• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Sistem Informasi Manajemen

2.4.2 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK)

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengkajian, Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan Pasal 1 Pengertian dari Sistem Informasi Administrasi Kependudukan yang selanjutnya disingkat SIAK adalah sistem informasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengelolaan informasi administrasi kependudukan di tingkat Penyelenggara dan Disdukcapil sebagai satu kesatuan. Pengkajian SIAK adalah rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan proses penelaahan dan pengujian unsur SIAK yang menghasilkan rekomendasi untuk pengembangan SIAK. Pengembangan SIAK adalah rangkaian kegiatan yang berupa penambahan dan penyempurnaan guna meningkatkan fungsi SIAK.

Cara kerja dari SIAK untuk mendaftarkan penduduk di tiap kabupaten/ kota dari SIAK diakses oleh seorang kepala pusat data dan pusat data pengganti (disaster

recovery center) yang bertugas di bidang SIAK dan/ atau database kependudukan di kabupaten/ kota. Selanjutnya, SIAK diakses untuk memasukkan data-data kependudukan tersebut kedalam satu pusat data (data center) yang dikirimkan ke kepala pusat data di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) provinsi yang membidangi urusan kependudukan dan pencatatan sipil. Tahap terakhir mengirimkannya ke Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri. SIAK sebagai sistem yang mengolah data kependudukan dan catatan sipil dari tiap daerah di Indonesia.

2.3 Definisi Konsep

Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat penelitian ilmu sosial. Dalam hal ini konsep harus oprasional. Melalui konsep kemudian peneliti diharpkan dapat menyederhanakan pemikirannya dengan menggunakan satu istilah untuk beberapa kejadian (events) yang berkaitan dengan yang lainnya (Singarimbun, 2008:33) .

Oleh karena itu, untuk dapat menemukan batasan yang lebih jelas maka peneliti dapat menyederhanakan pemikiran atas masalah yang sedang peneliti teliti dengan mengemukakan definisi konsep sebagai berikut :

a. Implementasi Kebijakan merupakan tindakan dari kebijakan yang sudah ditetapkan serta menghasilkan dampak. Dengan kata lain implementasi kebijakan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang. Implementasi kebijakan berkaitan

dengan sasaran kebijakan, sumber daya, karakteristik agen pelaksana, kondisi sosial dan ekonomi serta disposisi.

b. Pelayanan Publik

Pelayanan Publik dalam penelitian ini adalah salah satu unsur penting.

Pelayanan dapat diartikan sebagai pemberian (pelayanan) keperluan perorangan atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang ditentukan.

Administrasi Kependudukan memberikan pemenuhan hak-hak administratif, seperti pelayanan publik serta perlindungan yang berkenaan dengan Dokumen Kependudukan untuk semua masyarakat tanpa kecuali dan memenuhi hak asasi setiap orang di bidang Administrasi Kependudukan tanpa diskriminasi dengan pelayanan publik yang profesional.

c. Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen dalam penelitian ini adalah sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

Perkembangan teknologi dan informasi tidak dapat melepaskan kita dari tuntutan penerapan teknologi tersebut dalam meningkatkan layanan pemerintah kepada warganya. Salah satu sarana peningkatan layanan tersebut adalah electronic government (e-Government). Adapun konsep dari e- Government adalah menciptakan interaksi yang ramah, nyaman, transparan dan murah antara pemerintah dan masyarakat (G2C-government to citizens), pemerintah dan

perusahaan bisnis (G2B-government to business enterprises) dan hubungan antar pemerintah (G2G-inter-agency relationship).

Dalam kehidupan di masa yang akan datang, sektor teknologi informasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa pun yang mahir dalam pemanfaatannya maka dia akan mengetahui lebih banyak dari yang lainnya. Bagi pemerintah pun seperti itu, penciptaan sistem kerja atau tata kerja dengan metode e-Government sudah menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Pengaktualisasian metode ini dapat diterapkan melalui pembuatan web site ataupun pembuatan program lain yang dapat menunjang kinerja para pegawai di lembaga pemerintahan.

