Pada awal 1990-an, berkembang instrumen yang didesain langsung pada pengendalian sumberdaya alam, yaitu berupa penentuan suatu kawasan menjadi kawasan konservasi. Lima prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah: 1) Proses ekologis seharusnya dapat dikontrol; 2) Tujuan dan sasaran hendaknya dibuat dari sistem pemahaman ekologi; 3) Ancaman luar hendaknya dapat diminimalkan dan manfaat dari luar dapat dimaksimalkan; 4) Proses evolusi hendaknya dapat dipertahankan; 5) Pengelolaan hendaknya bersifat adaptif dan meminimalkan kerusakan SDA dan lingkungan (Yulianda 2006).
Kebijakan adalah aturan umum bagaimana status keputusan dibuat berdasar pada informasi yang tersedia. Setiap kebijakan memiliki empat komponen, yaitu kondisi saat ini (aktual) dan yang diinginkan, kecepatan tanggapan dan tindakan perbaikan (Forrester dalam Lyneis 1980). Kecepatan tanggap dalam studi ini menggunakan matrik yang terdiri dari tiga pilihan pengaturan parameter, yaitu agresif, moderat dan lambat (Lyneis 1980). Skenario kebijakan pada kajian ini dalam rentangan waktu (time horizon) dua puluh tahun kedepan (tahun 2010-2030). Rentangan waktu 20 tahun dianggap mewakili kondisi bila diasumsikan hutan mangrove mulai tumbuh dengan baik dari saat mulai ditanam dan dapat menjadi habitat bagi biota lain.
Simulasi skenario kebijakan pemanfaatan akan dilakukan melalui 2 tahap, yaitu analisis skenario dasar dan analisis perilaku dinamik. Analisis skenario dasar
(base case scenario) menguraikan perilaku sistem pada tahun mendatang (tahun 2009-2029) dipengaruhi oleh unjuk kerja parameter dengan sensitif tinggi, yaitu luasan mangrove dan pendapatan dari Scylla serrata. Parameter lainnya yang memiliki sensitif sedang dan rendah diasumsikan tidak mengalami perubahan dari tahun 2009.
Analisis perilaku dinamik memungkinkan bagi pengguna model untuk merubah nilai parameter. Meskipun analisis base case scenario run penting sebagai cerminan dari kondisi aktual di lapangan, namun pengambilan keputusan dalam pengelolaan Scylla serrata pada tahun-tahun yang akan datang perlu meramalkan kondisi mendatang berdasarkan cerminan kondisi aktual tersebut.
Perubahan nilai parameter dibagi kedalam tiga skenario, yaitu skenario agresif (optimis), moderat dan lambat (pesimis). Ketiga skenario secara berturut- turut pemodel sebut dengan scenario run 1 (SR1), scenario run 2 (SR2) dan scenario run 3 (SR3). Skenario pengelolaan disusun berdasarkan perubahan nilai parameter yang dilakukan secara apriori oleh peneliti dalam proyeksi 20 tahun mendatang.
Keberlanjutan pengelolaan mangrove melalui optimasi pemanfaatan sumberdaya kepiting bakau Scylla serrata, selanjutnya akan dianalisis secara statistik multivariate dengan pendekatan Multidimensional Scaling (MDS). Analisis multidimensi menurut Bengen (2000) merupakan analisis data yang menggambarkan karakter-karakter kuantitatif dan kualitatif suatu/sekumpulan individu yang disusun berdasarkan suatu orde dan tidak dapat dilakukan operasi aljabar sehingga cenderung lebih dekat pada statistik deskriptif dari pada statistik inferensial.
Analisis keberlanjutan pengelolaan sylvofishery kepiting bakau ini ditujukan untuk mengetahui kemungkinan keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi mangrove melalui pemanfaatan sylvofishery kepiting bakau. Keberlanjutan pengelolaan sylvofishery kepiting bakau di kawasan mangrove TNK dianalisis menggunakan metode Rap-CRASYMAN (Rapid Assesment Techniques for Crab Sylvofishery Management). Metode Rap-CRASYMAN merupakan modifikasi dari metode RAPFISH (Rapid Assessment Techniques for Fisheries) yang dikembangkan oleh Fisheries Center, University of British
Columbia, Kanada, untuk menilai status keberlanjutan perikanan tangkap. Hasil analisis ini dinyatakan dalam bentuk Indeks Keberlanjutan Pengelolaan Sylvofishery Kepiting Bakau.
Analisis keberlanjutan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
(1) Penentuan atribut pengelolaan berkelanjutan sylvofishery kepiting bakau yang meliputi empat dimensi, yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dan dimensi hukum-kelembagaan.
(2) penilaian (skoring) setiap atribut dalam skala ordinal berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi. Mengacu pada teknik RAPFISH, maka skor yang diberikan berupa nilai “buruk” (bad) yang mencerminkan kondisi pengelolaan yang paling tidak menguntungkan, dan juga berupa nilai “baik” (good) yang mencerminkan kondisi pengelolaan yang paling menguntungkan. Diantara dua nilai yang ekstrim ini terdapat satu atau lebih nilai antara. Mengacu pada pendekatan yang digunakan oleh Good et al. dan Heershman et al. dalam Laapo (2010), maka jumlah peringkat yang diberikan secara konsisten pada setiap atribut yang dievaluasi sebanyak 3 (tiga) yakni nilai buruk diberi skor 0 (nol), nilai antara diberi skor 1 (satu) dan nilai baik diberi skor 2 (dua).
