• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.6 Pengetahuan dalam Pengelolaan Kebun

5.2.1. Sistem Pengelolaan Kebun Agroforestri Tradisional

Hasil wawancara dari 37 orang responden yang terbagi dalam tiga suku menunjukan bahwa responden memiliki kebun yang berasal dari harta warisan, tetapi terdapat satu responden dari suku lainnya yang memiliki kebun berasal dari pemberian. Hal ini karena responden tersebut bukan suku asli setempat. Untuk hak kepemilikan lahan lebih lengkapnya dapat dilihat dalam Tabel 17.

Tabel 17 Distribusi responden berdasarkan status asal lahan

No Suku Asal Status

Warisan Pemberian

1 Baham 20 - Milik Sendiri

2 Mata 14 - Milik Sendiri

3 Lainnya 2 1 Milik Sendiri

Jumlah 36 1

Pada umumnya, lahan yang diusahakan dikelola oleh responden merupakan tanah milik. Tanah milik merupakan tanah yang telah sah menjadi hak milik

seseorang yang bertanggung jawab atas pengelolaan lahan tersebut untuk diperoleh manfaatnya. Ditinjau dari asalnya, tanah milik dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu tanah milik warisan keluarga dan tanah milik pemberian dari pihak lain. Dari hasil wawancara rata-rata responden memiliki tanah milik sendiri dari warisan keluarga yang dikelola. Kebun yang dikelola dari tanah warisan merupakan suatu sistem budi daya yang bersifat jangka panjang sehingga kejelasan jaminan akan hak pengusahaan lahan menjadi sesuatu yang sangat penting dan hanya akan diperoleh dari tanah dengan status tanah milik.

Rata-rata luas lahan yang dimiliki oleh petani bervariasi mulai dari < 1 ha, 1-1,5 ha, dan > 1,5 ha. Petani dapat memiliki lahan yang luas disebabkan karena lahan yang dikelolah berasal dari hutan alam, sehingga dalam pengelolaannya lebih kepada kemampuan petani untuk menggelolah. Walaupun dalam pembagian lahan didasarkan atas marga yang dimiliki.

Sebagian besar responden memiliki luas lahan sebesar < 1 ha dengan persentase sebesar 43,2%. Responden dengan jumlah lahan terluas yaitu > 1,5 ha sebesar 16,2% yang berasal dari Suku Mata sebanyak 42,9%. Luas lahan yang dimiliki dari ketiga suku tersebut dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 18. Tabel 18 Distribusi responden berdasarkan luas kebun

No Luas Suku Baham Suku Mata Suku lainnya Total

N (%) N (%) N (%) N (%)

1 < 1 Ha 9 45 4 28,6 3 100 16 43,2

2 1-1,5 Ha 11 55 4 28,6 - - 15 40,5

3 > 1,5 Ha - - 6 42,9 - - 6 16,2

Jumlah 20 100 14 100,0 3 100 37 100,0

Berdasarkan hasil wawancara pada responden diketahui hampir semua responden dari ketiga suku belum mengetahui apa itu sistem agroforestri. Petani lebih mengenal istilah kebun dari pada istilah agroforestri, kebun yang dikembangkan berasal dari pengetahuan yang diperoleh secara turun-temurun.

Dalam pengelolaan kebun agroforestri tradisional petani lebih banyak menggunakan pengalaman yang diperoleh sendiri maupun hasil pertukaran antar petani. Pengelolaan kebun terbagi atas beberapa kegiatan seperti persiapan lahan, persiapan bibit, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran. Hasil penelitian di lapangan menunjukan bahwa pola tanam kebun agroforestri

tradisional yang paling banyak yaitu kombinasi antara kayu, buah-buahan, dan tanaman pertanian, dengan adanya pola kebun ini mempunyai manfaat bagi petani yaitu dapat menjadi sumber pendapatan dalam keluarga dan menjamin adanya keberlanjutan produksi sepanjang luas lahan. Berikut ini merupakan contoh gambar pola tanam kebun kombinasi antara kayu, buah-buahan, dan tanaman perkebunan seperti pada Gambar 2.

Gambar 2 Pola tanam kebun agroforestri tradisional 5.2.2. Persiapan Lahan

Kegiatan persiapan lahan dalam rangka pembukaan kebun yang dilakukan oleh petani antara lain upacara atau ritual adat pemanggilan roh atau penunggu setempat, pembersihan lahan, membakar, dan penebangan pohon. Persiapan lahan biasanya dilakukan secara gotong royong dan ada pula petani yang melakukan persiapan lahan sendiri.

Secara umum kegiatan pertama yang dilakukan dalam sistem pengelolaan kebun adalah upacara adat pembukaan lahan. Kegiatan upacara adat masih digunakan oleh sebagian petani, tetapi ada juga petani yang dalam sistem pengelolaan kebun tidak menggunakan ritual. Hal ini tergantung dari keyakinan dan pengetahuan serta kebiasaan turun-temurun dari petani.

Tabel 19 Jumlah responden yang melaksanakan kegiatan ritual

No Pelaksanaan Ritual

Jumlah Responden

Total Suku Baham Suku Mata Suku lainnya

N (%) N (%) N (%) N (%) 1 Selalu dilakukan 13 65 9 64,3 1 33,3 23 62,2 2 Tidak melakukan 7 35 5 35,7 2 66,7 14 37,8 Jumlah 20 100 14 100,0 3 100,0 37 100,0

Dari Tabel 19 dapat dilihat sebesar 62,2% responden masih melakukan upacara adat dalam sistem pengelolaan lahan yaitu pada saat awal lahan akan dibuka dan dijadikan kebun. Sedangkan terdapat 37,8% responden sudah tidak melakukan upacara adat dalam sistem pengelolaan lahan.

Upacara adat dilakukan dengan dua cara yaitu pertama upacara adat merupakan permohonan izin kepada Tuhan untuk dilancarkan segala kegiatan atau urusan mereka dan cara yang kedua memberikan sirih, pinang, kopi, tembakau, dan makanan kepada tuan tanah/leluhur yang diyakini menempati tempat tersebut semata-mata agar penghuni daerah tersebut tidak merasa terganggu dengan aktivitas yang dilakukan dalam pengolahan kebun yang akan dibuka. Hal ini dilakukan agar tuan tanah yang diyakini berada pada tempat yang akan dijadikan kebun dapat mendatangkan manfaat dalam pembukaan kebun seperti tidak ada halangan atau rintangan, diberikan keselamatan dan dijauhkan dari malabahaya, pemberitahuan kepada tuan tanah agar menjaga tanaman yang ditanam dan kesuburan tanaman. Sebutan untuk upacara adat dalam Bahasa Mata yaitu nanahara atau memberikan sirih pinang.

Bentuk upacara yang dilakukan yaitu setelah semua dipersiapkan sirih, pinang, kopi, tembakau, dan makanan maka dilakukan pemanggilan tuan tanah dengan bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa mata yaitu nia mi, tada mi, tambone mi, ihi rentik hawoda weh, opiroh, mahi eir, ahom nawo yang artinya bapak, tete, nene, moyang-moyang mari kita sama-sama isap roko, makan pinang, dan lakukan permintaan misalnya dijauhkan dari musibah pada saat pembukaan kebun dan tanaman yang ditanam dijaga agar tumbuh subur dan hasil panen melimpah (Gambar 3).

Salah satu nilai yang berlaku dalam masyarakat ialah nilai saling menghormati dan menghargai antara sesama mahluk hidup. Apabila akan melakukan kegiatan pembukaan lahan petani akan meminta izin terlebih dahulu kepada tuan tanah penghuni tempat tersebut. Dalam persiapan lahan ada petani yang melakukan sendiri dan ada juga yang meminta bantuan petani lain (masyarakat dalam satu desa) untuk bergotong royong bersama-sama mempersiapkan lahan yang akan dijadikan kebun.

Kegiatan kedua yang dilakukan yaitu kegiatan membersihkan lahan dengan memotong ranting, membersihkan semak belukar dan rumput. Hal ini dilakukan agar memudahkan dalam melakukan penanaman tanaman. Kegiatan selanjutnya yang dilakukan adalah membakar dan penebangan pohon. Ada petani yang melakukan kegiatan pembakaran terlebih dahulu lalu melakukan kegiatan penebangan pohon atau melakukan kegiatan penebangan pohon terlebih dahulu lalu melakukan pembakaran. Hal ini tergantung tanaman apa yang akan ditanam terlebih dahulu, apabila yang akan ditanam terlebih dahulu adalah tanaman keladi maka pohon tidak ditebang sedangkan apabila yang ditanam adalah sayuran makan dilakukan pembakaran terlebih dahulu. Tanaman keladi membutuhkan naungan sehingga pohon-pohon tidak ditebang, sedangkan pembakaran dilakukan terlebih dahulu sebelum penanaman sayuran dilakukan dengan tujuan tanah menjadi subur. Pembakaran dilakukan hanya pada tumpukan rumput, tali dan ranting atau pada tunggak sehingga kebun tidak terbakar semua. Hal ini dapat di lihat pada Gambar 4.

(a) (b) (c)

Gambar 4 (a) awal pembukaan lahan, (b) pembukaan lahan sudah ditanami, (c) pembakaran lahan.

Menurut Nugraha (2005), tujuan pembakaran lahan secara umum adalah sebagai berikut:

1. Mengubah tumbuh-tumbuhan yang telah ditebas dan ditebang menjadi abu, sehingga akan mudah diserap oleh akar-akar tanaman ladang.

2. Mematikan tumbuhan yang masih hidup di ladang termasuk pohon-pohon yang sulit ditebang pada saat membersihkan ladang.

Alat-alat yang digunakan dalam sistem pengelolaan kebun masih tergolong sederhana seperti parang, kampak, tuas, linggis, pakuel, cangkul, dan pacul. Jenis dan jumlah alat pertanian yang digunakan responden dapat di lihat pada Tebel 20. Tabel 20 Distribusi responden berdasarkan alat-alat yang digunakan

No

Nama Suku Baham Suku Mata Suku lainnya Total

Alat N (%) N (%) N (%) N (%) 1 Parang 20 100 14 100 3 100 37 100 2 Kampak/Mencadu 20 100 14 100 3 100 37 100 3 Tuas 17 85 11 78,6 1 33,3 29 78,4 4 Linggis 3 15 2 14,3 2 66,7 7 18,9 5 Pakuel 2 10 3 21,4 1 33,3 6 16,2 6 Cangkul 4 20 2 14,3 2 66,7 8 21,6 7 Pacul 1 5 3 21,4 1 33,3 5 13,5

Alat yang paling banyak digunakan oleh Suku Baham, Suku Mata, dan suku lainnya yaitu parang, kampak, dan tuas. Penggunaan alat-alat tersebut karena mudah diperoleh, harganya terjangkau, dan mudah digunakan. Alat-alat pertanian yang digunakan responden dapat di lihat pada Tabel 21.

Tabel 21 Pengunaan dan fungsi dari alat-alat yang digunakan

No Nama Alat Fungsi Gambar

1 Linggis Membuat lubang tanam

2 Parang Membersihkan rumput, tanaman bawah lainnya, memotong tumbuhan merambat (bersih-bersih kebun).

3 Kampak/

mencadu

Penebangan pohon pada awal pembukaan kebun.

4 Pakuel Membuat lubang tanam

5 Tuas Membuat lubang tanam

Dari hasil wawancara yang dilakukan pada responden dari ketiga suku menunjukan bahwa hampir seluruh responden melakukan pembersihan lahan dan penebangan pohon pada saat pembukaan kebun. Hal ini dapat di lihat pada Tabel 22 sebanyak 20 orang dari Suku Baham, 14 orang dari Suku Mata, dan 3 orang dari suku lainnya melakukan pembersihan lahan dan penebangan pohon. Untuk kegiatan pembakaran hanya dilakukan oleh 51,4% responden dari ketiga suku.

Tabel 22 Distribusi responden berdasarkan kegiatan pembukaan lahan

No Nama Kegiatan

Jumlah Responden

Total Suku Baham Suku Mata Suku lainnya

N (%) N (%) N (%) N (%)

1 Membersihkan Lahan 20 100 14 100 3 100 37 100

2 Membakar 9 45 8 57,1 2 66,7 19 51,4

3 Penebangan Pohon 20 100 14 100 3 100 37 100

Dokumen terkait