Sistem Informasi Manajemen (SIM) berkepentingan dengan menyediakan informasi yang menyeleruh dan terintegrasi untuk membantu pengambilan keputusan bagi berbagai tingkatan manajemen dalam suatu organisasi atau perusahaan. Ditinjau dari hal tersebut, maka Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) merupakan subsitem dari sistem informasi manajemen.

2.4 Hipotesis Kerja

Dalam sebuah penelitian, hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian kualitatif, hipotesis tidak diuji, tetapi diusulkan sebagai satu panduan dalam proses analisis data. Hipotesis kerja (dalam Amirin,2000:84) adalah hipotesa yang sebenarnya, yang asli, yang bersumber dari kesimpulan teoritik. Adapun penulis merumuskan hipotesis kerja dalam penelitian ini, yaitu Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Deli Serdang

meliputi standar dan sasaran kebijakan, sumberdaya, komunikasi antar organisasi dan kegiatan pelaksanaan, karakteristik agen pelaksana, disposisi atau sikap para pelaksana, serta kondisi sosial, politik dan ekonomi yang mendukung keberhasilan dalam proses pelaksanaan program ini.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bentuk Penelitian

Metode penelitian yang digunakan untuk menjawab penelitian adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Narbuko dan Achmadi (2004:44) memberikan pengertian penelitian deskriptif sebagai penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi, ia juga bisa bersifat komperatif dan korelatif.

Penelitian kualitatif dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek peneliti secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007:6)

Bentuk yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Burhan Bungin (2008:68) dalam penelitian ini bahwa metode deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada pada masyarakat yang menjadi objek penelitian. Pada pendekatan kualitatif menekankan analisisnya pada proses penyimpulan hubungan fenomena-fenomena yang diamati dengan logika ilmiah.

Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti mengumpulkan informasi dan data untuk menambahkan perhatian pada masalah-masalah atau fenomena-fenomena yang

ada serta mampu menggambarkan secara baik mengenai fakta dilapangan yang ada sehingga peneliti dapat melihat dan dapat memberikan gambaran serta informasi data jelas mengenai Bagaimana Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) pada Pembuatn E-KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Deli Serdang.

3.2 Lokasi penelitian

Untuk memperoleh data sebagai bahan dalam penulisan proposal penelitian ini sekaligus menjawab permasalahan yang telah dikemukakan. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Alasan mengambil lokasi ini karena penulis mengamati bahwa masih adanya keluhan dari masyarakat mengenai Sistem Informasi Administrasi Kependudukan.

3.3 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh sebab itu, penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Menurut Bungin (2008:76) mengatakan bahwa informan penelitian adalah subjek yang memahami informasi objek penelitian sebagai pelaku maupun orang lain yang memahami objek penelitian.

Penentuan informan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Perkembangan tertentu ini misalnya orang tersebut yang dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi situasi atau objek yang diteliti. Snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data yan pada awalnya jumlah awal belum mampu memberikan data yang lengkap, maka harus mencari orang lain yang dapat digunakan sebagai sumber data (dalam Sugiyono, 2008:300).

Kemudian dapat diperoleh informasi yang jelas dan dapat dipercaya berupa pernyataan-pernyataan, keterangan ataupun data-data yang dapat membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut. Informan peneliti diperoleh secara langsung dan berhubungan dengan objek yang akan di teliti dan tentunya dapat memberi informasi terkait dengan Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) pada Pembuatan E-KTP di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang.

Informan penelitian ini meliputi tiga macam menurut Bugin (2008) yaitu :

1. Informan kunci (Key Informan) merupakan mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi informan kunci adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang dan Kepala Seksi Regristrasi Kependudukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Deli Serdang.

2. Informan utama merupakan mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah Pegawai Oprasional Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Deli Serdang.