(3) Penyusunan indeks dan status keberlanjutan pengelolaan sylvofishery kepiting bakau. Penilaian status keberlanjutan berdasarkan indeks setiap dimensi dikategorikan menurut Kavanagh (1999) sebagai berikut:
- nilai indeks 0-24.99 % (kategori tidak berkelanjutan) - nilai indeks 25-49.99 % (kategori kurang berkelanjutan) - nilai indeks 50-74.99 % (kategori cukup berkelanjutan) dan - nilai indeks 75-100 % (kategori berkelanjutan).
Melalui metode MDS, maka posisi titik keberlanjutan dapat divisualisasikan melalui sumbu horisontal dan sumbu vertikal dengan proses rotasi. Posisi titik dapat divisualisasikan pada sumbu horisontal dengan nilai indeks keberlanjutan diberi nilai skor 0% (buruk) dan 100% (baik). Jika sistem yang dikaji mempunyai nilai indeks keberlanjutan lebih besar atau sama dengan 50%, maka sistem dikatakan berkelanjutan (sustainable). Sistem tidak akan berkelanjutan jika nilai indeks kurang dari 50%.
(4) Analisis sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat atribut apa yang paling sensitif memberikan kontribusi terhadap indeks keberlanjutan pengelolaan sylvofishery kepiting bakau. Peran masing-masing atribut terhadap nilai indeks dianalisis dengan “attribute leveraging”, sehingga terlihat perubahan ordinasi apabila atribut tertentu dihilangkan dari analisis. Peran (pengaruh) setiap atribut dilihat dalam bentuk perubahan Root Mean Square (RMS) ordinasi khususnya pada sumbu-x. Atribut-atribut yang memiliki tingkat kepentingan (sensitivitas) tinggi dari hasil analisis ini, dianggap sebagai faktor pengungkit, yang apabila dilakukan perbaikan pada atribut tersebut maka akan berpengaruh besar dalam mengungkit nilai indeks keberlanjutan menjadi lebih baik. Perbaikan terhadap atribut sensitif, yang merupakan faktor pengungkit tersebut, akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun rekomendasi dalam pengelolaan sumberdaya Scylla serrata di kawasan mangrove TNK.
4.1 Sejarah Kawasan TNK
Kawasan TNK pada awalnya berstatus sebagai Hutan Persediaan dengan luas 2 000 000 ha berdasarkan Surat Keputusan (SK) Pemerintah Belanda (GB) Nomor: 3843/AZ/1934, yang kemudian oleh Pemerintah Kerajaan Kutai ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa Kutai melalui SK (ZB) Nomor: 80/22- ZB/1936 dengan luas 306 000 ha (TNK 2005).
Sejak keberadaannya, TNK tidak pernah lepas dari konflik kepentingan. Berdasarkan data yang ada, dalam kurun waktu 63 tahun terakhir terhitung sejak tahun 1934 sampai tahun 1997 kawasan ini terus mengalami pengurangan luas secara drastis seperti tersaji dalam Tabel 4.
Tabel 4 Sejarah status kawasan Taman Nasional Kutai. Institusi Keputusan Status Luas
(ha) Keterangan Pemerintah Hindia Belanda SK (GB) No. 3843/Z/1934 Hutan Persediaan 2 000 000 Pemerintah Kerajaan Kutai SK (ZB) No. 80/22-B/1936 Suaka Margasatwa
306 000 Ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa Menteri Pertanian SK No. 110/UN/ 1957, tanggal 14 Juni 1957 Suaka Margasatwa Kutai 306 000 Menteri Pertanian SK No. 30/Kpts/ Um/6/1971, tanggal 23 Juli 1971 Suaka Margasatwa Kutai 200 000 Dilepas 106 000 ha, 60 000 ha yang masih asli untuk HPH PT kayu Mas dan sisanya untuk perluasan Industri pupuk dan gas alam. 100 000 ha yang dikelola oleh HPH pada tahun 1969 kemudian dikembalikan ke SMK Menteri Pertanian SK No. 736/ Mentan/X/ 1982 Taman Nasional Kutai
200 000 Dideklarasikan pada Kongres Taman Nasional III Sedunia di Bali sebagai satu dari 11 calon TN Menteri Kehutanan SK No. 435/Kpts-XX/ 1991 Taman Nasional Kutai 198 629 Luasnya dikurangi 1 371 ha untuk perluasan Bontang dan PT Pupuk Kaltim Menteri kehutanan SK Menhut No. 325/Kpts- II/1995 Taman Nasional Kutai
198 629 Perubahan fungsi dan penunjukan SMK menjadi Taman Nasional Kutai Menteri Kehutanan Surat No. 997/ Menhut-VII/ 1997 Taman Nasional Kutai
198 629 Izin prinsip pelepasan kawasan TNK seluas 25 ha untuk keperluan pengembangan fasilitas pemerintah daerah Bontang