BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Analisis Data
Analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisir kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Analisis data yang digunakan ialah metode analisis kualitatif. Menurut Miles dan Humberman, analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data, yaitu sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data 2. Reduksi Data 3. Penyajian Data
4. Pengambilan Keputusan atau Verifikasi
Keempat komponen tersebut saling terikat dan mempengaruhi satu sama lain. Setelah data dari lapangan terkumpul maka akan diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif merupakan suatu teknik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan fokus untuk memperhatikan dan merekam aspek yang diteliti sehingga memperoleh gambaran umum dan menyeluruh tentang keadaan yang sesungguhnya.
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
A. Sejarah LPP TVRI SULSEL
TVRI Sulawesi Selatan didirikan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Sulawesi Selatan Nomor 178/VII/71 tanggal 15 juli 1971 dengan menugaskan Panitia Pembentukan. Saat itu gubernur dijabat oleh Achmad Lamo yang sekaligus sebagai ketua umum dengan melibatkan unsur pimpinan daerah Sulawesi Selatan dan panglima komando wilayah pertahanan (Pangkowilham) IV sebagai pelindung. Walikota KDH kotamadya Ujung Pandang, H.M.Daeng Patompo sebagai pemprakarsa ditunjuk sebagai ketua pelaksana.Wakil Ketua I dan wakil ketua II dipercayakan masing-masing kepada Drs.Th.M.Gobel (Direktur Utama PT. National Gobel) dan M.N.Soepomo (Kepala Studio RRI Nusantara IV Ujung Pandang).
Pada tanggal 8 Desember 1973 setelah melalui masa siaran percobaan selama setahun, Gubernur KDH Sulawesi Selatan, Achmad Lamo mewakili Direktorat Jenderal Radio Televisi dan Film (RTF) meresmikan siaran TVRI Ujung Pandang dan mulai tanggal 16 Agustus 1977 TVRI Ujung Pandang menyelenggarakan siaran setiap hari dan merupakan awal siaran relay dari TVRI Jakarta melalui satelit palapa I. Sejak saat itu, Ujung Pandang melakukan penyiaran terpadu (berjaringan) dengan TVRI Jakarta. Hingga kini TVRI Sulawesi Selatan mengalami percobaan nama, dari Ujung Pandang menjadi Makassar dan selanjutnya dengan status TV Publik berubah menjadi LPP (Lembaga Penyiaran Publik) TVRI Sulawesi Selatan. Stasiun TVRI
Sulawesi Selatan menyelenggarakan siaran rutin mulai saat TVRI Nasional mebuka siaran (jam 05.00) hingga menutup siaran (jam 24.00) kecuali siaran-siaran khusus seperti halnya siaran-siaran ramadhán atau siaran-siaran sahur. LPP TVRI berlokasi di Jl. Kakatua No.14 Makassar, Sulawesi Selatan.
B. Visi dan Misi LPP TVRI SULSEL 1. Visi
Terwujudnya TVRI sebagai media pilihan bangsa Indonesia dalam rangka turut mencerdaskan kehidupan bangsa untuk memperkuat kesatuan bangsa.
2. Misi
a. Mengembangkan TVRI menjadi media perekat sosial untuk persatuan dan kesatuan bangsa sekaligus sebagai media kontrol sosial yang dinamis.
b. Mengembangkan TVRI menjadi pusat layanan informasi dan edukasi yang utama.
c. Memberdayakan TVRI menjadi pusat pembelajaran bangsa serta menyajikan hiburan yang sehat dengan mengoptimalkan potensi dan kebudayaan daerah serta memperhatikan komunitas terabaikan.
d. Memberdayakan TVRI menjadi media untuk membangun citra bangsa dan Negara Indonesia didunia internasional.
Maksud dan tujuan LPP TVRI sebagaimana tercantum dalam pasal 1 ayat (2) PP No.13 tahun 2005 adalah “Lembaga Penyiaran Publik yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh Negara bersifat independen,
netral, tidak komersil dan berfungsi memberikan layanan untuk kepentingan masyarakat”.
C. Bidang Usaha LPP TVRI SULSEL
Untuk maksud dan tujuan tersebut, LPP TVRI melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan kegiatan penyiaran televisi sesuai dengan prinsip televisi publik yang independen, netral, mandiri guna meningkatkan dan mengembangkan sikap mental masyarakat Indonesia, meningkatkan pengetahuan kecerdasan masyarakat serta lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa yang pelaksanaannya dilakukan secara terintegrasi baik untuk jaringan nasional, regional, lokal maupun internasional.
