• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian

6.5.6 Sistem Pemadam Luapan

Sistem pemadam luapan yang terdapat di RSUD Kota Tangerang erat kaitannya dengan APAR. Hal ini dikarenakan sistem pemadam api luapan yang tersedia di RSUD Kota Tangerang menggunakan APAR sebagai komponen utamanya. Namun seperti dijelaskan dalam pembahasan APAR diatas, dapat diketahui bahwa sistem pemadam luapan yang terdapat di RSUD Kota Tangerang tidak sesuai dengan persyaratan pedoman pemeriksaan keselamatan kebakaran bangunan gedung (Pd-T-11-2005-C).

Hal ini dapat menyebabkan kegagalan dalam memadamkan api, selain itu, pemadam luapan ditujukan untuk menghindari kerusakan pada alat listrik dan komputer yang berisikan data-data penting rumah sakit. Sehingga dapat dipastikan bila terjadi kebakaran, data-data penting rumah sakit dalam keadaan yang sangat tidak aman

Hal tersebut dapat terjadi karena upaya pemadaman kebakaran yang dilakukan tidak dapat melindungi peralatan komputer yang terdapat di RSUD Kota Tangerang. Seperti yang dikatakan oleh

Nunez (2007), setiap gedung seharusnya memiliki APAR yang memiliki bahan yang dapat memadamkan api tanpa merusak komputer berisikan data-data penting yang ada di rumah sakit.

Seharusnya, bila pemadam luapan yang tersedia di RSUD Kota Tangerang telah siap pakai, akan membantu penghambatan perkembangan api kebakaran juga. Namun, dengan ketidaksiapan ini, akan memberikan efek buruk bagi RSUD Kota Tangerang. Bahkan dapat dikatan efek ganda. Yang pertama kebakaran yang terjadi dapat dengan cepat menyebar, kemudian yang kedua kerugian yang akan diterima oleh pihak RSUD Kota Tangerang akibat kebakaran akan menjadi sangat besar dan tidak dapat diminimalisir.

6.5.7.Pengendali Asap

Pengendali asap yang tersedia di RSUD Kota Tangerang telah dalam kondisi yang baik. Kondisi baik dapat diartikan bahwa pengendali asap yang tersedia telah siap untuk digunakan dan dapat melindungi penghuni gedung dari bahaya kebakaran (Saptaria, 2005). Pengendali asap menjadi penting untuk mengendalikan asap akibat kebakaran yang dapat mengganggu jalan nafas penghuni yang melakukan evakuasi dan juga dapat menjadi penghalang penglihatan daripada korban kebakaran. Dengan demikian RSUD Kota Tangerang telah dapat mengendalikan asap akibat kebakaran, sehingga dapat

melindungi jalan nafas dan penglihatan penghuni yang melakukan evakuasi dan pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api.

Kemudian asap yang banyak mengandung gas CO2 tersebut akan merepotkan petugas pemadam kebakaran juga nantinya. Bila suatu ruangan dipenuhi dengan CO2, maka gas O2 yang menjadi elemen pembentuk api akan berkurang. Hal ini menyebabkan api akan segera menyambar gas O2 dengan cepat. Maka akan terjadi ledakan yang

biasa disebut dengan flashover. Kejadian ini lah yang dihindari oleh siapapun yang terdapat di daerah kebakaran. Ledakan akibat dari peristiwa ini sanggup untuk meruntuhkan satu gedung bila kejadiannya melibatkan sangat banya gas O2. Oleh karena itu,

pengendali asap yang tersedia di RSUD Kota Tangerang sangat penting untuk melindungi gedung dari keruntuhan.

Sesuai dengan yang telah dibahas oleh Colt (2014), bahwa dengan pengendalian asap, kita dapat membantu rute evakuasi terlindung dari asap, pelaksanaan pemadaman kebakaran dapat lebih optimal,

flashover atau kejadian ledakan akibat proses kebakaran di ruangan tertutup dapat dikurangi, dapat melindungi isi ruangan/gedung dan mengurangi risiko kerusakan pada gedung.

