BAB II KECAMATAN HUTABAYU RAJA SEBELUM TAHUN 1986
2.5 Keadaan Sosial dan Budaya
2.5.4 Sistem Kepercayaan
Sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat sebelum tahun 1986 sebagian besar adalah penganut agama Kristen Protestan. Kepercayaan masyarakat yang terbesar kedua adalah masyarakat yang beragama Islam kemudian disusul oleh Katolik dan agama lainnya.
Sebelum masuknya Zending oleh Kolonial Belanda, banyak masyarakat Simalungun pada
20 Wawancara, Frits Damanik, Pematang Raya, 03 Juli 2016.
21Ibid.
umumnya beragama yang percaya terhadap leluhur. Kepercayaan tersebut dikenal dengan Supajug Begu-begu yang percaya terhadap roh nenek moyang yang bersemayam di langit tertinggi yang disebut dengan Ompung Naibata yang terdiri dari tiga Naibata, yakni Naibata na I Babou, Naibata na I Tongah, Naibata na I Toruh. Selain mempercayai adanya ketiga Naibata tersebut, masyarakayat Simalungun juga percaya akan roh nenek moyang mereka.
Selain itu, masyarakat juga mempercayai roh-roh orang yang mati dan dianggap memiliki kekuatan ghaib yang biasanya berdiam di tempat-tempat yang keramat.22
22 Kenan Purba, op. cit., hlm. 27.
BAB III
PROSES PEMEKARAN KECAMATAN HUTABAYU RAJA KABUPATEN SIMALUNGUN PADA TAHUN 1986-1992
3.1 Alasan Pemekaran
Terdapat beberapa alasan kenapa pemekaran wilayah sekarang menjadi salah satu pendekatan yang cukup diminati dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan peningkatan pelayanan publik, yaitu: Pertama, keinginan untuk menyediakan pelayanan publik yang lebih baik dalam wilayah kewenangan yang terbatas/terukur.
Pendekatan pelayanan melalui pemerintahan daerah yang baru diasumsikan akan lebih dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan dengan pelayanan melalui pemerintahan daerah induk dengan cakupan wilayah pelayanan yang lebih luas. 23 melalui proses perencanaan pembangunan daerah pada skala yang lebih terbatas, maka pelayanan publik sesuai kebutuhan lokal akan lebih tersedia.
Kedua, mempercepat pertumbuhan ekonomi penduduk setempat melalui perbaikan kerangka pengembangan ekonomi daerah berbasiskan potensi lokal. dengan dikembangkannya daerah baru yang otonom, maka akan memberikan peluang untuk menggali berbagai potensi ekonomi daerah baru yang selama ini tidak tergali.24
Ketiga, penyerapan tenaga kerja secara lebih luas di sektor pemerintah dan bagi-bagi kekuasaan di bidang politik dan pemerintahan. kenyataan politik seperti ini juga mendapat
23 Agus Dwiyanto, dkk, Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, 2003, hlm. 23.
24Ibid., hlm. 24.
dukungan yang besar dari masyarakat sipil dan dunia usaha, karena berbagai peluang ekonomi baru baik secara formal maupun informal menjadi lebih tersedia sebagai dampak ikutan pemekaran wilayah.
Pemekaran wilayah merupakan suatu proses pembagian wilayah menjadi lebih dari satu wilayah, dengan tujuan meningkatkan pelayanan dan mempercepat pembangunan.
Pemekaran wilayah juga diharapkan dapat menciptakan kemandirian daerah. Tujuan pemekaran sebagaimana tertuang dalam berbagai peraturan perundangan dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui:
1. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat;
2. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi;
3. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah.
4. Percepatan pengelolaan potensi daerah;
5. Peningkatan keamanan dan ketertiban;
Berdasarkan alasan-alasan di atas tersebut, Kecamatan Hutabayu Raja juga memiliki beberapa alasan. Alasan-alsan tersebut adalah:
1. Kemampuan ekonomi di daerah 2. Potensi daerah
3. Sosial budaya dan politik 4. Jumlah penduduk
5. Luas daerah
6. Mudahnya urusan pelayanan kepada masyarakat.25
25Wawancara Ruhut Nainggolan, Kecamatan Hutabayu Raja, 03 Juli 2016.