3. Informan tambahan merupakan mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak terlibat langsung dalam interaksi sosial yang

diteliti. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah masyarakat

membuat KTP SIAK

Data adalah rekaman atau gambaran atau keterangan tentang sesuatu hal atau fakta. Selain itu juga dapat diartikan sebagai informasi baik berupa gambar ataupun suara tentang sesuatu hal yang bersifat nyata dan akurat dan dapat dibuktikan kebenarannya. Dalam hal ini yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi untuk sumber data yang sama (Sugiyono, 2012:83) Maka penelitian ini memerlukan data, keterangan dan informasi. Untuk itu penulis menggunakan teknik pengumpulan data dibagi menjadi dua cara yaitu:

1. Teknik pengumpulan Data Primer merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Pengumpulan data primer dilakukan dengan instrumen sebagai berikut:

a. Wawancara

Yaitu suatu bentuk komunikasi ataupun interaksi yang dilakukan oleh seorang peneliti ataupun subjek penelitian dengan seorang informan untuk mengumpulkan informasi dan data suatu lokasi ataupun suatu hal yang bersifat fakta menggunakaan pedoman wawancara.

b. Observasi

Yaitu pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung objek penelitian dengan mencatat segala gejala yang ditemukan dilapangan untuk mempelajari data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkenaan dengan topik penelitian.

2. Teknik pengumpulan Data Sekunder merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui bahan dokumentasi dan kepustakaan yang dapat mendukung data primer. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan instrumen sebagai berikut:

a. Studi Dokumentasi, teknik pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada dilokasi penelitian serta sumber- sumber lain yang relevan dengan objek penelitian menggunakan pedoman dokumentasi.

b. Studi Kepustakaan, teknik pengumpulan data yang diperoleh dari buku- buku, karya ilmiah, jurnal, koran, majalah dan pendapat para ahli yang memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.

3.5 Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif model Miles dan Huberman. Dalam melakukan sebuah penelitian, data yang diperoleh dari lapangan harus segera dituangkan dalam tulisan dan dianalisis. Langkah-langkah dalam menganalisis data menurut Miles dan Huberman (2014), Adapun komponen-komponen analisis dalam model interaktif ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.1 Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif

Sumber : Miles, Huberman, 2014

Pada gambar tersebut, terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi, yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), conclusions : drawing / verifying (penarikan kesimpulan / verifikasi). Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Data Condensation/Kondensasi Data.

Kondensasi data merupakan satu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat

ditarik dan diverifikasi. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (seperti membuat ringkasan, mengkode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi tema, dan menulis memo).

2. Data Display/Penyajian Data.

Penyajian data merupakan alur penting dalam kegiatan analisis. Dengan melakukan penyajian data-data, peneliti dapat memahami suatu peristiwa yang sedang terjadi dan tindakan yang seharusnya dilakukan. Bentuk penyajian data yang digunakan adalah bentuk teks naratif.

3. Drawing and Verifying Conclusions/Menggambarkan dan Memverifikasi Kesimpulan.

Penarikan kesimpulan-kesimpulan juga perlu diverifikasi selama penelitian berlangsung. Dengan kata lain, makna-makna yag muncul dari data harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yaitu merupakan validitasnya.

3.6 Teknik Kebsahan Data

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data. Wiliam Wiersma (1986) mengatakan triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai waktu. Dengan

demikian terdapat triangulasi teknik pengumpulan data, triangulasi peneliti, triangulasi teori, triangulasi metode (Sugiyono, 2007:273-275).

1. Triangulasi data adalah mempergunakan berbagai sumber data/informasi.

Dalam teknik triangulasi ini adalah mengelompokkan para pemangku kepentingan program dan mempergunakannya sebagai sumber/data informasi.

2. Triangulasi teori. triangulasi teori adalah penelitian dengan mempergunakan berbagai profesional dengan berbagai latar belakang ilmu pengetahuan untuk menilai suatu set data/informasi.

3. Triangulasi metode. Triangulasi metode adalah pemakaian berbagai metode- metode kuantitatif dan /atau metode kualitatif untuk mengevaluasi program.

