• Tidak ada hasil yang ditemukan

REKOMENDASI BERDASARKAN PENDEKATAN PROGRAM

5.1 Program Pengembangan Tanaman

5.1.3 Sistem Budidaya Tanaman

Sistem budidaya tanaman yang berlangsung di Maluku Tenggara Barat adalah sistem ladang berpindah yang sangat rentan terhadap tekanan erosi dan kehilangan hara tanaman. Pada desa-desa dengan jumlah arin yang banyak, sistem ini masih dapat dipertahankan karena hasil pembakaran lahan menghasilkan abu yang menyumbang hara dan meningkatkan pH setelah masa pemeraan selama 17 tahun (Sanchez, 1999). Namun bagi desa-desa dengan rotasi arin yang singkat, sistem ini gagal mempertahankan ketersediaan hara dan gagal mengkonservasi tanah dan air.

Sistem budidaya tanaman yang baik adalah sistem budidaya tanaman ditujukan untuk mengkonservasi dan memanen air, memanfaatkan air secara efisien untuk irigasi, meningkatkan efisiensi tanaman menggunakan air yang tersedia dalam jumlah sedikit ketika musim kemarau, dan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Analisis neraca air tanah dalam keadaan panenan air yang optimal, dapat digunakan untuk menyusun kembali pola tanam tanaman pangan lokal untuk ketahanan pangan, dan musim tanam untuk sistem agribisnis.

Penguatan sistem budidaya tanaman dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan, diantaranya:

Pemanenan air di musim hujan

a. . Pada pulau-pulau yang tidak memiliki

sumber air sungai yang mengalir sepanjang tahun, diperlukan teknologi pemanenan air di akhir musim hujan seperti penggunaan lubang biopori yang diberi serasah sisa tanaman. Selain itu, penggunaan kompos dan mulsa organik dapat menciptakan kelembaban tanah yang mendukung ketersediaan air bagi tanaman.

Penggunaan air irigasi

b. . Pada pulau-pulau yang memiliki aliran sungai seperti di Pulau Jamdena, sudah saatnya petani memanfaatkan air sungai (termasuk menampung air kali mati) untuk pengairan ketika berlangsung musim kemarau. Pada pulau-pulau kecil tanpa aliran sungai, juga dapat dibuat embung atau dam parit untuk persediaan air ketika memasuki musim kemarau. Pada setiap arin dengan paling banyak 20 keluarga, dapat dibuat satu embung untuk menyediakan air, baik pada MT1, MT2 maupun ketika musim kemarau.

Pemulihan hara selama pemberaan melalui penanaman pupuk hijau pada c.

sistem ladang berpindah. Pada pulau-pulau kecil seperti di Pulau Selaru, sistem budidaya tanaman mulai menggunakan masa bera yang singkat, yaitu selama setahun, atau malah sudah hampir tidak lagi menggunakan masa pemberaan. Bila pemulihan hara masih menggunakan masa pemberaan, maka penanaman pupuk hijau dapat memulihkan hara secara cepat. Beberapa contoh dapat digunakan sebagai acuan:

Pemberaan selama sepuluh bulan dengan pupuk hijau dari jenis »

leguminosa seperti Traphrosia vogelli, Crotalaria sp. dan Cajanus

cajan setara dengan pemakaian 120 kg N, 100 kg P, dan 100 kg K/ha

atau dua kali lipat dibandingkan penggunaan pupuk kandang sebesar 15 ton/ha/tahun (Prinz 1986 dalam Reijntjes et al. 1992).

Uji coba dengan

» Pueraria phaseoloides pada lahan ultisol

menghasilkan hara per hektar per tahun sebesar 59 kg N, 14 kg P, 66 kg K, 53 kg Ca, 28 kg Mg, 113 kg Cu dan 283 kg Zn setelah pemberaan selama 14 bulan dan pembakaran tanaman-tanaman di tempat itu. Hasil ini setara atau bahkan melebihi pemberaan hutan selama 15-20 tahun (NSCU, 1980 dalam Reijntjes et al. 1992).

Rumput-rumputan juga memperbaiki kesuburan tanah, misalnya »

Cynodon nlemfuensis yang disebarkan di lahan kritis/miskin hara

kg N, 22 kg P, 156 kg K, dan 33 kg Ca per hektar per tahun, dan meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah (Juo dan Lal 1977 dalam Reijntjes et al. 1992).

Hasil akan lebih baik teknik pemberaan ini dipadukan dengan pem-berian pupuk kandang atau kompos.

Pengembangan pertanian menetap untuk agribisnis melalui penggunaan d.

sistem Kebun Intensif Hayati (bio-intensive gardening, BIG). Sistem ini dikembangkan oleh International Institute of Rural Reconstruction (IIRR) di Filipina. BIG merupakan suatu bentuk pertanian biologis pada lahan sempit secara intensif dengan menggunakan bahan-bahan alami untuk membentuk kembali dan menjaga produktivitas tanaman (Reijntjes et

al. 1992). BIG menggunakan sistem budidaya lorong di mana tanaman

pangan dan sayuran ditanam pada bedengan-bedengan yang berada di antara barisan pohon tanaman leguminosa cepat tumbuh seperti lamtoro (Leucaenaleucocephala) atau gamal (Gliricidiasepium) atau keduanya. Jarak antar barisan tanaman leguminosa ini adalah 4-5 meter. Ketika pohon-pohon berumur satu tahun, dilakukan pemangkasan 3-4 kali setahun dengan jarak 50 cm di atas permukaan tanah. Hasil pangkasan bersama-sama dengan sisa hasil panen dapat dibenamkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau atau lebih efektif digunakan sebagai bahan untuk membuat pupuk cair. Pengendalian hama dan penyakit sedapat mungkin menggunakan pestisida nabati. Penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintetik sedapat mungkin dihindari, kecuali terjadi kegagalan panen pupuk hijau dan serangan hama telah melewati ambang batas ekonomis.