Alasan-alasan di atas inilah yang menjadi yang kemudian menjadi dasar rencana pemekaran yang diusulkan oleh beberapa tokoh seperti tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat dan agama yang menginginkan Hutabayu Raja menjadi kecamatan sendiri terlepas dari Kecamatan Tanah Jawa.
3.2 Faktor-Faktor Pendukung Pemekaran
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pemekaran keamatan.
Tidak sedikit pula pakar yang mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pemekaran kecamatan itu. Pada umumnya faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah adalah kemampuan sumber daya (aparat maupun masyarakat), sumber daya alam, kemampuan keuangan (finansial), kemampuan manajemen, kondisi sosial budaya masyarakat, dan karakteristik ekologis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dan sangat menentukan penelenggaraan otonomi daerah antara lain dengan adanya:26
1. Sumber daya manusia dan kemampuan aparatur serta partisipasi masyarakat.
2. Keuangan yang stabil.
3. Peralatan yang lengkap.
4. Organisasi dan manajemen yang baik.
26 Salam, Otonomi Daerah, Jakarta: Pustaka Grafindo, 2004, hlm. 108.
Yang mempengaruhi keefektifan organisasi dibagi dalam dua kelompok.Pertama, kelompok sumber daya yang terdiri dari organisasi dan pembagian kerja. Kedua, kelompok struktural yang terdiri dari sentralisasi, kerumitan, formalisasi, komunikasi, dan koordinasi.27
Tugas atau fungsi manajerial, institusi, penbiayaan atau keuangan, dan kemampuan aparat pemerintahan daerah merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan otonomi daerah. Menurut PP PP No.5 Tahun 1974 Pasal 75, pembentukan kecamatan adalah pemberian status pada wilayah tertentu sebagai kecamatan di kabupaten/kota. Kecamatan dibentuk di wilayah kabupaten/kota dengan Peraturan Daerah berpedoman pada Peraturan Pemerintah. Pembentukan Kecamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 PP No. 5 197428 harus memenuhi syarat administratif, teknis, dan fisik kewilayahan.29
Syarat administratif pembentukan kecamatan menurut (PP No.5 Tahun 1974 Pasal 75) adalah:
a. Batas usia penyelenggaraan pemerintahan desa dan/atau kelurahan yang akan dibentuk menjadi kecamatan minimal 5 (lima) tahun;
b. Keputusan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) atau nama lain untuk Desa dan Forum Komunikasi Kelurahan atau nama lain untuk kelurahan di seluruh wilayah
27 Ibid., hlm. 109.
28 PP No. 5 Tahun 1974 merupakan Peraturan Pemerintah tentang pemerintah daerah mulai dari Provinsi, Kabupaten/Kotamadya, Kecamatan, Desa dan Kelurahan. Peraturan Pemerintah ini sering mengalami perubahan. Meskipun sering terjadi perubahan namun, terutama pasal 75, isi dan konteksnya tidak banyak berubah hanya beberapa saja yang ditambahkan seperti penambahan syarat administratif pembentukan kecamatan. Perubahan Peraturan Pemerintah tentang kecamatan yang paling terbaru adalah PP No. 19 Tahun 2008.
29Loc. cit.
kecamatan baik yang menjadi calon cakupan wilayah kecamatan baru maupun kecamatan induk tentang persetujuan pembentukan kecamatan;
c. Keputusan Kepala Desa atau nama lain untuk desa dan Keputusan Lurah atau nama lain untuk kelurahan di seluruh wilayah kecamatan baik yang akan menjadi cakupan wilayah kecamatan baru maupun kecamatan induk tentang persetujuan pembentukan kecamatan;
d. Rekomendasi Gubernur.
Syarat fisik kewilayahan sebagaimana dimaksud dalam PP No.5 Tahun 1974 Pasal 75 meliputi cakupan wilayah, lokasi calon ibukota, sarana dan prasarana pemerintahan. Di bawah ini akan dijabarkan secara rinci syarat fisik kewilayahan terbentuknya suatu kecamatan, yakni:
1. Cakupan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 untuk daerah kabupaten paling sedikit terdiri atas 10 desa/kelurahan dan untuk daerah kota paling sedikit terdiri atas 5 desa/kelurahan.
2. Lokasi calon ibukota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 memperhatikan aspek tata ruang, ketersediaan fasilitas, aksesibilitas, kondisi dan letak geografis, kependudukan, sosial ekonomi, sosial politik, dan sosial budaya.
3. Sarana dan prasarana pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 meliputi bangunan dan lahan untuk kantor camat yang dapat digunakan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam PP No.5 Tahun 1974 Pasal 75 meliputi:
a. Jumlah penduduk;
b. Luas wilayah;
c. Rentang kendali penyelenggaraan pelayanan pemerintahan;
d. Aktivitas perekonomian;
e. Ketersediaan sarana dan prasarana.
Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud di atas dinilai berdasarkan hasil kajian yang dilakukan pemerintah kabupaten sesuai indikator sebagaimana tercantum dalam penjelasan PP No.5 Tahun 1974 Pasal 75. Peraturan Daerah Kabupaten tentang Pembentukan Kecamata paling sedikit memuat:
a. Nama kecamatan;
b. Nama ibukota kecamatan;
c. Batas wilayah kecamatan; dan d. Nama desa dan /atau kelurahan.
Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud di atas dilampiri peta kecamatan dengan batas wilayahnya sesuai kaidah teknis dan memuat titik koordinat.
Dari faktor-faktor dan tujuan yang telah diungkapkan sebelumnya maka, upaya pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja adalah untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik. Tujuan awal dari usaha pemekaran wilayah di Kecamatan Hutabayu Raja adalah:
a. Persebaran penduduk dari tiap – tiap kecamatan supaya merata dan juga luas dari masing – masing desa yang saat itu dinilai di antara satu dengan yang lain.
b. Keinginan untuk menyediakan pelayanan publik yang lebih baik dalam wilayah kewenangan yang terbatas/terukur. Pendekatan pelayanan melalui pemerintahan daerah yang baru diasumsikan akan lebih dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat desa atau nagori yang mencakup Kecamatan Hutabayu Raja dibandingkan dengan pelayanan melalui pemerintahan daerah induk yang lama dengan cakupan wilayah pelayanan yang lebih dekat. Melalui proses perencanaan pembangunan daerah secara tepat, maka pelayanan publik sesuai kebutuhan lokal akan lebih tersedia.
c. Mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat Kecamatan Hutabayu Raja melalui perbaikan kerangka pengembangan ekonomi daerah berbasiskan potensi lokal. Dengan dimekarkannya wilayah, maka akan memberikan peluang untuk menggali berbagai potensi ekonomi daerah Hutabayu Raja yang selama ini belum tergali.
d. Penyerapan tenaga kerja secara lebih luas di sektor pemerintah dan pembagian kekuasaan di bidang politik dan pemerintahan. Kenyataan politik seperti ini juga mendapat dukungan yang besar dari masyarakat sipil dan dunia usaha, karena berbagai peluang ekonomi baru baik secara formal maupun informal menjadi lebih tersedia sebagai dampak ikutan pemekaran wilayah Kecamatan Hutabayu Raja.30
Dalam Undang-Undang Nomor 7 (Drt) Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dan Kecamatan-Kecamatan di Provinsi Sumatera Utara,
30 Wawancara, Evi Sinaga, Kecamatan Hutabayu Raja, 18 Februari 2016.
disebutkan pembentukan daerah otonomi atau disebut juga dengan pemekaran bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui:
a. Pengangkatan pelayanan terhadap masyarakat b. Percepatan pertumbuhan kehidupan demokrasi
c. Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah d. Percepatan pengelolaan potensi daerah
e. Pengangkatan kecamatan dan ketertiban
f. Pengangkatan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah
Peraturan Pemerintah di atas memberikan wewenang kepada daerah untuk mengurusi wilayahnya sendiri sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini mengingat bahwa sebenarnya yang mengetahui segala permasalahan yang terjadi di daerah adalah pemerintah daerah, bukan pemerintah pusat.
Semakin meningkatnya volume kegiatan di bidang pemerintahan, pelayanan, dan kemasyarakatan serta dengan meningkatnya komposisi jumlah penduduk, luas wilayah yang cukup, dan memiliki sarana/prasarana yang memadai sebagai prasyarat pendirian kecamatan, maka Pemerintahan Kabupaten Simalungun merasa siap untuk mengeluarkan kebijakan pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja.
Menurut Kastorius Sinaga pemekaran wilayah setidaknya harus menjawab tiga isu pokok, diantaranya:
a. Urgensi dan Relevansi; apakah urgensi pemekaran wilayah berkaitan dengan penuntasan masalah kemiskinan dan marginalitas etnik. Jika tidak, pemekaran wilayah akan berdampak negatif dan proses pemiskinan rakyat akan semakin cepat.
Pertimbangan umum pemekaran wilayah biasanya didasari oleh adanya potensi sumber daya alam yang siap untuk dieksploitasi sementara kemampuan daerah, terutama menyangkut finansial dan sumber daya manusia amat terbatas. Jalan keluar yang paling mungkin adalah mengundang pihak luar menjadi investor dan ketika keputusan seperti ini diambil maka tidak lama setelah itu akan terjadi proses eksploitasi yang sangat besar terhadap kekayaan alam yang dimiliki daerah itu. Cara berfikir seperti ini yang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi mengundang terjadinya proses pemiskinan.
b. Prosedur; apakah prosedur pemekaran wilayah ini akan berbelit-belit karena rantai birokrasi yang mengurus persoalan seperti ini juga cukup panjang.
c. Implikasi; yakni sejauhmana pemekaran wilayah memberi dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat dan secara politis berimplikasi terhadap terpilihnya identitas etnik dan agama. Selain itu, potensi terjadinya konflik horizontal berkaitan dengan ide pemekaran wilayah itu. Diluar pihak yang memberikan dukungan, pasti ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyetujui ide pemekaran itu.31
3.3 Langkah-Langkah Persiapan Pemekaran
31 Wahyudi, dkk, Dalam Fenomena Pemekaran Wilayah, Sidikalang: Yayasan Sada Ahmo, 2002, hlm. 18.
Rencana pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja muncul pada tahun 1986 dimana pada saat itu muncul pemikiran bersama bahwa pentingnya untuk membentuk kecamatan sendiri sebagai upaya peningkatan pelayanan publik yang lebih efisien. Atas dasar pemikiran tersebut, maka berbagai elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama dan adat membentuk kelompok aspirasi sebagaimana langkah awal dalam proses pemekaran yang sudah diatur berdasarkan PP.
Sebagai tindakan lanjut terbentuknya kelompok aspirasi masyarakat maka untuk tercapainya pemekaran kecamatan maka kelompok aspirasi masyarakat tersebut harus membentuk tim kepanitiaan. Dengan demikian maka kelompok tersebut segera membentuk kepanitiaan pemekaran yang terdiri dari kelompok adat, agama, tokoh masyarakat serta perwakilan BPD masing-masing nagori yang menginginkan satu wilayah kecamatan baru yakni Hutaraja Bayu.
Rencana Pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja pertama kali muncul dan diprakarsai oleh Jawel Silalahi yang memang pada tahun 1986 beliau merupakan orang yang dipercaya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang menginginkan pemekaran. Penyampaian aspirasi berlangsung di depan kantor Camat Tanah Jawa. Sebagai orang yang memperjuangkan aspirasi tersebut, Jawel kemudian membentuk tim kepanitiaan pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja.32
Dalam membentuk tim kepanitiaan, Jawel dibantu oleh seorang temannya Hisar Simanjuntak yang menginginkan hal yang sama yakni pemerkaran wilayahnya menjadi