6.5.8.Deteksi Asap

Deteksi asap yang terdapat di RSUD Kota Tangerang masih dikategorikan dalam kategori cukup dikarenakan masih terdapat

detektor asap di bagian dapur pada kantin RSUD Kota Tangerang. Seharusnya hal tersebut dapat dihindari dan detektor yang digunakan dapat diganti dengan detektor panas. Hal ini untuk menghindari terjadinya alarm palsu akibat dari detektor asap yang terdapat di bagian dapur, yang kita tahu bahwa dapur merupakan tempat memasak yang terkadang terdapat asap akibat proses memasak.

Menurut Saptaria (2005) deteksi asap dalam pemasangannya perlu menghindari tempat seperti dapur yang dapat menyebabkan alarm palsu. Alarm palsu dapat mengakibatkan kesalahan dalam menanggapi keadaan atau situasi dan dapat berbahaya bila kejadian berulang. Pada saat terjadi alarm asli akibat kebakaran, penghuni akan terbiasa berfikir bahwa itu hanyalah alarm palsu.

Hal tersebut juga dapat menjadi faktor penghambat evakuasi dalam keadaan darurat. Penghuni gedung akan bersikap acuh dengan alarm keadaan darurat bila terbiasa seperti itu. Dan bila terjadi kejadian darurat yang sesungguhnya, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Waktu untuk melakukan evakuasi sangatlah singkat, bila waktu yang singkat tersebut dipotong oleh sikap penghuni yang acuh, maka waktu akan menjadi sangat terbatas. Dalam keadaan seperti itu, pihak RSUD Kota Tangerang akan mendapatkan masalah yang lebih besar.

6.5.9.Pembuangan Asap

Pembuangan asap yang terdapat di RSUD Kota Tangerang juga masih dalam kategori cukup. Ini artinya keadaan pembuangan asap yang terdapat di RSUD Kota Tangerang masih belum optimal. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya proses penghambatan perkembangan api kebakaran. Bila tidak diperbaiki bukan tidak mungkin akan mengganggu proses pengendalian asap yang terdapat di RSUD Kota Tangerang dan mengganggu proses evakuasi juga proses pemadaman kebakaran. Hal ini saling berkaitan, karena penghambatan api kebakaran sangat penting peranannya.

Penghambatan api kebakaran dilakukan untuk memberikan cukup waktu dalam pelaksanaan evakuasi. Selain itu, penghambatan api dimaksudkan agar kejadian kebakaran tidak membesar dan dapat segera dipadamkan.

Sehingga yang terjadi adalah kejadian kebakaran tidak membesar, evakuasi cukup waktu untuk dilakukan kemudian pemadaman kebakaran juga dapat segera terlaksana. Api akan lebih cepat padam bila api kebakaran tersebut tidak membesar.

Seperti dikatakan oleh Friedman (1992), pembuangan asap menjadi penting untuk penghambatan proses penjalaran api, sehingga api kebakaran tidak mudah menyebar sehingga terdapat cukup waktu untuk dilakukannya evakuasi dan pemadaman kebakaran.

6.5.10. Lift Kebakaran

Lift Kebakaran yang tersedia di RSUD Kota Tangerang sudah tersedia, namun akan lebih baik lagi bila penempatannya lebih mudah diketahui oleh penghuni gedung. Pada gedung RSUD Kota Tangerang yang memiliki 8 lantai, tentu ketersediaan lift kebakaran dapat membantu proses evakuasi menjadi lebih cepat. Namun, bila ketersediaannya tidak mudah dilihat dan diketahui oleh penghuni, maka lift kebakaran yang tersedia menjadi tidak maksimal penggunaannya. Seharusnya RSUD Kota Tangerang memberikan petunjuk mengenai letak lift kebakaran ini agar mudah diketahui oleh penghuni gedung.

