LANDASAN TEORI
2) Sistem Nilai Tukar Mengambang (floating exchange rate)
Merupakan nilai tukar di mana tingkat nilai tukar dibiarkan menurut keseimbangan permintaan dan penawaran mata uang asing yang terjadi. Nilai tukar mengambang harus memenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut:
a. Mata uang domestik tidak konvertibel dengan emas.
b. Penstabilan nilai tukar hanya dilakukan dengan jalan mempengaruhi permintaaan dan penawaran valuta asing.
37
2.5.2 Jenis Nilai Tukar
Menurut para ekonom dalam Mankiw (2003:123) membedakan kurs menjadi dua yaitu:
1. Nilai Tukar Nominal (nominal exchange rate), adalah harga relatif dari mata uang dua negara.
2. Nilai Tukar Riil (real exchange rate), adalah harga relatif dari barang-barang di antara dua negara. Kurs riil menyatakan tingkat di mana kita bisa memperdagangkan barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain.
2.5.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar
Perubahan dan penawaran suatu valuta, yang selanjutnya menyebabkan perubahan dalam kurs valuta, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu (Sukirno, 2004:402) : 1) Perubahan dalam citra masyarakat. 2) Perubahan harga barang ekspor dan impor. 3) Kenaikan harga umum (inflasi). 4) Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi. 5) Pertumbuhan ekonomi.
2.6 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini merupakan berbentuk skripsi, tesis, jurnal dan buletin dari penelitian peneliti lain. Adapun penelitian tersebut sebagai berikut :
a. Penelitian Mochamad Faza Rifai (2007) “ Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan kredit Perbankan Pada Bank Umum Di Jawa Tengah Tahun 1990-2005”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
ekonomi terhadap permintaan kredit perbankan. Penelitian ini menggunakan model regresi loglinier berganda dan alat analisis yang digunakan adalah metode ordinary least square (OLS). Hasil analisis menunjukkan jika PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Sedang untuk variabel suku bunga berpengaruh negatif terhadap permintaan kredit. Variabel inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Dan variabel krisis ekonomi (dummy) berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit. Namun variabel-variabel dalam penelitian ini secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap permintaan kredit
b. Penelitian Andayani Hadi (2008) “Analisis Permintaan Kredit Konsumsi Pada Perbankan di Sumatra Utara” Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kredit konsumsi di Sumatera Utara. Variabel dalam penelitian ini adalah PDRB, Kurs rupiah terhadap dolar, Tingkat bunga kredit konsumsi dan Permintaan kredit konsumsi tahun sebelumnya. Penelitian ini menggunakan data time series 1991-2005 dan merupakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia. Penelitian ini menggunakan model regresi berganda dan alat analisis yang digunakan adalah metode ordinary least square (OLS). Hasil penelitian ini adalah bahwa variable-variabel dalam penelitian berpengaruh signifikan terhadap permintaan kredit konsumsi di Sumatra Utara.
39
c. Penelitian Ni Nyoman Aryaningsih (2008) “Pengaruh Suku Bunga, Inflasi dan Jumlah Penghasilan Terhadap Permintaan kredit di PT BPD Cabang Kediri”. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh suku bunga, inflasi dan jumlah penghasilan terhadap permintaan kredit. Obyek penelitian adalah PT BPD Cabang Pembantu Kediri. Metode pengumpulan data dengan dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku bunga, inflasi tidak berpengaruh secara parsial terhadap permintaan kredit, sedangkan jumlah penghasilan berpengaruh signifikan terhadap permintaan kredit.
d. Penelitian Mohammad Yusuf (2009) “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Konsumtif Bank Pemerintah di Sumatra Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari PDRB,
suku bunga pinjaman dan inflasi terhadap permintaan kredit konsumtif di Sumatra Utara. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series, yang bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) Medan. Berdasarkan olah data dari tahun 1980-2004 hasil analisis menunjukkan bahwa PDRB dan inflasi berpengaruh positif terhadap permintaan kredit konsumtif, sedang tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap permintaan kredit konsumtif.
e. Penelitian Sri Haryati (2009) “Pertumbuhan Kredit Perbankan di Indonesia : Intermediasi dan Pengaruh Variabel Makro Ekonomi”. Penelitian ini
kredit pada bank nasional (bank pemerintah, bank pemerintah daerah dan bank umum swasta nasional) dan bank asing campuran di Indonesia. Metode yang digunakan adalah metode statistik deskriptif. Hasil analisis menunjukkan pada perbankan nasional variabel pertumbuhan ekses likuiditas, pertumbuhan DPK, serta variabel makro (bunga, inflasi dan kurs) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit. Pada bank asing dan bank campuran yang beroperasi di Indonesia variabel pertumbuhan ekses likuiditas dan pertumbuhan DPK berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit. Sedangkan variabel makro (bunga, inflasi dan kurs) berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan kredit. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur bank asing dan campuran dipengaruhi oleh kebijakan dari kantor pusat atau negara asal.
f. Penelitian Miraza, dkk. (2010) “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Produktif Di Perbankan Sumatra Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh suku bunga pinjaman, laju pertumbuhan ekonomi, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, kondisi ekonomi sebelum dan sesudah krisis, terhadap permintaan kredit produktif di perbankan Sumatera Utara. Metode analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan metode ordinary least square (OLS). Dan alat bantu penelitian dengan Eviews. Hasil analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif yang berarti bahwa kenaikan pertumbuhan ekonomi berdampak pada kenaikan kredit produktif. Nilai tukar kurs rupiah
41
berpengaruh positif terhadap permintaan kredit produktif, semakin meningkat nilai kurs maka permintaan kredit akan meningkat 1,2%. Suku bunga pinjaman berpengaruh positif terhadap kredit, dengan meningkatnya suku bunga sebesar 1% maka akan meningkatkan kredit produktif sebesar 0.02%. Kondisi perekonomian sebelum dan sesudah krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kredit.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Peneliti dan Judul Variabel Hasil/Temuan Mochamad Faza Rifai
(2007) Analisis yang
mempengaruhi permintaan Kredit Perbankan pada Bank Umum Di Jawa Tengah tahun 1990-2005
1.PDRB