• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAN PARTAI POLITIK

B. SISTEM PERWAKILAN PADA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

Secara umum ada tiga prinsip perwakilan yang dikenal dunia, yaitu :

(i) Reperesentasi politik (political representation)

111

Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok…, Op.Cit., hlm. 159.

112

(ii)Representasi teritorial (territorial representation) (iii)Representasi fungsional (functional representation)

Yang pertama merupakan perwakilan melalui prosedur partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi modern. Namun pilar partai politik ini dipandang tidak sempurna jika tidak dilengkapi dengan sistem “double-check” sehingga aspirasi rakyat benar-benar dapat disalurkan dengan baik. Karena itu diciptakan pula adanya mekanisme perwakilan daerah (regional representation) atau perwakilan teritorial (teritorial representation). Bagi negara- negara besar dan kompleks, apalagi negara-negara yang berbentuk federal, sistem double- checks ini dianggap lebih ideal. Karena itu, banyak di antaranya mengadopsi keduanya

dengan membentuk struktur parlemen bikameral atau dua kamar.113

Namun pertimbangan dibentuknya dua kamar atau dua institusi parlemen itu sesuai dengan pengalaman sejarah di masing-masing negara, terkadang tidak didasarkan atas pertimbangan territorial, melainkan didasarkan atas pertimbangan fungsional. Sebagai contoh, di Inggris majelis tinggi yang disebut House of Lords dibedakan dari majelis rendah yang disebut House of Commons bukan berdasarkan representasi politik dan representasi teritorial melainkan berdasarkan prinsip representasi politik dan representasi fungsional. House of Lords mencerminkan keterwakilan fungsional, yaitu kelompok-kelompok tuan

tanah dan para bangsawan Inggris yang dulunya berkuasa mutlak, yang selanjutnya di tampung kepentingannya dalam wadah House of Lords. Sedangkan House of Commons merupakan cerminan keterwakilan rakyat secara politik melalui peranan partai politik sebagai pilar demokrasi.114 Di Amerika Serikat, yang merupakan tempat kelahiran sistem presidensial, penyelenggaraan kedaulatan rakyat melalui perwakilan dilakukan dengan sistem dua kamar yang berbeda dari Inggris. Lembaga perwakilan rakyat Amerika Serikat yang

113

Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok…, Op.Cit., hlm. 154.

114

dinamakan Kongres (Congress) terdiri atas Senat (Senate) dan Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representative). Kamar Senat diisi oleh wakil-wakil negara bagian (Teritorial Representation), masing-masing dua orang yang dipilih oleh lembaga legislatifnya.

Sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat anggotanya dipilih langsung melalui pemilihan umum (Political Representation).115

Realisasi demokrasi tidak langsung melalui lembaga perwakilan rakyat di setiap negara tidaklah sama. Hal ini tergantung kepada latar belakang sejarah dan juga kebutuhan dari negara yang bersangkutan.116 Oleh sebab itu, pembentukan lembaga perwakilan rakyat dapat dipandang sebagai upaya pelembagaan hubungan antarmanusia yang berupa hubungan antara suprastruktur politik dengan infrastruktur politik.117 Adapun perbedaan dalam hal terbentuknya lembaga perwakilan rakyat pada setiap negara menimbulkan praktik penyelenggaraan yang berbeda pula, walaupun sistem perwakilan rakyat yang digunkan adalah sama. Menurut Arend Lijphart118 kedua kamar dalam sistem bikameral cenderung untuk berbeda dalam beberapa hal. Dalam konteks yang sebenarnya, fungsi yang terpenting dari Kamar Kedua, atau umumnya dikenal dengan upper house yang dipilih berdasarkan hak suara yang terbatas adalah berperan semacam rem konservatif bagi Kamar lain yang dipiliha secara demokratis melalui peran partai politik yang biasa disebut lower house. Oleh karena itu pula Lijphart mengadakan penggolongan bikameral menjadi tiga kelompok, yaitu: Strong Bicameralism, Weak Bicameralism, dan Insignificant Bicameralism. Penggolongan ini

didasarkan pada kesimetrisan atau keasimetrisan kedua kamar yang ada di dalam sistem bikameral tersebut.119 Dalam praktiknya, kamar pertama (lower house) merupakan wakil- wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum dengan perantaraan

115

Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 16-17.

116

Bagir Manan dalam Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 15.

117

Sri Soemantri dalam Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 16.

118

Arend Lijphart dalam Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 17.

