• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono (2010:15), “Deskriptif kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dan bukan eksperimen, dengan analisis data yang bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekan pada makna dari pada generalisasi”, dengan kata lain analisis deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mendefinisikan suatu keadaan atau fenomena secara apa adanya. Analisis ini akan memberikan gambaran secara sistematis dan akurat dari data yang diperoleh

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kabupaten Bulukumba

Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota Kabupaten Bulukumba terletak di kota Bulukumba. Kabupaten ini memiliki luas 1.154,67 km2 dan berpenduduk sebanyak 394.757 jiwa.Kabupaten Bulukumba memiliki 10 kecamatan, 24 kelurahan, serta 123 desa. Secara kewilayahan, kabupaten Bulukumba terletak pada kondisi empat dimensi, yaitu dataran tinggi di kaki Gunung Bawakaraeng- Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas.Kabupaten Bulukumba terletak di ujung selatan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, yang terkenal dengan insdustri perahu yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Pemerintah Daerah. Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 05°20° – 05°40°

LS dan 119°58° - 120°28° BT. Dengan batas wilayah:

a. Sebelah Utara: Kabupaten Sinjai b. Sebelah Selatan: Laut Flores c. Sebelah Timur: Teluk Bone

d. Sebelah Barat: Kabupaten Bantaeng

Awal terbentuknya, kota Bulukumba hanya terdiri atas tujuh kecamatan (Ujungbulu, Gangking, Bulukumpa, Bontobahari, Bontotiro, Kajang, Herlang), tetapi beberapa kecamatan kemudian dimekarkan dan

kini “butta panrita lopi” sudah terdiri atas 10 kecamatan. Ke 10 kecamatan tersebut adalah:

a. Kecamatan Ujung Bulu (Ibukota Kabupaten) b. Kecamatan Gantarang

c. Kecamatan Kindang d. Kecamatan Rilau Ale e. Kecamatan Bulukumba f. Kecamatan Ujung Loe g. Kecamatan Bonto Bahari h. Kecamatan Bonto Tiro i. Kecamatan Kajang j. Kecamatan Herlang

Kecamatan yang terdiri dari 10 tersebut, tujuh di antaranya merupakan daerah pesisir sebagai sentra pengembangan pariwisata dan perikanan yaitu Kecamatan Gantarang, Kecamatan Ujungbulu, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bontobahari, Kecamatan Bontotiro, Kecamatan Kajang dan Kecamatan Herlang. Tiga kecamatan lainnya tergolong sentra pengembangan pertanian dan perkebunan, yaitu Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale dan Kecamatan Bulukumba.

2. Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba

Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba merupakan unsur pelaksana yang menjadi kewenangan daerah yang dipimpin oleh seorangKepala Badan yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretariat Daerah.

Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba dibentuk

berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah yang kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah serta Peraturan Bupati Bulukumba Nomor 101 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba.

Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba resmi berdiri menjadi Badan pada tahun 2016, Bapenda yang sebelumnya adalah bagian dari Badan Pendapatan dan Keuangan Daerah, namun dipisah dikarenakan semakin meningkatnya usaha pembangunan daerah yang merupakan salah satu tugas pokok pemerintah daerah untuk menuju ke arah otonomi yang dinamis, nyata, dan bertanggungjawab, maka perlu dilakukan upaya peningkatan pendapatan daerah guna membiayai pembangunan daerah maka dilakukan pemekaran menjadi dua SKPD yang menjalankan fungsinya masing-masing untuk membangun daerah yaitu Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba dan Badan Pengelola Keuangan Daerah Kabupaten Bulukumba

3. Visi dan Misi Organisasi a. Visi

Visi Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba.

“Maksimalnya peningkatan pendapatan daerah melalui pengelolaan pendapatan daerah yang Bersih, Tertib, Transparan, Akuntabel dan Inovatif”.

b. Misi

Berdasarkan Visi Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba kedepan, ditetapkan misi sebagai berikut :

1) Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar 13%

pertahun total pendapatan daerah sekitar 10% pertahun.

2) Meningkatkan Kapasitas, Efektivitas dan Efisiensi unit kerja dalam rangka memberikan kualitas prima dalam pelayanan pajak.

3) Mewujudkan aparatur pengelola pendapatan daerah yang cakap, handal, jujur, bertanggung jawab dan professional dalam kemampuan teknis maupun manajemen.

4) Mewujudkan sistem dan prosedur pengelolaan pendapatan daerah yang tranparan dan akuntabel.

5) Peningkatan koorBadani dan pengendalian.

4. Struktur Organisasi dan Job Description a. Struktur Organisasi

Struktur organisasi adalah kerangka yang menunjukkan pekerjaan untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi serta wewenang dan tanggung jawab tiap-tiap anggota organisasi pada setiap pekerjaan. Dalam pencapain tujuan dan sasaran suatu organisasi maka struktur organisasi sangat penting karena struktur organisasi merupakan salah satu syarat dalam upaya pencapaian tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Jabatan

a) MengkoorBadanikan penyusunan program dan kegiatan Badan Pendapatan Daerah,

b) MengkoorBadanikan perumusan kebijakan agar tercipta singkronisasi dan integrasi kebijakan pemerintah dalam lingkup kerja dan kewenangan Badan Pendapatan Daerah, c) Menyelenggarakan urusan Badan Pendapatan Daerah, d) MengkoorBadanikan pelaksanaan pengendalian,

penempatan dan pembinaan kepegawaian dalam lingkup UPT

Badan Pendapatan Daerah,

e) Mengendalikan pengelolaan keuangan Badan Pendapatan Daerah,

f) Menyelenggarakan urusan umum Badan Pendapatan Daerah.

g) Melaksanakan pemantauan dan evaluasi secara berkala pelaksanaan kebijakan pemerintah daerah dalam lingkup Badan Pendapatan Daerah.

h) Melaksanakan konsultasi dan koorBadani program dan kegiatan dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat dalam rangka terciptanya keselarasan program kegiatan antar tingkatan pemerintahan dalam lingkup kerja dan kewenangan Badan Pendapatan Daerah,

i) Mendistribusikan tugas dan pemberian petunjuk pelaksanaan kepada bawahan,

j) Memantau dan mengevaluasi dan menilai pelaksanaan tugas bawahan,

k) Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas, l) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas pada atasan, m) Melaksanakan tugas keBadanan lain yang diperintahkan

oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya.

2. Sekertaris

a) MengkoorBadanikan dan penyusunan program serta dalam kegiatan kesekretariatan,

b) Melaksanakan pelayanan kesekretariatan,

c) Merumuskan pedoman dan/atau petunjuk teknis pelaksanaan kegiatan kesektariatan,

d) Memberikan dukungan atas penyelenggaraan urusan administrasi umum, kepegawaian, perencanaan dan penegelolaan keuangan dan perlengkapan,

e) Merencanakan, mengkoorBadanikan, menggerakkan dan melakukan mengendalikan serta menetapkan kebijakan umum kepegawaian, keuangan dan perlengkapan,

f) Menyusun kegiatan tahunan sebagai pedoman pelaksanaan tugas,

g) Mengelola dan mengkoorBadanikan pelaksanaan pelayanan teknis dan administratif kepada seluruh satuan unit kerja dalam lingkup Badan endapatan Daerah,

h) Mengelola dan mengkoorBadanikan pelaksanaan urusan umum, urusan kepegawaian, urusan pengelolaan keuangan dan asset, serta pelaksanaan urusan perlengkapan,

i) Melakukan pemantauan, evaluasi terhadap penyelenggaraan administrasi umum, pengelolaan keuangan, pelaporan dan aset,

j) Menilai prestasi kerja para kepala sub bagian dalam rangka pembinaan dan pengembangan karir,

k) Menginventarisir permasalahan dan menyiapkan data/bahan pemecahan masalah sesuai bidang tugasnya, l) Memeriksa bahan penyusunan laporan akuntabilitas

kinerja instansi pemerintah (LAKIP),

m) Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas, n) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas pada atasan, o) Melaksanakan tugas keBadanan lain yang diperintahkan

oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya.

3. Bidang Penagihan

a) Menyusun rencana program dan kegiatan,

b) Menyusun pedoman dan/atau petunjuk tehnis pelaksanaan kegiatan,

c) Mendistribusikan tugas dan memberi petunjuk pelaksanaan kepada bawahan,

d) Memantau, mengawasi dan mengevaluasi hasil pelaksanaan tugas bawahan,

e) Merumuskan dan melaksanakan kebijakan tehnis bidang penagihan,

f) Melaksanakan penagihan pajak bumi dan bangunan (PBB) dan pajak daerah lainnya,

g) Menyusun laporan realisasi tunggakan PBB, Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan BPHTB dan pajak daerah lainnya,

h) Menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan dokumen perubahan pelaksanaan anggaran (DPPA), i) Menyiapkan bahan dalam rangka pemeriksaan dan tindak

lanjut hasil pemeriksaan,

j) Melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM),

k) Melaporkan hasil pelaksanaan tugas pada atasan, l) Melaksanakan tugas keBadanan lain yang diperintahkan

oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya.

