Sistem Pengendalian Intern

Dalam dokumen BAB 2 LANDASAN TEORI. untuk mencapai tujuan tententu. untuk mencapai tujuan yang sama. (Halaman 36-43)

2.3 Teori Khusus .1 Penjualan

2.3.7 Sistem Pengendalian Intern

M ulyadi (2001, p163) Sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan kehandalan data

akuntansi, mendorong efisiensi, dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

2.3.7.1 Unsur dari Pengendalian Intern

M enurut M ulyadi (2001,p164) unsur pokok dari sistem pengendalian intern adalah :

1. Struktur organisai yang memisahkan tanggung jawab fungsional 2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan

perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya.

3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.

4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

2.3.7.2 Tujuan dari Pengendalian Intern

M enurut M ulyadi (2001, p163-164) tujuan pokok sistem pengendalian intern dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Pengendalian Intern Akutansi

M erupakan bagian dari sistem-sistem pengendalian intern, meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk menjaga kekayaan organisai dan mengecek ketelitian dan kehandalan data akuntansi.

2. Pengendalian Intern Administratif

M eliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan terutama untuk mendorong efisiensi dan dipatahuinya kebijakan manajemen.

2.3.7.3 Pengendalian Intern dalam Sistem penjualan kredit

M ulyadi (2001, p220-221) Unsur-unsur pengendalian intern terhadap sistem penjualan kredit adalah sebagai berikut :

1. Organisasi

a. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kredit.

b. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penjualan dan fungsi kredit.

c. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi kas.

c. Transaksi penjualan harus dilaksanakan oleh fungsi penjualan, fungsi kredit, fungsi pengiriman, fungsi penagihan, dan fungsi akuntansi. Tidak ada transaksi penjualan kredit yang dilaksanakan secara lengkap hanya oleh satu fungsi tersebut.

2. Sistem Otorisasi dan Prosedur pencatatan

a. Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan formulir surat order pengiriman.

b. Persetujuan pemberian kredit diberikan oleh fungsi kredit dengan membubuhkan tanda tangan pada credit copy (yang merupakan tembusan surat order pengiriman).

c. Pengiriman barang kepada pelanggan diotorisasi oleh fungsi pengiriman dengan cara menandatangani dan membubuhkan cap “sudah dikirim” pada copy order surat pengiriman.

d. Penetapan harga jual, syarat penjualan, syarat pengangkutan barang, dan potongan penjualan berada di tangan Direktur Pemasaran dengan penerbitan surat keputusan mengenai hal tersebut.

e. Terjadinya piutang diotorisasi oleh fungsi penagihan dengan membubuhkan tanda tangan pada faktur penjualan.

f. Pencatatan ke dalam kartu piutang dan ke dalam jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas, dan jurnal umum diotorisasi oleh fungsi akuntansi dengan cara memberikan tanda tangan pada dokumen sumber (faktur penjualan, bukti kas masuk, dan memo kredit).

g. Pencatatan terjadinya piutang didasarkan pada faktur penjualan yang didukung degan surat order pengiriman dan surat muat.

3. Praktik yang Sehat

a. Surat order pengiriman bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan.

b. Faktur penjualan bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penagihan.

c. Secara periodik fungsi akuntansi mengirim pernyataan piutang ( account receivable statement ) kepada setiap debitur untuk menguji ketelitian catatan piutang yang diselenggarakan oleh fungsi tersebut.

d. Secara periodik diadakan rekonsiliasi kartu piutang dengan rekening kontrol piutang dalam buku besar.

2.3.7.4 Pengendalian Internal dalam Sistem penerimaan kas dari penjualan tunai

M ulyadi (2001, p470-471) Unsur-unsur pengendalian internal terhadap sistem penerimaan kas dari penjualan Tunai adalah sebagai berikut :

1. Organisasi

a. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kas. b. Fungsi kas harus terpisah dari fungsi akuntansi.

c. Transaksi penjualan tunai harus dilaksanakan oleh fungsi penjualan, fungsi akuntansi, fungsi kas.

2. Sistem Otorisasi dan Prosedur pencatatan

a. Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan formulir penjualan tunai.

b. Penerimaan kas diotorisasi oleh fungsi kas dengan cara membubuhkan cap “lunas” pada Faktur Penjualan Tunai dan penempelan pita register kas pada faktur tersebut.

c. Penjualan dengan kartu kredit bank didahului dengan permintaan otorisasi dari bank penerbit kartu kredit.

d. Penyerahan barang terotorisasi oleh fungsi pengiriman dengan cap “sudah disahkan” pada Faktur Penjualan Tunai.

3. Praktik yang Sehat

a. Faktur penjualan bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggunjawabkan oleh fungsi penjualan tunai.

b. Jumlah kas yang diterima dari penjualan tunai disetor seluruhnya ke bank pada hari yang asma dengan transaksi penjualan tunai atau hari kerja berikutnya.

c. Perhitugan saldo kas yang ada ditangan fungsi kas secara periodik dan secara mendadak oleh fungsi pemeriksa intern.

2.3.7.5 Pengendalian Intern dalam sistem Penerimaan Kas dari Piutang

M ulyadi (2001, p490-491), Unsur pengendalian intern dalam sistem penerimaan kas dari piutang, terdiri dari :

1. Organisasi

a. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penagihan dan fungsi penerimaan kas.

2. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan

a. Debitur diminta untuk melakukan pembayaran dalam bentuk cek atas nama atau dengan cara pemindah bukuan (girobilyet). b. Fungsi penagihan melakukan penagihan hanya atas dasar

daftar piutang yang harus ditagih yang dibuat oleh fungsi akuntansi.

c. Pengkreditan rekening pembantu piutang oleh fungsi akuntansi (bagian piutang) harus didasarkan atas surat pemberitahuan yang berasal dari debitur.

3. Praktik yang sehat

a. Hasil perhitungan kas harus direkam dalam berita acara perhitungan kas dan disetor penuh ke bank dengan segera. b. Para Penagih dan kasir harus diasuransikan (fidelity bond

insurance).

c. Kas dalam perjalanan (baik yang ada ditangan bagian kasa maupun ditangan penagih perusahaan) harus diasuransikan (cash in safe dan cash-in-transit insurance).

2.3.7.6 Dokumen yang digunakan sistem Penerimaan Kas dari Piutang

M ulyadi (2001, p490-491) dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari piutang adalah :

Dokumen ini dibuat oleh debitur untuk memberitahu maksud pembayaran yang dilakukannya.

2. Daftar surat pemberitahuan

Daftar surat pemberitahuan merupakan rekapitulasi penerimaan kas yang dibuat oleh fungsi sekretariat atau fungsi penagihan. 3. Bukti setor bank

Dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyetoran kas yang diterima dari piutang ke bank.

4. Kuitansi

Dokumen ini merupakan bukti penerimaan kas yang dibuat oleh perusahaan bagi para debitur yang telah melakukan pembayaran utang mereka.

Dalam dokumen BAB 2 LANDASAN TEORI. untuk mencapai tujuan tententu. untuk mencapai tujuan yang sama. (Halaman 36-43)