• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN KONSEPTUAL

E. Kerangka Konseptual

Untuk memahami bagaimana dan mengapa penderita malaria atau yang terindikasi terinfeksi malaria memberikan respons yang bervariasi dan bahkan mencampur adukkan unsur-unsur pengobatan yang bersumber dari tradisi medis ilmiah dan tradisi medis lokal dalam hal praktik perawatan kesehatan, maka penelitian ini memandang keberadaan sistem-sistem medis atau sistem-sistem perawatan kesehatan yang beragam dan bahkan bertentangan sebagai realitas objektif – ada di atas dan di antara individu-individu – berelasi secara dialektis dengan pilihan subjektif para pelaku untuk melakukan perawatan kesehatan guna terbebas dari gangguan kesehatan yang dideritanya.

Dengan demikian penelitian ini berbeda dengan penelitian yang banyak dilakukan oleh ilmuwan sosial, termasuk ilmuwan antropologi, yang menggunakan pluralisme medis (medical pluralism) sebagai model konseptual untuk memahami dan menjelaskan perilaku perawatan kesehatan (lihat, Leslie 1977, Eisenberg 1977, Romanucci-Ross 1977, Kleinman 1980, Kalangie 1994, dan Baer 2004). Selain itu, penelitian ini juga tidak menempatkan para pelaku sebagai memiliki kehendak bebas (free will) untuk menciptakan dan mendayagunakan teknik pengobatan dan perawatan kesehatan, tetapi terjadi negosiasi secara terus menerus antara sistem-sistem perawatan kesehatan sebagai realitas objektif dan pilihan

UNIVERSITAS HASANUDDIN 62 subjektif para pelaku dalam menentukan tindakan pengobatan atau perawatan yang mereka praktikkan untuk terbebas dari gangguan kesehatan yang dideritanya. Negosiasi tersebut berimplikasi bagi dinamika relasi antara sistem-sistem medis, terutama sistem medis modern atau biomedisin dan sistem medis tradisional atau lokal, dan respon anggota masyarakat terhadap penyakit.

Pluralisme medis mengacu pada adanya sistem-sistem perawatan kesehatan yang beragam dalam suatu masyarakat. Kleinman dalam bukunya “Patiens and Healers in the Context of Culture: An Exsploration of the Borderland between Anthropology, Medicine, and Psychiatry“

mengelompokkan sistem perawatan kesehatan ke dalam tiga sektor sistem perawatan kesehatan yang tumpang tindih satu dengan lainnya, yakni: 1) sektor populer, 2) sektor tradisional, dan 3) sektor profesional.

Keberadaan sistem-sistem perawatan kesehatan tersebut pada satu sisi memberikan peluang bagi anggota masyarakat untuk memilih sumber atau sektor-sektor perawatan kesehatan yang akan mereka gunakan ketika sedang mengalami gangguan kesehatan atau ada anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan. Di sisi lain menghadapkan merekapada situasi dilematis atau disonansi kognitif5, yang disebabkan oleh:

5 Cognitive dissonance ialah adanya ketidakcocokan antara unsur-unsur kognitif (pengetahuan, kepercayaan dan sikap) sehingga secara psikologis individu berada dalam situasi tidak nyaman atau sulit untuk mengambil keputusan (Festinger dalam Roger & Lamb 1996:38-39).

UNIVERSITAS HASANUDDIN 63 Pertama, boleh jadi suatu gejala tertentu dianggap masalah kesehatan dalam perspektif medis modern tetapi tidak dipandang sebagai masalah kesehatan dalam perspektif budaya lokal. Sebagai misal, panu (tinea verscolor) dalam perspektif medis modern dipandang sebagai penyakit kulit, tetapi dalam perspektif orang-orang Bugis di pedesaan Sulawesi Selatan tidak dianggap sebagai penyakit yang perlu mendapatkan perawatan kesehatan khusus.

Kedua, gejala penyakit yang sama dapat diberi label yang berbeda dan diklasifikasikan sebagai mempunyai sebab yang berbeda (supranatural versus teori kuman), serta memerlukan perawatan yang berbeda. Misalnya, penyakit yang gejalanya: demam, radang selaput lendir, dan mulcul erupsi kulit berupa bercak dan bintik berwarna merah oleh orang-orang Makassar dilabeli sebagai penyakit sarampa dan disebabkaan oleh adanya intervensi kekuatan adikodrati; sedangkan dari perspektif biomedis gejala seperti itu dilabeli sebagai penyakit campak (measles) dan disebabkan oleh virus atau kuman.

Ketiga, treatment tertentu boleh jadi tidak diterima oleh warga masyarakat karena bertentangan dengan aturan-aturan budayanya (lihat Pool dan Geissler 2005:47; Miller 2008:121).

Model pluralisme medis tersebut memandang keberadaan sistem-sistem perawatan kesehatan, terutama sistem-sistem perawatan kesehatan profesional atau medis ilmiah dan sistem perawatan kesehatan tradisional, sebagai dua entitas yang terpisah dan memiliki relasi yang dikotomis.

Padahal faktanya di tingkat pelaku (actors) terjadi relasi yang dialektis di

UNIVERSITAS HASANUDDIN 64 antara kedua sistem medis tersebut. Dapat pula dikatakan bahwa para pelaku (actors) menegosiasikan antara tradisi medis ilmiah atau biomedisin dengan tradisi medis lokal atau tradisional. Negosiasi tersebut pada gilirannya melahirkan rekonsiliasi di antara kedua sistem-sistem medis tersebut. Rekonsialiasi itu oleh Pool dan Geissler (2005: 40) dinamakan sebagai medical syncretism (singkretisme medis).

