• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Tipe Sekolah

2.2.2 Single sex schools

Pendidikan merupakan faktor kunci dalam pengembangan sumber daya manusia dengan esensi mampu menciptakan manusia yang berkompetensi tinggi, mampu bersaing dan mendayagunakan dirinya untuk kemandirian dan meningkatkan potensi yang ada di dalam diri untuk menjadi manusia yang unggul (Hendrastomo, 2012).

Single sex schools yaitu sekolah dimana hanya terdapat siswa yang berjenis kelamin sama di sekolah tersebut. Banyak perdebatan mengenai keuntungan dan kerugian dari single sex schools ini bagi siswa yang mengikutinya. Penelitian Ormerod dkk, (dalam Smyth, 2010) di Inggris, menunjukkan bahwa siswa perempuan lebih cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih tinggi pada sekolah atau kelas

single sex. Sementara itu Spielholfer dkk, (dalam Smyth, 2010) menemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari rata-rata prestasi akademik siswa laki-laki di

single sex schools atau coeducational schools.

Dalam perkembangan sosial siswa, beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa perempuan lebih mengembangkan kompetensi sosial dan self-image dengan lebih baik ketika berada di lingkungan yang kurang kompetitif yaitu di single sex schools (Carpenter dkk dalam Smyth, 2010). Namun, penelitian juga menunjukkan

bahwa memisahkan antara laki-laki dan perempuan di sekolah itu tidaklah baik untuk perkembangannya. Siswa yang berada di single sex schools menjadi lebih menerima

gender stereotype (Conley, 2011). Di Amerika, single sex schools lebih dibandingkan kepada sekolah yang lebih khusus dimana kebanyakan single sex schools ini berisikan siswa yang berlatar belakang sosioekonomi dan agama yang lebih homogen daripada di coeducational schools (Mael, 1998).

2.3 Perbedaan kecerdasan sosial siswa single sex schools dan coeducational schools

Single sex schools merupakan sekolah yang memiliki siswa dengan jenis kelamin sama dan coeducational schools merupakan sekolah dengan siswa yang berjenis kelamin berbeda atau campuran. Di Indonesia terdapat dua jenis sekolah ini. Salah satu contohnya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK merupakan pendidikan kejuruan dengan berbagai program keahlian. Akibat memiliki berbagai program keahlian tersebut maka hal ini dapat memisahkan minat antara laki-laki dan perempuan sehingga akibatnya ada sekolah yang hanya memiliki siswa laki-laki saja atau perempuan saja.

Telah banyak perdebatan maupun penelitian mengenai keuntungan dan kerugian dari single sex schools dan coeducational schools ini, mulai dari performa akademik, sikap terhadap akademik, disiplin di sekolah, kenyamanan di sekolah, aspirasi siswa dan ketertarikan kerja (terutama bagi perempuan), self-esteem siswa,

dan kesuksesan setelah sekolah (Mael, 1998). Dunia sekolah seharusnya menjadi agen sosialisasi dalam mengenalkan kepada anak mengenai dunia sosialnya dalam konsep yang heterogen (Hendrastomo, 2012). Di single sex schools, hanya terdapat teman sebaya yang berjenis kelamin sama dan kebanyakan single sex schools juga merupakan sekolah yang berlatar belakang siswa dengan level sosioekonomi dan agama yang homogen juga (Mael, 1998).

Kecerdasan sosial merupakan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan sekumpulan keterampilan (kesadaran situasi, kehadiran, authenticity,

kejelasan dan empati) yang digunakan untuk berinteraksi dengan sukses dengan orang lain (Albrecht, 2006). Goleman (2006), juga menjelaskan kecerdasan sosial sebagai kemampuan untuk memahami orang lain dan bagaimana reaksi mereka dalam situasi yang berbeda. Kecerdasan sosial juga memiliki dua komponen yaitu kesadaran sosial yang terdiri dari empat aspek, empati dasar, penyelarasan, ketepatan empatik, dan kognisi sosial, komponen yang kedua adalah fasilitas sosial yang terdiri dari sinkronisasi, presentasi diri, pengaruh dan kepedulian (Goleman, 2006). Jadi, yang paling ditekankan dalam kecerdasan sosial adalah kemampuan memahami pikiran dan perasaan orang lain dengan menggunakan kemampuan verbal dan non-verbal secara tepat dan sesuai dengan situasi yang ada.

Kecerdasan sosial ini dipengaruhi oleh faktor sekolah. Jenis sekolah yang ditempati anak akan berpengaruh terhadap prestasi akademik dan perkembangan sosialnya (Woodward, 1999). Ada jenis sekolah berdasarkan siswa yang berjenis

kelamin sama yang disebut single sex schools dan berjenis kelamin campuran yang disebut dengan coeducational schools. Dalam coeducational schools, laki-laki dan perempuan dapat saling berdiskusi mengenai pendapat masing-masing dan berinteraksi secara natural sebagaimana kehidupan nyata di dunia sosial yang sesungguhnya. Sering sekali perspektif antara laki-laki dan perempuan berbeda-beda dan dengan saling interaksi mereka menjadi dapat pemahaman mengenai perspektif masing-masing 1998) mengatakan bahwa coeducational schools lebih menunjukkan keadaan lingkungan interaksi sosial di dunia yang sebenarnya, sehingga sekolah ini lebih baik mempersiapkan generasi muda dalam berinteraksi dan berintegrasi dengan lawan jenis di dalam masyarakat. Dale juga mengatakan coeducational schools juga memenuhi kebutuhan para remaja dalam bidang sosial dan juga akademisnya.

Di single sex schools, siswa hanya berinteraksi dan bekerja sama dengan teman sebaya yang berjenis kelamin sama. Siswa perempuan di single sex schools

lebih mampu mengembangkan keterampilan sosial yang baik dibandingkan dengan yang berada di coeducational schools (Carpenter dalam Smyth, 2010). Sedangkan siswa laki-laki di coeducational schools lebih terjauhkan dari perilaku kekerasan dan perilaku anti sosial (Jones&Thompson dalam Mael, 1998). Kecerdasan sosial juga berhubungan dengan perilaku agresif seseorang, dimana orang yang memiliki kecerdasan sosial tinggi maka prilaku agresifnya akan semakin rendah (Wulandari, 2010).

Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh coeducational schools dan single sex schools ini terhadap prestasi akademik siswanya. Namun, hasil yang didapatkan tidak konsisten, ada yang hasilnya menyatakan bahwa coeducational schools lebih baik dalam pencapaian akademis dan ada yang hasilnya single sex schools lebih baik dalam pencapaian akademis, bahkan ada yang mengatakan tidak ada perbedaan pencapaian akademis dari kedua sekolah. Studi longitudinal telah dilakukan di New Zealand mengenai efek coeducational schools dan single sex schools terhadap prestasi akademis, yang memberikan hasil bahwa siswa yang bersekolah di single sex schools lebih memiliki prestasi akademis yang lebih baik daripada siswa yang bersekolah di coeducational schools (Woodward, 1999). Namun, juga dengan catatan melihat sisi personal dari siswa, latar belakang sosial, fungsi keluarga dan orang tua serta faktor sekolah.

Penelitian juga dilakukan mengenai self-concept dari siswa yang bersekolah di coeducational schools dan single sex schools, hasilnya menyatakan bahwa siswa yang sekolah di single sex schools lebih dapat mengurangi jarak yang ada antara konsep diri perempuan dan laki-laki (Smyth, 2010). Ini berarti bahwa di single sex schools, perempuan ataupun laki-laki tidak merasa canggung untuk memilih jenis kegiatan yang bersifat “feminin” atau “maskulin” sehingga mereka lebih mampu mengembangkan potensinya tanpa ragu-ragu.

Penelitian mengenai konsekuensi dari coeducational schools dan single sex schools ini ketika telah dewasa juga telah dilakukan (Smyth, 2010). Sullivan, (dalam

Smyth 2010) menemukan bahwa wanita yang bersekolah di single sex schools, akan lebih suka untuk mengambil pekerjaan yang “maskulin” dibandingkan “feminim”. Hal ini bisa disebabkan karena kebebasan berekspresi ketika di single sex schools dan tidak ada rasa malu atau segan terhadap lawan jenis.

Dari uraian di atas, dapat dilihat mengenai perbedaan antara siswa

coeducational schools dan single sex schools. Masing-masing sekolah tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Single sex schools memiliki kelebihan dalam penekanan terhadap konsep diri dan prestasi akademik yang didapatkan siswa. Sedangkan coeducational schools lebih menekankan keuntungan sebagai bentuk dunia sosial yang sebenarnya, sehingga para siswa lebih positif perkembangannya, tidak hanya terbatas dari akademis saja namun juga sosialnya. Sesuai dengan penelitian Cicilia (1999), bahwa sikap seorang siswa terhadap sekolah homogen atau single sex schools akan berpengaruh terhadap sikap heteroseksualnya. Semakin positif sikap seorang siswa terhadap single sex schools, yang berarti dia menerima semua homogenitas di sekolahnya tersebut, maka semakin negatif sikap heteroseksualnya, yang diartikan sebagai pergaulan mereka terhadap lawan jenis. Ini berarti bahwa single sex schools akan mempengaruhi kepedulian siswa terhadap lawan jenis. Oleh karena itu, berdasarkan uraian di atas maka dapat diasumsikan bahwa terdapat perbedaan kecerdasan sosial siswa di single sex schools dan

Dokumen terkait