Lift kebakaran diperlukan untuk proses penanggulangan kebakaran sehingga pemadam kebakaran dapat melaksanakan proses pemadaman dan penyelamatan dengan cepat (Saptaria, 2005). Bukowski (2003) juga menyebutkan, bahwa lift kebakaran yang tersedia harus mudah diketahui oleh penghuni gedung, agar dapat maksimal dalam penggunaannya dalam melakukan evakuasi.

Oleh karena itu, lift kebakaran yang tersedia di RSUD Kota Tangerang menjadi penting, untuk mempercepat proses evakuasi, sehingga dapat menghindari jatuhnya korban akibat kejadian kebakaran. Penghuni gedung dapat dengan aman melaksanakan evakuasi, kemudian RSUD Kota Tangerang juga akan mendapatkan keuntungan bila menerapkan lift kebakaran dengan baik. Pengunjung

dan penghuni gedung akan merasa aman, sehingga pelayanan yang diberikan dapat menjadi maksimal, pengunjung rumah sakit akan merasa lebih nyaman dan akan meningkatkan citra RSUD Kota Tangerang.

6.5.11. Cahaya Darurat

Cahaya Darurat yang terdapat di RSUD Kota Tangerang telah dalam kondisi baik. Sub komponen ini berkaitan dengan listrik darurat. Sub komponen ini dalam kondisi baik yang artinya dapat digunakan bila terjadi keadaan darurat dan dapat membantu jalannya proses evakuasi penghuni gedung. Penghuni gedung dapat melihat dengan jelas petunjuk arah evakuasi dengan tersedianya pencahayaan darurat di RSUD Kota Tangerang.

Ketersediaan cahaya darurat dimaksudkan untuk membantu proses evakuasi sehingga penghuni dapat dengan jelas melihat petunjuk evakuasi dengan pencahayaan yang cukup. (Saptaria, 2005). Jadi dengan adanya pencahayaan darurat di RSUD Kota Tangerang, pelaksanaan evakuasi akan lebih cepat. Pihak RSUD Kota Tangerang dapat menghindari jatuhnya korban akibat kejadian darurat.

Dengan begitu, maka pihak RSUD Kota Tangerang dapat terhindar dari kerugian yang sangat besar dan dapat melindungi pasien dan pengunjung rumah sakit. Sesuai dengan komitmen RSUD Kota

Tangerang yang ingin memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat Kota Tangerang

6.5.12. Listrik Darurat

Listrik darurat yang terdapat di RSUD Kota Tangerang telah dalam kondisi baik. Sub komponen ini saling berkaitan dengan cahaya darurat. Listrik darurat menjadi penting untuk mengaktifkan cahaya darurat yang tersedia. Sub komponen ini dalam kondisi baik yang artinya dapat digunakan bila terjadi keadaan darurat dan dapat membantu jalannya proses evakuasi penghuni gedung. Seperti halnya dengan cahaya darurat, dengan listrik darurat yang baik, RSUD Kota Tangerang dapat memudahkan proses evakuasi yang dilakukan penghuni gedung.

Sumber listrik yang tersedia dalam suatu bangunan gedung minimal terdapat 2 sumber. Hal ini dimaksudkan untuk tersedianya listrik dalam keadaan darurat bila salah satu sumber tidak dapat menyediakan listrik. Sehingga dalam keadaan darurat, penghuni gedung tetap dapat melaksanakan evakuasi dengan cepat. (Saptaria, 2005).

Pelaksanaan evakuasi yang cukup waktu dapat meningkatkan kemungkinan korban selamat. Kemudian pelaksanaan evakuasi yang cukup waktu juga dapat memberikan keuntungan bagi RSUD Kota Tangerang. Pihak RSUD Kota Tangerang akan mendapatkan

kepercayaan dari pengunjung dan pasien yang berobat. Yang mana hal tersebut akan memberikan profit lebih bagi rumah sakit.