119

partai politik (political representation) sedangkan kamar lainnya (upper house) merupakan wakil-wakil rakyat yang dipilih mewakili teritorial atau suatu wilayah (territorial representation) maupun dipilih berdasarkan perwakilan fungsional (functional

representative) yang mekanisme pemilihannya tergantung kepeda ketentuan masing-masing

negara yang memakai sistem perwakilan dua kamar atau bikameral ini.

Secara umum sistem lembaga perwakilan rakyat ada dua macam, yaitu sistem lembaga perwakilan rakyat dengan satu kamar (Unicameral System) dan sistem perwakilan rakyat dengan dua kamar (Bicameral System). Tetapi tidak menutupi juga kemungkinan kehadiran sistem perwakilan rakyat yang diselenggarakan melalui lebih dari dua kamar120 (Multycameral System). Variasi penyusunan lembaga perwakilan rakyat yang demikian pada dasarnya lahir dengan tiga macam proses. Pertama, melalui perjalanan sejarah yang panjang dari kehidupan suatu negara. Kedua sebagai hasil pemikiran para pakar yang diadopsikan untuk kemudian dipraktikkan. Ketiga kombinasi dari keduanya yakni kombinasi dari latar belakang sejarah suatu negara yang bersangkutan dengan hasil pemikiran para pakar.121

Menyangkut dua macam sistem perwakilan yang dianut oleh negara-negara tidak ditemukan keseragaman di antara para pemikir. Ada yang beranggapan bahwa satu kamar lebih baik daripada dua kamar sebaliknya ada pula yang beranggapapan bahwa dua kamar lebih baik daripada satu kamar. Menurut Hans Kelsen sistem satu kamar dianggap lebih baik dan tampak berhubungan sangat erat dengan demokrasi. Karena pada prinsipnya semua norma umum dibuat oleh lembaga perwakilan yang dipilih oleh rakyat. Sedangkan sistem dua kamar dibentuk menurut prinsip yang berbeda, di mana salah satu kamar akan ditemukan

120

Jimly Asshiddiqie menyatakan bahwa sistem perwakilan Indonesia merupakan sistem yang terdiri lebih dari dua kamar. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa sistem perwakilan di Indonesia adalh sistem perwakilan tiga kamar (trikameral system).

121

kurang memiliki karakter demokratis. Juga sistem dua kamar ini merupakan ciri khas dari negara yang berbentuk federasi dan monarki konstitusional.122

Untuk hal ini Abbe Sieyes mengemukakan suatu pendapat yang palin extreme, sebagai berikut: “if a Second Chamber is in agreement with the first, it is superfluous, and if is not in agreement with it, it is pernicious”.123 Menurutnya, dalam sistem dua kamar akan terjadi hal yan berlebihan jika salah satu kamar hanya menyetujui kehendak kamar lainnya. Tetapi jika tidak menyetujui, hal ini akan menjadi rintangan bagi kamar yang lain sehingga akan merugikan bahkan merusak.

Melihat pada proses penyelenggaraan memang dalam sistem dua kamar membutuhkan waktu relative lama, perubahan masyarakat saat ini yang sangat cepat dan begitu dinamis dalam kondisi kompleks haruslah diimbangi oleh produk hukum yang cepat dan dinamis pula. Oleh sebab itu semacam keraguan bahwa sistem dua kamar tidak mampu memenuhi ketentuan seperti itu. Namun demikian juga harus kita sadari keberadaan sistem bikameral sekurang-kurangnya akan dapat mencegah terjadinya kesewenang-wenangan yang mungkin dilakukan oleh lembaga perwakilan rakyat yang hanya terdiri hanya satu kamar saja bersifat tunggal. Selain itu sistem dua kamar akan juga dapat mencegah keluarnya produk undang- undang yang serampangan atau dibuat secara tergesa-gesa sehingga ketentuan undang- undang tersebut tidak dapat memenuhi tujuan yang sebenarnya.

Lantas bagaimanakah dengan Indonesia khususnya Dewan Perwakilan Rakyat, dalam kaitannya dengan ini Bagir Manan124 mengungkapkan bahwa bagi Indonesia, ada beberapa pertimbangan menuju sistem dua kamar, yaitu:

122

Hans Kelsen, Teori Umum Tentang Hukum dan Negara, Nusamedia, Bandung, 2011, hlm. 420.

123

Abbe Sieyes dalam Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 79.

