), New York: Longman.
Brookfield, S.D. (1986). Understanding and facilitating adult learning. San Francisco: Jossey-Bass Publishers.
Coombs, P. & Manzoor, A. (1984). Memerangi kemiskinsn di pedesaan melalui pendidikan nonformal. Jakarta: Rajawali.
Coombs, P. (1985). The world crisis in education. New York: Oxford University Press.
Creswell, J.C. (1994). Research design qualitative & quantitative approaches. London: Sage Publications.
Faisal, S. (2001). Curricula of literacy program: Paper presented in the session of international workshop of ISESCO on literacy. Malang: STAIN Malang. Freire, P. (1984). Pendidikan sebagai praktik pembebasan. Jakarta: Gramedia.
Freire, P. (2000). Pendidikan kaum tertindas. Jakarta: LP3ES.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. New York, NY: Seabury Press.
Gee, J. (1990). Social linguistics and literacies (2nd edition 1996). London: Falmer Press.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books 2000 paperback: ISBN 0-465-09719-7
Gillespie, S. (1998). Major issue in the control of iron deficiency, micronutrient initiative, UNICEF.
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Ginkel, R. V. (2007). Coastal cultures: An anthropology of fishing and whaling traditions. Apeldoorn: Het Spinhuis Publisher.
Giroux, T.H. (1983). Theory and resistance in education: A pedagogy for the opposition. Bergin and Garvey.
Gunn, S. J. (1991). “Review of literature.” In James J. Cumming and Anne Morris
(editors), Working smarter. Canberra, ACT: Commonwealth of Australia.
Grant, A. N. (1986). “Defining literacy: Common myths and alternative readings.”
Australian Review of Applied Linguistics 9:1–22.
Heath, S. (1983). Ways with words: Language, life, and work in communities and classrooms. Cambridge: Cambridge University Press.
Jones, K. (2000) Becoming just another alphanumeric code: Farmers’ encounters
with the literacy and discourse practices of agricultural bureaucracy at the livestock auction. In D. Barton, M. Hamilton and R. Ivanic (eds) Situated Literacies: Reading and writing in context (pp. 70–90). London: Routledge.
Joyce, B., Weil, M. & Calhoun, E. 2009. Models of teaching: Model-model pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keesing, F.M. & R.M. Keesing (1971). New perspectives in cultural anthropology. Chicago: Holt, Rineheart, and Winston.
Knowles, M.S. et. Al. (1984). Andragogy in action: Applying modern principles of adult education. San Francisco: Jossey-Bass.
Kulick, D. & Stroud, C. (1993) Conceptions and uses of literacy in Papua New Guinean village in B. Street (ed) Cross cultural approaches to literacy, Cambridge: Cambridge University Press.
Kusnadi. (2005). Pendidikan keaksaraan: Filosofi, strategi, dan implementasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Kusnadi. (2010). “Kebudayaan masyarakat nelayan”. Makalah disampaikan dalam kegiatan JELAJAH BUDAYA TAHUN 2010, dengan tema “Ekspresi Budaya Masyarakat Nelayan di Pantai Utara Jawa”, yang Diselenggarakan
279
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, Kementeian Kebudayaan dan Pariwisata, di Yogyakarta, tanggal 12-15 Juli 2010.
Marrifield, J. (1998). Contested ground: Performance accountability in adult basic education. Cambridge: NCSALL.
Miles, M B. & Huberman, A.M (1984). Qualitative data analysis: A source-book of new methods. Baverly Hills, CA: Sage Publications Inc.
Napitupulu, W.P. (1999). “Pengembangan dan pelembagaan pendidikan luar
sekolah (PLS) dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”. Makalah seminar
sehari pengembangan PLS memasuki milenium ketiga dalam rangka peringatan HAI ke-34 tahun 1999. Jakarta: Crown-Dikmas.
Olson, D. R. & Torrance, N. (2001).”Conceptualising Literacy as a Personal Skill and as a Social Practice”. In: D. R. Olson and N. Torrance (eds.) 2001. The making of literate societies. Massachusetts, Oxford: Blackwell Publishing. Pp. 3 – 18.
Pemerintah Kabupaten Cirebon. 2102. Profil Kecamatan Gebang Tahun 2012. Cirebon: Kantor Camat gebang.
Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Kemdikbud.
Prinsloo, M. & M. Breier. (1996). The social uses of literacy: Theory and practice in contemporary South Africa. Amsterdam: John Benjamins.
Ramdhani, A. dkk. (2008). Pembelajaran keaksaraan melalui bahasa ibu bagi masyarakat adat Baduy. Bandung: BP-PLSP Regional II Bandung.
Ramdhani, A. dkk. (2010). Model pendidikan keaksaraan berwawasan budaya masyarakat nelayan. Bandung: P2-PNFI Regional I Bandung.
Scribner, S. & Cole, M. (1981). The psychology of literacy. London: Harvard University Press.
Spradley, J.P. (1980). Participant observation. New York: Hilt, Reneihart, and Wiston.
Spradley, J.P (1979). The ethnographic interview. New York: Holt, Renehart and Winston.
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Spradley, J. P. (1972). Culture and cognition: Rules, maps, and plans. London: Interplex Publishing.
Srinivasan, L (1977). Perspektif on nonformal adult learning: Functional education for individual, community, and national development. New York: World Education.
Street, B. V. (1984). Literacy in theory and practice. Cambridge: The Cambridge University Press.
Street, B. V. (2001). Literacy and development: Ethnographic perspectives, London: Routledge.
Sudjana, D. (2001). Pendidikan luar sekolah: Wawasan, sejarah perkembangan, falsafah, teori pendukung azas. Bandung: Falah Production.
Sudjana, D. (2000). Manajemen program pendidikan: untuk oendidikan luar sekolah dan pengembangan sumber daya manusia. Bandung: Falah Production.
Sukmadinata, N.S. (2005). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Rosda.
Szwed, J. F. (1982). “The ethnography of literacy.” In Marcia F. Whiteman
(editor), Variation in writing: Functional and linguistic-cultural differences. Writing: The nature, development, and teaching of written communication. Series 1. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
UNDP. (1990). Human development report 1990. New York: Oxford University Press.
UNESCO. (1989). APPEAL training material for literacy personnel (ALTP). Bangkok, Thailand: UNESCO-Principal Regional Office for Asia and the Pacific.
UNESCO. (2006). Education for all global monitoring report 2006. Paris: UNESCO.
Verhoeven, L. (1994a). Functional literacy: Theoretical issues and educational implications. Amsterdam: John Benjamins.
281
Kuswara, 2014
Pengembangan Model Pembelajaran Keberaksaraan Berorientasi Budaya Lokal Untuk Menuntaskan Tunaaksara Dewasa Pada Masyarakat Pesisir Di Kabupaten Cirebon
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Verhoeven, L. (1994b). “Modeling and promoting functional literacy,” In Ludo
Verhoeven (editor), Functional literacy: Theoretical issues and educational implications. Amsterdam: John Benjamins.