• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM KOMANDO, PENGENDALIAN DAN KOORDINASI

Incident Command Systems (ICS) atau Sistem Komando Tanggap Darurat Bencana: ICS dimasukkan sebagai bagian dari komponen formal pada operasi tanggap darurat bencana di Indonesia dan digunakan sebagai acuan standar praktik di semua tingkatan dan lingkup peristiwa bencana. Komando penanggulangan bencana berpedoman pada Perka BNPB 3/2016 tentang Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) yang didefinisikan sebagai satu kesatuan upaya terstruktur dalam satu komando yang digunakan untuk mengintegrasikan kegiatan penanganan darurat secara efektif dan efisien dalam mengendalikan ancaman/penyebab bencana dan menanggulangi dampak pada saat keadaan darurat bencana.

Sistem Koordinasi Penanganan Darurat Bencana: Koordinasi Penanganan Darurat Bencana diatur dalam Sistem Komando Tanggap Darurat Bencana yang terstandardisasi dan telah diterapkan di semua tingkat pemerintahan, secara transparan dan melibatkan unsur-unsur sumber daya non-pemerintah maupun sektor swasta ke dalam upaya tanggap darurat; meskipun demikian, tantangan dalam pengimplementasian tetap ada. Koordinasi dalam penanganan darurat bencana dirincikan di dalam Surat Keputusan Kepala BNPB 173/2014 tentang Klaster Nasional Penanggulangan Bencana. Penanggulangan bencana skala nasional melibatkan delapan klaster, meliputi: Klaster Kesehatan, Pencarian dan Penyelamatan, Logistik, Pengungsian dan Perlindungan, Pendidikan, Sarana dan Prasarana, Ekonomi, dan Klaster Pemulihan Dini.

Dasar hukum pada struktur komando dan koordinasi: Komando penanganan kedaruratan, sistem dan struktur, serta otoritas pengambilan keputusan maupun hierarki pelaporan diatur oleh instrumen hukum dan perencanaan. Di tingkat nasional, Perka BNPB 3/2016 mengamanatkan penggunaan konsep Incident Command System (ICS) dalam bentuk Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) di tingkat Provinsi, Kota, Kabupaten, maupun Nasional. Selain itu, di tingkat nasional, struktur komando membawahi Sistem Klaster sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Kepala BNPB 173/2014 tentang Klaster Nasional Penanggulangan Bencana.

Komando dan Koordinasi berdasarkan Fungsi: Rencana dan prosedur menggambarkan bentuk kepemimpinan dan koordinasi untuk mendukung bidang-bidang/klaster-klaster fungsional seperti SAR, Kesehatan, atau pengungsian dan perlindungan. Sesuai Peraturan Kepala BNPB 3/2016, struktur organisasi Posko Penanganan Darurat Bencana di Tingkat Nasional melibatkan klaster multi-pihak, yang tugas dan perannya dirinci dalam Surat Keputusan Kepala BNPB 173/2014 termasuk delapan klaster berikut: Klaster Kesehatan, Pencarian dan Penyelamatan, Logistik, Pengungsian dan Perlindungan, Pendidikan, Sarana dan Prasarana, Ekonomi, dan Klaster Pemulihan Dini.

Pemfasilitasian dalam Koordinasi Antar lembaga: terdapat prosedur standar untuk koordinasi antar lembaga di Indonesia, termasuk di dalamnya terkait perjanjian antar lembaga, permintaan bantuan, penugasan pada sebuah misi, kebutuhan pelaporan, dan penggantian biaya. Koordinasi dukungan antar lembaga difasilitasi melalui pengoperasian Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (Posko PDB). Posko PDB dipimpin oleh seorang komandan dan dibantu oleh perwakilan kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah provinsi, koordinator bantuan komunitas internacional, serta masing-masing Klaster/Bidang. Posko mengoordinasikan semua organisasi dan lembaga mitra lainnya, termasuk lembaga non-pemerintah dan/atau internasional.

91

Penilaian Dasar Kesiapsiagaan Bencana Nasional: Di Indonesia

©2020 Pacific Disaster Center

INFRASTRUKTUR TATA KELOLA

Emergency Operations Center (EOC): BNPB dan BPBD bertanggung jawab dalam pengelolaan Pusdalops, yang hanya digunakan dan dibentuk untuk satu tujuan tertentu. Persyaratan yang harus dipenuhi dan kapasitas Pusdalops mengacu pada Perka BNPB 15/2012 tentang Pedoman Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB). Dengan demikian, Pusdalops PB berlokasi di Kantor Pusat BNPB untuk tingkat nasional, dan umumnya bertempat di kantor BPBD untuk tingkat daerah. Ruangan Pusdalops PB juga dirancang dan dilengkapi secara khusus guna mendukung aktifitas penanganan selama 24 jam dan 7 hari pada saat bencana besar terjadi.

Fasilitas Tersendiri untuk EOC: EOC BNPB tidak berada dalam fasilitas yang terpisah. Pusdalops PB terletak di gedung yang sekaligus menampung mitra antar lembaga, dan mereka berada di fasilitas yang sama dalam melaksanakan kegiatan operasi sehari-hari di organisasi.

Sumber Daya EOC: EOC BNPB dilengkapi dengan kemampuan untuk penanganan insiden berskala kecil, namun mungkin dibutuhkan peralatan dan sumber daya tambahan untuk penanganan bencana skala besar. Pusdalops PB sudah dilengkapi dengan fasilitas memadai untuk mendukung kegiatan operasi tanggap darurat bencana berskala besar, namun belum cukup untuk menampung banyaknya personel dari lembaga dan mitra non-pemerintah lainnya.

Kesiapan Aktivasi EOC: EOC Nasional mampu melakukan aktivasi pada kondisi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pusdalops PB memiliki personel dan perlengkapan untuk diaktifkan tanpa pemberitahuan sebelumnya (no-notice basis). Dalam rangka meningkatkan kecepatan tanggap darurat, dibentuklah Satuan Reaksi Cepat (SRC) yang bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI), beberapa kementerian terkait dan LSM. SRC berfungsi sebagai bentuk penguatan kepada unsur-unsur pemerintah di daerah di saat diperlukan adanya bantuan teknis, peralatan, dan dukungan logistik di saat kondisi yang dihadapi melampaui kemampuan yang dimiliki oleh pemerintah daerah.

Durasi Aktivasi EOC: EOC di Indonesia memiliki staf dan perlengkapan guna memastikan kegiatan operasi bisa dilakukan secara berkelanjutan. Perka BNPB 15/2012 memberikan panduan rinci tentang kebutuhan staf dan sumber daya untuk Pusdalops PB. Berdasarkan panduan tersebut, Pusdalops PB harus memiliki staf dan sumber daya yang diperlukan guna mendukung aktivasi penuh selama masa darurat berlangsung.

Ketangguhan EOC: EOC Nasional dan daerah di Indonesia secara fisik terlindungi dari sebagian besar tipe ancaman. Perka BNPB 15/2012 mengharuskan Pusdalops PB untuk ditempatkan di gedung yang tahan terhadap berbagai bentuk ancaman yang datang dari alam maupun ancaman teknologi –termasuk gempa, kebakaran, petir, dan pencurian– dan diharuskan memiliki akses ke berbagai pilihan sarana transportasi, termasuk akses helikopter. Fasilitas tersebut juga harus memiliki akses jaringan utilitas yang dapat diandalkan (air, listrik, dan jaringan komunikasi). Berdasarkan laporan Staf BNPB dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang dimiliki sudah memenuhi sebagian besar dari yang dipersyaratkan, kecuali ketika terhalang aksesnya karena banjir.

Aksesibilitas EOC: EOC Nasional mudah diakses oleh pejabat penting di pemerintahan. Pusdalops BNPB terletak di kantor pusat BNPB yang mudah dijangkau oleh sebagian besar pejabat kunci yang harus

92 Penilaian Dasar Kesiapsiagaan Bencana Nasional: Di Indonesia www.pdc.org

hadir secara fisik. Helipad di atap gedung menyediakan akses alternatif, termasuk jika transportasi darat tidak memungkinkan.

EOC Cadangan: BNPB bertugas mengelola fasilitas cadangan Pusdalops PB di tingkat Nasional.

Terdapat tiga Pusdalops PB di tingkat BPBD Provinsi yang juga diposisikan menjadi cadangan Pusdalops BNPB. Masing-masing dari tiga EOC tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas yang selevel dengan apa yang dimiliki oleh Pusdalops BNPB.

Pusat Koordinasi di Lapangan: BNPB memiliki rencana, prosedur, dan sumber daya untuk membentuk beberapa titik pusat koordinasi di tingkat lapangan. BNPB mengoperasikan koordinasi tingkat lapangan tersebut dari kantor BPBD bilamana diperlukan, yang sebagian besar sudah dilengkapi dengan fasilitas memadai dan dapat dengan cepat ditetapkan sebagai pusat koordinasi lapangan bagi BNPB.

Kapasitas Fasilitas Pemulihan Jangka Panjang bagi Masyarakat: Indonesia memiliki rencana, prosedur, dan sumber daya dalam mendukung upaya pemulihan masyarakat secara jangka panjang, tetapi hal ini belum teruji dan masih terdapat tantangan dalam implementasinya. BNPB bersama-sama dengan BPBD bertanggung jawab mengaktifkan pusat pemulihan pascabencana setelah kejadian bencana besar berakhir. Dalam kondisi tersebut, BPBD memiliki tanggung jawab utama dalam melaksanakan operasi kegiatan pemulihan. Berdasarkan pengalaman pemulihan di masa lalu, terdapat beberapa poin tantangan yang hingga saat ini masih dirasakan, yaitu seputar koordinasi dan kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya keberadaan dari pusat pemulihan pasca bencana (recovery centers).

Interoperabilitas di aspek Komunikasi: Interoperabilitas komunikasi di antara para pemangku kepentingan PB di Indonesia masih bersifat parsial. Proses komunikasi antar lembaga pemerintahan dan/

dari mitra-ke-mitra masih menggunakan aplikasi seluler pihak ketiga (contoh: WhatsApp). Meskipun efektif, banyak digunakan, dan murah, namun ketergantungan pada akses jaringan data seluler berkecepatan tinggi menjadi tantangan tersendiri. Radio frekuensi tinggi juga digunakan sebagai bentuk komunikasi alternatif, namun keterbatasan pada akses ke peralatan dan kemampuan teknis dalam menggunakan alat tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan aplikasi pesan singkat pada ponsel pintar atau sistem voice call.

Mandat/ kredensial yang diberikan pada aktor PB: Proses dan sistem kualifikasi para kandidat sudah tersedia, namun belum teruji pada peristiwa bencana yang pernah terjadi sebelumnya. BNPB bertanggung jawab untuk melakukan penataan terhadap aspek evaluasi kredensial dari aktor penanggulangan bencanan, dan telah melakukan upaya pencatatan riwayat penanganan bencana di masa lalu. BNPB belum sepenuhnya memanfaatkan sistem kredensial dengan merujuk pada catatan penanganan bencana di masa lalu. Peraturan BNPB 1/2019 membahas standar kompetensi terkait posisi kunci dalam kondisi tanggap darurat bencana.

Dalam hal ini Pusat Pendidikan dan Pelatihan PB (Pusdiklat PB) sudah memiliki sistem informasi terpusat yang mencatat data sertifikasi staf yang disebut sebagai SiDIKLAT.

93

Penilaian Dasar Kesiapsiagaan Bencana Nasional: Di Indonesia

©2020 Pacific Disaster Center

Kapasitas Terbatas atau Tidak memiliki Kapasitas

Kapasitas di Tingkat Maju

SUB-TEMA KEMAMPUAN & SUMBER DAYA

Fasilitas & Peralatan Sumber Daya Manusia Inventaris Bahan

Logistik & Pasokan Kemampuan Fungsional