• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Deskripsi Dan Interpretasi Data

4.5. Profil Informan

4.6.9. Sinamot Menjadi Ukuran Status Sosial dan Harga Diri Keluarga

Perkawinan masyarakat Batak Toba tidak akan pernah terpisah dari adat. Dengan memberikan Sinamot kepada pihak perempuan yang menjadi syarat utama bagi mereka dan sahnya perkawinan di mata adat. Berubahnya bentuk Sinamot dari benda-benda berharga atau ternak yang dimiliki pihak laki-laki menjadi bentuk uang mengakibatkan Sinamot menjadi sebuah harga diri atau Status Sosial di dalam masyarakat. Seperti yang di ungkapkan Taripar (Lk, 39 tahun) berikut ini:

“kalau sekarang ini Sinamot udah di kasi dengan bentuk uang, jadi itu lah kadang yang membuat orang Batak ini mengelu- elukan di keluarga kalau Sinamot anak perempuannya besar. Di lingkungan masyarakat juga begitu, pasti bangga kalau anaknya mendapatkan Sinamot nya besar.”

Seiring berjalannya waktu dalam praktek pelaksanaannya, Sinamot berubah menjadi sebuah harga diri karena dalam penentuan pernikahaan itu ditentukan oleh Sinamot yang akan diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang kemudian Sinamot menjadi Simbol harga diri yang di miliki oleh keluarga pihak perempuan yang deberikan oleh pihak laki-laki untuk perempuan. Seperti yang di ungkapkan oleh Uba (Lk, 42 tahun) berikut ini:

“kalau tinggi Sinamotnya itu langsung lah harum nama keuarga itu di lingkungan masyarakatnya, karna Sinamot itu di kasitau nya itu sama keluarga semua waktu Tonggo Raja

53

sama Tonggo Saripe. Kalau Sinamotnya tinggi jadi semua orang beranggapan sangap do dibaen hula-hula nai artinya di hargai sekali keluarga pihak perempuan oleh keluarga pihak laki-laki)”

Pendapat serupa juga di kemukakan oleh Mangatur Sirait (Lk, 52 tahun) berikut ini:

“memang kalau Sinamot seorang perempuan itu tinggi di berikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan, secara otomatis itu harga diri dan status sosial kedua orang tua perempuan meningkat di lingkungan masyarakat itu, itulah sangking pentingnya Sinamot ini, dan orangtua akan merasa bangga. Orangtua pastilah akan merasa sangat dihargai, bukan karena jumlah uang yang besar tapi cara mereka juga berarti sangat mencintai anak perempuan mereka. Walaupun sebenarnya bukan karena uang, karna sudah ada terlebih dahulu pembicaraan antara kedua belah pihak mengenai jumlah yang akan diberikan pada saat marhata Sinamot”

Serta sebagaimana yang di ungkapkan oleh SHP Siregar (Lk, 56 Tahun) berikut ini:

“molo balga attong Sinamot na nilean ni paranak tu parboru ittor bangga do keluarga ni parboru, alana merasa di hargai, jala ittor sangap do parboru di parsaoran na.”

Artinya :

“jika Sinamotnya besar yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan maka pihak perempuan akan merasa bangga karena merasa di hargai dan langsung di hargai di lingkungan masyarakatnya”

54

4.6.10 Hubungan Sinamot Dengan Cara Perkawinan yang Dilakukan dalam Suku Batak Toba

Dalam upacara perkawaninan Batak Toba di temukan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu Taruhon Jual (diantarkan oleh pihak perempuan kemudian di serahkan kepada pihak laki-laki) dan yang kedua Alap Jual (pihak laki-laki menjemput perempuan dan pihak perempuan menyerahkan perempuan). Pada dasarnya upacara ini sama saja, tetapi yang membedakan adalah dimana adat perkawinan akan dilaksanakan

4.6.10.1 Taruhon Jual

Upacara perkawinan Batak Toba jenis Taruhon Jual ini dimana adat yang dilaksanakan di tempat kediaman laki-laki dan Sinamot yang diberikan pihak laki-laki sedikit lebih rendah. Seperti yang di ungkapkan oleh SHP (Lk, 56 Tahun) berikut ini:

“anggo Taruhon Jual attong ala di paranak do pesta pasti di hurangi ma Sinamot na lao di lean tu parboru nga tong di hitung i sude”

Artinya:

“kalau upacara Taruhon Jual karena pesta di pihak laki-laki maka Sinamot yang akan diberikan juga pasti akan dikurangi karena semua itu sudah di hitung oleh pihak laki-laki”

Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Mangatur (Lk, 52 tahun) berikut ini:

“kalau Upacara Taruhon Jual itu yang di pihak laki-laki lah pesta nya, jadi segala keperluan adat itu pihak laki-laki yang menanggung dari hal yang kecil, sebenarnya sama saja itu

55

kalau di pihak perempuan pesta Sinamot di besarkan ketika pesta hal-hal kecil dalam pembiayaan gak lagi tanggung jawab pihak laki-laki. Jadi Sinamot kalau Taruhon Jual di kurangi mengingat pesta di pihak laki-laki tapi di kurangi pun sesuai dengan kesepakan juga”

Keputusan dan pelaksanaan perkawinan seperi apa yang akan dipilih adalah berdasarkan kesepakatan bersama diantara kedua belah pihak pada saat di adakannya Marhata Sinamot.

4.6.10.2 Alap Jual

Alap jual dimana upacara adat perkawinan dilangsungkan di kediaman pihak perempuan. Dimana biasanya dalam upacara ini pihak laki-laki yang datang ke rumah pihak perempuan yang kemudian dilangsungkan upacara adat perkawinan di tempat perempuan. Seperti yang di ungkapkan oleh Mangatur (Lk, 52 tahun) berikut ini:

“upacara perkawinan Alap Jual itu ya, paranak lah yang datang ke rumah parboru karena sudah di sepakati awalnya dalam marhata Sinamot Alap Jual ataukah Taruhon Jual.”

Upacara perkawinan Alap Jual Sinamot yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak permpuan sedikit lebih banyak mengingat pesta di pihak perempuan. Laki-laki sudah menghitung berapa besar biaya yang akan dikeluarkan pada saat pesta maka itu akan ditambahkan pada saat pesta perkawinan berlangsung. Seperti yang di ungkapkan oleh SHP (Lk, 56 Tahun) berikut ini:

“Alap Jual attong di pihak parboru do pesta jai alana di pihak parboru do pesta, Sinamot na nilehon ni paranak ikkon do balga”

56

“Alap Jual pestanya di pihak peremouan untuk itu pihak laki-laki harus memberikan Sinamot yang besar kepada pihak perempuan”

Hal yang sama di ungkapkan oleh Taripar (Lk, 39 Tahun) berikut ini: “Sinamot untuk perempuan dengan upacara perkawinan Alap Jual jelas lebih besar karena pesta di pihak perempuan, maka pihak laki-laki akan juga menghitung berapa besar biaya pesta yang akan di keluarkan pada saat berlangsungnya pesta”

4.6.11 Jumlah Sinamot yang Berlaku Pada Suku Batak Toba di Kecamatan

Dokumen terkait