2. Menyelenggarakan usaha dibidang pertelevisian yang menghasilkan program siaran yang sehat dan bermutu tinggi sekaligus dapat memupuk keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan yang modern dan profesional.
3. Menyelenggarakan usaha-usaha yang menunjang usaha pokok TVRI.
D. Struktur Organisasi LPP TVRI SULSEL
D. Job Deskription
Tujuan dibentuknya struktur organisasi adalah untuk membentuk spesialisasi setiap fungsi dalam organisasi dan mencegah terjadinya tugas ganda
1. Kepala Stasiun
a. Bertanggungjawab sebagai koordinator dari kelima bidang dibawahnya.
b. Memimpin rapat umum dalam hal: untuk memastikan pelaksanaan tata-tertib; keadilan dan kesempatan bagi semua untuk berkontribusi secara tepat; menyesuaikan alokasi waktu per item masalah;
menentukan urutan agenda; mengarahkan diskusi ke arah konsensus.
2. Bidang Program dan Pengembangan Usaha
a. Bertanggung jawab atas kinerja sub direktorat program
b. Bertanggung jawab dalam perencanaan, penetapan strategi dalam usaha-usaha pemasaran dan meningkatkan target pendapatan dan penyusunan program perusahaan, sesuai dengan rencana kerja, anggaran dan pengembangannya.
3. Tugas Kepala Bidang Program
a. Bertanggung jawab atas kinerja sub berita
b. Bertanggung jawab terhadap semua operasional bagian program. Ia merupakan orang yang paling berhak untuk memutuskan semua pilihan program khususnya yang akan disiarkan. Pengawasan,
koordinasi dan evaluasi terhadap penampilan para staff di bagian program.
4. Tugas Bagian Keuangan
Bertanggung jawab terhadap seluruh bidang administrasi keuangan dan pengelolaan anggaran sesuai dengan rencana kerja yang dijalankan oleh instansi.
5. Tugas Bagian Teknik
Bertanggung jawab atas segala kebutuhan tehnis peliputan maupun produksi.
6. Tugas Bagian Umum
Bertanggung jawab dalam segala jenis usaha yang ada di LPP TVRI SULSEL.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sistem Pengendalian Intern atas Penerimaan dan Pengeluaran Kas pada LPP TVRI SULSEL
LPP TVRI merupakan merupakan lembaga penyiaran yang menyandang nama negara mengandung arti bahwa dengan nama tersebut siarannya ditujukan untuk kepentingan negara. Stasiun televisi ini mengudara di hampir seluruh wilayah di Indonesia. LPP TVRI adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Produk yang ditawarkan di LPP TVRI antara lain adalah kerjasama penyiaran, iklan komersial, dan iklan layanan masyarakat.
Pembayaran dari penjualan jasa tersebut dapat dilakukan secara tunai dan kredit sehingga sumber penerimaan kas pada LPP TVRI SULSEL berasal dari kerjasama penyiaran,, iklan komersial, dan iklan layanan masyarakat.
1. Sistem Penerimaan Kas
Penerimaan kas dari penjualan tunai dapat langsung diterima oleh kasir yang kemudian diakui sebagai pendapatan diterima dimuka yang dapat dibayar menggunakan uang tunai, cek atau bukti transfer dari pelanggan. Penerimaan kas dalam bentuk tunai disetor ke bank dalam jumlah penuh oleh kasir dan yang menggunakan cek dapat diuangkan oleh kasir dan kemudian disetor ke bank.
LPP TVRI mencatat penerimaan kas seperti kerjasama produksi, pendapatan iklan, peliputan berita dengan metode accrual basic yaitu
metode dimana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.