6.5.13. Ruang Pengendali Operasi

Ruang pengendali operasi yang terdapat di RSUD Kota Tangerang juga masih dalam kondisi cukup. Seharusnya ruang pengendali operasi yang tersedia lebih lengkap peralatannya. Tidak hanya menggunakan peralatan sederhana saja. Seharusnya pihak RSUD Kota Tangerang menyediakan ruang pengendali operasi yang memiliki ventilasi yang cukup. Hal ini diperlukan agar petugas jaga dapat lebih nyaman di dalam ruang pengendali operasi sehingga pemantauan dapat dilakukan secara terus menerus.

Ruang pengendali operasi yang baik seharusnya memiliki ventilasi yang baik, dapat memonitor seluruh kejadian kebakaran dan selalu diawasi oleh petugas jaga. (Saptaria, 2005).

Dengan petugas yang nyaman berada di ruang pengendali operasi, tentu akan meningkatkan pemantauan yang dilakukan oleh petugas tersebut. Namun, bila pihak RSUD Kota Tangerang tidak segera memperbaiki hal ini, maka yang akan terjadi adalah petugas jaga tidak merasa nyaman, proses pemantauan akan tidak maksimal, sehingga akan memberikan kerugian bagi pihak RSUD Kota Tangerang.

6.6.Sistem Proteksi Pasif RSUD Kota Tangerang

Sistem proteksi pasif RSUD Kota Tangerang yang terdiri dari ketahanan api struktur bangunan, kompartemenisasi ruang dan perlindungan bukaan telah dalam kondisi yang baik. Dengan hasil penilaian yang sempurna, tentu menjadi keuntungan lebih bagi RSUD Kota Tangerang. Kondisi ini memastikan bahwa sistem proteksi pasif yang tersedia di RSUD Kota Tangerang telah dilaksanakan dengan baik dan dapat membantu proses penghambatan meluasnya kejadian kebakaran.

6.6.1. Ketahanan Api Struktur Bangunan

Pada sub komponen ketahanan api struktur bangunan didapatkan hasil penilaian yang sempurna. Ketahanan api struktur bangunan RSUD Kota Tangerang erat kaitannya dengan proses evakuasi dan mencegah proses penyebaran kebakaran dalam gedung (Saptaria, 2005). Dengan ketahanan api struktur bangunan yang baik, penjalaran api maupun panas dari kebakaran dapat diminimalisir (SNI 03–1736-2000). Hal ini dapat menjadi pertanda, bahwa dengan ketahanan api struktur bangunan yang baik, RSUD Kota Tangerang dapat mencegah proses penyebaran kebakaran dan mencegah proses penjalaran api dan panas.

Dengan ketahanan api struktur bangunan yang baik, RSUD Kota Tangerang akan terhindar dari kerugian yang besar.

Kemudian evakuasi yang dilakukan juga akan menjadi lebih aman. Sehingga RSUD Kota Tangerang akan terhindar dari kerugian akibat jatuhnya korban akibat kejadian kebakaran.

Kebakaran yang terjadi juga akan lebih mudah dipadamkan, kemudian aset rumah sakit yang terdapat di gedung dapat terlindungi bila ketahanan api struktur bangunannya dapat mempertahankan struktur bangunan tersebut. Maka kerugian yang terjadi akibat kejadian kebakaran dapat diminimalisir.

6.6.2. Kompartemenisasi Ruang

Kompartemenisasi ruang yang terdapat di RSUD Kota Tangerang merupakan kompartemenisasi ruang yang telah terencana dan masuk dalam kategori baik dalam hasil penilaian. Kompartemenisasi ruang yang baik diperlukan sebagai salah satu upaya proteksi pasif bangunan gedung terhadap bahaya kebakaran (Saptaria, 2005). Selain itu, kompartemenisasi ruang yang baik juga dapat melindungi penghuni dan aset gedung dari bahaya kebakaran dan dapat melakukan evakuasi tanpa terpapar bahaya kebakaran (SNI 03–1736-2000). Dengan hasil penilaian yang baik ini, RSUD Kota Tangerang dapat dikatakan telah melindungi penghuni gedung dari bahaya kebakaran yang dapat terjadi kapan saja.

Kondisi kompartemenisasi ruang yang baik dapat menjadi keuntungan bagi RSUD Kota Tangerang. RSUD Kota Tangerang tidak terhindar dari paparan bahaya kebakaran yang dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, kompartemenisasi ruang yang terdapat di RSUD Kota Tangerang harus dalam keadaan baik. Dengan manfaat yang diberikannya, kompartemenisasi ruang sangat diperlukan oleh RSUD Kota Tangerang.

Kompartemenisasi ruang yang tersedia di RSUD Kota Tangerang dapat menghindarkan RSUD Kota Tangerang dari kerusakan aset secara besar-besaran akibat kebakaran. Selain itu, pelaksanaan evakuasi juga dapat dilakukan dengan aman, sehingga korban akibat kebakaran dapat diminimalisir. Keuntungan lebih dari ketersediaan kompartemenisasi ruang bagi RSUD Kota Tangerang ialah dengan terlindungnya aset perusahaan, tentu akan meminimalisir kerugian yang ditimbulkan akibat terjadinya kebakaran bila kebakaran terjadi.

6.6.3. Perlindungan Bukaan

Perlindungan bukaan juga dimaksudkan untuk melindungi penghuni dan aset gedung dari bahaya kebakaran (Saptaria, 2005). Dengan hasil penilaian yang baik, tentunya perlindungan bukaan yang terdapat di RSUD Kota Tangerang telah dapat

melindungi penghuni dan aset gedung RSUD Kota Tangerang. Selain itu, RSUD Kota Tangerang dapat memastikan bahwa proses evakuasi dapat segera dilakukan karena penjalaran api telah terproteksi. Menurut SNI 03–1736-2000, perlindungan bukaan yang baik dapat mencegah penjalaran api dan membantu proses evakuasi yang dilakukan bila terjadi keadaan darurat akibat kebakaran.

Dengan kata lain, bila RSUD Kota Tangerang menyiapkan perlindungan bukaan sesuai dengan persyaratan, maka RSUD Kota Tangerang dapat menghambat penjalaran api kebakaran, dengan begitu perkembangan api kebakaran juga akan terhambat. Kemudian kebakaran yang terjadi juga tidak akan memberikan kerusakan yang berlebih dalam waktu yang cepat. Jadi proses pengendalian kebakaran tetap dibutuhkan meskipun telah tersedia perlindungan bukaan ini, namun akan memberikan waktu bagi pelaksanaan evakuasi.

Bila proses pemadaman api segera dilakukan, kerusakan aset rumah sakit juga dapat diminimalisir. Dengan begitu kerugian yang diderita oleh RSUD Kota Tangerang akibat kebakaran juga akan lebih sedikit. Kerugian memang akan selalu ada bila terjadi kebakaran, namun kerugian tersebut dapat diminimalisir bila manajemen RSUD Kota Tangerang telah menyiapkan perencanaan pengendalian kebakaran dengan baik.

159

7.1.Simpulan

Hasil penilaian keandalan sistem keselamatan kebakaran bangunan gedung RSUD Kota Tangerang adalah sebagai berikut.

1. Tingkat keandalan kelengkapan tapak bangunan di RSUD Kota Tangerang telah dalam kategori baik dengan nilai 21,2% dari standar nilai 25%. Semua sub komponen telah mendapatkan hasil penilaian yang baik dan memenuhi seluruh kriteria penilaian, artinya komponen kelengkapan tapak bangunan RSUD Kota Tangerang berfungsi dengan baik, sehingga pemakai gedung dapat melakukan kegiatannya dengan mendapat perlindungan dari kebakaran dengan baik.

2. Tingkat keandalan sarana penyelamatan RSUD Kota Tangerang telah dalam kategori baik dengan nilai 20,75% dari standar nilai 25%, namun terdapat salah satu sub komponen yang tidak dapat memenuhi seluruh kriteria penilaian, yaitu konstruksi jalan keluar. Sub komponen konstruksi jalan keluar tidak mendapatkan nilai yang sempurna karena belum dapat dipastikannya kecukupan waktu dalam pelaksanaan evakuasi akibat dari belum terlaksananya simulasi keadaan darurat di RSUD Kota Tangerang.

3. Tingkat keandalan sistem proteksi aktif RSUD Kota Tangerang masuk dalam kategori cukup dengan nilai 17,65% dari standar nilai 24%. Hal ini dikarenakan 13 sub komponen penyusun komponen sistem proteksi aktif, 4 diantaranya masih dalam kategori cukup dan bahkan 2 sub komponen dinyatakan dalam kategori kurang. Sub komponen yang masuk dalam kategori kurang adalah APAR dan sistem pemadam luapan. Hal ini dikarenakan ketidaksiapan kedua komponen tersebut untuk digunakan dalam keadaan darurat. 4. Tingkat keandalan sistem proteksi pasif RSUD Kota Tangerang

masuk dalam kategori baik dan telah memenuhi seluruh kriteria penilaian dengan nilai 21,63% dari standar nilai 26%. Artinya sistem proteksi pasif yang dimiliki oleh RSUD Kota Tangerang telah dapat melindungi penghuni gedung dari bahaya kebakaran. 5. Tingkat keandalan sistem keselamatan bangunan RSUD Kota

Tangerang terhadap bahaya kebakaran secara keseluruhan telah dalam kondisi baik. Dengan nilai keandalan 81,23%, RSUD Kota Tangerang memiliki nilai keandalan dengan kategori baik, tetapi masih ada kekurangan pada komponen sistem proteksi aktif yang dalam komponen tersebut terdapat 2 sub komponen masuk dalam kategori kurang yaitu APAR dan sistem pemadam luapan.

7.2.Saran

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut.

7.2.1.Saran Untuk RSUD Kota Tangerang

1. Sebaiknya pihak RSUD Kota Tangerang melakukan simulasi evakuasi keadaan darurat sebagai tolok ukur kecukupan waktu dalam melakukan evakuasi.

2. RSUD Kota Tangerang hendaknya memberikan petunjuk peletakkan siamese connection untuk memudahkan pengenalan terhadap alat dan letak alat tersebut.

3. Untuk alat deteksi asap yang terletak di bagian dapur kantin RSUD Kota Tangerang sebaiknya diganti menggunakan detektor panas untuk menghindari terjadinya alarm palsu.

4. Dokumen mengenai spesifikasi alat-alat proteksi kebakaran sebaiknya menjelaskan spesifikasi alat secara lebih rinci untuk memudahkan proses inspeksi dan pengecekan alat.

5. Lift kebakaran yang sudah tersedia akan menjadi lebih baik lagi bila diberikan petunjuk mengenai penggunaan dan peletakkannya.

6. RSUD Kota Tangerang sebaiknya menambahkan peralatan yang tersedia di ruang pengendali operasi dan memberikan ventilasi udara yang cukup pada ruangan tersebut untuk membuat petugas jaga lebih nyaman sehingga pemantauan dapat dilakukan terus menerus.

7. Sebaiknya RSUD Kota Tangerang melakukan pengecekan dan pemeliharaan tabung APAR secara berkala untuk menghindari ketidaksiapan APAR bila terjadi keadaan darurat.

8. Sebaiknya RSUD Kota Tangerang segera memperbaiki APAR yang tidak siap dan memberikan pelatihan penggunaan APAR. 9. Manajemen RSUD Kota Tangerang sebaiknya segera

membentuk tim ataupun bagian keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit (K3RS) untuk memperjelas tugas dan tanggung jawab untuk pemeliharaan sistem keselamatan kebakaran bangunan gedung RSUD Kota Tangerang.