32 Wawancara, Radiansyah, Pematang Raya, 28 Juni 2016.
Kecamatan Hutabayu Raja. Jawel, Hisar dan teman-temanya mencari dukungan ke setiap nagori yang saat ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Hutabayu Raja. Selain mencari dukungan, Jawel dan timnya mensosialisasikan bagaimana potensi, luas dan perekonomian wilayah yang didatanginya sudah pantas menjadi sebuah kecamatan baru. Berkat kerja keras tim yang dibentuknya, maka tercapailah bersama untuk menyampaikan aspirasi masyarakat untuk melakukan pemekaran. Untuk menyambut semangat masyarakat yang setuju terhadap pemekaran, maka segera dibentuk tim kepanitiaan untuk melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan proses pemekaran. Ketua panitia pemekaran dipimpin oleh Jawel sendiri dan wakil ketua saat itu dijabat oleh Hisar Simanjuntak.33
Setelah terbentuk tim kepanitiaan, maka tim kepanitiaan tersebut mengirimkan usulan kepada masing-masing BPD di tiap-tiap nagori yang menginginkan wilayah nagorinya untuk dimekarkan menjadi satu wilayah kecamatan yang baru. Setelah BPD menerima usulan yang diberikan oleh tim kepanitiaan, maka selanjutnya BPD mendiskusikan usulan tersebut.
Setelah BPD setuju terhadap usulan tersebut maka BPD menyampaikan kepada masing-masing kepala nagori yang kemudian mendiskusikan bersama antara BPD dan Kepala Nagori yang kemudian mendiskusikan kembali kepada Bupati Simalungun.
Setelah selesai dibahas dalam pertemuan antara BPD dan Kepala Nagori serta bupati, maka selanjutnya adalah menyampaikan usulan tersebut kepada DPRD Kabupaten Simalungun. Setelah adanya ususlan tersebut, maka anggota DPRD Kabupaten Simalungun membentuk Panitia Khusus yang membahas mengenai pemekaran yang masih diketuai oleh Jawel Silalahi dan wakilnya Hisar Simanjuntak. Sebelumnya tim kepanitiaan pemekaran di
33Ibid.
tiap-tiap tingkat desa meminta surat rekomendasi kepada tokoh-tokoh masyarakat yang pada tahun 1986 merupakan tiap-tiap kepala nagori yang setuju dengan proses pemekaran yang akan tergabung ke dalam Kecamatan Hutabayu Raja serta yang paling penting adalah surat rekomendasi dari gubernur Sumatera Utara. Setelah persyaratan semua telah didapatkan pada tahun 1990 maka proses pengusulan pemekaran dapat diajukan kepada DPRD Kabupaten Simalungun yang kemudian akan disahkan oleh gubernur Sumatera Utara.34
3.4 Kendala Pemekaran
Faktor penghambat partisipasi masyarakat dalam perencanaan pemekaran KecamatanHutabayu Raja, di antaranya berasal dari masyarakat, pemerintah dan faktor eksternal yang kurang mendukung. Kondisi masyarakat yang masalah kurang memahami haknya sebagai warga negara untuk berpartisipasi dan makna partisipasi itu sendiri, adalah kendala tersendiri yang menyebabkan masyarakat bersifat apatis, diam dan “nerimo” (budaya diam) terhadap hal-hal yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Simalungun. Terlalu dominannya posisi pemerintah dalam proses perencanaan pemekaran kecamatan Hutabayu Raja tersebut juga menghambat pelaksanaan konsultasi, diskusi, pengambilan keputusan dan kontrol masyarakat.
Faktor penghambat lain adalah adanya sistem pemerintahan yang cenderung sentralistik menjadikan masyarakat bersifat pasif, mengekor dan takut mengambil inisiatif dan hidup dalam budaya petunjuk. Di samping itu kendala lainnya adalah masih minimnya sarana dan prasasana pendukung bagi terwujudnya partisipasi masyarakat, misalnya dalam hal belum
34 Wawancara Romauli br Damanik, Kecamatan Hutabayu Raja, 28 Juni 2016.
adanya pedoman mekanisme perencanaan pemekaran kecamatan, tidak adanya mekanisme serta sarana pengaduan masyarakat dalam pelaksanaan pengawasan dan kontrol serta belum dijadikannya variabel partisipasi masyarakat dalam tata cara pembentukan kecamatan.35
Mengingat pentingnya Forum Perencanaan Pemekaran Kecamatan dan Musrenbang sebagai sarana dan ruang publik bagi masyarakat kecamatan, maka periu diadakan perubahan cara berpikir, prosedur, mekanisme dan cara bertindak dalam perencanaan pemekaran kecamatan ke depannya. Selain itu telah dibuktikan bahwa tidak selamanya mobilisasi itu buruk, mengingat masyarakat Indonesia telah cukup lama berada dalam suasana pemerintahan sentralistik-otoriter sekalipun dalam tata pemerintahan sudah mengalami reformasi. Perubahan perlu diadakan secara perlahan dengan melihat kepada kondisi nyata dan sosial budaya masyarakat setempat.36
Selain kendala-kendala di atas, yang menjadi faktor terbesar kendala dalam proses pemekaran adalah kesulitan keuangan dan pembangunan. Untuk dapat menjadi kecamatan baru dibutuhkan uang dan sarana maupun prasarana pemerintahan. Uang sebagai pembiayaan pengelola pemerintahan sangatlah dibutuhkan. Selain itu, yang menjadi kendala lainnya adalah kurangnya Sumber Daya Manusia sebagai alat penjalan pemerintahan masih sangat sedikit sehingga sulit untuk menjalankan proses pemerintahan jika tidak didukung aparat yang sudah berpengalaman.37
35 Wawancara Evi Ristawati Sinaga, Kecamatan Hutabayu Raja, 28 Januari 2016.
36 Doharny Susilawati, “Partisipasi Masyarakat Dalam Perencanaan Pemekaran Kecamatan Batang Angkola Di Kabupaten Tapanuli Selatan : Era Otonomi Daerah” Tesis belum diterbitkan, Depok: Universitas Indonesia, 2013,hlm. 45.
37 Wawancara, Peter Simanjuntak, Kecamatan Hutabayu Raja, 28 Juni 2016.
Kendala-kendala inilah yang menghambat pemekaran di Kecamatan Hutabayu Raja yang disulkan pada tahun 1986. Meskipun sebagian sikap masyarakat tidak peduli akan rencana pemekaran, namun beberapa masyarakat turut aktif dalam proses pemekaran sehingga perjuangan akan pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja yang berlangsung selama kurang lebih enam tahun membuahkan hasil pada tahun 1992 dengan diresmikannya Kecamatan Hutabayu Raja terlepas dari Kecamatan Tanah Jawa.
3.5 Pelaksanaan Pemekaran
Kecamatan Hutabayu Raja pada awalnya merupakan bagian dari Kecamatan Tanah Jawa yang merupakan daerah induknya. Melihat perkembangan daerah ini, maka pada tahun 1986, para tokoh dan masyarakat dari daerah Hutabayu Raja ini membuat keputusan dan kesepakatan bersama untuk membentuk kecamatan sendiri dengan melakukan pemekaran kecamatan atau pembagian wilayah. Kecamatan Hutabayu Raja ini dimekarkan secara serentak dengan Kecamatan Dolok Batu Nanggar yang berada di Serbelawan, Kecamatan Tapian Dolok yang berada di Sinaksak yang berdekatan dengan Kantor Imigrasi Jalan Medan, Kecamatan Pematang Bandar yang berada di Perdagangan dimekarkan menjadi Kecamatan Bandar, dan Kecamatan Bosar Maligas yang berada di Ujung Padang.
Pemekaran kecamatan merupakan suatu proses pemecahan dari satu kecamatan menjadi lebih dari satu kecamatan sebagai upaya kesejahteraan masyarakat. Pemekaran kecamatan ini sebagai salah satu jalan untuk pemerataan pembangunan wilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 38 Pembangunan wilayah merupakan konsep
38 Wahyudi, dkk, op. cit., hlm. 24.
multidimensional yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu yang meliputi ekonomi, ekologi, sosiologi, dan politik.39
Dengan proses yang telah dilaksanakan, maka daerah Hutabayu Raja dan daerah lainnya (Kecamatan Hutabayu Raja yang sekarang ini yang terdiri dari beberapa nagori) dirintis sebagai Kecamatan tersendiri dari Kecamatan Tanah Jawa, sehingga diberi sebutan dengan nama Kecamatan Tanah Jawa Hilir untuk sementara sebelum diresmikan secara resmi.
Tepat pada tahun 1992, pemekaran wilayah Kecamatan Hutabayu Raja diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara saat itu yakni Raja Inal Siregar.40
Pemekaran Kecamatan Hutabayu Raja tercantum dalam Peraturan PemerintahanRepublik Indonesia No. 50 tahun 1991 pasal 4, yang berisi tentang Membentuk Kecamatan Hutabayu Raja di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun, yang meliputi wilayah Desa Dolok Sinumbah, Desa Raja Maligas, Desa Silakkidir, Desa Bosar Mayu, Desa Maligas Bayu, Desa Bah Jambi, Desa Mariah Jambi, Desa Hutabayu, Desa Pulobayu, Desa Jawa Maraja, Desa Bahalat Bayu, Desa Tanjung Maraja dan Desa Mariah Hombang.
3.6 Pusat Perkantoran dan Pemerintahan
Sebagai salah satu syarat terbentuknya kecamatan adalah harus memiliki fasilitas perkantoran dan pusat pemerintahan. Untuk tercapainya tujuan bersama, masyarakat melalui
39 A.B Susanto, dkk, Pembangunan Ekonomi Daerah: Bagaimana Membangun Kesejahteraan Daerah, Jakarta: Erlangga Group, 2010, hlm 89.
40 Wawancara, Evi Risnawati Sinaga, Kecamatan Hutabayu Raja, 28 Januari 2016.
tokoh masyarakat yang berada di Kecamatan Hutabayu Raja memilih pusat pemerintahan yang terletak di Desa (Nagori) Huta Bayu. Alasan pemilihan daerah tersebut adalah karena faktor geografis yang memang letak desa(nagori) tersebut terletak di tengah-tengah wilayah kecamatan. Selain itu, di wilayah ini juga sudah memiliki fasilitas yang lebih memadai jika dibandingkan dengan wilayah desa/nagori yang lainnya. Dari aspek yang dipertimbangkan tersebut, pemilihan pusat perkantoran dan pemerintahan di Huta Bayu merupakan suatu wujud untuk mendukung berjalan lancarnya pelayanan pemerintah terhadap masyarakat yang tersedianya sarana dan prasarana yang baik.
BAB IV
PERKEMBANGAN KECAMATAN HUTABAYU RAJA SETELAH PEMEKARAN TAHUN 1992
4.1 Perkembangan Jumlah Penduduk
Perkembangan penduduk setelah pemekaran di Kecamatan Hutabayu Raja terjadi pertumbuhan penduduk yang diakibatkan oleh adanya gelombang migrasi yang berasal dari luar wilayah Simalungun seperti etnia Batak Toba, pendatang orang Jawa dan lainnya.
Penduduk Kecamatan Hutabayu Raja pada tahun 1992 berjumlah 29.135 jiwa terdiri dari laki-laki sebanyak 14.315 jiwa (49,13%) dan perempuan sebanyak 14.820 jiwa (50,86%) dengan demikian jumlah selisih antara penduduk laki-laki dengan perempuan adalah sebesar 97, yang menunjukkan bahwa bilamana terdapat 100 penduduk perempuan maka terdapat 97 penduduk laki-laki.
Perkembangan jumlah penduduk di Kecamatan Hutabayu Raja berkembang pesat setelah kecamatan tersebut baru saja dimekarkan. Alasan mengapa terjadi pertumbuhan yang begitu besar adalah karena besarnya migrasi yang dilakukan oleh masyarakat pendatang.
Perkembangan jumlah penduduk di Kecamatan Hutabayu Raja berkembang pesat setelah kecamatan tersebut baru saja dimekarkan. Alasan mengapa terjadi pertumbuhan yang begitu besar adalah karena besarnya migrasi yang dilakukan oleh masyarakat pendatang.