4. Bidang Keberatan dan Penetapan

a) Menyusun rencana program dan kegiatan dibidang penetapan dan keberatan,

b) Mendistribusikan tugas dan memberi petunjuk pelaksanaan kepada bawahan,

c) Memantau, mengawasi dan mengevaluasi hasil pelaksanaan tugas bawahan,

d) Memeriksa bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan tehnis penetapan, keberatan, pembukuan dan pelaporan,Memeriksa bahan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan program penetapan dan keberatan, e) Melaksanakan penghitungan penetapan dan keberatan, f) Melaksanakan proses penghitungan penetapan,

keberatan, pembukuan dan pelaporan,

g) Melaksanakan pencetakan dan penerbitan SKPD, SKPDKB, SKPDLB, dan SKPDN BPHTB dan Pajak Daerah Lainnya,

h) Melaksanakan porporasi benda berharga BPHTB dan Pajak daerah lainnya,

i) Merumuskan penyusunan daftar rekapitulasi SKPD dan surat ketetapan lainnya yang telah diterbitkan,

j) Mendistribusikan SSPD, BPHTB, dan SKPD kepada wajib

pajak daerah lainnya,

k) Melaksanakan pemungutan BPHTB dan pajak daerah lainnya,

l) Melaksanakan dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) dan dokumen perubahan pelaksanaan angaran (DPPA), m) Merumuskan penyusunan standar pelayanan public (SPP)

dan standar operasional prosedur (SOP),

n) Merumuskan penyusunan sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) dan standar pelayanan minimal (SPM), o) Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas,

p) Melaporkan hasil pelaksanaan kepada atasan,

q) Melaksanakan tugas keBadanan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai dengan bidang tugasnya.

5. Bidang Pendataan, Pendaftaran dan Pengembangan Potensi a) Menyusun rencana program dan kegiatan dibidang

pendataan, pendaftaran dan pengembangan potensi, b) Mendistribusikan tugas dan memberi petunjuk

pelaksanaan tugas kepada bawahan,

c) Memantau, mengawasi dan mengevaluasi hasil pelaksanaan tugas bawahan,

d) Memeriksa bahan perumusan dan pendataan, pendaftaran dan pengembangan potensi, pengelolaan data dan pelayanan umum dan pengembangan potensi,

e) Melaksanakan pengembangan sistem informasi manajemen pendataan, pendaftaran, dan pengembangan

potensi, pengelolaan data dan pelayanan umum dan pengembangan potensi,

f) Melakasanakan pencetakan dan penerbitan data SPPT dan/atau SKPD pajak bumi dan bangunan (PBB),

g) Menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen Perubahan Anggaran (DPPA),

h) Melaporkan hasil penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Dokumen Perubahan Anggaran (DPPA),

i) Menyusun standar Pelayanan Publik (SPP), Standar Operasional Prosedur (SOP), Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Standar Pelayanan Minimal (SPM), j) Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas, Melaporkan

hasil pelaksanaan tugas kepada atasan,

k) Melaksanakan tugas keBadanan lain yang diperintahkan oleh atasan sesusai dengan bidang tugasnya.

B. Pelaksanaan Sistem dan Prosedur Akuntansi Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bulukumba

Sistem akuntansi pendapatan dan belanja daerah pada Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba dilaksanakan dengan mengacu ketentuan Daerah Kabupaten Bulukumba. Sistem dan Prosedur Akuntansi Pendapatan dan Belanja Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba pada dasarnya dibagi beberapa bagian yaitu:

Bendahara penerimaan SKPD menerima pembayaran sejumlah uang yang tertera pada Surat Ketetapan Pajak (SKP) daerah atau Surat Ketetapan

Retribusi (SKR) atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SKP/SKR dari wajib pajak atau wajib retribusi atau pihak ketiga yang berada dalam pengurusannya. Bendahara penerimaan SKPD mempunyai kewajiban untuk melakukan pemeriksaan kesesuaian antara jumlah uang dengan jumlah yang telah ditetapkan.

Bendahara penerimaan SKPD kemudian membuat Surat Tanda Bukti Pembayaran/bukti lain yang sah untuk diberikan kepada wajib pajak/wajib retribusi.

Setiap pendapatan yang diterima oleh bendahara penerimaan SKPD harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lambat 1 (satu) hari kerja berikutnya dengan menggunakan formulir Surat Tanda Setoran (STS).

Format dokumen Surat Ketetapan Pajak (SKP) daerah. Surat Ketetapan Retribusi (SKR) dan Surat Tanda Setoran (STS) dibuat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Proses pencatatan yang dilakukan dimulai dari saat bendahara penerimaan pembantu menerima pembayaran tunai dari wajib pajak atau wajib retribusi. Apabila pembayaran menggunakan cek/giro, maka pencatatan dilakukan ketika cek tersebut diuangkan bukan pada saat cek tersebut diterima. Sedangkan pencatatan transaksi penyetoran dilakukan pada saat bendahara penerimaan pembantu menyetorkan pendapatan yang diterimanya ke rekening kas daerah.

Pencatatan dilakukan pada buku penerimaan dan penyetoran Bendaharta Penerimaan pada saat penerimaan dan pada saat penyetoran.

1. Langkah-langkah pembukuan pada saat penerimaan dan pada saat penerimaan tunai adalah sebagai berikut:

a. Berdasarkan Bukti Penerimaan/Bukti Lain Yang Sah, bendahara penerimaan pembantu mengisi Buku Penerimaan dan Penyetoran pada bagian penerimaan kolom tanggal dan kolom nomor bukti.

Setelah itu Bendahara penerimaan pembantu mengisi kolom cara pembayaran dengan pembayaran tunai.

b. Kemudian bendahara penerimaan pembantu mengidentifikasi jenis dan kode rekening pendapatan. Lalu bendahara penerimaan pembantu mengisi kolom kode rekening.

c. Bendahara penerimaan pembantu mencatat nilai transaksi pada kolom jumlah

2. Langkah-langkah pembukuan pada saat penyetoran adalah sebagai berikut:

a. Bendahara penerimaan pembantu membuat STS dan melakukan penyetoran pendapatan yang diterimanya ke rekening kas umum daerah.

b. Bendahara penerimaan pembantu mencatat penyetoran ke kas umum daerah pada buku penerimaan dan penyetoran bendahara penerimaan pembantu pada bagian penyetoran kolom tanggal, No. STS dan jumlah penyetoran.

Selain pembukuan pada Buku Penerimaan dan Penyetoran Bendahara Penerimaan, bendahara penerimaan mengisi register STS.

Bendahara pengeluaran mengajukan Surat Penerimaan Pembayaran (SPP) dalam rangka melaksanakan belanja. Dalam hal ini bendahara

pengeluaran menyusun dokumen SPP yang dapat berupa:

1. Uang Persediaan (UP) 2. Ganti Uang (GU) 3. Tambah Uang (TU) 4. Langsung (LS)

5. LS untuk pembayaran Gaji & Tunjangan 6. LS untuk pengadaan Barang dan Jasa

Disamping membuat SPP Bendahara pengeluaran juga membuat register untuk SPP yang diajukan, Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah Pencairan Dana yang sudah diterima oleh bendahara.

1. SPP Uang Persediaan (UP)

Bendahara pengeluaran mengajukan SPP Uang Persediaan (UP) setiap awal tahun anggaran setelah dikeluarkannya SK Kepala Daerah tentang besaran UP. SPP-UP dipergunakan untuk mengisi uang persediaan tiap-tiap SKPD. Pengajuan UP hanya dilakukan sekali dalam setahun tanpa pembebanan pada kode rekening tertentu.

Bendahara mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai lampiran dalam pengajuan SPP UP, selain dari dokumen SPP UP itu sendiri.

Bendahara pengeluaran SKPD dapat melimpahkan sebagian uang persediaan yang dikelolanya kepada bendahara pengeluaran pembantu SKPD untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. Pelimpahan tersebut dilakukan berdasarkan persetujuan pengguna anggaran.

2. SPP Ganti Uang Persediaan (GU)

Pada saat uang persediaan telah terpakai bendahara pengeluaran

dapat mengajukan SPP Ganti Uang Persediaan (GU) dengan besaran sejumlah SPJ penggunaan uang persediaan yang telah disahkan pada periode waktu tertentu. SPP-GU tersebut dapat disampaikan untuk satu kegiatan tertentu atau beberapa kegiatan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Misal, suatu SKPD mendapatkan alokasi Uang Persediaan, maka SPP-GU yang diajukan dengan pembebanan pada kode rekening belanja terkait kegiatan tersebut.

Bendahara mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai lampiran dalam pengajuan SPP GU, selain dari dokumen SPP GU itu sendiri.

Lampiran tersebut antara lain:

a. Salinan SPD

b. Draft Surat Pernyataan Pengguna Anggaran c. Laporan Pertanggungjawaban Uang Persediaan d. Bukti-bukti belanja yang lengkap dan sah

e. Lampiran lain yang diperlukan 3. SPP Tambahan Uang (TU)

Apabila terdapat kebutuhan belanja yang sifatnya mendesak, yang harus dikelola oleh bendahara pengeluaran, dan uang persediaan tidak mencukupi karena sudah direncanakan untuk kegiatan yang lain, maka bendahara pengeluaran dapat mengajukan SPP-TU. Batas jumlah pengajuan SPP-TU harus mendapat persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan. Jumlah dana yang dimintakan dalam SPP-TU ini harus dipertanggungjawabkan tersendiri dan bila tidak habis, harus doisetorkan kembali.

Dalam hal dana tambahan uang tidak habis digunakan dalam 1 (satu) bulan maka sisa tambahan uang disetor ke rekening kas umum daerah. Ketentuan batas waktu penyetoran sisa tambahan uang dikecualikan untuk:

a. Kegiatan yang pelaksanaannya melebihi 1 (satu) bulan

b. Kegiatan yang mengalami penundaan dari jadwal yang telah ditetapkan yang diakibatkan oleh peristiwa diluar kendali PA/KPA Bendahara mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai lampiran dalam pengajuan SPP-TU, selain dari dokumen SPP TU sendiri.

Lampiran tersebut antara lain:

a. Salinan SPD

b. Draft Surat Pernyataan Pengguna Anggaran

c. Surat Keterangan Penjelasan Keperluan pengisian TU d. Lampiran lain yang diperlukan

4. SPP Langsung (LS)

SPP Langsung (SPP-LS); yang dipergunakan untuk pembayaran langsung pada pihak ketiga dengan jumlah yang telah ditetapkan SPP-LS dapat dikelompokkan menjadi:

a. SPP-LS untuk pembayaran Gaji dan Tunjangan b. SPP-LS untuk pengadaan Barang dan Jasa

Bendahara mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai lampiran dalam pengajuan SPP LS, selain dari dokumen SPP LS itu sendiri.

Lampiran tersebut antara lain:

Untuk SPP-LS Gaji dan Tunjangan a. Salinan SPD

b. Draft Surat Pernyataan Pengguna Anggaran

c. Dokumen-dokumen pelengkap Daftar Gaji yang terdiri atas;pembayaran gaji induk;gaji susulan;kekurangan gaji;gaji terusan;uang duka wafat/tewas yang dilengkapi dengan daftar gaji induk/gaji susulan/kekurangan gaji/uang duka wafat/tewas; SK CPNS;

SK PNS; SK kenaikan pangkat; SK jabatan;kenaikan gaji berkala;

surat pernyataan masih menduduki jabata;surat pernyataan melaksanakan tugas;daftar keluarga keluarga (KP4); fotokopi surat nikah; fotokopi akte kelahiran; surat keterangan pemberhentian pembayaran (SKPP) gaji; daftar potongan sewa rumah Badan; surat keterangan masih sekolah/kuliah; surat pindah; surat kematian; SPP PPh Pasal 21; dan peraturan perundang-undangan mengenai penghasilan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah/wakil kepala daerah; Lampiran lain yang diperlukan Untuk SPP-LS Barang dan Jasa

a. Salinan SPD

b. Draft Surat Pernyataan Pengguna Anggaran

Dokumen-dokumen Terkait Kegiatan (disiapkan oleh panitia pelaksana tenaga kerja) PPTK yang terdiri atas: salinan surat

rekomendasi dari SKPD teknis terkait; SSP disertai faktur pajak (PPN dan PPh) yang telah ditandatangani wajib pajak dan wajib pungut; surat perjanjian kerjasama/kontrak antara pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dengan pihak ketiga serta mencantumkan nomor rekening bank

pihak ketiga; berita acara penyelesaian pekerjaan; berita acara serah terima barang jasa;berita acara pembayaran;kwitansi bermeterai, nota/faktur yang ditanda-tangani pihak ketiga dan PPTK serta disetujui oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran; surat jaminan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank; dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak- kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari penerusan pinajaman/hibah luar negeri; berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh pihak ketiga/rekanan serta unsur panitia pemeriksaan barang berikut lampiran daftar barang yang diperiksa; surat angkutan atau konosemen apabila pengadaan barang dilaksanakan diluar wilayah kerja; surat pemberitahuan potongan denda keterlambatan pekerjaan dari PPTK apabila pekerjaan mengalami keterlambatan;

foto/bukti/dokumentasi tingkat kemajuan/penyelesaian pekerjaan;

potongan jamsostek (potongan sesuai dengan ketentuan yang berlaku/surat pemberitahuan jamsostek); dan/khusus untuk pekerjaan konsultan yang perhitungan harganya menggunakan biaya personil (billing rate), berita acara prestasi kemajuan pekerjaan dilampiri dengan bukti kehadiran dari tenaga konsultan sesuai pentahapan waktu peke rjaan dan bukti pengeluaran lainnya berdasarkan rincian dalam surat penawaran. Lampiran lain yang diperlukan.

Pendapatan Daerah Bendahara Penerimaan Kabupaten Bulukumba

1. Neraca Saldo SKPD menyusun Laporan Keuangan SKPD yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran,Neraca, dan Catatan atas

2. SKPD menyerahkan Laporan keuangan SKPD kepada pengguna anggaran untuk diotorisasi.

Laporan Keuangan.

3. Pengguna anggaran mengotorisasi laporan keuangan SKPD berikut Surat pernyataan kepada PPKD.

4. SKPD menjurnal Nota Kredit dan Nota Debet kedalam Register Jurnal penerimaan pengeluaran kas.

5. BUD menyerahkan laporan arus kas dan laporan posisi kas harian yang dilampiri Nota Kredit dan Nota Debet kepada Fungsi Akuntansi SKPKD

6. Hasil dari proses ini adalah BUD dan Buku pembantu SKPKD yang ter update.

Tabel 4.1: Pendapatan Dan Penerimaan Bendahara

C. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

Penyelenggaraan kegiatan pada suatu Instansi Pemerintah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, sampai dengan pertanggungjawaban, harus dilaksanakan secara tertib, terkendali, serta efektif dan efisien. Untuk mewujudkannya dibutuhkan suatu sistem yang dapat memberi keyakinan memadai bahwa penyelenggaraan kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan dapat mencapai tujuan. Sistem inilah yang dikenal sebagai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).

Sistem pengendalian Intern (SPI) adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sistem pengendalian Intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh sumber daya manusia, serta hanya memberikan keyakinan yang memadai, bukan keyakinan mutlak, sehingga dalam pengembangan dan penerapannya perlu dilakukan secara

benefit), rasa keadilan dan kepatutan, perkembangan teknologi informasi dan

komunikasi serta mempertimbangkan ukuran, kompleksitas, dan sifat dari tugas dan fungsi instansi pemerintah. Peraturan pemerintah Nomor 60 Tahun 2018 jtentang sistem pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dijelaskan bahwa SPIP adalah SistemPengendalian Intern yang diselenggarakan secaramenyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Berkaitan dengan hal ini, presiden selaku Kepala Pemerintah mengatur dan menyelenggarakan sistempengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh. Sedangkan menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menyelenggarakan sistem pengendalian intern di bidang perbendaharaan, menteri/pimpinan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang menyelenggarakan sistem pengendalian intern di bidang pemerintahan masing-masing, dan Gubernur/Bupati/Walikota selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah mengatur lebih lanjut dan menyelenggarakan sistem pengendalian instern di lingkungan pemerintah daerah yang dipimpinnya. Untuk memberi suatu keyakinan akan tercapainya tujuan instansi pemerintah yang secara umum dibagi kedalam tiga kategori, yaitu:

1. Keefektifan dan efisien operasional instansi 2. Pelaporan keuangan yang handal

3. Kepatuhan terhadap prosedur dan peraturan yang diberlakukan Suatu pengendalian intern pemerintah bisa dikatakan efektif apabila ketiga kategori dapat tercapai, yaitu dengan kondisi:

1. Instansi pemerintah mendapat pemahaman akan arah pencapaian tujuan dengan meliputi target pemerintah, termasuk juga kinera, tingkat

profitabilitas, keamanan aset pengelolaan Keuangan Daerah

2. Laporan keuangan yang dipublikasikan adalah handal dan dapat

2. Laporan keuangan yang dipublikasikan adalah handal dan dapat