Setelah terjadinya peralihan kekuasaan dari komunitas gadjah wong ke komunitas samirono dengan dukungan dari Djadug Ferianto, maka posisi komunitas gadjah wong dan alldint berada dibawah dominasi mereka. Namun berada dibawah bukan berarti diam, mereka juga melakukan perlawanan terhadap dominasi yang baru. Dibawah ini akan dijelaskan bentuk perlawanan tersebut:
5.12.1 Perlawanan yang Dilakukan oleh Komunitas Gadjah Wong 5.12.1.1 Mempertahankan Wacana Jazz Standart
Para musisi jazz senior yang masih aktif dalam komunitas tetap mempertahankan wacana jazz ”standart”. Di restoran gadjah wong, kegiatan jam session masih tetap berlangsung untuk menanamkan wacana jazz ”standart” pada musisi-musisi jazz muda yang tidak terserap di komunitas yang dominan, meskipun jumlahnya tidak lagi sebanyak sebelumnya. Selain itu dalam salah satu event khusus jazz mben senen tribute untuk Singgih Sanjaya ( salah satu musisi jazz senior Jogja yang terserang stroke), beberapa pemimpin informal komunitas gadjah wong masih tetap memainkan jazz ”standart” dengan format big band. Salah satu pemimpin informal menjadi konduktor dalam big band tersebut, lagu-lagu yang dimainkan masih berbasis pada real book.
Pada jazz mben senen selanjutnya berdasarkan observasi partisipasi yang dilakukan peneliti, salah satu musisi jazz senior dengan membawa teman-temannya sesama senior berjam session dengan memainkan jazz ”standart”. Pada saat itu terjadi insiden kecil dimana musisi senior tersebut menolak saat MC menyuruh untuk turun panggung karena waktu habis, musisi tersebut meminta waktu lagi untuk bermain. Pada saat itu peneliti mengamati bahwa untuk mengatasi situasi tersebut MC mencoba menanyakan pada Dani sebagai kordinator jazz mben senen, Dani menyetujui menambahkan waktu namun setelah itu peneliti mengamati raut mukanya terlihat tidak senang. Beberapa perlawanan kecil inilah yang dilakukan oleh pemimpin informal gadjah wong dalam berbagai kesempatan.
Universitas Indonesia
5.12.1.2 Mengkritik Wacana Jazz Dominan
Perlawanan selanjutnya adalah dengan mengkritik bahwa apa yang dilakukan oleh pihak yang dominan serta wacana baru yang dibangun tidak menyertakan unsur edukasi, hanya mengemas musik jazz menjadi tontonan saja.
Salah satu pemimpin informal menjelaskan bahwa musisi mempunyai tanggung jawab moral yaitu memberikan edukasi pada masyarakat, tidak hanya memberikan tontonan. Menurutnya jazz yang ditampilkan mulai kehilangan unsur estetiknya, sebagai bahasa pergaulan seharusnya jazz dimainkan dengan ”benar”.
Dalam jazz mben senen seharusnya juga diadakan workshop dengan memberikan edukasi kepada masyarakat awam, mengenai sejarah jazz, genre-genre jazz serta tehnik bermain jazz yang benar. Menurut salah satu pemimpin informal, sebagaimana Al-Quran yang mempunyai sebab-sebab turunnya suatu surat, begitu juga dengan jazz yang dilahirkan di Amerika. Menurutnya dalam memainkan jazz juga harus mengikuti pakem-pakem tersebut.
Jazz mben senen dikritik selain karena hanya sebagai tontonan juga secara dominan hanya memainkan genre fusion, jarang dimainkan jazz ”standart”. Analogi yang dipakai oleh salah satu pemimpin informal adalah analogi mendidik anak kecil dimana pada saat awal-awal tidak masalah memainkan fusion dulu sebagai pengantar namun dalam perkembangannya dosis yang diberikan harus meningkat dengan memainkan jazz ”standart”. Dari sini dapat dilihat bahwa mereka memposisikan dirinya sebagai ”orang tua” yang memainkan advanced jazz yaitu jazz ”standart” sedangkan yang lain dianggap masih anak-anak karena memainkan fusion. Dengan alasan ini pula salah satu pemimpin informal mengkhawatirkan perkembangan musik jazz Jogja di masa depan.
5.12.1.3 Mereposisi Peran Musisi Jazz Senior
Berdasarkan observasi partisipasi yang dilakukan peneliti, salah satu strategi perlawanan yang dilakukan adalah dengan mereposisi peran musisi senior dalam komunitas jazz Yogyakarta. Sebagai contoh adalah pada event jazz mben senen, salah satu pemimpin informal komunitas gadjah wong setelah selesai jam session menceritakan pada audiences mengenai peran musisi-musisi senior dalam mensosialisasikan musik jazz bahkan sampai ngamen di Malioboro sebelum
Universitas Indonesia musik jazz menjadi lebih dikenali oleh publik seperti sekarang. Selain itu dalam beberapa wawancara bebas juga banyak diceritakan mengenai masa-masa perjuangan yang mereka lakukan untuk mempertahankan musik jazz di tengah-tengah dominannya musik Top 40, bagaimana keberhasilan mereka dalam mengadakan jazz gayeng sebagai festival jazz pertama di Jogja serta bagaimana peran mereka dalam mempersatukan komunitas jazz yang sebelumnya terputus-putus.
Menurut peneliti, mereka mempunyai kepentingan untuk meletakkan posisi mereka dalam sejarah lokal jazz Jogja sebagai pihak yang berperan dalam mensosialisasikan jazz sehingga tidak dilupakan oleh musisi jazz generasi muda ataupun masyarakat Jogja secara umum.
Skema 14.1
Perlawanan dari Komunitas Gadjah Wong
5.12.2 Perlawanan yang Dilakukan Komunitas Alldint 5.12.2.1 Menjalin Relasi dengan Komunitas Musik Indie
Komunitas alldint dalam melakukan perlawanan tidak menggunakan jalur jazz namun mereka memperluas relasi sosial ke ranah musik indie. Mereka melakukan perlawanan dengan menggunakan musik indie sebagai sarana
Memainkan Jazz “Standart”
Wacana jazz dominan
Komunitas Gadjah Wong
Mengkritik Wacana Dominan
Mereposisi Peran Musisi Jazz Senior
Universitas Indonesia pembedaan dengan komunitas jazz yang lain. Hal ini dikarenakan pemimpin informal alldint serta beberapa anggota komunitas alldint banyak beralih ke indie dan menghasillkan album antara lain: Next of Kin, Risky Summerbee and the Honeythief dan juga Blackstockings.
Salah satu kekurangan dari komunitas jazz yang dominan adalah mayoritas band jazz tidak mempunyai album sendiri, baru pada tahun 2009 kemarin atas dukungan dari Djadug diluncurkan album kompilasi jazz yang berisi karya dari komunitas. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh komunitas alldint untuk melakukan perlawanan, dengan membuat album sendiri dan menjalin relasi dengan komunitas indie maka mereka mengakumulasi kapital baru untuk memperkuat posisi mereka.
Manifestasi perlawanan tersebut misalnya oleh Blackstocking band dari Alldint, mereka memainkan genre jazz baru yaitu triphop, menjuarai festival L.A Light IndieFest 2009, karyanya masuk ke album kompilasi indiefest serta sempat masuk ke MTV global. Selain itu Risky and the Honeythief telah meluncurkan album sendiri, melakukan konser di Yogyakarta serta sempat konser di beberapa tempat di Jakarta termasuk di Salihara. Beberapa strategi inilah yang dilakukan komunitas alldint dalam melakukan perlawanan.
5.12.2.2 Mereposisi Peran : Alldint sebagai Komunitas yang Netral
Selain menjalin relasi dengan komunitas indie, komunitas alldint juga mulai mengubah image mereka menjadi komunitas yang netral serta mulai melepaskan diri dari komunitas gadjah wong. Dalam beberapa wawancara bebas, Doni menjelaskan bahwa alldint merupakan komunitas yang netral, tidak hanya sebagai komunitas jazz namun berbagai macam genre dapat berinteraksi di komunitas alldint.
Berdasarkan observasi partisipasi yang dilakukan, misalnya saat event Jogja Bass Hangout dengan bintang tamu Indro Hardjodikoro (bassis jazz nasional) yang diadakan di alldint, Doni di depan banyak audiences yang datang mengumumkan bahwa komunitas alldint terbuka bagi segala macam genre musik dan bersedia untuk menjadi wadah bagi kegiatan bermusik, tidak hanya jazz.
Universitas Indonesia Dengan melakukan reposisi identitas maka mereka dapat mengumpulkan lebih banyak massa (kapital sosial) sehingga mempunyai daya tawar dalam komunitas jazz Yogyakarta. Skema mengenai perlawanan komunitas alldint dijelaskan dibawah ini:
Skema 15.1
Perlawanan dari Komunitas Alldint
5.13 Relasi dengan Ranah – Ranah yang Lain : Pemodal, Media Informasi