Penggunaan usahatani kontur (

e. Sloping Agricultural Land Technology,

SALT) untuk pertanian menetap pada lahan miring. Teknologi ini dikembangkan di Mindanau Baptist Rural Life Center untuk mengubah petak lahan di lereng menjadi produktif. SALT meliputi beberapa langkah berikut (Reijntjes et al. 1992):

Penempatan garis kontur dan pengolahan tanah sepanjang garis 1.

kontur itu dengan jarak 4-6 m pada bukit yang terjal dan 7-10 meter pada daerah belerang.

Penanaman tanaman leguminosa sebagai lanjur tanaman pagar 2.

Pengolahan dan penanaman tanaman permanen (seperti cokelat, 3.

jeruk atau jambu mete) pada tiap baris ketiga dan keempat.

Pengolahan baris tambahan antar lajur tanaman pagar sebelum 4.

tumbuh secara penuh (sesudah itu setiap baris diolah).

Penanaman tanaman jangka pendek dan menengah (seperti jagung, 5.

padi, nanas dan ubi jalar) di antara barisan tanaman permanen sebagai sumber bahan pangan dan pendapatan berkala.

Pemangkasan tanaman pagar hingga tingginya 1 meter di atas tanah 6.

dan memanfaatkan hasil pangkasan sebagai pupuk organik seperti pada sistem BIG.

Pembuatan sengkedan dengan cara menumpuk batang pohon, 7.

dedaunan dan batuan pada pada bagian bawah tanaman pagar untuk menahan dan memperkaya tanah.

f. Pengembangan agropastoralia untuk penyediaan hara tanaman dan pakan ternak. Agropastoralia merupakan suatu sistem pertanian yang memberikan keuntungan ganda, yaitu tersedianya pakan ternak dari hasil tanaman dan hara tanaman dari kotoran ternak. Sistem ini dapat diterapkan di Maluku Tenggara Barat melalui pengembangan sistem kelapa-sapi (coco-beef system) atau kelapa-kambing (coco-mutton system) pada perkebunan kelapa yang dominan. Pemberian hijauan segar pada sapi potong rata-rata 28.6 kg/hari dapat menghasilkan pupuk kandang 18 kg/hari. Bila dipelihara 4 ekor sapi potong selama 4 bulan diperoleh pupuk kandang 8.640 kg yang cukup untuk pemupukan 1 ha lahan. Pakan konsentrat untuk penggemukan sapi bisa didapat dari limbah pengolahan kelapa. Sumber pakan juga bisa berasal dari rumput Cynodon

nlemfuensis atau leguminosa kerdil seperti Pueraria phaseoloides yang

ditanam di antara tanaman kelapa. Selain itu, sisa hasil panen tanaman pertanian seperti brangkasan padi, jagung, hotong, kacang hijau, kedelai, dll. maupun pupuk hijau dari golongan rumput-rumputan maupun leguminosadari ladang tanaman pangan, jika tidak dibenamkan ke dalam tanah, juga dapat digunakan sebagai pakan ternak.

g. Pada tanaman perkebunan dan buah-buahan perenial, beberapa kegiatan tambahan perlu dipertimbangkan, di antaranya:

Peremajaan kelapa dalam. Sebagian besar perkebunan kelapa 1.

sebelumnya. Kelapa dalam yang sudah tua memiliki produktivitas yang rendah. Peremajaan kelapa dalam perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman kelapa pada hampir semua kecamatan.

Pemilihan pohon induk kelapa dalam. Bibit yang dipilih untuk 2.

penanaman dan peremajaan, yang dilakukan untuk meng-hasilkan produktivitas tanaman yang tinggi, perlu diseleksi dari blok penghasil tinggi kelapa dalam. Pendekatan yang sama juga sebaiknya dilakukan untuk memilih batang atas dalam pengembangan jeruk Seluwasa.

Pengembangan tanaman kakao. Saat ini, kakao mulai ditanam 3.

sebagai perkebunan rakyat. Bibit untuk tanaman kakao dapat diintroduksi dari luar atau melalui perbanyakan dengan kultur jaringan tanaman.

Pemangkasan bentuk dan pemeliharaan. Pemeliharaan tanaman 4.

perkebunan dan buah-buahan sering kurang mendapat perhatian, salah satunya adalah pemangkasan pada tanaman perenial dikotil. Perlu dilakukan pemangkasan bentuk pada perkebunan kakao yang baru berkembang atau akan dikembangkan, dan pemangkasan pemeliharaan untuk pengaturan C/N Ratio pada perkebunan kakao yang telah ada. Perlakuan yang sama juga dapat diterapkan pada tanaman jeruk Seluwasa.

Penjarangan buah dan pemberian hara pada jeruk Seluwasa. Jeruk 5.

Seluwasa telah mulai mengalami gagal buah yang disebabkan oleh produksi buah yang berlimpah. Penjarangan buah dan pemberian hara sudah harus dilakukan untuk mempertahankan kontinuitas produksi buah jeruk. Pendekatan yang sama juga sudah harus dilakukan pada tanaman mangga golek dan arum manis.

Penerapan persilangan buatan pada tanaman salak. Salak mulai 6.

ditanam dalam sistem pekarangan di Maluku Tenggara Barat dan mulai dikembangkan dalam perkebunan buah. Pada beberapa desa, tanaman gagal berbunga karena petani membiarkan tanaman berbunga tanpa melakukan persilangan. Pelaksanaan persilangan diperlukan untuk menghasilkan buah dan pengembangan kebun buah salak di Maluku Tenggara Barat.

Dokumen terkait