Jika kesimpulan dari setiap metode sama, maka validitas penelitian ditetapkan.

Dari triangulasi di atas dalam melakukan analisis data.Triangulasi data dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan data hasil wawancara dengan dokumen, observasi yang ada. Sedangkan teknik triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan hasil pengamatan peneliti terkait dengan Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) pada Pembuatan E-KTP di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Deli Serdang.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Deskripsi Lokasi Penelitian

4.2.1. Gambaran Umum Kabupaten Deli Serdang

Gambaran umum kondisi wilayah Kabupaten Deli Serdang memberikan gambaran awal tentang kondisi daerah dilihat dari beberapa aspek diantaranya geografi, topografi dan administrasi pemerintahan. Kabupaten Deli Serdang secara administratif mengelilingi ibukota Provinsi Sumatera Utara yaitu Kota Medan.

Memiliki luas wilayah sebesar 249.772 Ha (2.497,72 Km²), yang terdiri dari 22 Kecamatan, 380 Desa dan 14 Kelurahan. Adapun untuk kecamatan yang memiliki luas wilayah yang besar adalah Kecamatan Hamparan Perak yang memiliki luas daerah 23.015 Ha atau sebesar 9,21% dari luas total Kabupaten Deli Serdang dan untuk kecamatan yang memiliki luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Deli Tua yaitu 936 Ha atau sebesar 0,37% dari luas Kabupaten Deli Serdang. Selain itu juga Kabupaten Deli Serdang memiliki garis pantai sepanjang + 65Km.

Secara geografis Kabupaten Deli Serdang terletak diantara 2º57´ Lintang Utara sampai dengan 3º16´ Lintang Utara dan 98º33´ Bujur Timur sampai dengan 99º27´ Bujur Timur. Kabupaten Deli Serdang di sebelah Utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun. Kemudian di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Langkat, Kota Binjai, dan Kabupaten Karo dan di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai.

Berdasarkan kondisi topografinya, secara umum Kabupaten Deli Serdang terbagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu kawasan dataran pantai, terdapat seluas ±

63.002 Ha (26,30%) yang terdiri dari 4 kecamatan, yaitu: Kecamatan Hamparan Perak, Labuan Deli, Percut Sei Tuan dan Kecamatan Pantai Labu, dengan panjang garis pantai sekitar 65 Km kemudian kawasan dataran rendah, terdapat seluas ± 68.965 Ha (28,80%) yang terdiri dari 11 kecamatan, yaitu: Kecamatan Sunggal, Pancur Batu, Namorambe, Deli Tua, Batang Kuis, Tanjung Morawa, Ptumbak, Lubuk Pakam, Beringin, Pagar Merbau, dan Kecamatan Galang dan kawasan dataran tinggi, terdapat seluas ± 111.970 H (44,90%) yang terdiri dari 7 kecamatan, yaitu:

Kecamatan Kutalimbaru, Sibolangit, Biru-biru, STM hilir, STM Hulu, Gunung Meriah dan Kecamatan Bangun Purba.

4.2 Gambaran Umum Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang

Gambar 4.1

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang

Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2019

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Deli

Serdang telah dibentuk struktur Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang merupakan unsur pelaksana Pemerintah Daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah Kabupaten.

4.2.2 Visi dan Misi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang

Visi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang yaitu:

“Terwujudnya Pelayanan Publik Yang Prima Di Bidang Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil Berbasis Sistem Informasi Administrasi Kependudukan

(SIAK)”

Untuk menjabarkan visi tersebut diatas, perlu dirumuskan misi yang menggambarkan amanah apa yang harus dilaksanakan agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil sesuai dengan visi yang ditetapkan. Misi merupakan upaya- upaya dalam rangka pencapain visi yang telah ditetapkan. Misi juga memberikan arahan tentang fungsi dan tujuan pokok Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil secara strategis, terarah dan berkesinambungan. Misi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Kabupaten Deli Serdang, dirumuskan sebagai berikut:

a. Meningkatkan Pengelolaan Informasi Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil untuk Pendayagunaan data dan Informasi

b. Meningkatkan Kerjasama dengan Lembaga dan Instansi Terkait dan Komunitas Profesional

c. Menyediakan Sarana dan Prasarana Pendukung

d. Meningkatkan sumber daya aparatur.

4.2.3 Tugas, Fungsi dan Struktur Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang

Berdasarkan Peraturan Bupati Deli Serdang Nomor 886 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, fungsi dan rincian tugas jabatan Perangkat Daerah Kabupaten Deli Serdang bahwa tugas pokok Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang melaksanakan kewenangan Pemerintah Daerah dibidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mempunyai fungsi:

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang kependudukan;

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum dibidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

c. Pembinaan dan melaksanakan tugas dibidang pelayanan umum dan Pencatatan Sipil;

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsi dibidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

Berdasarkan Peraturan Bupati Deli Serdang Nomor 2233 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangakat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, bahwa susunan organisasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang terdiri atas :

1. Organisasi Dinas dipimpin oleh Kepaladinas

2. Kepala Dinas membawahkan:

a. Sekretaris,membawahi:

1) Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 2) Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan

b. Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk,membawahi:

1) Seksi Identitas Penduduk 2) Seksi Pindah Datang Penduduk 3) Seksi Pendataan Penduduk

c. Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil,membawahi:

1) Seksi Kelahiran

2) Seksi Perkawinan dan Perceraian

3) Seksi Perubahan Status Anak Pewarganegaraan

d. Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) dan Pemanfaatan Data,membawahi:

1) Seksi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan 2) Seksi Pengolahan dan Penyajian Data Kependudukan 3) Seksi Kerjasama dan Inovasi Pelayanan

e. Kelompok Jabatan Fungsional.

Sistem Informasi Administrasi Kependudukan merupakan tanggung jawab dan tugas dari Bidang Pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) dan Pemanfaatan Data. Sebagai suatu instansi pemerintah yang bertanggung jawab dalam pelayanan administrasi kependudukan tentu memiliki pembagian kerja dan struktur organisasi. Berikut ini

susunan struktur organisasi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang, yaitu.

Gambar 4.2

Struktur Organisasi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2019

Dari gambar diatas dapat dilihat susunan struktur organisasi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Deli Serdang. Struktur organisasi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Deli Serdang berguna untuk

membagi tugas dan tanggungjawab dalam pelayanan administrasi kependudukan dan berdasarkan Peraturan Bupati Deli Serdang Nomor 2233 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Perangakat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, berikut ini merupakan tugas dan tanggungjawab dari para pegawai di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

1. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mempunyai tugas pokok melaksanakan kewenangan Pemerintah Daerah dibidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) pasal ini, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mempunyai fungsi :

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang kependudukan;

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum dibidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

c. Pembinaan dan melaksanakan tugas dibidang pelayanan umum dan Pencatatan Sipil;

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsi dibidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mempunyai rincian tugas : a. Menetapkan program kegiatan yang akan dilaksanakan Bidang Pelayanan

Pendaftaran Penduduk, Bidang Pelayanan Pencatatan Sipil, Bidang

Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan, Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan;

b. Menetapkan RENSTRA, RENJA dan DPA;

c. Melaporkan Akuntabiltas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP);

d. Menetapkan kebutuhan blanko Dokumen Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

e. Menerbitkan Dokumen Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

f. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait;

g. Mengawasi pelaksanaan tugas;

h. Membina dan merencanakan pelaksanaan tugas;

i. Memimpin pengelolaan administrasi;

j. Mengawasi unit pelaksana teknis;

k. Menetapkan Standard Operasional Prosedur Dinas;

l. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan;

m. Melakukan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2. Sekretaris

Sekretaris Dinas mempunyai rincian tugas :

Sekretaris Dinas mempunyai rincian tugas :

Dokumen terkait