BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
C. SINOPSIS PENELITIAN LANJUTAN
Penelitian Kajian Paparan Panas Lingkungan Kerja Terhadap Kenyamanan Termal dan Produktivitas Kerja pada Tahun 2011 telah dilakukan pada beberapa industri manufaktur. Bnayk kajian yang dapat diperoleh dan lingkungan yang terpapar panas dapat direduksi dengan perbaikan secara engineering control. Prosedur AUDIT TERMAL untuk melakukan kajian telah dapat diperoleh dengan menyelesaikan studi kasus yang ada di industri manufaktur. Karakteristik penyelesaian masalah di industri adalah dibatasi oleh kegiatan atau aktivitas yang membutuhkan tenaga fisik lebih banyak dibandingkan dengan tenaga pikiran. Oleh karena itu pada tahun 2011 akan dicoba untuk menerapkan proseur Audit Termal yang telah disusun dalam langkah teknik-teknik pemecahan masalah lingkungan yang terpapar panas pada lingkungan kerja yang membutuhkan konsentrasi. Untuk ini penelitian pada tahun 2012 akan dilakukan di lingkungan ruangan kelas. Proses belajar mengajar membutuhkan konsentrasi agar process learning and teaching dapat terlaksana dengan baik. Selain daripada perbaikan lingkungan ruang kelas yang berdasarkan studi pendahuluan adalah juga terpapar panas, maka dipergunakan energi untuk mendinginkan ruangan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan kebanyakn runagan kelas adalah mengkonsumsi energi listrik. Jika dapat dilakukan analisa dan audit termal, diharapkan beban pendinginan ruangan kelas dapat direduksi dan dengan demikian energi yang dibutuhkan juga dapat berkurang. Oleh karena itu dnegan menngunakan metoda yang sama dengan metoda yang diterapkan di industri, kajian panas di ruangan-ruangan kelas ini perlu untuk dilakukan. Hasil yang diperoleh akan dibenadingakn dnegan hasil yang diperoleh dari kasusu-kasus di industry. Diharapkan dengan menggunakan metoda yang sama dengan karaketristik subjek yang berbeda akan memberikan masukan pada teknik-teknik pengendalian panas dan transfer energi di bangunan. Hal ini snagat memperkaya khasanah keilmuan terutama pengkayaan bahan studi di bidang Ergonomi dengan topik Human Thermal Environment dan juga studi standarisasi.
LAMPIRAN 1
Kajian Paparan Panas Lingkungan Kerja Terhadap Produktivitas
Pekerja (Studi Kasus: Desain Reduksi panas Pada Perusahaan The Botol),
Prosiding 11
thSeminar Persatuan Ergonomi Indonesia, Vol.1 Hal. 1.445-1. 453,
LAMPIRAN 2
Audit Termal Lingkungan Kerja Operator Untuk Meningkatkan Produktivitas
(Studi Kasus: Pada Perusahaan Pembuatan Sarung Tangan Karet), Prosiding 11
thLAMPIRAN 3
.
Kajian Termal untuk Mengetahui Pengaruh Heat Stress Pada
Produktivitas Pekerja Pabrik Tahu. Prosiding 1
shDies Natalis USU ke -59, 2011
(dalam proses).
LAMPIRAN 4
. Kajian Termal Terhadap Produktivitas Operator Bagian Pengerpresan di
PTP Nusantara II Pabrik Karet Batang Serangan.
Workplace Safety and Health 1-445
Kajian Paparan Panas Lingkungan Kerja
Terhadap Produktivitas Pekerja (Studi Kasus:
Desain Reduksi Panas Pada Perusahaan Teh Botol)
Listiani Nurul Huda
Universitas Sumatera Utara, INDONESIA [email protected]
Abstrak. Paparan panas pada lingkungan kerja terjadi pada salah satu pabrik pembuatan
minuman teh botol. Sumber panas berasal dari mesin-mesin produksi terutama mesin bottle washer dan mesin pasteurizer. Radiasi dipancarkan langsung ke operator yang berada di dekat kedua mesin. Panas yang terjadi akan berakumulasi pada bagian atas ruangan sehingga menyebabkan temperatur sekeliling meningkat seiring dengan kenaikan waktu. Akibatnya pekerja merasa gerah ditandai dengan pengeluaran keringat yang berlebihan dan turunnya produktivitas kerja yang didefinisikan sebagai waktu kerja non- produktif yang tinggi dan lolosnya botol non-standar dari inspeksi. Faktor-faktor fisik lingkungan kerja seperti temperatur ruang kerja dan permukaan mesin, kecepatan udara dan kelembaban udara diukur menggunakan instrumen pengukuran. Kenyamanan termal diukur dengan menggunakan kuesioner. Waktu kerja produktif dan non-produktif diperoleh dari rumusan Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) dan resiko Heat Stress dianalisa dengan metoda Heat Stress Index. Pengamatan dilakukan pada shift 2 dan 3 di Lini II. Hasil pengukuran sebelum dan sesudah perbaikan dibandingkan. Kajian menunjukkan
bahwa temperatur kerja pada ketinggian 4 sampai 5.7 meter dari lantai mencapai 410C,
kelembaban udara berkisar 55 sampai 60%, dan kecepatan angin lebih kecil dari 0.5 m/detik pada kedua shift. Langkah perbaikan untuk mereduksi paparan panas dilakukan dengan instalasi turbin ventilator sebanyak 14 buah dan penjebolan dinding pemisah Lini II dan III yang saling berdampingan. Hasilnya adalah terjadi penurunan gradien
temperatur sebesar 20C, jam kerja produktif naik sekitar 25% dan jumlah botol non-
standar yang lolos dari inspeksi sebesar 40 buah/hari. Nilai HSI turun sekitar 22% pada shift 2 dan 20% pada shift 3.
Keywords: Paparan Panas, Radiasi, Gradien Temperatur, ISBB, HSI, Turbin Ventilator
1. PENDAHULUAN
Kondisi lingkungan kerja yang tidak nyaman dapat disebabkan antara lain oleh adanya paparan panas di lingkungan kerja. Paparan panas terjadi ketika tubuh menyerap atau memproduksi panas lebih besar daripada yang diterima melalui proses regulasi termal. Peningkatan pada suhu dalam tubuh yang berlebih dapat mengakibatkan penyakit dan kematian (Parsons, 1993). Panas yang berlebihan di tubuh baik akibat proses metabolisme tubuh maupun paparan panas dari lingkungan kerja dapat menimulkan masalah kesehatan dari yang sangat ringan seperti heat rash, heat syncope, heat cramps, heat exhaustion
hingga yang serius yaitu heat stroke.
Paparan panas pada lingkungan kerja terdapat pada salah satu pabrik pembuatan minuman teh botol yang dalam proses produksinya membutuhkan panas untuk menjaga higienitas produk dari pencemaran mikroba. Pencemaran mikroba ini dapat menyebabkan teh tidak tahan lama (tidak awet). Produk yang dihasilkan berupa minuman teh dalam
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-446
botol, berbagai minuman kemasan seperti Tabs, Country Choice, Fruity, dan Air Prima (air dalam kemasan galon). Panas yang dihasilkan dilantai produksi terutama dihasilkan dari mesin-mesin yang digunakan, khususnya mesin yang digunakan pada proses pencucian botol dan proses filler. Proses pencucian menggunakan mesin bottle washer yang memiliki temperatur sekitar 90 sampai 105 oC untuk mensterilkan botol-botol yang akan digunakan untuk pengisian ulang. Sedangkan proses filler memanfaatkan mesin pasteurizer yang memiliki temperatur sekitar 90 sampai 95oC. Kedua mesin ini menimbulkan radiasi panas secara langsung kepada para operator. Temperatur di zona kerja pada ketinggian 1.1 sampai 2.5 meter dari lantai berkisar antara 37 sampai 39 oC pada shift 2 (08.00 sampai 16.00 wib) dan antara 35 sampai 37 oC pada shift 3 (16.00 sampai 24.00 wib). Panas yang timbul menyebabkan kegerahan bagi pekerja. Panas berakumulasi di dalam ruangan dan tidak diditribusikan ke tempat lain sehingga temperatur ruangan meningkat seiring pertambahan waktu kerja. Material atap yang terbuat dari bahan campuran logam dan alumunium menmabah serapan radiasi matahari kedalam ruangan kerja. Lini II sebagai tempat pengamatan letaknya bersebelahan dengan Lini III yang digunakan untuk menghasilkan produk teh botol tetapi menggunakan mesin-mesin terotomatisasi keseluruhannya. Kedua ruang ini dibatasi oleh diding semen dan terbuka di bagian pintu penghubung yang ditutupi oleh penghalang yang terbuat dari plastik tebal transparan.
Pekerja mengenakan pakaian seragam berupa setelan celana panjang katun dan baju kaos. Pakaian yang dikenakan terlihat tidak mampu menyerap keringat yang keluar dari tubuh pekerja saat bekerja. Ketidaknyamanan akibat paparan panas ini menyebabkan penurunan produktivitas operator yaitu kehilangan konsentrasi untuk menghasilkan output produk terlihat dari jumlah botol yang lolos dari pengamatan tidak sesuai dengan spesifikasi kebersihan untuk feeding yang telah ditetapkan perusahaan. Pada makalah ini, pembahasan produktivitas hanya ditunjukkan oleh perhitungan persentasi waktu produktif/bekerja dan waktu non-produktif/istirahat yang diperoleh dari perhitungan Indeks Suhu Bola Basah (ISBB). Paparan panas yang terjadi pada lingkungan kerja jika tidak diperbaiki dapat meningkatkan resiko akibat tekanan panas/heat stress. Oleh karena itu kajian paparan panas yang ada di lingkungan pekerja dan mempengaruhi produktivitas perlu untuk dilakukan. Langkah-langkah perbaikan secara engineering control diterapkan di perusahaan. .
2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Pengaturan Instrumen Pengukuran di Lantai Produksi
Lantai produksi di lini II sebagai tempat pengamatan memiliki lantai seluas ± 792 m2 yang terbagi atas lantai produksi seluas ± 697.5 m2dan kantor seluas ± 94.5 m2 dan terbuat dari bahan beton. Lantai produksi dilengkapi oleh mesin-mesin Decrater, Bottle Washer, Pateurizer, Filler, Crater, Crater Washer, dan Opticscan. Kondisi termal pabrik seperti temperatur, kelembaban, kecepatan udara, dan globe temperatur diukur selama 7 hari pengamatan untuk shift 2 dan shift 3. Tekanan darah pekerja diukur sebelum dan sesudah bekerja untuk mengetahui besarnya konsumsi energi. Instrumen-instrumen pengukuran yang digunakan diletakkan di lantai produksi seperti Multi Channel Temperatur Recorder,
Thermo Hygrometer, Black Globe Thermometer, Anemometer, dan Blood Pressure
Monitor.
Temperatur permukaan mesin dan gradien temperatur pada ketinggian 0,1; 0,5; 1,1; 2; 2,5, 4 dan 5,7 meter dari ketinggian lantai diukur dengan menggunakan thermocouple
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-447
digantungkan di titik tengah ruangan. seperti ditunjukkan pada Gambar 1. Pada makalah ini pembahasan temperatur hanya pada gradien temperatur.
2.2. Subjek
Subjek dalam penelitian ini adalah para pekerja dalam kondisi sehat yang berada di Lini II dengan jumlah 21 orang yang keseluruhannya adalah laki-laki. Data personal pekerja meliputi rata-rata umur sekitar 33±6.6 tahun; rata-rata berat badan sekitar 63.1±10.4 kg, dan rata-rata tinggi sekitar 169.1±5.3. pekerja mengenakan baju seragam kaos berlengan pendek berbahan polyester dan celana panjang dengan bahan cotton, nilai clo sekitar 0.5. Aktivitas yang dilakukan pekerja di lantai produksi rata-rata dilakukan dalam posisi duduk dan hanya di bagian crater yang dalam posisi berdiri. Diperkirakan
metabolic rate pekerja dengan beban kerja yang tergolong ringan-sedang adalah sebesar 1.6 Met atau 93W/m2. Rata-rata pekerja mengenakan handuk di lehernya untuk menyeka keringat yang keluar.
2.3. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1. Pengarahan pengisian kuesioner kepada operator.
2. Penyiapan alat pengukuran dan peletakan instrumen pengukuran di titik-titik yang telah ditentukan (terdiri dari 5 titik).
3. Pengisian kuesioner.
4. Pengukuran temperatur ruangan, kecepatan angin, temperatur basah, temperatur kering, temperatur globe selama 30 menit sepanjang periode pengukuran.
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-448
Kenyamanan Termal Sangat Nyaman +3 Nyaman +2 Sedikit Nyaman +1 Netral 0 Sedikit Tidak Nyaman -1 Tidak Nyaman -2 Sangat Tidak Nyaman -3
Prosedur untuk masing-masing shift ditunjukkan pada Gambar 2.
7.30 7.40
Mengukur suhu, kecepatan angin, suhu basah, seuhu kering, suhu bola
Disetiap titik (sebanyak 5 titik )
09.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 Waktu (Jam) Memberikan Pengarahan pengisian kuesioner Pengisian Kuesioner 7.55 Persiapan alat 08.00 Istirahat
Mengukur suhu, kecepatan angin, suhu basah, seuhu
kering, suhu bola Disetiap titik (sebanyak 5 titik )
(a). Shift 2
15.30 15.50
Mengukur suhu, kecepatan angin, suhu basah, seuhu kering, suhu bola
Disetiap titik (sebanyak 5 titik)
18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 Waktu (Jam) Pengisian Kuesioner 16.00 Persiapan alat 17.00 Daily Maintanance
Mengukur suhu, kecepatan angin, suhu basah, seuhu kering, suhu bola
Disetiap titik (sebanyak 5 titik)
(b). Shift 3
Gambar 2. Prosedur Pengumpulan Data (a) Shift 2 (b) Shift 3
2.4. Kuesioner
Kondisi fisik lingkungan seperti temperatur dan kecepatan udara dinilai oleh pekerja dengan menjawab pertanyaan yang ada di kuesioner. Kuesioner diisi sebelum dan sesudah bekerja pada kedua shift yang berisikan pertanyaan-pertanyaan mengenai data personal seperti umur, jenis kelamin, dan pertanyaan termal seperti persepsi dan preferensi temperatur, persepsi dan preferensi aliran udara, persepsi kenyamanan dan efek dari kondisi termal. Penyusunan pertanyaan didasarkan pada modifikasi dari 7-scale Fanger (ANSI/ASHRAE Standard 55-1992). Pada makalah ini hanya dibahas mengenai persepsi temperatur seperti ditunjukkan pada Gambar 3 yang digunakan dalam poin Diskusi.
2.5. Produktivitas
Produktivitas dalam penelitian ini didefinisikan dalam 2 aktivitas, yaitu persentasi jam kerja dan jam istirahat yang diperoleh dari perhitungan Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) dan persentase produk non-standar yang lolos dari inspeksi yang diamati pada saat pengukuran dilakukan. Rumusan ISBB yang akan digunakan ditunjukkan berikut ini:
Berikutnya pengaturan waktu kerja ditentukan oleh Tabel 1.
1. ISBB Outdoor = (0,7 Suhu Basah) + (0,2 Suhu Radiasi) + (0,1 Suhu Kering). 2. ISBB Indoor = (0,7 Suhu Basah Alami) + (0,3 Suhu Radiasi)
Gambar 3. Kuesioner Kenyamanan Termal Gambar 3. Kuesioner Kenyamanan Termal
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-449
Tabel 1. Nilai Ambang Batas Tekanan Panas Lingkungan Kerja
Pengaturan Waktu Kerja ISBB o C Waktu Kerja Waktu Istirahat Beban Kerja
Ringan Sedang Berat Beban kerja terus-menerus (8 jam/hari) - 30.0 26.7 25.0
75 % 25% istirahat 28.0 28.0 25.9
50% 50% istirahat 29.4 29.4 27.9
25% 75% istirahat 32.2 31.1 30.0
Sumber : KEP.51/MEN/1999
Kesetimbangan termal diukur dengan menggunakan Heat Stress Index (HSI) yang dirumuskan sebagai berikut (Suma’mur P.K., 1996:86).
HSI = (Ereq/Emax)×100%
3. HASIL
3.1. Temperatur, Kecepatan udara dan Kelembaban Sebelum Perbaikan
Temperatur pada ruangan digambarkan dengan gradien temperatur pada shift 2 dan shift 3. Gradien temperatur cenderung naik seiring dengan kenaikan ketinggian dari lantai. Temperatur tertinggi dicapai pada ketinggian 4 meter dan menurun pada ketinggian 5.7 meter. Hal ini mengindikasikan bahwa temperatur panas naik menuju atap bangunan pabrik dan berakumulasi dengan radiasi panas matahari yang masuk diserap oleh bahan atap pabrik. Kecenderungan temperatur pada shift 2 yaitu
mulai jam 8 pagi sampai jam 4 sore lebih tinggi dibandingkan dengan shift 3 mulai jam 4 sore sampai jam 12 malam. Rata- rata selisih perbedaan gradien temperatur antara shift 2 dan shift 3 adalah 2.50C. Kemungkinan hal ini disebabkan karena mulai menurunnya temperatur luar.
Relatif kelembaban pada kedua shift cenderung memiliki pola yang berbeda.
30 32 34 36 38 40 42 0,1 0,5 1,1 2 2,5 4 5,7 G rad ien T em p er at u r (o C ) Ketinggian (m) shift 2 shift 3 53 54 55 56 57 58 59 0,1 0,5 1,1 2 2,5 4 5,7 Ke lem b ab an (% ) Ketinggian (m) shift 2 shift 3
Gambar 4. Gradien Temperatur
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-450
Keseluruhan persentase kelembaban untuk kedua shift berada di bawah 60% yang menunjukkan bahwa kelembaban dalam pabrik masih berada dalam kondisi normal. Kelembaban pada shift 2 cenderung menurun seiring dengan kenaikan ketinggian dari lantai, hal kemungkinan disebabkan karena semakin naiknya temperatur ruangan. Dan sebaliknya pada shift 3. Hal in menunjukkan bahwa pengaruh jam kerja, kondisi termal di luar pabrik, dan radiasi yang masuk ke dalam lantai pabrik mempengaruhi kelembaban walaupun perbedaannya tidak signifikan antara shift 2 dan 3. Perbedaan kelembaban antara kedua shift rata-rata berkisar 1.7%. Kecepatan udara untuk kedua shift rata-rata 0.2 meter/detik dan tidak berpengaruh terhadap kondisi termal yang ada.
Dari kondisi termal diatas dilakukan perhitungan Nilai Ambang Batas (NAB) lingkungan kerja yang terpapar panas yang diizinkan oleh Kementrian Tenaga Kerja dan diperoleh nilai Indeks Suhu Bola
Basah (ISBB) untuk kedua shift.
Berdasarkan Tabel 1. di atas dapat dilihat bahwa untuk jenis aktivitas sedang-ringan dengan ISBB sekitar 320C untuk 8 jam kerja terus menerus diperoleh waktu produktif hanya sebesar 25% dari jam kerja tersedia atau sekitar 2 jam. Selebihnya 75% atau sekitar 6 jam menjadi waktu non produktif/istirahat. Nilai HSI pada shift 2 adalah sebesar 211.2 dan 136.2 pada shift 3. Dari nilai HSI ini diperoleh bahwa kondisi lingkungan kerja di lantai pabrik cenderung memiliki resiko terjadinya heat stress akibat paparan panas dan langkah-langkah perbaikan secara engineering control perlu untuk dilakukan. Saran yang diberikan dan dilakukan oleh perusahaan adalah penggunaan turbine ventilator sebanyak 14 buah yang bertujuan untuk menyerap udara panas yang terkurung di atap pabrik sehingga diharapkan mampu mereduksi paparan panas di lantai pabrik dan juga penjebolan dinding pemisah antara Lini II dan Lini III (hasil perhitungan tidak diuraikan di makalah ini). Kondisi termal, ISBB, HSI setelah perbaikan diukur ulang dan dibandingkan dengan hasil setelah perbaikan.
3.2. Temperatur Gradien Sebelum dan Sesudah Perbaikan
Dari penelitian 1 di atas dihasilkan gambaran kondisi temal yang mengindikasikan bahwa para pekerja di lantai produksi Lini II mengalami tekanan panas/heat stress selama bekerja. Kondisi ini telah diperbaiki dengan turbin ventilator dan penjebolan dinding pemisah Lini II dan Lini III. Kondisi termal setelah perbaikan dapat dilihat pada Gambar 7 yang menunjukkan bahwa terdapat penurunan temperatur gradien karena langkah perbaikan yang dilakukan. Pola penurunan gradien temperatur setelah perbaikan adalah sama dengan pola penurunan sebelum perbaikan yaitu cenderung naik bersamaan dengan kenaikan ketinggian dari lantai. Tetapi tingkat kenaikan temperatur gradien setelah perbaikan adalah lebih kecil dibandingkan dengan sebelum perbaikan. Hal ini menunjukkan bahwa udara yang terperangkap di bagian atas pabrik (di bawah atap) bersirkulasi keluar ruangan melalui putaran udara yang dilakukan oleh turbin ventilator.
Gambar 6. Salah satu perbaikan Lingkungan Terpapar Panas
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-451
Udara baru yang masuk dari luar akan bersirkulasi dengan udara yang ada di lantai pabrik dan mereduksi paparan panas yang terjadi.
3.3. Nilai Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) Sebelum dan Sesudah Perbaikan
Nilai rata-rata ISBB sebelum dan sesudah perbaikan untuk kedua shift ditunjukkan pada Gambar 8 di bawah. Nilai ISBB untuk kedua shift sebelum perbaikan dilakukan adalah lebih tinggi dibandingkan dengan sesudah pebaikan. Rata-rata nilai ISBB sebelum perbaikan adalah 320C. Tabel 1. Nilai Ambang Batas Tekanan Panas dari 8 jam kerja diperoleh waktu produktif hanya sekitar 25% atau 2 jam dan waktu non-produktif adalah 75% atau 6 jam. Pekerja pada Lini II dengan kondisi terpapar panas sangat mengganggu produktivitas kerja karyawan. Setelah penggunaan turbin ventilator dan penjebolan dinding pemisah Lini II dan Lini III diperoleh penurunan nilai ISBB sekitar 30C atau 290C. Waktu produktif dan non-produktif naik menjadi 50% atau sekitar 4 jam. Hal ini menunjukkan bahwa waktu produktif pekerja di perusahaan pembuatan teh botol yang berada dalam
Tabel 3. Temperatur Gradien Shift 3 Tabel 2. Temperatur Gradien Shift 2
30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 0,1 0,5 1,1 2 2,5 4 5,7 Tem p er at u r G rad ien (o C ) Ketinggian (m) Sebelum Sesudah 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 0,1 0,5 1,1 2 2,5 4 5,7 Tem p er at u r G rad ien (o C ) Ketinggian (m) Sebelum Sesudah
(a) Gradien Temperatur Shift 2 (b) Gradien Temperatur Shift 3
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-452
kondisi terpapar panas setelah perbaikan dilakukan mampu menaikkan kinerja pekerja dalam hal waktu kerja produktif pekerja.
3.4. Heat Stress Index (HSI)
HSI digunakan untuk mengetahui besarnya resiko pekerja mengalami tekanan panas (heat stress). HSI pada shift 2 sebelum perbaikan adalah 211.2 dan setelah perbaikan adalah 136.1, sedangkan pada shift 3 adalah 136.2 dan 90.2 berturut-turut untuk sebelum dan sesudah perbaikan. Nilai-nilai HSI sebelum perbaikan adalah lebih besar dibandingkan sesudah perbaikan. Walaupun rata-rata HSI masih tinggi tetapi diindikasikan bahwa
engineering control yang dilakukan berdampak pada penurunan tingkat resiko pekerja
terkena tekanan panas/heat stress. Langkah berikutnya dalam perbaikan lingkungan kerja adalah perbaikan tahanan termal pakaian seragam atau clo untuk lebih menjaga keseimbangan termal pekerja (tidak dibahas dalam makalah ini).
3.5. Produktivitas
Produktivitas pekerja setelah lingkungan terpapar panas diperbaiki dengan menghitung jumlah botol non-standar pada setiap pos 1, pos 2, dan pos 3 (Maksud pos di sini adalah tempat pemeriksaan botol menggunakan sensor. Sering terjadi pekerja yang terpapar panas pada saat bekerja melakukan penyekaan keringat atau mendinginkan tubuh dengan berkipas-kipas sehingga tidak melihat saat sensor memberikan sinyal merah pertanda lewatnya botol-botol non-standar yang berjalan di konveyor. Gambar 9 menggambarkan hubungan antara temperatur dan jumlah botol non-standar yang lolos seleksi. Rata-rata botol yang non-standar lolos seleksi akibat paparan panas pada shift 2 lebih besar dibandingkan dengan shift 3. Jumlah botol non-standar yang lolos seleksi pada pos 2 adalah lebih besar dibandingkan dengan pos 1 dan 3. Hal ini diakibatkan karena letak pos 2 yang berada lebih dekat ke area mesin pasteurisasi sehingga pekerja merasakan efek radiasi panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa radiasi panas dari mesin mengakibatkan perubahan keseimbangan termal pekerja dan akhirnya mempengaruhi produktivitas pekerja.
(a) ISBB Shift 2 (b) ISBB Shift 3
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-453
4. PEMBAHASAN
Dari hasil-hasil penelitian sebelum dan sesudah perbaikan lingkungan kerja yang terpapar panas di atas dapat diindikasikan bahwa paparan panas akibat proses produksi dan radiasi mesin-mesin pembangkit panas mempengaruhi produktivitas pekerja. Kenyamanan bekerja juga mengalami peningkatan dari sebelum perbaikan dan sesudah perbaikan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 10.
(a) Produktivitas Shift 2 (b) Produktivitas Shift 3
Gambar 9. Produktivitas Sesudah Perbaikan Lingkungan Kerja di Shift 2 dan 3
Proceeding 11th National Conference of Indonesian Ergonomics Society 2011 ISSN : 2088-9488
Workplace Safety and Health 1-454
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Andrey Livchak yang berjudul “The Effect
of Supply Air System on Kitchen Thermal Enviroment” diperoleh hasil bahwa faktor
temperatur berpengaruh terhadap produktivitas. Jika suhu ruangan meningkat 5.5% di atas tingkatan nyaman, akan menyebabkan penurunan produktivitas sebesar 30%. Berdasarkan NASA Report CR 01205-1 disimpulkan setiap kenaikan 30C temperatur efektif akan mengakibatkan kehilangan output kerja sekitar 5%. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa setiap kenaikan gradien temperatur 20C kelihatannya akan mengakibatkan penurunan tingkat produktivitas pekerja dengan lolosnya botol non-standar sekitar 40 botol per hari (validasi nilai ini perlu dibuktikan lebih lanjut dengan penelitian berikutnya).
5. KESIMPULAN
Lingkungan pabrik yang terpapar panas mampu mereduksi produktivitas pekerja. Kajian termal dengan melakukan audit termal perlu dilakukan untuk menentukan langkah-langkah perbaikan. Audit termal yang telah dilakukan mengharuskan perusahaan melakukan
engineering control dengan melakukan instalasi turbin ventilator dan penjebolan dinding pemisah ruangan. Hasil perbaikan lingkungan kerja ini menghasilkan kenyamanan kerja