10.Untuk keselamatan kebakaran bangunan gedung secara keseluruhan, perlu dilakukan pemeriksaan, pemeliharaan, perawatan dan perbaikan yang dilaksanakan secara berkala dengan tujuan meningkatkan sistem keselamatan kebakaran bangunan RSUD Kota Tangerang.

7.2.2.Saran Untuk Penelitian Selanjutnya

1. Untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya menggunakan tools

yang lebih spesifik terhadap keselamatan kebakaran bangunan di rumah sakit untuk analisis dan pembahasan yang lebih rinci terhadap keselamatan kebakaran bangunan rumah sakit

2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan observasi disertai dengan pengecekan seluruh alat untuk memastikan seluruh alat proteksi kebakaran berfungsi dengan baik.

akibat-korsleting-listrik pada tanggal 28 Desember 2013

Ahlbrandt Jr. 1973. Efficiency in the provision of fire services. Kluwer Academic Publishers

Ahmadi. 2009. Akibat Las, RSUD Tangerang Dilalap Api. Diakses dari

http://news.detik.com/read/2009/12/16/164912/1261369/10/akibat-las-rsud-tangerang-dilalap-api?nd771108bcj pada tanggal 24 Maret 2014

Al Banna, M. H. (2010). Gambaran Penerapan Sistem Kesiagaan dan Tanggap Darurat di Gardu-Gardu Induk PT PLN (Persero) Penyalur dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali Region Jakarta dan Banten, Unit Pelayanan Transmisi Jakarta Selatan (P3B-JB RJKB UPT Jakarta Selatan). Jakarta: Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta

Alfian, Qorik; Budisantoso W. 2012. Upaya Percepatan Waktu Tanggap Darurat Terhadap Penanggulangan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Anonim. 2010. Install fire extinguishers soon. The Financial Express, 2010 Jun 10

Anonim. 2010. Rumah Sakit Sari Asih Serang. Diakses dari http://sariasih.com/lvl2/index.php?option=com_content&view=article&id=40&Ite mid=118&lang=en pada tanggal 20 Mei 2014

Anonim. 2013. Pedoman Sanitasi Rumah Sakit di Indonesia. Diakses dari

http://ocw.ui.ac.id/pluginfile.php/396/mod_resource/content/0/bahan%201-Pedoman%20Sanitasi%20Rumah%20Sakit%20di%20Indonesia.pdf pada tanggal 3 Mei 2014

Anonim. 2013. Study: Good Safety Boosts The Bottom Line. Diakses dari http://www.safetynewsalert.com/study-good-safety-boosts-the-bottom-line/ pada tanggal 24 Mei 2014

Anonim. 2014. DAMKAR Tangsel Sosialisasi Antisipasi Kebakaran Untuk Warga. Diakses dari http://tangseloke.com/news/2013/05/14/damkar-tangsel-sosialisasi-antisipasi-kebakaran-untuk-warga/ Pada tanggal 15 Mei 2014

di Rumah Sakit Dr. Sobirin Kabupaten Musi Rawas Tahun 2013. Palembang: Universitas Sriwijaya

Bennet NB.Silalahi dan Rumondang Silalahi. 1995. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo.

Bierster, Gregory. 2010. Improving Fire and Life Safety in Hospitals. New York: Fire Department, City of New York

Bukowski, Richard W. 2003. Protected Elevators For Egress and Access During Fires in Tall Buildings. Gaithersburg: NIST Building and Fire Research Laboratory

Colt.2014. Smoke Control Systems: Creating a safe environment. Diakses dari http://www.coltinfo.co.uk/smoke-control.html pada tanggal 26 Mei 2014.

Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. 2012. Pedoman Teknis Prasarana Rumah Sakit Sarana Penyelamatan Jiwa. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI

Fauza, Iqbal. (2011). Pra Rancangan Pabrik Glukosa Monohidrat dari Pati