Singkretisme medis ialah istilah yang diambil dari studi religi yang mengacu pada terjadinya penyatuan (unifying) atau rekonsialiasi (reconciling) masab-masab pemikiran yang berbeda dan bahkan bertentangan dalam hal perawatan kesehatan (lihat Pool dan Geissler 2005:

40). Dalam perkataan lain, pelaku tidak lagi mengalami disonansi kognitif (cognitive dissonance) dalam merespon gangguan kesehatan yang dialaminya – apakah memilih sumber perawatan kesehatan yang satu atau yang lainnya – tetapi memanfaatkan keduanya secara sendiri-sendiri atau simultan dan bahkan mencampuradukkannya untuk satu episode perawatan kesehatan dengan mengacu pada pengalaman dan situasi praktis yang dihadapinya untuk memperoleh kesembuhan.

Secara konseptual situasi praktis yang dihadapi oleh pelaku dalam memanfaatan sektor-sektor perawatan kesehatan yang tersedia untuk menanggulangi ancaman penyakit dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berbaur satu dengan lainnya. Adapun faktor-faktor yang dimaksud:

Pertama, keberadaan sistem-sistem medis. Keberadaan sistem medis yang beragam akan bepengaruh bagi konstruk intelektual individu berkenaan dengan etiologi hingga pengobatan penyakit malaria. Konstruk

UNIVERSITAS HASANUDDIN 65 intelektual berkenaan dengan malaria tersebut boleh jadi untuk individu tertentu dominan dipengaruhi oleh sistem medis pribumi dan individu lainnya dominan dipengaruhi oleh sistem medis modern atau bauran di antara keduanya.

Kedua, program penanggulangan malaria yang berorientasi bagi terwujudnya transformasi pengetahuan dan praktik perawatan kesehatan tradisional ke pengetahuan dan praktik perawatan kesehatan professional atau ilmiah yang diimplementasikan oleh pelaksana program (provider) di Kabupaten Mamuju Tengah. Diasumsikan bahwa jika strategi pengomunikasian gagasan dan praktik perawatan malaria yang dijalankan secara intensif oleh pelaksana program dan sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat, maka konstruk intelektual tentang malaria dan praktik perawatan yang dilakukan oleh warga masyarakat relatif akan banyak yang sejalan dengan tujuan program tersebut. Itu terjadi karena dalam hal efikasi pengobatan, medis profesional dalam banyak kasus lebih unggul dibandingkan dengan pengobatan non profesional (lihat Kalangie, 1994).

Ketiga, motivasi pelaksana program eliminasi malaria. Dalam program eliminasi malaria, petugas malaria, khususnya kader malaria desa mengemban tugas untuk mencari dan menemukan warga desa yang terindikasi terinfeksi malaria dan segera membawanya ke tempat pelayanan kesehatan profesional untuk memastikan apakah yang bersangkutan positif terinfeksi malaria atau tidak. Jika positif terinfeksi malaria maka ia akan mendapatkan perawatan kesehatan hingga sembuh. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa apabila kader malaria aktif melaksanakan tugas

UNIVERSITAS HASANUDDIN 66 yang diembannya tersebut maka semua anggota masyarakat yang terinfeksi malaria mendaptakan perawatan kesehatan di sektor perawatan medis profesional. Namun aktif tidaknya petugas kesehatan berkaitan dengan motivasi staf bersangkutan.

Keempat, jaringan sosial aktor atau pelaku yang ikut memengaruhi para pelaku (actors) dalam memutuskan sektor perawatan kesehatan yang akan digunakan untuk menanggulangi malaria. Dalam perkataan lain, masukan mengenai perawatan kesehatan berkenaan dengan penyakit yang pelaku dapatkan dari keluarga, tetangga, teman dan lainnya dijadikan sebagai bagian dari pertimbangan pelaku bersangkutan dalam memilih sumber atau sektor perawatan kesehatan yang akan digunakan oleh penderita penyakit malaria.

Kelima, pengalaman-pengalaman sebelumnya berkenaan dengan perawatan malaria. Pengalaman itu tidak hanya yang bersangkut paut dengan kesembuhan, tetapi juga proses-proses perawatan yang dialami sesuai atau tidak sesuai dengan harapan mereka. Pengalaman itu akan dijadikan sebagai bagian dari pertimbangan aktor yang berperan dalam memutuskan sektor-sektor perawatan kesehatan yang akan digunakan ketika sedang mengalami gangguan kesehatan, khususnya penyakit malaria.

Keenam, sikap hidup individu. Individu yang memiliki sikap patalis cenderung tidak aktif melakukan upaya-upaya perawatan kesehatan yang lebih mumpuni untuk terbebas dari gangguan kesehatan yang dideritanya atau yang diderita oleh anggota keluarganya. Berbeda halnya dengan

UNIVERSITAS HASANUDDIN 67 individu yang memiliki sikap aktif cenderung berupaya secara maksimal mendapatkan pengobatan dan perawatan yang manjur untuk terbebas dari gangguan kesehatan yang dideritanya.

Model konseptual penelitian digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Gambar II. 6. Model Konseptual Penelitian Respon:

Praktik Perawatan Kesehatan

Campur aduk Program

Eliminasi Malaria

Pengalaman sakit &

Perawatan

Jaringan Sosial

Motivasi Tenaga Kesehatan

Sikap hidup Individu

Bervariasi Sistem

Perawataan Kesehatan

Hasil Perawatan

UNIVERSITAS HASANUDDIN 68

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait