• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Menstruasi

2.2 Sindrom Pramenstruasi

2.2.1 Definisi Sindrom Pramenstruasi

Menurut Magos & Studd (1984, dalam Andrews 2009) sindrom pramenstruasi adalah gejala fisik, psikologis, dan perilaku yang menimbulkan distres dan tidak disebabkan oleh penyakit organik yang secara teratur timbul lagi selama fase yang

sama pada siklus ovarium (atau menstruasi), dan secara signifikan menurun atau hilang selama sisa siklus tersebut. Menurut Suparman (2011), sindrom pramenstruasi adalah suatu kumpulan keluhan dan atau gejala fisik, emosional, dan perilaku yang terjadi pada usia reproduksi yang muncul secara siklik dalam rentang waktu 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang setelah darah haid keluar yang terjadi pada suatu tingkatan yang mampu mempengaruhi gaya hidup dan pekerjaan wanita tersebut dan kemudian diikuti oleh suatu periode waktu bebas gejala sama sekali.

Sindrom pramenstruasi adalah suatu kondisi atau kumpulan keluhan gejala fisik, gejala emosional, dan perilaku yang dialami seorang perempuan sebelum menstruasi dan menghilang setelah darah haid keluar, serta mempengaruhi aktivitas dan pekerjaan seseorang (Andrews, 2009; Suparman, 2011).

2.2.2 Gejala Sindrom Pramenstruasi

Gejala sindrom pramenstruasi sering dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu gejala fisik, gejala emosional, dan gejala perilaku.

a. Gejala fisik

Gejala fisik meliputi payudara membengkak, nyeri tekan pada payudara, perut kembung, nyeri tekan di abdomen, mual, nyeri kepala, nyeri punggung, nyeri panggul, nyeri sendi dan otot, edema ekstermitas, peningkatan berat badan, rasa panas dan kemerahan pada wajah serta leher, jerawat atau lesi kulit, palpitasi, gangguan penglihatan, perubahan pola buang air besar, perubahan nafsu makan atau ngidam, dan penurunan koordinasi (Andrews, 2009; Baradero, Dayrit & Siswadi, 2006;

Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004; Glasier & Gebbie, 2005; Jones, 2001; Mitayani,2009 ; Rayburn & Carey, 2001; Suparman, 2011).

b. Gejala Emosional

Gelaja emosional sindrom pramenstruasi yang umum terjadi adalah tegang, irritabilitas (mudah tersinggung), agresif, rasa bermusuhan, suka marah, mood yang berubah-ubah, perasaan lepas kendali, depresi, perubahan alam perasaan, sering panik, bingung, ansietas, gelisah, letargi, lelah, penurunan konsentrasi, pelupa, kemarahan yang muncul tanpa provokasi yang adekuat, sering menangis, keinginan menyendiri, perasaan bersalah, pikiran bunuh diri, dan merasa kehilangan harga diri (Andrews, 2009; Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004; Glasier & Gebbie, 2005; Jones, 2001; Mitayani, 2009; Rayburn & Carey, 2001; Suparman, 2011).

c. Gejala perilaku

Gangguan perilaku meliputi insomnia, agorafobia, bolos kerja, kehilangan konsentrasi, penghindaran akitivitas sosial (Andrews, 2009; Suparman, 2011).

2.2.3 Penyebab Sindrom Pramenstruasi

Banyak teori untuk menerangkan mengapa sindrom pramenstruasi terjadi tetapi hingga kini penyebab pasti belum diketahui meskipun terdapat penelitian berskala luas. Adapun penyebab yang mungkin terjadinya sindrom pramenstruasi adalah teori psikologis, defisiensi progesteron, defisiensi estrogen, peningkatan aktivitas renin-angioension-aldosteron, hiperaktivitas kelenjar adrenal, perubahan katekolamin disusunan saraf pusat, alergi terhadap hormon-hormon endogen, zat-zat opiod endogen, ketidakseimbangan estrogen/progesteron, retensi natrium dan air,

defisiensi/kelebihan prostaglandin, kelebihan proklatin, defisiensi vitamin B6, defisiensi diet, defisiensi unsur-unsur renik, hipoglikemia, abnormalitas tiroid, dan defisiensi serotin. Meskipun penyebab utama sindrom pramenstruasi tidak diketahui, tetapi teori sekarang bahwa sindrom pramenstruasi bersifat multifaktor. (Andrews, 2009; Bobak, Lowdermilk, Jensen, 2004; Jones, 2002; Rayburn & Carey, 2001; Suparman, 2011).

2.2.4 Penatalaksanaan sindrom pramenstruasi

Berbagai pendekatan terapi yang sudah dilakukan terbagi atas tiga modalitas utama, yaitu pendekatan non-farmaterapi, pendekatan farmakoterapi, dan operasi (Suparman, 2011).

1. Pendekatan non-farmakologi. Pengaturan nutrisi, modifikasi pola tidur, latihan aerobik moderat, latihan relaksasi, terapi cahaya dengan lampu fluoresent putih berspektrum sinar matahari, terapi kognitif perilaku, suplementasi nutrisi,

2. Pengobatan sindrom pramenstruasi secara farmakologi. Anti-inflamasi non-steroid (NSAID), yaitu asam mefenamat dan naproxen sodium. Diuretik, yaitu spironolakton. Anti cemas, yaitu buspiron dan alprazolam. Anti depresan, yaitu bupropion, klomipramin, Selective Serotin Reuptake Inhibitor (SSRI). Hormonal, yaitu progesteron sintetik, estradiol, danazol, kontasepsi oral kombinasi, bromokriptin, dan analog GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone).

3. Penatalaksanaan operatif. Pendekatan operatif untuk penatalaksanaan sindrom pramenstruasi hanya dibatasi untuk kasus derajat berat yang dengan

yang disertai ophorektomi bilateral terbukti kuratif, dengan tingkat kepuasan pasien mencapai 96% dan tingkat resolusi total keluhan sindrom pramenstruasi 93,6%. Prosedur histeroktomi tanpa pengangkatan ovarium juga dibuktikan oleh berkurangnya keluhan sindrom pramenstruasi.

2.3 Remaja

2.3.1 Definisi Remaja

Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”

(Ali & Asrori, 2012). Menurut Hurlock (1991, dalam Ali & Asrori 2012) istilah adolescence memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Menurut Gunarsa (1978, dalam Kusmiran 2014) masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa.

Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa untuk tumbuh mencapai kematangan meliputi kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Ali & Asrori, 2012; Kusmiran, 2014).

2.3.2 Batasan Usia Remaja

Remaja (adolescence) menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah periode usia antara 10-19 tahun, sedangkan menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kaum muda (youth) untuk usia antara 15 samapi 24 tahun. Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 Tahun 2014, remaja adalah penduduk 10-18 tahun

dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKB) rentang usia remaja adalah usia 10-24 tahun dan belum menikah.

2.3.3 Masa Transisi Remaja

Pada masa remaja, terdapat masa transisi yang akan dialami. Masa transisi tersebut menurut Gunarsa (1978, dalam Kusmiran 2014) adalah masa transisi fisik berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh, transisi dalam kehidupan emosi, transisi dalam kehidupan sosial, transisi dalam nilai-nilai moral, dan transisi dalam pemahaman.

Pertama, masa transisi fisik berkaitan dengan perubahan bentuk tubuh. Bentuk tubuh sudah berbeda dengan anak-anak, tetapi belum sepenuhnya menampilkan bentuk tubuh orang dewasa. Kedua, transisi dalam kehidupan emosi. Perubahan hormonal dalam tubuh remaja berhubungan erat dengan peningkatan kehidupan emosi. Remaja sering memperlihatkan ketidakstabilan emosi. Remaja tampak sering gelisah, cepat tersinggung, melamun, dan sedih, tetapi disisi lain akan gembira, tertawa, ataupun marah-marah. Ketiga, transisi dalam kehidupan sosial. Lingkungan sosial anak semakin bergeser keluar dari keluarga, dimana lingkungan sebaya mulai memegang peranan penting. Pergeseran ikatan pada teman sebaya merupakan upaya remaja untuk mandiri (melepaskan ikatan dengan keluarga).

Keempat, transisi dalam nilai moral. Remaja mulai meninggalkan nilai-nilai yang dianutnya dan menuju nilai-nilai-nilai-nilai yang dianut orang dewasa. Saat ini remaja mulai meragukan nilai-nilai yang diterima pada waktu anak-anak dan mulai mencari

nilai sendiri. Dan kelima, transisi dalam pemahaman. Remaja mengalami perkembangan kognitif yang pesat sehingga mulai mengembangkan berpikir abstrak.

BAB 1

PENDAHULUAN

Dokumen terkait