• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pencairan Anggaran & SOP Keuangan

A. Memahami Konsep Akuntabilitas dan Tata Kelola yang Baik

Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban pertanggungjawaban seseorang (pimpinan, pejabat atau pelaksana) atau suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan terkait kinerja atau tindakan dalam menjalankan misi dan tujuan organisasi dalam bentuk pelaporan yang telah ditetapkan secara periodik. Sehingga akuntabilitas adalah evaluasi terhadap proses pelaksanaan kegiatan/kinerja organisasi untuk dapat dipertanggungjawabkan serta sebagai umpan balik bagi pimpinan organisasi untuk dapat lebih meningkatkan kinerja organisasi pada masa yang akan datang.

Gambar 23. 5 H Prinsip Akuntabilitas

Akuntabilitas merupakan perwujudan kewajiban untuk mempertanggung-jawabkan keberhasilan atau kegagalan atas pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, melalui suatu media pertanggungjawaban secara periodik. Prinsip-prinsip akuntabilitas adalah sebagai berikut (BPKP, 2000):

PROOFING

1. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel.

2. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang

telah ditetapkan.

4. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh.

5. Harus jujur, objektif, transparan dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas.

Akuntabilitas menjadi kunci utama tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Untuk mendukung akuntabilitas, sangat penting adanya keterbukaan terkait latar belakang diambilnya suatu keputusan (arahnya apa, untuk siapa, dan gunanya apa), sehingga memudahkan untuk penjelasan. Itulah sebabnya keberhasilan tata kelola BUM Desa sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas pelibatan pihak berkepentingan di musyawarah desa. Ada lima unsur penting dalam good governance, yaitu voice of accountability (menangkap partisipasi orang lain), tidak boleh ada violence atau orang yang menderita karena keputusan yang dibuat, adanya unsur kualitas regulasi, adanya rule of

law, dan yang paling penting tidak boleh ada unsur korupsi.

Bagian terpenting dari akuntabilitas yaitu menyangkut legalitas, dimana hal-hal yang dilakukan harus memiliki integrasi dengan konstitusional atau hak-hak konstitusional, bagaimana perlindungan kepada publik dapat diberikan secara setara, tidak boleh ada keberpihakan, bagaimana perlindungan hak-hak masyarakat dilakukan, dan yang paling penting adalah bagaimana informasi publik dapat diberikan.

B. Klasifikasi Rekening

Proses dan instrumen akuntansi BUM Desa didesain secara sangat ringkas, mudah dan bertolak dari formulir yang telah dikenal oleh para petugas BUM Desa di lapangan seperti Buku Daftar Uang Masuk, Buku Daftar Uang Keluar, Kas Harian dan lain-lain. Sistem akuntansi BUM Desa dirancang dengan:

1. Membakukan jenis, nama, nomor dan klasifikasi rekening yang diperlukan oleh BUM Desa sesuai kaidah yang berlaku umum dalam sistem akuntansi. 2. Mengenalkan metode pencatatan transaksi secara imbang-berpasangan

(balance entry recording) ke dalam sistem rekening yang bertolak dari logika dasar persamaan akuntansi.

PROOFING

3. Menetapkan alur proses yang ringkas dari sejak pencatatan transaksi sampai pembuatan Laporan Keuangan berupa Neraca, Perhitungan laba-rugi, data statistik dan Indikator kunci kinerja, secara bulanan sesuai kebutuhan menejemen BUM Desa dan Monitoring pembinaan.

4. Menetapkan jenis instrumen sesedikit mungkin, menggunakan bahasa sederhana dan istilah-istilah yang lazim dalam kehidupan sehari-hari dengan pendekatan “mengalir sendiri”. Dengan demikian, orang tanpa latar belakang pendidikan dan pengalaman akuntansipun dapat mengerti dan mengerjakan dengan mudah.

5. Menetapkan prinsip kerja dalam proses akuntansi yaitu mencatat transaksi secara benar dalam masing-masing nama dan golongan rekening serta kolomnya, menjumlah, memindahkan dan kemudian mengiktisarkan, menggunakan instrumen prosesing yang ringkas sampai diperoleh angka-angka neraca, rugi-laba dan data statistik.

6. Untuk keperluan monitoring kualitas kinerja dan perkembangan BUM Desa serta menetapkan jenis kebutuhan bantuan teknis yang diperlukan, dimasukkan ukuran kesehatan dalam data monitoring. Laporan monitoring perkembangan BUM Desa secara bulanan dipergunakan oleh BUM Desa sendiri dan secara agregatif oleh Manejemen pelayanan pembinaan di semua tingkatan. Dengan demikian tingkat kesehatan seluruh BUM Desa dapat diklasifikasikan dan bantuan teknis yang sesuai dapat diberikan. 7. Data monitoring kinerja dan perkembangan serta klasifikasi tingkat

kesehatan BUM Desa yang lengkap, benar dan tepat waktu dapat menjadi dasar penilaian hasil kerja pengembangan lembaga keuangan pedesaan dan kegiatan bantuan teknik yang diperlukan. Keadaan ini hanya dapat dicapai kalau BUM Desa memiliki sistim akuntansi yang standar.

Klasifikasi rekening disusun sebagai berikut: 1. Kekayaan

1.1 Kas Rp.

1.2 Tabungan di Bank Rp.

1.3 Pinjaman : Kelompok : Agt/Nsb. ( P : W : ) Rp. 1. Lancar (angsuran dibayar sesuai jadwal, DCW 1%) Rp. 2. Perlu Perhatian (sdh. tak dibayar 1-2 x, DCW 5%) Rp. 3. Kurang lancar (sdh. tak dibayar 3-4 x, DCW 10%) Rp. 4. Diragukan (sdh. tak dibayar 4 - 5 x, DCW 25%) Rp. 5. Macet (sdh. tak dibayar 6 x – lebih, DCW 50%) Rp.

PROOFING

1.4 Investasi BUM Desa Rp.

1.5 Inventaris dan harta tetap Rp.

Akumulasi penyusutan Rp.

1.6 Harta Tidak berwujud Rp.

Akumulasi penghapusan Rp.

Jumlah kekayaan Rp.

2. Utang

2.1 Dana-dana Titipan Rp.

2.2 Utang Bank dan Pihak Ketiga Rp.

2.3 Tabungan Harian Rp.

2.4 Tabungan Khusus Rp.

2.5 Dana Bantuan Sosial Rp.

Jumlah Utang Rp.

3. Modal

3.1 Modal Pemerintah Desa Rp.

3.2 Penyertaan modal Masyarakat Rp.

3.3 Penyertaan modal Pihak Ketiga Rp.

3.4 Cadangan Risiko Pinjaman Rp.

3.5 Penyisihan hasil bersih usaha Rp.

3.6 Penerimaan hibah Rp.

Laba-rugi berjalan Rp.

Jumlah Modal Rp.

Jumlah Utang dan Modal Rp.

4. Pendapatan

4.1 Bunga Pinjaman Rp.

4.2 Bunga Tabungan di Bank Rp.

4.3 Pendapatan lain-2 (Uang pangkal, provisi, denda dll) Rp.

4.4 Pendapatan laba investasi Rp.

4.5 Pendapatan Non-operasional Rp.

PROOFING