SISTEM PELUMASAN
PERELATAN PELUMASAN
2.1 Sistem Bahan Bakar Minyak
Baik PLTU berbahan bakar minyak maupun PLTU berbahan bakar batubara selalu dilengkapi dengan sistem bahan bakar minyak. Fungsi sistem ini adalah untuk menyediakan pasokan bahan bakar minyak bagi kebutuhan ketel. Konfigurasi sistem bahan bakar minyak serta komponen-komponennya sangat beragam
Mengingat keterbatasan waktu, maka pada session ini hanya akan dibahas sistem bahan bakar minyak tipikal yang umum diterapkan pada PLTU minyak maupun PLTU
Teknik Konverensi Energi 2008 125 batubara. Seperti diketahui bahwa bahan bakar minyak yang banyak dipakai di PLTU adalah jenis Heavy Oil (HFO) grade 6 yang juga dikenal sebagai minyak bungker C.
Selain itu juga digunakan minyak yang lebih ringan (Lighter Oil) seperti grade 2 atau minyak diesel (Inland Diesel Oil/IDO) yang umumnya dipakai untuk penyalaan awal ketel.
Contoh tipikal untuk sistem bahan bakar minyak dapat dilihat sepeti pada gambar 12.
Sistem bahan bakar minyak mencakup pengisian, penimbunan, transfer serta pemanasan minyak terutama untuk HFO.
Adapun komponen-komponen sistem bahan bakar minyak diantaranya adalah :
a. Tangki Penyimpan.
Berfungsi sebagai sarana penampung bahan bakar minyak. Untuk HFO terdiri dari tangki penampung utama (Main Storage Tank) dengan kapasitas cukup besar dan tangki harian (Day Tank) dengan kapasitas yang lebih kecil. Storage Tank umumnya diisi dari sumber pasokan minyak diluar sistem seperti Tongkang, Truk dan lain sebagainya.
Tangki ini biasanya juga dilengkapi dengan pemanas (heater) minyak yang berfungsi untuk memanaskan minyak guna menurunkan kekentalan agar lebih mudah dipompakan.
Pemanasan dilakukan dengan metode “Trace Heating” yang dapat menggunakan media berupa air panas atau listrik. Dari storage tank, HFO dipompakan ke day tank oleh transfer pump melaui katup pengatur (CRV) yang dikendalikan oleh level day tank. Bila level day tank sudah cukup maka katup akan menutup dan HFO dari pompa disirkulasikan kembali
Teknik Konverensi Energi 2008 126 ke storage tank. Untuk minyak diesel (IDO) umumnya hanya disediakan satu tangki dan tanpa pemanas, minyak langsung dialirkan ke ignitor melalui katup pengurang tekanan (Pressure Reducing Valve). Aliran minyak ke ignitor umumnya tidak variablel. Bila ignitor stop maka minyak akan disirkulasikan kembali kedalam tangki.
Gambar 13., merupakan ilustrasi storage tank sedang gambar 14, merupakan tipikal day tank dengan pemanas uap.
Gambar 8: Storage Tank
Gambar 9: Day Tank
Teknik Konverensi Energi 2008 127 Baik transfer pump, supply pump maupun booster pump memiliki fungsi yang sama yaitu untuk mengalirkan minyak. Gambar.15, merupakan jenis-jenis pompa yang banyak dipakai. Transfer pump maupun supply pump umumnya berupa pompa ulir yang digerakkan oleh motor listrik pada putaran konstan dengan kapasitas untuk setiap pompa melebihi kebutuhan. Kelebihan pasokan minyak dialirkan kembali ke Tangki melalui katup pengatur 3 jalan (Three Way Control valve) lewat saluran resirkulasi.
Bagi minyak yang sudah dipanasi dengan cukup sehingga memenuhi kualifikasiuntuk rentang atomisasi, dapat digunakan pompa centrifugal untuk mengalirkannya. Karena itu, pompa centrifugal banyak dipakai sebagai booster pump.
Gambar 10: Pompa Minyak
Karena mengalirkan minyak bertemperatur tinggi, booster pump biasanya dilengkapi dengan sistem pendingin dari auxiliary cooling water system.
c. Fuel Oil heater.
Fuel oil heater memiliki beberapa fungsi diantaranya untuk menaikkan temperatur minyak disisi masuk pompa. Tujuan pemanasan ini adalah agar minyak memiliki viskositas yang memenuhi kriteria bagi rentang pemompaan (Pumping Range). Pemanas semacam ini umumnya dipasang didalam tangki dengan media pemanas berupa uap atau air panas.
Fungsi lain adalah untuk menjaga temperatur minyak sepanjang saluran. Untuk ini biasanya digunakan metode “Trace Heating”, baik dengan media uap, air panas ataupun listrik.
Teknik Konverensi Energi 2008 128 Fungsi yang paling utama dari fuel oil heater adalah untuk memanaskan minyak hingga mencapai temperatur yang cukup tinggi sehingga viskositas minyak memenuhi kriteria untuk kebutuhan atomisasi (Atomizing Range).
Pemanas ini umumnya menggunakan uap sebagai media pemanas dimana aliran uap ke pemanas diatur oleh control valve dengan temperatur minyak keluar pemanas sebagai set point. Gambar 16, merupakan contoh pemanas minyak tipe permukaan yang banyak dipakai.
Gambar 11: Fuel Oil Heater
Karena pemanas ini menggunakan uap sebagai media pemanas, maka air kondensasi uap umumnya dikembalikan ke kondensor. Bila terjadi kebocoran pipa-pipa pemanas, maka air kondensasi dari fuel oil heater akan tercemar minyak. Operator harus memperhatikan masalah ini dengan seksama.
Teknik Konverensi Energi 2008 129 Fungsi dari saringan adalah untuk menahan partikel-partikel padat atay semi padat dari minyak agar tidak menimbulkan masalah pada komponen-komponen lain seperti pompa, oil heater dan sebagainya.
Karena itu disetiap sisi hisap (suction) pompa senantiasa dipasangi saringan ini. Saringan minyak yang dipakai umumnya bertipe dupleks sehingga memungkinkan satu saringan dibersihkan sedang satu saringan lain aktif beroperasi. Contoh tipikal saringan dupleks terlihat seperti gambar 17
.
Gambar 12: Stainer
Saringan dupleks biasanya dilengkapi dengan handel/tuas untuk memindahkan operasi dari kedua saringan. Juga dilengkapi indikator untuk mengetahui saringan mana yang sedang aktif. disamping itu, saringan umumnya dilengkapi Pressure Gauge disisi masuk dan sisi keluar saringan sehingga perbedaan tekanan (P) minyak melintas saringan dapat
Teknik Konverensi Energi 2008 130 diketahui. P ini merupakan indikator dari kondisi kebersihan saringan. Bila P tinggi berarti saringan kotor dan perlu dicuci/dibersihkan. Sebelum melakukan pencucian, saringan yang aktif harus dipindah terlebih dahulu dari yang kotor ke yang bersih.
Untuk saringan yang berukuran besar, ketika selesai dibersihkan perlu diingat bahwa ruang saringan berisi udara dalam jumlah yang cukup besar. Bila dalam keadaan seperti ini saringan diaktifkan, maka akan timbul kejutan aliran dan bahkan mungkin dapat
mengakibatkan ketel trip. Untuk mencegah terjadinya hal ini, maka udara dalam rumah saringan harus dibuang terlebih dahulu.
Bagi keperluan ini, saringan yang besar biasanya dilengkapi dengan saluran venting untuk membuang udara dan saluran bypass untuk pengisian minyak. Untuk membuang udara, buka katup saluran venting dan buka katup pengisian minyak sedikit demi sedikit sehingga minyak akan mengisi rumah saringan sambil menekan udara keluar lewat saluran venting. Manakala dari saluran venting sudah keluar minyak, berarti udara dalam rumah saringan sudah habis. Tutup katup venting dan katup bypass pengisian. Dalam kondisi demikian, saringan dinyatakan standby dan siap untuk diaktifkan.
2.3 Pemeliharaan Sistem Udara Pembakaran
Untuk kerja sistem udara pembakaran yang sesuai dengan standart akan menjamin proses pembakaran yang efisien dan kelangsungan operasi unit pembangkit. Kurangnya pemahaman tentang kuantitas dan kualitas udara pembakaran akan mengakibatkan terjadinya pembakaran tidak sempurna dan terganggunya operasi mesin sehingga menurunkan kinerja unit pembangkit. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu SDM yang kompeten, pelatihan ini dapat memberikan solusi terhadap masalah pengoperasian sistem udara pembakaran di unit pembangkit. Setelah mengikuti Pelatihan peserta mampu melaksanakan pengoperasian sistem Udara Pembakaran dengan baik dan benar sesuai prosedur (SOP) dan mendukung standar kompetensi
3.Kesimpulan
Fungsi dari sistem udara Pembakaran adalah menyediakan udara yang cukup untuk kebutuhan proses pembakaran bahan bakar didalam ruang bakar ketel.
Sistem udara pada ketel-ketel batubara terdiri dari 2 macam udara yaitu udara primer (primary air) dan udara sekunder (secondary air).
Teknik Konverensi Energi 2008 131
Udara Primer (primary air). Untuk mengalirkan serbuk batubara dari pulverizer ke burner diperlukan media transportasi. Adapun media yang digunakan adalah udara yang dihembuskan melalui sebuah Fan. Udara ini dikenal dengan istilah udara primer (primary air) dan dihembuskan oleh Primary Air Fan
Udara Sekunder (secondary air). Udara sekunder pada ketel batubara sama halnya dengan udara pembakaran (combustion air) pada ketel berbahan bakar minyak. Fungsi udara sekunder adalah memasok kebutuhan udara untuk proses pembakaran yang sempurna didalam ruang bakar.
Dalam sistem udara pembakaran, dikenal istilah draft (draught) yang menyatakan tekanan statis dalam ruang bakar ketel. Ada 4 macam draft yang dikenal yaitu :
1. Sistem Udara Pembakaran Pada Forced Draft. Dalam sistem ini, seluruh saluran udara, ruang bakar ketel hingga ke saluran gas bekas bertekanan positif (lebih tinggi dari tekanan atmosfir).
2. Sistem Udara Pembakaran Pada Balanced Draft. Pada sistem Balanced draft, FDF