2. Prosedur Sistem Penerimaan Kas
Prosedur penerimaan kas atas penjualan tunai pada LPP TVRI SULSEL menggunakan sistem Over the Counter Sale. Dimana dalam penjualan tunai LPP TVRI SULSEL, pelanggan datang ke perusahaan untuk memilih jenis produk yang akan di beli. Account Executive (Bagian Penjualan) memberikan penawaran kepada pelanggan dengan Rate Card yang berisi perincian paket penyiaran meliputi area, bentuk, waktu, durasi, dan harga penyiaran. Setelah pelanggan menyepakati kerjasama penyiaran, maka Account Executive akan membuat Media Order (MO) dalam tiga rangkap dimana,
MO rangkap ke-1 diberikan kepada pelanggan
MO rangkap ke-2 diarsipkan
MO rangkap ke-3 diberikan ke Bagian Produksi
MO rangkap ke-4 diberikan ke Subbagian Akuntansi
Selanjutnya, pelanggan melakukan pembayaran ke Subbagian Penerimaan. Jika pelanggan melakukan pembayaran melalui bank dengan melakukan transfer uang atau setor langsung ke bank maka Subbagian penerimaan harus meminta bukti transfer atau bukti setor
bank dari pelanggan dan mengeceknya ke bank. Kemudian Subbagian Penerimaan membuat kwitansi pembayaran tiga rangkap dimana,
Rangkap ke-1 diberikan kepada pelanggan
Rangkap ke-2 diarsipkan
Rangkap ke-3 diberikan kepada Subbagian Akuntansi.
Berdasarkan dokumen dari Subbagian Penerimaan, Subbagian Akuntansi membuat voucher penerimaan yang ditandatangani oleh pihak yang terkait. Kemudian subbagian akuntansi membuat jurnal penerimaan kas dan membuat copy voucher penerimaan untuk diberikan kembali ke Subbagian Penerimaan. Subbagian Akuntansi selanjutnya membuat jurnal penerimaan kas, dimana laporan yang pertama diberikan kepada pimpinan dan laporan yang kedua diarsipkan.
Bagan alir dokumen yang digunakan atas sistem penerimaan kas secara tunai pada LPP TVRI SULSEL adalah sebagai berikut,
Gambar 2.1 Flowchart Sistem Penerimaan Kas
2. Dokumen dan Catatan Akuntansi yang Digunakan 1) Dokumen yang Terkait
a) Rate Card
Merupakan dokumen yang berisi paket penyiaran dengan perincian area, bentuk, waktu, durasi, dan waktu penyiaran. Harga setiap paket nantinya akan berbeda-beda tergantung pada negoisasi yang dilakukan pelanggan.
b) Media Order (Surat Perjanjian Kerjasama)
Merupakan dokumen perjanjian dengan pelanggan yang dibuat oleh Account Executive. Berisikan jenis jasa yang dipilih, area, bentuk,
waktu, durasi, dan harga yang telah disepakati perusahaan dengan pelanggan. Media order merupakan dokumen yang dibuat berdasarkan Purchase Order yang diberikan oleh pelanggan.
c) Invoice
Merupakan dokumen yang digunakan sebagai pernyataan tagihan yang harus dibayar oleh pelanggan.
d) Faktur Pajak
Merupakan bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak karena penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak.
e) Kwitansi
Merupakan dokumen yang diberikan perusahaan sebagai bukti bahwa pelanggan telah melakukan pembayaran dengan jumlah uang sebesar yang tertagih.
f) Jurnal Penerimaan Kas
Merupakan pencatatan akuntansi yang dibuat atas transaksi penerimaan kas. Pencatatan atas transaksi tersebut dilakukan setiap ada pembuatan kwitansi.
2) Catatan Akuntansi
Terdapat Jurnal Penerimaan Kas yang digunakan untuk mencatat penerimaan kas dari pelanggan.
3. Fungsi yang Terkait 1) Fungsi Penjualan
Dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, fungsi ini bertanggung jawab untuk menerima order dari pembeli, mengisi faktur penjualan tunai, dan menyerahkan faktur tersebut kepada pembeli untuk kepentingan pembayaran harga barang ke fungsi kas.
2) Fungsi Penerimaan Kas
Dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, fungsi ini bertanggung jawab sebagai penerima kas dari pembeli.
3) Fungsi Akuntansi
Dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, fungsi ini bertanggung jawab sebagai pencatat transaksi penjualan dan penerimaan kas.
