BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2. Sindrom Pra Menstruasi ( Premenstrual Syndrome )
American College of Obstetricians and Gynecologists, telah
mengusulkan definisi Sindrom pra menstruasi yang lebih ketat yang mensyaratkan paling sedikit satu gejala dari daftar gejala emosional dan fisik yang dialami oleh wanita selama lima hari sebelum menstruasi dan mengalami remisi dalam empat hari setelah dimulainya menstruasi,
17
dengan tidak ada kekambuhan paling tidak hingga hari ke tiga belas siklus, dalam setiap siklus pada tiga siklus menstruasi terdahulu (Halbreich et al., 2007).
Menurut Dickerson et al. (2003), Premenstrual syndrome adalah suatu gangguan siklus menstruasi pada wanita muda dan usia pertengahan, yang ditandai dengan gejala emosional dan fisik secara konsisten yang muncul saat fase luteal siklus menstruasi. Sindrom ini lebih mudah terjadi pada wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus menstruasi, dalam kondisi normal, seharusnya menstruasi tidak sampai menyebabkan perubahan pada mental serta mengganggu fungsi fisik wanita.
Premenstrual syndrome ialah kumpulan gejala yang mempunyai
karakteristk berupa perubahan tingkah laku dan gejala fisik, terjadi secara berulang tiap kali pada fase luteal (Mortola, 2000). Jadi premenstrual merupakan kumpulan gejala fisik, emosional dan perilaku yang terjadi pada minggu-minggu menjelang menstruasi (Simon dan Edwin, 2003). Dalam keadaan normal, menstruasi tidak seharusnya sampai mengganggu fungsi mental dan fisik wanita, namun demikian adanya fluktuasi hormonal dalam siklus menstruasi membawa efek pada beberapa wanita
b. Etiologi Sindrom pra menstruasi
Etiologi dari Sindrom pra menstruasi belum dapat diketahui dengan pasti, mungkin bisa komplek dan multifaktor. Peran dari hormon ovarium
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
adalah belum jelas, tetapi tanda-tanda sering meningkat saat ovulasi tertekan. Perubahan dalam tingkat hormon mungkin pengaruh dari pusat aksi neorotransmitter yaitu serotinin, tetapi sirkulasi tingkat hormon seks adalah normal pada wanita dengan Premenstrual syndrome. Beberapa fakta memberi kesan pada perubahan sensitif dari progesteron terdapat pada wanita dengan defesiensi serotinin, defesiensi prostaglandin, dan faktor genetik (Dickerson et al.,2003).
Penyebab premenstrual syindrome ini masih kontroversi, beberapa ahli mengatakan penyebabnya karena faktor lain, termasuk karena rendahnya masukan kombinasi dari seng dan tembaga, tidak normalnya fungsi serotinin, defisiensi progesteron, beberapa neurotransmitters, bahan gizi seperti vitamin E, kalsium, asam linoleat dan magnesium (Connolly, 2001). Kekurangan vitamin, kalsium, magnesium, seng dan tembaga serta progesteron merupakan faktor risiko untuk terjadinya
premenstrual syndrome.
c. GejalaSindrom pra menstruasi
Sekitar 100 gejala diidentifikasikan sebagai gejala PMS. Secara garis besar gejala premenstrual syndrome menurut Dickerson et al. (2003) dan Simon dan Edwin (2003) terbagi dalam :
1) Gejala fisik
Payudara bengkak dan keras, perut terasa sebah, konstipasi dan diare, jerawat, sakit atau nyeri kepala, alkohol intolerens, retensi cairan, berat badan naik, kekakuan atau ketegangan, kurang nafsu
19
makan dan muntah, jantung berdebar, nyeri perut dan kembung, penambahan berat badan, ekstrimitas bengkak, nausea, nyeri otot dan sendi.
2) Gejala emosional atau psikologis
Depresi, tiba-tiba cemas dan panik, ganguan tidur (insomnia), mudah tersinggung, mudah marah, curiga, delusi dan halusinasi (jika gejala sangat berat dapat merupakan gangguan psikologis), iritabilitas, menangis dan sedih, cemas, tegang, perubahan perasaan, kurangnya konsentrasi, bingung, pelupa, kurang istirahat menyendiri dan penurunan kepercayaan diri.
