• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 (UU BI), menyebutkan bahwa tugas Bank Indonesia yaitu mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.

Untuk mewujudkan sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman dan handal yang mendukung stabilitas sistem keuangan maka sesuai Pasal 16 UU BI, Bank Indonesia menyelenggarakan sistem kliring antar bank yang dikenal dengan nama Sistem Kliring nasional Bank Indonesia atau dikenal dengan nama SKNBI.

Penyelenggaraan kliring oleh BI diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/18/PBI/2005 tanggal 22 Juli 2005 tentang Sistem Kliring Nasional sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/5/PBI/2010 tanggal 12 Maret 2010 (PBI SKNBI).

SKNBI adalah sistem transfer dana elektronik yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian setiap transaksinya dilakukan secara nasional. Sejak dioperasikan oleh Bank Indonesia pada tahun 2005, SKNBI berperan penting dalam pemrosesan aktivitas transaksi pembayaran, khususnya untuk memproses transaksi pembayaran yang termasuk Retail Value Payment System (RVPS) atau transaksi bernilai kecil (retail) yaitu transaksi di bawah Rp.100 juta.

1. Jenis – Jenis Sistem Kliring

Dalam melaksanakan kegiatan kliring tersebut, digunakan 4 (empat) jenis sistem yang berbeda, yaitu:

1. Sistem Semi Otomasi Kliring Lokal (SKOL)

Yang dimaksud dengan SKOL yaitu penyelesaian akhir transaksi pembayaran antar bank yang dilakukan secara resmi otomasi, dimana dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomasi sedangkan pemilihan warkat dilakukan secara manual yaitu merekam data setiap warkat dalam suatu media berupa disket yang akan disampaikan bersamaan dengan bundel warkat kliring pada saat pertemuan kliring.

2. Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ)

Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ) atau disebut juga dengan kliring elektronik adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan bilyet giro saldo kliring didasarkan pada Data Keuangan Elektronik (DKE) yang dikirimkan atau ditransit dari Terminal Peserta Kliring (TPK) melalui Jaringan Komunikasi Data (JKD) untuk dilanjutkan ke Sistem Pusat Komputer Elektronik (SPKKE) di Bank Indonesia (BI) yang diikuti dengan penyampaian warkat kliring kepada penyelenggara Bank Indonesia.

3. Sistem Real Time Gross Settlement (RTGS)

Sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) adalah sistem penyelenggaraan kliring antar bank secara elektronik yang waktu

penyelesaiannya terjadi secara seketika (real time) dan online sistem antara kantor bank.

4. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)

Sistem kliring Nasional Bank Indonesia adalah sistem kliring Bank Indonesia yang meliputi Kliring Debet dan Kliring Kredit yang penyelesaiannya akhirnya dilakukan secara nasional.

2. Penyelenggara SKNBI terbagi menjadi :

1. Penyelenggara Kliring Nasional (PKN), yaitu unit kerja di Kantor Pusat Bank Indonesia yang bertugas mengelola dan menyelenggarakan SKNBI secara nasional;

2. Penyelenggara Kliring Lokal (PKL), yaitu unit kerja di Bank Indonesia dan Bank yang memperoleh persetujuan Bank Indonesia untuk mengelola dan menyelenggarakan SKNBI di suatu wilayah kliring tertentu.

Jenis layanan yang terdapat pada SKNBI terdiri dari 2 (dua) sub sistem, yaitu:

1. Kliring Debet

a. Meliputi kegiatan kliring penyerahan dan kliring pengembalian, digunakan untuk transfer debet antar Bank yang disertai dengan penyampaian fisik warkat debet (cek, bilyet giro, nota debet dan lain – lain).

b. Penyelenggaan kliring debet dilakukan secara lokal di setiap wilayah kliring oleh PKL.

c. PKL akan melakukan perhitungan kliring debet berdasarkan DKE debet yang dikirim oleh peserta.

d. Hasil perhitungan kliring debet secara lokal tersebut selanjutnya dikirim ke Sistem Sentral Kliring (SSK) untuk diperhitungkan secara nasional oleh PKN.

2. Kliring Kredit

1. Digunakan untuk transfer kredit antar bank tanpa disertai penyampaian fisik warkat (paperless).

2. Penyelenggaraan kliring kredit dilakukan secara nasional oleh PKN. 3. Perhitungan kliring kredit dilakukan oleh PKN atas dasar DKE kredit

yang dikirim peserta.

3. Persyaratan menjadi peserta SKNBI

Untuk menjadi peserta SKNBI, berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini, pihak yang dapat menjadi peserta SKNBI adalah Bank. Setiap bank dapat menjadi peserta dalam penyelenggaraan SKNBI di suatu wilayah kliring, dengan persyaratan antara lain sebagai berikut:

1. Telah memperoleh izin usaha atau izin pembukaan kantor dari BI 2. Lokasi kantor bank memungkinkan untuk mengikuti penyelenggaraan

SKNBI secara tertib sesuai jadwal yang ditetapkan PKL.

3. Telah menandatangani perjanjian penggunaan SKNBI antara BI dengan bank sebagai peserta.

4. Kantor Bank yang akan menjadi peserta menyediakan perangkat kliring, antara lain meliputi perangkat TPK dan jaringan komunikasi data baik utama maupun backup.

4. Fasilitas bagi Peserta Kliring

Fasilitas – fasilitas yang diterima oleh peserta kliring adalah: 1. Informasi hasil kliring

Informasi hasil kliring merupakan informasi untuk mengetahui posisi perhitungan kliring masing – masing peserta dan selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan manajemen kas (cash management) perbankan atau dalam rangka transaksi pasar uang.

2. Laporan hasil proses kliring

Penyelenggara menerbitkan berbagai laporan hasil proses kliring yang diperlukan oleh peserta untuk mengetahui perhitungan hasil kliring maupun rincian warkat yang dikeluarkan dan diterima.

3. Rekaman data warkat yang diterima

Peserta kliring yang telah melakukan otomasi pada sistem akuntasinya akan mendapatkan informasi data warkat yang diterima dan terekam dalam disket.

4. Salinan warkat dan permintaan ulang atas laporan hasil proses kliring. Salinan warkat adalah reproduksi dari warkat yang telah diproses dalam kliring dan direkam dalam bentuk image atau microfilm.

5. Jam Operasional SKNBI A. Kliring Kredit

1. Jam operasional Penyelenggaraan Kliring Kredit ditetapkan secara nasional oleh Penyelenggara Kliring Nasional (PKN).

2. Kegiatan operasional Penyelenggaraan Kliring Kredit dimulai pada pukul 08.15 WIB sampai dengan pukul 15.30 WIB.

B. Kliring Debet

1. Jam operasional Penyelenggaraan Kliring Debet ditetapkan secara lokal per wilayah kliring oleh Penyelenggara Kliring Lokal (PKL). 2. Seluruh kegiatan kliring debet, yaitu Kliring Penyerahan dan

Pengembalian diselesaikan pada hari yang sama kecuali untuk wilayah kliring Jakarta dan Surabaya, kegiatan kliring pengembalian dilakukan pada keesokan harinya atau H+1.

3. Batas waktu operasional penyelenggaraan kliring debet ditetapkan oleh PKN yaitu pukul 15.30 WIB.

6. Biaya SKNBI

Biaya dalam penyelenggaraan kegiatan kliring ditetapkan oleh Penyelenggara Kliring Nasional (PKN) terbagi menjadi :

a. Kliring Kredit

Biaya proses DKE kredit sebesar Rp1.000 per DKE. b. Kliring Debet

Biaya kliring debet sebesar Rp1.000 per DKE untuk kliring penyerahan. Dan proses DKE pada kliring pengembalian tidak dikenakan biaya.

Biaya proses pemilahan warkat debet adalah sebesar Rp.500 per lembar warkat. Sedangkan sanksi kewajiban membayar atas Cek/BG yang ditolak melalui kliring pengembalian dengan alasan tertentu sebesar Rp100.000 per lembar warkat/DKE.

7. Komponen Utama SKNBI

SKNBI terdiri dari 3 (tiga) komponen utama sebagai berikut:

1. Sistem Sentral Kliring (SSK) adalah sistem komputer yang digunakan oleh PKN untuk menyelenggarakan SKNBI.

2. Komputer Penyelenggara Kliring (KPK) adalah sistem computer yang berada di lokasi Penyelenggara Kliring Lokal (PKL) yang terhubung dengan SSK secara online, yang digunakan PKL untuk menyelenggarakan SKNBI di suatu wilayah kliring.

3. Terminal Peserta Kliring (TPK) adalah sistem computer yang berada dilokasi peserta, yang digunakan dalam melakukan persiapan dan/atau pengiriman DKE serta penerimaan informasi perhitungan hasil kliring dan atau informasi kliring lainnya, baik secara online maupun offline. TPK online adalah TPK yang terhubung ke SSK melalui Jaringan Komunikasi Data (JKD). Sedangkan TPK offline adalh TPK yang tidak terhubungan ke SSK.

8.Batasan Nominal SKNBI

1. Transfer kredit antar bank yang dapat dikliringkan dalam kliring kredit adalah di bawah Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dengan biaya kliring sebesar Rp 10.000,00 .

2. Nilai nominal warkat debet tidak dibatasi kecuali untuk warkat debet yang berupa nota debet, yaitu setinggi – tingginya Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) per nota debet. Pembatasan nilai nominal pada nota debet tidak berlaku apabila nota debet diterbitkan oleh Bank Indonesia dan ditujukan kepada Bank atau nasabah Bank.

C. Proses Kliring Berdasarkan Warkat Kliring Pada Bank Mandiri

Dokumen terkait