4. Unsur Pengendalian Intern Penerimaan Kas Pada LPP TVRI SULSEL
1) Organisasi
a. Penerimaan kas atas kerjasama produksi dan penyiaran dengan pihak ketiga merupakan penerimaan yang diperoleh dari jasa penayangan program kerjasama dengan pihak ketiga yang didasari perjanjian kerjasama. LPP TVRI SULSEL telah memisahkan fungsi penyimpanan kas dan fungsi pencatatan. Fungsi penyimpanan kas dilaksanakan oleh subbagian penerimaan dan fungsi pencatatan dilaksanakan oleh subbagian akuntansi, hal ini dimaksudkan agar selalu terjadi pengecekan dalam setiap transaksi penerimaan kas.
LPP TVRI SULSEL mencatat penerimaan dari kerjasama produksi dan atau penyiaran dengan pihak ketiga dengan metode accrual basis yaitu metode dimana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas dan setara kas diterima atau dibayarkan..
b. Untuk melakukan transaksi penerimaan kas LPP TVRI SULSEL melalui beberapa fungsi sebagai berikut :
a) Fungsi Penjualan
Account Executive yang berada di direktorat Pengembangan Usaha sebagai fungsi penjualan yang bertugas mengkaji dan mengevaluasi proposal program acara, serta
menerima, mencatat dan merespon penawaran atau pemesanan penyiaran, dalam pembuatan perjanjian menegaskan tentang cara pembayaran yang harus ditaati mitra, dan juga memberikan informasi tambahan apabila ada perubahan tentang perjanjian yang sudah dibuat sehingga pencatatannya bisa disesuaikan.
Selanjutnya diserahkan ke fungsi penerimaan kas.
b) Fungsi Penerimaan Kas
Dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, fungsi ini bertanggung jawab sebagai penerima kas dari pembeli.
c) Fungsi Akuntansi
Dalam transaksi penerimaan kas dari penjualan tunai, fungsi ini bertanggung jawab sebagai pencatat transaksi penjualan dan penerimaan kas dan pembuat Laporan Jurnal Penjualan dan Laporan Jurnal Penerimaan Kas.
2) Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
a. Penerimaan Kas pada LPP TVRI SULSEL mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang, dalam hal ini adalah Subbagian Penerimaan.
Transaksi penerimaan kas diotorisasi oleh Subbagian Penerimaan dengan menggunakan dokumen bukti penerimaan kas dan dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap.
b. LPP TVRI SULSEL dalam sistem pengendalian internnya mengharuskan pencatatan kedalam catatan akuntansinya didasarkan
pada dokumen sumber yang diotorisasi oleh Subbagian Penerimaan yang dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap.
3) Praktik yang Sehat
Pelaksanaan praktik yang sehat dalam LPP TVRI SULSEL dapat dilihat dibawah ini :
a. LPP TVRI SULSEL dalam perlindungan saldo kas yang ada di tangan dengan cara menyetornya langsung ke bank. Tetapi jika belum sempat disetor maka Subbagian Penerimaan akan menyimpannya didalam brangkas. Hanya Subbagian Penerimaan yang berhak atas sejumlah kas tersebut.
b. LPP TVRI SULSEL menggunakan rekening koran bank yang merupakan informasi dari bank yang diterima secara periodik oleh instansi untuk mengecek ketelitian register cek dan jurnal penerimaan kas dalam kegiatan yang disebut rekonsiliasi bank.
c. LPP TVRI SULSEL secara periodik telah mengadakan pencocokan jumlah fisik kas yang ada ditangan dengan jumlah kas menurut catatan untuk mencegah penyelewengan kas atau penggunaan kas yang tidak semestinya.
2. Sistem Pengeluaran kas
Sistem Pengendalian Intern Pengeluaran Kas pada LPP TVRI SULSEL
a. Fungsi yang terkait dalam sistem pengeluaran kas
Fungsi akuntansi melakukan pencatatan berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas kedalam jurnal pengeluaran kas .
b. Dokumen yang Terkait a) SPPD
b) Bukti Transfer
c) Bukti Pengeluaran lainnya c. Catatan Akuntansi
Terdapat jurnal pengeluaran kas.
d. Prosedur Pengeluaran Kas
Bagan alir dokumen yang digunakan atas sistem penerimaan kas pada LPP TVRI SULSEL adalah sebagai berikut,
Mulai
1. Pertama, Pengajuan RKA (Rencana Kerja Anggaran) yang terlebih dahulu diproses dan diteliti.
2. Setelah RKA diproses baru DPA disahkan oleh Menteri Keuangan.
3. DPA telah disahkan lalu dimulai penyusunan uang persediaan dengan prosedur yang akan diajukan dalam SPD (Surat Penyediaan Dana)
4. Selanjutnya dibuat Surat Permintaan Pembayaran (SPP) yaitu suatu dokumen yang dibuat/ diterbitkan oleh Pejabat yang bertanggungjawab atas pelaksanaan kegiatan dan disampaikan kepada Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutnya diteruskan kepada Pejabat Penerbit SPM berkenaan dalam hal ini ialah Kepala LPP TVRI SULSEL.
5. Dilanjutkan penerbitan Surat Perintah Membayar (SPM) yaitu dokumen yang diterbitkan/ digunakan oleh Kuasa Pengguna Anggaran dalam hal iini ialah Kepala Bagian Keuangan.
6. Setelah itu, pengajuan SPP dan SPM dilanjutkan dengan pengajuan SPPD ke Bendahara Umum Negara.
7. Setelah SPPD terbit, maka dana atau anggaran telah masuk kerekening LPP TVRI SULSEL.
8. Kemudian pencairan dana dilakukan Kepala Seksi Pencairan Dana. Lalu dana tersebut disalurkan ke Bendahara Pembantu yang berfungsi sebagai kasir untuk pembayaran-pembayaran pihak ketiga.
9. Bendahara Pembantu mengumpulkan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) yang terdiri dari kwitansi , nota-nota, dan kelengkapan lainnya.
Dokumen Terkait
B. Analisis keefektifan Sistem Pengendalian Intern Penerimaan dan Pengeluaran Kas pada LPP TVRI SULSEL
1. Analisis Sistem Pengendalian Intern Penerimaan Kas pada LPP TVRI SULSEL
1. Organisasi
LPP TVRI SULSEL memisahkan fungsi penjualan, fungsi penerimaan kas, dan fungsi akuntansi yakni Subbagian Akuntansi menyatakan bahwa fungsi penjualan dilakukan oleh Account Executive yang bertugas melayani pelanggan dan menerima pesanan pelanggan, fungsi penerimaan kas dilakukan oleh Subbagian Penerimaan/Perbendaharaan yang bertugas membuat kwitansi pembayaran dan menerima kas untuk disetor ke bank, dan fungsi pencatatan dilakukan oleh Subbagian Akuntansi yang bertugas membuat jurnal penerimaan kas sehingga telah terlihat pemisahaan masing-masing fungsi yang terkait. Serta penentuan jumlah pendapatan yang digunakan harus sesuai PSAK No. 23 paragraf 9 yaitu pengukuran dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima yang ditentukan dalam persetujuan antara TVRI dengan mitra yang melakukan kerjasama.
2. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan
LPP TVRI SULSEL melakukan otorisasi dalam setiap transaksi penerimaan kas pada masing-masing pihak yang terkait dalam hal penerimaan kas mulai dari bagian penjualan yang melakukan otorisasi
atas faktur penjualan tunai. kemudian subbagian penerimaan melakukan otorisasi terhadap kwitansi pembayaran dengan membubuhkan stempel logo LPP TVRI SULSEL dan otorisasi berupa tandatangan sesuai dengan pihak yang terkait dan subbagian akuntansi melakukan pencatatan transaksi penerimaan kas.
3. Praktik yang sehat
LPP TVRI SULSEL menerapkan SAP berbasis akrual sesuai dengan PP RI No.71 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pasal 4 ayat1. LPP TVRI SULSEL memperhatikan keberadaan kas yang diterima sehingga jika terdapat penerimaan kas pada hari itu, maka pada hari itu juga penyetoran ke bank oleh Subbagian Penerimaan wajib dilakukan sehingga jurnal kas instansi dapat diuji ketelitian dan keandalannya dengan menggunakan informasi dari bank yang tercantum dalam rekening koran bank yang dilakukan dengan rekonsiliasi bank. Kemudian adanya pemeriksaan yang terkadang dilakukan untuk mengurangi risiko penggelapan kas yang diterima oleh Subbagian Penerimaan.
2. Analisis Sistem Pengendalian Intern Pengeluaran Kas pada LPP TVRI SULSEL
PP RI No. 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pasal 4 menyatakan bahwa Pemerintah menerapkan SAP berbasis akrual.
Menurut PP RI NO. 39 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 11 ayat 2 pengurangan uang negara diakibatkan oleh :
a) Belanja negara
b) Pengeluaran pembiayaan antara lain pembayaran pokok utang, penyertaan modal negara, dan pemberian pinjaman.
c) Pengeluaran negara lainnya antara lain pengeluaran perhitungan pihak ketiga.
Sedangkan Kuasa Bendahara Umum Daerah menurut PP RI NO. 39 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 9 ayat 1 yaitu :
a) Menyiapkan anggaran kas
b) Meyiapkan Surat Penyediaan Dana (SPD)
c) Menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) d) Menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan daerah
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.170/PMK.05/2010 pasal 1 menyebutkan bahwa :
1. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, yang selanjutnya disingkat PA/KPA, adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan.
2. Pejabat Pembuat Komitmen, yang selanjutnya disingkat PPK, adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran atas beban belanja negara.
3. Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar, yang selanjutnya disingkat PP-SPM, adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk melakukan pengujian atas Surat Permintaan Pembayaran dan menerbitkan Surat Perintah Membayar.
4. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan belanja APBN pada Kementerian Negara/Lembaga dan/atau Satker.
5. Surat Permintaan Pembayaran, yang selanjutnya disingkat SPP, adalah dokumen yang dibuat/diterbitkan oleh PPK dan disampaikan kepada PA/KPA atau pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutnya diteruskan kepada PP-SPM berkenaan.
Tugas pokok PPK menurut Peraturan Menteri Keuangan No.170/PMK.05/2010 pasal 4, sebagai berikut :
a. Menyusun rencana kegiatan dan penarikan dana
b. Membuat perikatan dengan pihak penyedia barang/jasa yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja
c. Menyiapkan, melaksanakan, dan mengendalikan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa
d. Meyiapkan dokumen pendukung yang lengkap dan benar, menerbitkan dan menyampaikan SPP kepada PP-SPM.
Tugas pokok PP-SPM menurut Peraturan Menteri Keuangan No.170/PMK.05/2010 pasal 5, sebagai berikut :
a. Melakukan pengujian SPP beserta dokumen pendukungnya yang lengkap dan benar
b. Melakukan pembebanan tagihan kepada negara c. Membuat dan menandatangani SPM.
Sistem Pengendalian Intern Pengeluaran Kas pada LPP TVRI SULSEL
a. Fungsi yang terkait dalam sistem pengeluaran kas
Fungsi akuntansi pada PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas melakukan pencatatan kedalam jurnal pengeluaran kas sesuai dengan bentuk pengeluaran kas tersebut.
b. Dokumen yang Terkait d) SP2D
e) Bukti Transfer
f) Bukti Pengeluaran lainnya c. Catatan Akuntansi
Terdapat jurnal pengeluaran kas, buku besar, dan buku besar pembantu.
d. Prosedur Pengeluaran Kas
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.170/PMK.05/2010 pasal 1 menyebutkan bahwa :
1. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, yang selanjutnya disingkat PA/KPA, adalah Menteri/Pimpinan Lembaga atau kuasanya yang bertanggung jawab atas pengelolaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga yang bersangkutan.
2. Pejabat Pembuat Komitmen, yang selanjutnya disingkat PPK, adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran atas beban belanja negara.
3. Pejabat Penanda Tangan Surat Perintah Membayar, yang selanjutnya disingkat PP-SPM, adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh PA/KPA untuk melakukan pengujian atas Surat Permintaan Pembayaran dan menerbitkan Surat Perintah Membayar.
4. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja negara dalam rangka pelaksanaan belanja APBN pada Kementerian Negara/Lembaga dan/atau Satker.
5. Surat Permintaan Pembayaran, yang selanjutnya disingkat SPP, adalah dokumen yang dibuat/diterbitkan oleh PPK dan
disampaikan kepada PA/KPA atau pejabat lain yang ditunjuk selaku pemberi kerja untuk selanjutnya diteruskan kepada PP-SPM berkenaan.
Tugas pokok PPK menurut Peraturan Menteri Keuangan No.170/PMK.05/2010 pasal 4, sebagai berikut :
a. Menyusun rencana kegiatan dan penarikan dana
b. Membuat perikatan dengan pihak penyedia barang/jasa yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja
c. Menyiapkan, melaksanakan, dan mengendalikan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa
c. Menyiapkan, melaksanakan, dan mengendalikan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa