BAB III METODOLOGI PENELITIAN
7. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren Al- Kholidin
Pondok Pesantren Al-Kholidin memliki kurikulum yang sesuai dengan DEPDIKNAS karena untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA berada di bawah naungan DEPDIKNAS.
Seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah, kurikulum yang harus digunakan sekarang ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
Para santri belajar disekolah dari pukul 07.00 –12.00 WIB. Setelah kegiatan KBM SMP dan SMA selesai para santri melanjutkan kegiatannya dengan belajar di madrasah diniyah dari pukul 13.30-16.10 WIB. Pada madrasah diniyah para santri belajar mendalami ilmu-ilmu agama melalui kitab kuning dengan guru-guru yang kebanyakan merupakan lulusan timur tengah, mesir, dan yaman. Untuk pengajian-pengajian kitab kuning selain dari
sekolah para santri juga mempelajarinya setelah sholat subuh dan setelah sholat maghrib.
Selain sekolah formal, para santri juga mendapatkan pendidikan non formal, penghafalan kitab suci Al-Qur‟an, muhadoroh (pelatihan pidato).
B. Pembahasan Hasil Temuan
Pelaksanaan manajemen keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan manaejemen keuangan pada lembaga keuangan lain sebagaimana yang sesuai dengan teori-teori yang ada yang telah dirumuskan, yaitu mulai dari perencanaan keuangan, pelaksanaan keuangan, evaluasi dan pertanggungjawban keuangan.
Melalui kegiatan manajemen keuangan maka kebutuhan pendanaan kegiatan Pondok Pesantren Al-Kholidin dapat direncanakan, diupayakan pengadaannya, dibukukan secara transparan, dan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program Pondok Pesantren Al-Kholidin secara efektif dan efisien. Untuk itu tujuan manajemen keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin adalah:
Meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan pondok pesantren
Meningkatkan akuntabilitas dan transparansi keuangan pondok pesantren Meminimalkan penyalahgunaan anggaran pondok pesantren
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibutuhkan kreativitas pimpinan pondok pesantren dan kepala sekolah dalam menggali sumber-sumber dana, menempatkan bendaharawan yang menguasai dalam pembukuan dan pertanggung-jawaban keuangan serta memanfaatkannya secara benar sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
1. Perencanaan Keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin
Perencanaan sebagai kegiatan yang sistematis, berarti perencanaan meliputi beberapa tahapan kegiatan. Kegiatan yang satu menjadi landasan tahapan berikutnya. Tahapan kegiatan tersebut dapat dijadikan panduansehingga penyimpangan dapat segera diketahui dan diatasi. Sedangkan tujuan perencanaan itu sendiri arahnya agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menyimpang dari arah yang ditentukan.
Pengelolaan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin bersifat centralistik yaitu pengelolaan keuangan Pesantren dikelola secara menyeluruh oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin dan bidang keuangan, sehingga dalam pengelolaannya Pondok Pesantren Al-Kholidin bersifat terpusat (centralistik). Dalam perencanaan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin perlu memperhatikan berbagai hal melalui data dan informasi yang dikumpulkan kemudian data dan informasi tersebut dikaji yang pada akhirnya nanti disusun sebagai bahan masukan dalam penyusunan RAPBS.
Proses perencanaan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin dilakukan oleh kepala sekolah masing-masing berikut jajarannya, walaupun pada prosesnya diikuti, diawasi dan disahkan oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin. Segala kegiatan di Pondok Pesantren Al-Kholidin tidak terlepas satu sama lainnya, misalnya seperti kegiatan belajar mengajar disekolah, itu juga tidak terlepas dari rangkaian kegiatan pondok yang lainnya, seperti kegiatan di asrama, di masjid, di lapangan, dan kebutuhan di dapur umum dan lain-lainnya, sehingga keadaan ini jadi sangat mempengaruhi proses perencanaan keuangan yang mana pada pelaksanaan perencanaan keuangan untuk Pondok Pesantren dilakukan bersama dengan perencanaan keuangan di sekolah/madrasah.
Dalam kegiatan perencanaan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin melakukan tiga kegiatan yaitu:
a. Perumusan tujuan. Perumusan tujuan yang ingin dicapai dibuat berdasarkan visi dan misi pendidikan di Pondok Pesantren Al-Kholidin. Adapun visi Pondok Pesantren Al-Kholidin Mempersiapkan santri yang berakhlakul karima, bertauhid, dan hidup dengan Qur‟ani”. Misi Pondok Pesantren Al-Kholidin Menanamkan dan meningkatkan disiplin santri untuk melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehar-hari, Menanamkan jiwa keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwah diniyah,
kemandirian dan kebebasan dalam kehidupan sehari – hari, Menyelenggarakan pendidikan formal dengan Kurikulum Pesantren yang disesuaikan dengan Pendidikan Nasional.
b. Memilih program. Dalam memilih program yang akan dilakukan dalam setahun kedepan berpedoman pada tujuan yang ingin dicapai dengan memperhatikan perkiraan besarnya sumber dana yang dapat diperoleh dan sumber daya lainnya, serta sumber daya manusia yang ada.
c. Identifikasi dan pengerahan sumber daya yang ada. Identifikasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan informasi dari berbagai pihak, yang kemudian diidentifikasi oleh Kiayi dan Kepala Sekolah. Data dan informasi ini berupa sumber daya manusia, sarana maupun dana atau biaya.
Perencanaan keuangan pada dasarnya dilakukan setahun sekali, yaitu setiap akhir tahun ajaran setelah semua laporan diterima dan dibahas dalam rapat akhir tahun, akan tetapi dalam prosesnya ada perencanaan setiap bulan dan setiap akhir semester, hal ini karena keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin tidak stabil dan berjalan lancar pada kenyataannya, hal ini dikarenakan Pondok Pesantren Al-kholidin tidak memiliki donator tetap.
Dalam proses perencanaan keuangan yang utama dilakukan adalah mengidentifikasi sumber pemasukan keuangan bagi Pondok Pesantren Al-Kholidin, diantaranya :
1. Sumbangan Pendidikan dari Masyarakat a. SPP
b. Uang Bangunan c. Uang Akhir Tahun 2. Bantuan Dari Pemerintah
a. BOS
b. Uang Penyelenggaraan US/UN 3. Donatur
Pelaksanaan manajemen pembiayaan mempunyai dua jenis kegiatan penerimaan dan pengeluaran.
a. Penerimaan
Penerimaan yang diterima oleh Pondok Pesantren Al-Kholidin berasal dari pendapatan rutin dan non rutin. Pendapatan rutin berasal dari pembayaran siswa (SPP), uang kegiatan selama 1 tahun dan lain-lain yang digunakan untuk membiayai semua kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan pendapatan non rutin berasal dari bantuan pemerintah. Pendapatan non rutin ini bersifat incidental yakni dana yang sewaktu-waktu dikeluarkan apabila diterima.
b. Pengeluaran
Pelaksanaan pengeluaran di Pondok Pesantren Al-Kholidin meliputi pengeluaran rutin dan pengeluaran non rutin. Pengeluaran rutin meliputi biaya pengeluaran rutin yang setiap bulan dikeluarkan. Pengeluaran non rutin meliputi biaya pengeluaran yang tidak dikeluarkan setiap bulan. Pengeluaran non rutin ini dilaksanakan jika ada kebutuhan mendadak atau kebutuhan yang dilaksanakan setiap tahun sekali dan juga kebutuhan yang sebelumnya direncanakan pada RAPBS. Dalam sistem pengeluaran dana di Pondok Pesantren Al-Kholidin proses pengajuan dana sampai pada pencairan dana harus melalui proses yang cukup panjang dikarenakan harus mendapatkan persetujuan dari berbagai pihak yang bersangkutan sehingga dalam proses pendanaan pada program kegiatan yang memerlukan bantuan dana menjadi tertunda. Penunjang keberhasilan dalam pelaksanaan program kegiatan salah satunya adanya pendanaan guna membiayai pelaksanaan program kegiatan.
Berikut pendapatan Pondok Pesantren Al-Kholidin lima tahun terakhir.
Tabel 4.6
Rekapitulasi Pendapatan Pondok Pesantren Al-Kholidin
Tahun Masyarakat Pemerintah Donatur
2007/2008 SMP Rp. 98.000.000 Rp. 62.983.000 - SMA Rp. 133.400.000 Rp. 7.800.000 - Diniyah Rp. 51.650.000 - - Jumlah Rp. 283.050.000 Rp. 70.783.000 - 2008/2009 SMP Rp. 123.600.000 Rp. 41.772.000 - SMA Rp. 120.500.000 Rp. 23.304.000 - Diniyah Rp. 51.650.000 - - Jumlah Rp. 295.750.000 Rp. 65.076.000 - 2009/2010 SMP Rp. 130.000.000 Rp. 55.000.000 - SMA Rp. 154.100.000 Rp. 21.380.000 - Diniyah Rp. 53.750.000 - - Jumlah Rp. 337.850.000 Rp. 76.380.000 2010/2011 SMP Rp. 170.700.000 Rp. 66.035.000 - SMA Rp. 174.810.000 Rp. 23.252.000 - Diniyah Rp. 58.500.000 - - Jumlah Rp. 404.010.000 Rp. 89.855.500 - 2011/2012 SMP Rp. 161.000.000 Rp. 53.300.000 - SMA Rp. 175.850.000 Rp. 18.720.000 - Diniyah Rp. 60.000.000 - - Jumlah Rp. 396.850.000 Rp. 72.020.000 -
Tabel diatas menunjukan turun naiknya pendapatan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin. Turunnya pendapatan dikarenakan berkurangnya santri yang ada di Pondok Pesantren Al-Kholidin (lihat tabel 4.5). kenaikan pendapatan Pondok Pesantren Al-Kholidin dikarenakan beberapa tahun terakhir terjadi kenaikan uang SPP.
2. Pelaksanaan Keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin
Dalam pelaksanaan manajemen keuangan Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin merupakan otorisator penuh terhadap pengeluaran keuangan. Setiap dana yang keluar harus disetujui oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin, proses pelaksanaan keuangan untuk melakukan setiap kegiatan yang telah tercantum dalam anggaran harus membuat proposal kegiatan beserta rincian dana yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut, setelah disetujui oleh internal Audit (Kepala Sekolah) baru kemudian Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin mengeluarkan uang sesuai dengan yang ada di proposal. Setiap kegiatan yang telah dilakukan langkah selanjutnya adalah membuat Laporan Pertanggungjawaban (LPJ). Membuat LPJ merupakan suatu keharusan bagi setiap bagian yang ada di lingkungan Pondok Pesantren Al-Kholidin, setiap LPJ masing-masing bagian tersebut akan diaudit oleh internal audit, dan hasilnya kemudian diserahkan kepada Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin. Laporan hasil internal audit ttersebut jadi bahan evaluasi bagi Kiayi Pondok Pesantren Al-;Kholidin terhadap kegiatan yang telah dilakukan, apakah telah dilaksanakan sesuai dengan program perencanaan dan proposal atau sebaliknya. Adapun pengeluaran seperti gaji guru langsung diberikan kepada yang bersangkutan oleh bendahara dengan disahkan oleh Kepala Sekolah dan Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin.Dalam membuat pembukuan keuangan, Pondok Pesantren Al-Kholidin dapat dikatakan modern. Karena, sudah membuat pembukuannya dengan tidak tulis tangan. Bagian keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin memanfaatkan teknologi yang ada pada saat ini. Berikut penulis lampirkan salah satu contoh pembukuan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin.
Tabel 4.7
Salah Satu Pelaporan Keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin KEUANGAN SEKOLAH
PENERIMAAN DAN PENGELUARAN BIAYA SELAMA TAHUN PELAJARAN YANG LALU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SMA ISLAM AL-KHOLIDIN
No Penerimaan Jumlah No Pengeluaran Jumlah Saldo
1 Dari Orang Tua Santri 1 Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
a. Uang Bangunan
9.000.000 a. Pelaksanaan
KBM-Kelulusan 25.000.000 b. Uang Komite/Iuaran rutin
bulanan 65.000.000
b. Sarana KBM-buku
dan LKS 1.000.000 c. Uang kegiatan akhir
tahun 43.000.000
c. Penyelenggaraan
US/UN 20.000.000
2 Dari Pemerintah d. Biaya Rapat 1.000.000
a. BOS e. Ekstrakurikuler 1.000.000
b. Penyelenggaraan US/UN 3.752.000 f. Biaya PPDB 1.000.000 3 Swasta/Yayasan/Perorangan h. Pengayaan 14.000.000
a. Yayasan - 2 Gaji dan Tunjangan
b. Perseorangan - a. Gaji guru + Peg.
Administrasi 48.000.000 b. Tunjangan Kinerja Daerah - 3 Pemeliharaan Sarana/Prasarana a. Gedung b. Alat pendidikan 1.500.000 c. Perabot 4 Sarana Lainnya a. Telepon 1.700.000 b. Listrik 1.800.000 c. Internet 1.000.000 d. Koran 700.000 5 Pembiayaan lainnya a. Pengelolaan/pelaporan BOS b. Konsumsi Harian 3.000.0000 120.752.000 120.700.000 52.000
3. Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pondok
Pesantren Al-Kholidin
Pertanggungjawaban keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin dalam bentuk laporan bulanan dan tahunan yang dilaporkan kepada pimpinan, pengawasan bulanan khususnya dilakukan bendahara kepada Kiayi. Bendahara melaporkan setiap laporan kegiatan yang menyangkut keuangan dari setiap kegiatan dan bagian, yang dilaporkan tersebut berupa pembuktian penerimaan, penyimpanan dan pembayaran kepada pihak-pihak yang bersangkutan yang kemudian dilaporkan bendahara kepada Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin. Sedangkan untuk operasional yang berasal dari pemerintah seperti dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dikoreksi oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin dan kemudian langsung dilaporkan kepada pemerintah.
Setiap laporan tersebut merupakan salah satu alat ukur apakah tujuan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Kholidin telah dicapai dengan efektif dan efisien sesuai dengan acuan yang telah ditetapkan sebelumnya dalam APBS, dan juga berguna untuk mencegah dan meminimalisir terjadinya penyimpangan terhadap kegiatan dan penggunaan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin, hasil tersebut menjadi bahan evaluasi dan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi untuk perencanaan di tahun selanjutnya yang kemudian dimasukan dalam RAPBS sebelum disahkan jadi APBS.
Penerimaan dan pengeluaran keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan secara rutin sesuai peraturan yang berlaku. Pelaporan dan pertanggungjawaban anggaran yang berasal dari orang tua santri dan masyarakat dilakukan secara rinci dan transparan sesuai dengan sumber dananya.
Gambar 4.2
Sistem Pelaporan Keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin
Gambar diatas merupakan siklus pengawasan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin. Koordinator-koordinator keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin membuat laporan pertanggungjawaban yang sudah disetujui oleh bendahara. Bendahara membuat laporan pertanggungjawaban keuangan yang disetujui oleh kepala sekolah yang kemudian akan diberikan kepada Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin dan pemerintah.
4. Sistem dan Prosedur Pengawasan Keuangan Pondok
Pesantren Al-Kholidin
Dalam evaluasi Manajemen Keuangan Pesantren, pengawasan merupakan salah satu proses yang harus dilakukan dalam manajemen keuangan Pesantren. Pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kewenangan. Kiayi Pondok Pesantren perlu melakukan
Pemerintah
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Kholidin
Kepala Sekolah SMP, SMA, dan Diniyah
Bendahara Koordinator Keuangan SMP Koordinator Keuangan SMA Koordinator Keuangan Diniyah Ar u s Peng a w a sa n K eu a n g a n P o n d o k Pes a n tr en Al -K h o li d in
pengendalian pengeluaran yang selaras dengan anggaran belanja yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaan evaluasi keuangan Pondok Pesantren tidak melalui kepala sekolah SMP/SMA/Diniyah Al-Kholidin karena proses keuangan langsung terpusat pada kiayi. Kepala sekolah hanya bertugas mengkoordinir kegiatan di Pondok Pesantren Al-Kholidin, sedangkan keuangan dikelola langsung oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin serta pihak-pihak yang terlibat.
Evaluasi ini diketahui ketika terjadi transaksi pengeluaran dan penerimaan Pondok Pesantren Al-Kholidin melalui kwitansi berita acara berdasarkan pengawasan dari beberapa pihak Pondok Pesantren. Dalam pelaksanaan pengawasan keuangan dapat melakukan pengawasan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin pada setiap uang penerimaan dan pengeluaran madrasah. Dimasukkan kedalam berita acara yang ditandatangani oleh pengawas keuangan, bendahara, dan pihak penerima keuangan. Fungsi dari kwitansi berita acara dimaksudkan untuk mengetahui berapa pengeluaran dan penerimaan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin. Dengan begitu pertanggungjawaban akan mendapat persetujuan dan diawasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Pengawasan di Pondok Pesantren Al-Kholidin dilakukan dalam beberapa jenis, yaitu:
a. Berdasarkan subyeknya, meliputi:
1) Pengawasan intern, yaitu pengawasan terhadap semua unit dan bidang kegiatan yang ada di dalam organisasi. Pengawasan ini dilakukan oleh Kiyai Pondok Pesantren Al-Kholidin.
2) Pengawasan ekstern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar organisasi yang mempunyai wewenang mengawasi. Untuk pengawasan ekstern dilakukan oleh pemerintah b. Berdasarkan waktunya, meliputi:
1) Pengawasan terus menerus, yaitu pengawasan yang tidak tergantung pada waktu tertentu, lebih merupakan kegiatan pengawasan rutin.
Pengawasan rutin dilakukan oleh bendahara terhadap koordinator masing-masing setiap unitnya.
2) Pengawasan berkala, yaitu pengawasan yang dilakukan setiap jangka waktu tertentu, berdasarkan rencana yang ditujukan terhadap masalah umum. Dalam Pondok Pesantren Al-Kholidin dilakukan pengawasan berkala mingguan, bulanan, dan tahunan oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin.
3) Pengawasan insidental, yaitu pengawasan yang dilaksanakan secara mendadak di luar rencana kerja rutin atau berdasarkan keperluan. Pengawasan ini dilakukan sewaktu-waktu oleh Yayasan Pondok Pesantren Al-Kholidin.
57
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
B. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian terhadap Manajemen Keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin yang telah penulis lakukan maka didapat hasil sebagaimana yang akan dijelaskan berikut :
1. Perencanaan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin sama seperti perencanaan keuangan sekolah pada umumnya. Proses perencanaan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin dilakukan oleh kepala sekolah masing-masing berikut jajarannya, walaupun pada prosesnya diikuti, diawasi dan disahkan oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin. Segala kegiatan di Pondok Pesantren Al-Kholidin tidak terlepas satu sama lainnya, misalnya seperti kegiatan belajar mengajar disekolah, itu juga tidak terlepas dari rangkaian kegiatan pondok yang lainnya, seperti kegiatan di asrama, di masjid, di lapangan, dan kebutuhan di dapur umum dan lain-lainnya, sehingga keadaan ini jadi sangat mempengaruhi proses perencanaan keuangan yang mana pada pelaksanaan perencanaan keuangan untuk Pondok Pesantren dilakukan bersama dengan perencanaan keuangan di sekolah/madrasah.
Dalam kegiatan perencanaan keuangan di Pondok Pesantren Al-Kholidin melakukan tiga kegiatan yaitu: Perumusan tujuan, Memilih program, Identifikasi dan pengerahan sumber daya yang ada.
2. Dalam pelaksanaan manajemen keuangan Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin merupakan otorisator penuh terhadap pengeluaran keuangan. Setiap dana yang keluar harus disetujui oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin, proses pelaksanaan keuangan untuk melakukan setiap kegiatan yang telah tercantum dalam anggaran harus membuat proposal kegiatan beserta rincian dana yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut, setelah disetujui oleh internal Audit (Kepala Sekolah) baru kemudian Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin mengeluarkan uang sesuai dengan yang ada di proposal. Setiap selesai melaksanakan kegiatan baik bualanan ataupun tahunan masing-masing unit membuat laporan pertanggungjawaban (LPJ). LPJ tersebut nantinya akan diserahkan kepada pengawas internal (Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin) dan pengawas ekstrenal (Pemerintah).
3. Pelaporan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin dilakukan setiap bulan, semester, dan tahunan. Peloporan keuangan ini dilakukan oelh koordinator keuangan setiap unit (SMP, SMA, Diniyah) kepada bendahara, dari bendahara dilaporkan lagy kepada Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin yang sudah ditanda tangani oleh kepala sekolah masing-masing unit.
4. Dalam pelaksanaan pengawasan keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin tidak melalui kepala sekolah SMP/SMA/Diniyah Al-Kholidin karena proses keuangan langsung terpusat pada kiayi. Kepala sekolah hanya bertugas mengkoordinir kegiatan di Pondok Pesantren Al-Kholidin, sedangkan keuangan dikelola langsung oleh Kiayi Pondok Pesantren Al-Kholidin serta pihak-pihak yang terlibat.
B. Saran
Dari seluruh pembahasan dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang kiranya menjadi penting dikemukakan, diantaranya yaitu :
1. Dalam membuat perencanaan dan penganggaran keuangan Pondok Pesantren Al-Kholidin sebaiknya melibatkan seluruh pihak terkait (Kiayi, Kepala Sekolah, Bendahara, Koordinator keuangan, guru, dan komite sekolah) dalam membuat anggaran RAPBPP agar terjadi transparansi keuangan dalam manajemen keuangan pondok pesantren.
2. Dalam pelaksanaan RAPBS sebaiknya Pondok Pesantren Al-Kholidin melakasanakannya sesuai dengan kegiatan-kegiatan yang sudah ada dalam penganggaran RAPBS.
3. Pondok Pesantren Al-Kholdin sebaiknya membuat laporan keuangan setiap bulannya agar dapat dilaporkan terhadap orang tua santri.
4. Selain kepala sekolah dan Kiyai Pondok Pesantren Al-Kholidin ada baiknya komite Pondok Pesantren Al-Kholidin juga terlibat dalam melakukan pengawasan keuangan di Pondok Pesantren.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Sartono, Manajemen kuangan Teori dan Aplikasi,Yogyakarta : FE UGM, 2001
Anggota IKAPI, Undang-Undang SISDIKNAS . Fokus Media, 2009
Bambang Riyanto. Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan. Jakarta : Bumi
Aksara, 2006
Bastian, Indra. Akuntansi Pendidikan. Jakarta: Erlangga, 2006
C. Van Home dan John M Machowicz, Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan, 1997
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2008
Faisal, MT. M, SIM (Sistem Informasi Manajemen) Jaringan, Malang : UIN-Malang Press, 2008
Imam Syafi‟I, Manajemen Keuangan Pendidikan Pesantren, 2012, (http://tarbiyahku.wordpress.com/manajemen-keuangan-pesantren/) diakses pada selasa, 7 Februari 2012 pada pukul 6.20 AM
Goerge H. Bodnar dan William S. Hopwood : Sistem Informasi akuntansi .Jakarta 2001, bumi aksara.
http://lilissolehat.files.wordpress.com/2011/02/manajemen-keuangan.pdf (online) diakses pada selasa, 7 February 2012 pada pukul 6.20 AM
J. Winardi, Pemikiran Sistemik Dalam Bidang Organisasi dan Manajemen, Jakarta : Rajawali Press.2005
Manfred Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial (Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), 1986; reprint, Frankfurt, Jerman Barat: Disertasi Doktors de Philosophie pada Johan Wolfgang Goethe Universitat, 1983)
Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Professional. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2003
Nanang Fatah, Ekonomi Dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2000
Nanang Fatah, Landasan Manajemen Penddikan. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2000
Prof. Dr. Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Industri. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007
Pius A Partanto & M Dahlan al-Barry. Kamus ilmiyah populer. Surabaya : Arkola Surabaya. 1994
Putra, Syopiansyah Jaya dan Subiyakto, A‟aang. Pengantar Sistem Informasi. (Jakarta: UIN Jakarta Press,2006)
Rahmini Hadi. Parno. Manajemen Keuangan Konsep, Teori, dan Praktiknya di
sekolah dan Pondok Pesantren. Purwokerto: STAIN Press, 2011
Rohiat, Dr. Manajemen Sekolah. Bandung : Refika Aditama, 2008
Ridwansyah, Iwan. Akuntansi Keuangan Sekolah,
http://readwansyah.wordpress.com/keuangan-sekolah/ diakses pada tanggal 26 Januari 2013 pada pukul 20.00 WIB.
Sugiarto Pengantar Akuntansi. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. 2002
Syaefudin Sa‟ud, Udin & Syamsudin Makmun, Abin.Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung : Rosda Karya, 2007
Tolkhah, Imam. Dan Barizi, Ahmad. Membuka Jendela Pendidikan Jakarta: Raja Grafindo, 2004
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Sinar Grafika, 2011.
Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren. Jakarta : Gema Insani Press, 1997
Wirawan, Evaluasi: Teori, Model, Standar, Aplikasi, dan Profesi, Jakarta: Rajawali Press, 2011
1. Profil SMP Islam Al-Kholidin 2. Profil SMA Islam Al-Kholidin 3. Profil Madrasah Diniyah Al-Kholidin
4. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) SMP Tahun 2007-2008 5. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) SMA Tahun 2007-2008 6. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) Madrasah Diniyah Tahun
2007-2008
7. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) SMP Tahun 2008-2009 8. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) SMA Tahun 2008-2009 9. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) Madrasah Diniyah Tahun
2008-2009
10. Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS) SMP Tahun 2009-2010