Suatu sistem adalah bagian-bagian yang saling tergantung, yang merupakan suatu kesatuan dengan lingkungannya. (Sukarna, 1990: 1). Sedangkan menurut Abu Daud Busroh (1989: 7), sistem adalah suatu susunan atau tatanan berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan atau dengan yang lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai tujuan.
Menurut Afan Gaffar (1989: 3), suatu sistem selalu terkait dengan suatu keadaan dimana bagian-bagiannya satu sama lain bergantung secara fungsional, yang mempunyai batas-batas tertentu tetapi merupakan komponen daripada suatu keutuhan yang bulat. Jika salah satu bagian dari sistem itu berubah, maka bagian-bagian yang lainnya juga pasti berubah.
Sedangkan kata pemerintahan menurut SE. Finer yang dikutip S. Pamudji (1994: 5), pemerintahan mempunyai 4 arti:
1) Menunjukkan kegiatan atau proses memerintah, yaitu melaksanakan kontrol atas pihak lain.
2) Menunjukkan masalah-masalah (hal ikhwal) negara dalam mana kegiatan/proses diatas dijumpai.
commit to user
3) Menunjukkan orang-orang (maksudnya pejabat-pejabat) yang dibebani tugas-tugas untuk memerintah.
4) Menunjukkan cara, metode atau sistem dimana suatu masyarakat tertentu diperintah.
Menurut S. Pamudji (1994: 6), arti pemerintahan ada dua, yaitu:
pemerintahan dalam arti luas dan pemerintahan dalam arti sempit. Pemerintahan dalam arti luas adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh organ-organ atau badan-badan legislatif, eksekutif dan yudikatif dalam rangka mencapai tujuan pemerintahan negara (tujuan nasional). Sedangkan pemerintahan dalam arti sempit adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh organ eksekutif dan jajarannya dalam rangka mencapai tujuan pemerintah negara. Sedangkan menurut Hukum Tata Negara RI (UUD 1945), “Pemerintah itu adalah Presiden, Wakil Presiden dengan menteri-menteri negara”.
Dari beberapa definisi di atas, maka sistem pemerintahan dapat diartikan sebagai keseluruhan dari tatanan atau susunan yang teratur dari lembaga-lembaga negara yang berkaitan satu dengan yang lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung menurut suatu rencana atau pola untuk mencapai tujuan dari negara tersebut.
Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, “demos” yang berarti rakyat dan “kratos / kratein”yang berarti kekuasaan / berkuasa. Jadi demokrasi berarti rakyat berkuasa atau government or rule by the people. (Miriam Budiardjo, 2008:
105).
Miriam Budiardjo (2008: 127), menyatakan bahwa demokrasi parlementer merupakan demokrasi yang menonjolkan peranan parlemen serta partai-partai. S. Pamudji (1994: 76), sistem pemerintahan parlementer adalah pemerintahan yang dipilih oleh rakyat dengan kekuasaan untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan ekonomi melalui perdebatan yang bebas dan mengarah kepada pembuatan undang-undang. Sedangkan menurut Abu Daud Busroh, 1989: 46), sistem pemerintahan demokrasi parlementer merupakan sistem pemerintahan perwakilan rakyat yang representatif dengan sistem pemisahan-pemisahan kekuasaan, tetapi di antara badan-badan yang diserahi kekuasaan itu,
commit to user
terutama antara badan legislatif dengan badan eksekutif terdapat hubungan yang bersifat timbal balik yang saling mempengaruhi.
Sukarna (1990: 10-19), menyatakan bahwa sistem pemerintahan demokrasi parlementer mempunyai beberapa ciri, yaitu :
1) Ada pembagian kekuasaan
Kekuasaan legislatif dipegang dan dilaksanakan oleh parlemen (DPR), sedangkan kekuasaan eksekutif oleh perdana menteri beserta anggota kabinetnya, dan kekuasaan yudikatif oleh Mahkamah Agung. Presiden sebagai kepala negara tidak memegang baik kekuasaaan legislatif, eksekutif, maupun yudikatif. Presiden hanya melakukan sebagian kekuasaan yudikatif yaitu memberikan grasi, amnesti dan abolisi berdasarkan pula pertimbangan-pertimbangan dari Mahkamah Agung.
2) Pemerintahan konstitusional
Sistem pemerintahan demokrasi parlementer didasarkan kepada konstitusi yang membatasi kekuasaan pemerintahan. Konstitusi berfungsi untuk menjamin hak-hak politik dan menyelenggarakan pembagian kekuasaan sedemikian rupa sehingga kekuasaan eksekutif diimbangi oleh kekuasaan parlemen dan lembaga-lembaga hukum.
3) Pemerintahan berdasarkan hukum
Sistem pemerintahan demokrasi parlementer mempunyai ciri adanya rule of law yang mempunyai tiga asas, yaitu :
Supremacy of law (hukum yang tertinggi).
Equality before law (persamaan di depan hukum).
Protection of human rights (perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia).
4) Manajemen terbuka
Dalam sistem pemerintahan demokrasi parlementer terdapat manajemen terbuka yang terdiri dari :
Social participation (ikut serta dalam pemerintahan).
Social responsibility (pertanggungjawaban pemerintah terhadap rakyat).
Social support (dukungan dari masyarakat terhadap pemerintah).
commit to user
Social control (pengawasan oleh masyarakat terhadap jalannya pemerintahan).
5) Partai-partai politik
Sistem pemerintahan demokrasi parlementer memberikan kebebasan terhadap tumbuhnya partai-partai politik dengan berbagai macam ideologi sesuai konstitusi yang berlaku. Partai-partai yang memenuhi syarat berhak ikut dalam pemilihan umum untuk kemudian duduk dalam parlemen.
Dalam sistem parlementer ini badan eksekutif dan badan legislatif bergantung satu sama lain. Kabinet sebagai bagian dari badan eksekutif yang bertanggung jawab diharapkan mencerminkan kekuatan-kekuatan politik dalam badan legislatif yang mendukungnya. Hidup matinya kabinet bergantung pada dukungan dalam badan legislatif (atas tanggung jawab menteri). Sifat ketergantungan ini berbeda dari satu negara dengan negara lain, akan tetapi umumnya dicoba untuk mencapai semacam keseimbangan antara badan eksekutif dan badan legislatif.
Secara konstitusional, pelaksanaan sistem demokrasi parlementer adalah sejak diberlakukannya UUDS 1950. Dalam sistem ini dukungan partai-partai dalam parlemen sangat mempengaruhi kestabilan kabinet, karena apabila dukungan partai-partai lenyap maka kabinet akan jatuh. Hal ini mengakibatkan terjadinya pergantian kabinet yang sering mengganggu jalannya pemerintahan.
Adanya dominasi partai dalam pemerintahan, membuat pihak sipil tidak mampu mengendalikan semua unsur kehidupan masyarakat, hal ini menyebabkan militer mempunyai keinginan untuk ikut terjun dalam pemerintahan.
Dalam hal terjadinya krisis kabinet diakibatkan tidak adanya dukungan dari mayoritas badan legislatif. Hal ini mangakibatkan kesukaran untuk membentuk suatu kabinet yang baru, oleh karena pandangan masing-masing partai tidak dapat dipertemukan. Dalam keadaan semacam ini terpaksa dibentuk suatu kabinet ekstra-parlementer, yaitu suatu kabinet yang dibentuk formatur kabinet tanpa terikat pada konstelasi kekuatan politik dalam badan legislatif.
Dengan demikian formatur kabinet mempunyai peluang untuk menunjuk menteri berdasarkan keahlian yang diperlukan tanpa mempertimbangkan apakah ia
commit to user
mempunyai dukungan partai. Biasanya suatu kabinet ekstra-parlementer mempunyai program kerja yang terbatas dan mengikat diri untuk menangguhkan pemecahan masalah-masalah yang bersifat fundamental.
Presiden dan militer merupakan kekuatan politik yang sifatnya ekstra parlementer dengan kekuasaan yang sangat terbatas. (Yahya Muhaimin, 1982:
68). Pihak militer tidak puas karena kedudukan militer disisihkan dalam pemerintahan. Sistem pemerintahan parlementer diwarnai dengan campur tangan politisi sipil. Campur tangan golongan politisi sipil dalam urusan intern militer tidak hanya merusak hubungan harmonis antara sipil dengan militer, tetapi juga menyebabkan konflik intern dalam tubuh militer itu sendiri.