3) Gejala mental dan tingkah laku
Perubahan emosi, konsentrasi tidak stabil dan beberapa memori hilang, marah dengan orang lain, cemas, cenderung mudah mendapat kecelakaan, letargi dan kelelahan, perubahan minat berhubungan sexual kecanduan makanan tertentu dan makan berlebihan.
d. Diagnosis Sindrom pra menstruasi
American College of Obstetric and Ginecology (ACOG)
merekomendasikan kriteria diagnosa yang dikembangkan oleh University
of California at San Diego dan National Institute of Mental Health yaitu
SPAF (Conolly, 2001). The Premenstrual Shortened Form (SPAF) yaitu kriteria diagnosa dengan penilaian sederhana yang terdiri dari 10 item. Wanita ditanya tanda-tanda yang dialami menjelang haid antara lain : 1) Payudara tegang, nyeri dan bengkak,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
2) Malas dan tidak bergairah, 3) Merasa tertekan,
4) Mudah tersinggung dan marah, 5) Sedih, depresi,
6) Nyeri otot, 7) Berat badan naik,
8) Merasa tidak enak badan, tidak nyaman atau nyeri abdomen, 9) Bengkak atau terjadi retensi cairan,
10) Merasa gemuk (mengembung).
Masing-masing item mempunyai nilai maksimal 6, terentang pada gejala yang tidak dirasakan sampai gejala yang sangat berat (Simon dan Edwin, 2003).
Diagnosa premenstrual syndrome dapat ditegakkan kalau wanita mengalami paling sedikit 5 dari tanda dalam SPAF dalam derajat 5, salah satunya harus nomor 2, 3, 4 dan 5 atau sama dengan skore ≥ 30 (Simon dan Edwin, 2003).
e. Faktor-faktor yang mempengaruhiSindrom pra menstruasi
Beberapa dari hasil penelitian mengungkapkan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi premenstrual syndrome, adalah :
1) Usia
Keluhan premenstrual syndrome lebih banyak dirasakan pada wanita muda, biasanya dimulai sekitar pertengahan 20 tahunan, 88 persen melaporkan gejala premenstrual syndrome sedang sampai
21
berat. Pada beberapa kasus, wanita mulai mencari pertolongan pengobatan ketika berumur 30 tahun. (Simon dan Edwin, 2003).
Studi lain melaporkan adanya perbedaan gejala premenstrual
syndrome pada wanita dibawah 40 tahun dengan wanita diatas 40
tahun. Kelompok wanita dibawah 40 tahun mempunyai gejala
premenstrual syndrome berupa gangguan dalam kehidupan sosial,
kurangnya aktivitas dan mudah tersinggung sedang pada kelompok wanita diatas 40 tahun mengeluhkan gejala gangguan tidur dan insomnia (Kuan et al., 2004).
2) Stress
Peranan stress pada wanita dengan premenstrual syndrome adalah memperberat gejala premenstrual syndrome yang berdampak pada perubahan suasana hati dan gejala fisik (Beck et al., 1990). 3) Genetik
Penelitian terhadap wanita kembar mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap premenstrual syndrome (Freeman, 2007).
4) Obesitas
Pada wanita obesitas terjadi peningkatan kadar serotinin. Ketidaknormalan serotinin dalam neurotransmitter berhubungan dengan depresi, marah, tersinggungg (Dickerson et al., 2003).
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
5) Nutrisi
Defisiensi yang berkaitan dengan rendahnya konsumsi kalsium dan magnesium berhubungan dengan rasa tidak nyaman saat mentsruasi (Daugherty, 1998).
6) Siklus menstruasi
Beberapa studi tidak secara konsisten menerangkan adanya abnormalitas sekresi hormon ovarium selama fase luteal. Perubahan kadar hormonal pada fase luteal ini menjadi penyebab terjadinya
premenstrual syndrome (Dickerson et al., 2003).
7) Perubahan hormonal
Perubahan kadar hormon mempengaruhi neurotransmitter seperti serotinin. Berkaitan dengan peningkatan sensitivitas terhadap progesteron pada wanita dengan defisiensi serotonin (Dickerson, et al., 2003).
8) Penggunaan KB hormonal
Dosis rendah pil kombinasi dapat mengurangi atau menghilangkan gejala premenstrual syndrome (Shoupe dan Daniel, 2000). Penelitian lain mengungkapkan pemberian kontrasepsi oral tidak bermanfaat menurunkan gejala PMS. Beberapa wanita justru melaporkan gejala yang memburuk setelah minum kontrasepsi oral (Simon dan Edwin, 2003).
23