124

1. Seperti diuraikan Montesquieu, sistem dua kamar merupakan mekanisme “cheks and balances” antara kamar-kamar dalam suatu lembaga perwakilan.

2. Penyederhanaan sistem lembaga perwakilan. Hanya ada satu lembaga perwakilan tingkat pusat yang terdiri dari dua unsur yaitu unsur yang mewakili seluruh rakyat dan unsur yang mewakili daerah. Tidak diperlukan utusan golongan. Kepentingan diwakili dan disalurkan melalui unsur yang langsung mewakili seluruh rakyat.

3. Wakil daerah menjadi bagian dari pelaksanaan fungsi lembaga perwakilan (membentuk undang-undang, mengawasi jalannya pemerintahan, menetapkan APBN, dan lain-lain. Dengan demikian segala kepentingan daerah dapat terintegrasi dan dapat dilaksanakan sehari-hari dalam kegiatan lembaga perwakilan. Hal ini merupakan salah satu faktor untuk menguatkan persatuan, menghindari disintegrasi.

4. Sistem dua kamar akan lebih produktif. Segala tugas dan wewenang dapat dilakukan setiap unsur. Tidak perlu bergantung atau menunggu pada suatu badan seperti DPR.

Apabila kita melihat praktik sistem perwakilan yang terjadi di Indonesia yang dihubungkan dengan sistem presidensial maka akan kita temukan tiga lembaga yang menyelenggarakan cabang kekuasaan legislatif secara luas, yaitu MPR, DPR, dan DPD. MPR meskipun tidak terlibat dalam pembentukan undang-undang namun apabila mengambil sudut pandang fungsi legislatif dalam arti luas, maka wewenang MPR dalam melakukan perubahan undang-undang dasar dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi legislasi. Khusus kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diklasifikasikan sebagai suatu perwakilan politik (political representation). Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan konsep perwakilan yang

bersifat teritorial (territorial representation). Sedangkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tmerupakan konsep perwakilan yang menggabungkan kedua konsep perwakilan

teritorial dan perwakilan politik. Oleh Jimly Asshiddiqie,125 MPR dikategorikan sebagai Kamar Ketiga dalam sistem perwakilan di Indonesia karena memiliki kewenangan dan memiliki susunan serta kedudukan sendiri berdasarkan undang-undang.126

1. Hubungan Wakil Rakyat dengan Para Pemilihnya

Dewan Perwakilan Rakyat secara nomenclature merupakan perwakilan rakyat sehingga dapat disebut anggotanya sebagai wakil rakyat. Secara teoritis, Dewan Perwakilan Rakyat merupakan lembaga perwakilan rakyat yang dibentuk berdasarkan perlembagaan kedaulatan rakyat pada suatu lembaga akibat pelaksanaan demokrasi tidak langsung. Pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang melalui pemilihan umum dan melalui peran partai politik sebagai pilar demokrasi menempatkan lembaga ini sebagai lembaga perwakilan dengan perwakilan politik (political representation). Setelah terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan menjadi wakil rakyat perlu kita ketahui bagaimanakah hubungan selanjutnya antara wakil rakyat tersebut dengan para pemilihnya.

Untuk membuktikan hubungan yang sesungguhya dari mekanisme perwakilan, tidaklah cukup bahwa wakil diangkat atau dipilih oleh yang mewakili saja.127 Wakil perlu untuk diwajibkan secara hukum untuk melaksanakan kehendak dari orang-orang yang diwakilinya, dan pemenuhan kewajiban ini harus dijamin oleh hukum. Jaminan khusus yang harus ditetapkan oleh hukum adalah kekuasaan dari orang-orang yang diwakili untuk menarik kembali wakil tersebut apabila kegiatan wakil tidak sesuai dengan kehendak atau keinginan

125

Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok…, Op.Cit., hlm. 159.

126

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.

127

yang diwakilinya. Pendapat yang menyatakan bahwa anggota lembaga perwakilan rakyat bukan wakil dari para pemilihnya melainkan wakil dari seluruh rakyat atau seperti dikemukakan oleh sejumlah pakar, dan oleh sebab itu ia tidak dapat terikat pada instruksi- instruksi dari para pemilihnya dan tidak dapat ditarik kembali oleh mereka, adalah suatu fiksi politik. Kebebasan hukum yang dimiliki orang yang dipilih dari pemilihnya tidak sesuai dengan perwakilan hukum. Pernyataan bahwa rakyat diwakili oleh parlemen berarti bahwa, sementara rakyat tidak dapat melaksanakan kekuasaan legislatif secara sendiri-sendiri secara langsung dan segera maka dibutuhkan keberadaan wakil-wakil rakyat.128 Tetapi jika tidak ada jaminan hukum bahwa kehendak dari para pemilih dilaksanakan oleh wakil yang dipilihnya, jika yang dipilih secara hukum bebas dari para pemilih, maka akan berakibat tidak adanya hubungan hukum dalam perwakilan tersebut. Fakta bahwa suatu organ yang dipilih tidak mempunyai peluang atau hanya memiliki peluang sedikit untuk dipilih kembali jika aktivitasnya tidak dianggap memuaskan oleh para pemilihnya, memang benar merupakan tanggung jawab politik, tapi tanggung jawab politik seperti ini berbeda dari tanggung jawab hukum dan tidak membenarkan anggapan bahwa organ yang dipilih adalah seorang wakil hukum dari para pemilihnya, dan lebih tidak membenarkan asumsi bahwa seorang organ yang dipilih hanya oleh sebagian rakyat adalah wakil hukum dari keseluruhan negara.

Hans Kelsen memberikan suatu jawaban atas pertanyaan de lege ferenda, yakni anggota yang terpilih dari suat badan legislatif secara hukum harus terikat untuk melaksanakan kehendak para pemilihnya bergantung pendapat seberapa jauh demokrasi itu ingin dilaksanakan dengan konsekuen. Jika pembuatan undang-undang yang dijalankan oleh para wakil rakyat itu bersifat demokratis, namun karena alasan yang bersifat teknis maka kekuasaan pembuatan undang-undang itu diserahkan kepada suatu badan perwakilan rakyat yang dipilih oleh rakyat, maka adalah demokrasi yang menjamin sejauh mungkin bahwa

128

aktivitas dari setiap anggota badan perwakilan rakyat itu harus mencerminkan kehendak para pemilihnya.129

Menurut teori Mandat, sesorang dapat duduk di lembaga perwakilan rakyat adalah karena mendapat mandate dari rakyat yang disebut mandataris. Teori ini lahir di Perancis yang dalam perjalanannya mengalami perkembangan yang membedakan hubungan antara si wakil dengan yang diwakili130, sebagai berikut:

a. Mandat Imperatif. Wakil bertindak di lembaga perwakilan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh yang diwakilinya. Wakil tidak boleh melakukan hal-hal di luar instruksi. Apabila ada hal baru yang berada di luar instruksi, maka wakil baru boleh bertindak setelah mendapat instruksi baru dari yang diwakilinya.

b. Mandat Bebas. Wakil dapat bertindak tanpa tergantung dari instruksi yang diwakilinya. Dalamajaran ini si wakil merupakan orang-orang yang terpercaya terpilih dan memiliki kesadaran hukum masyarakat yang diwakilinya. Sehingga si wakil dapat bertindak atas nama mereka yang diwakilinya. Sehingga si wakil dapat bertindak atas nama mereka yang diwakilinya atau atas nama rakyat.

c. Mandat Representatif. Wakil dianggap bergabung dalam suatu lembaga perwakilan. Rakyat memilih dan memberikan mandate pada lembaga perwakilan, sehingga wakil sebagai individu tidak ada hubungan dengan pemilihnya apalagi pertanggungjawabannya. Badan perwakilan inilah yang bertanggung jawab kepada rakyat.

Dalam perkembangannya muncul suatu teori yang memisahkan wakil rakyat dengan para pemilihnya. Teori ini merupakan teori organ, yaitu teori yang menerangkan bahwa

129

Hans Kelsen, TeoriUmum…, Op.Cit., hlm. 412.

130

Bintan R. Saragih, I Gde Pantja Astawa, dan Abu Daud Busroh dalam Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 12-13.

negara merupakan suatu organisme yang mempunyai alat-alat perlengakapannya seperti eksekutif, parlemen dan mempunyai rakyat yang kesemuanya memiliki fungsi masing- masing dan saling tergantung satu sama lain. Stelah rakyat memilih lembaga perwakilan mereka tidak perlu lagi mencampuri lembaga tersebut dan lembaga ini bebas melakukan kegiatan pelaksanaan kewenangannya sesuai dengan wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.131

Gilbert Abcarian memberikan empat macam tipe yang menyangkut hubungan antara si wakil dengan yang diwakilinya132:

a. Si wakil bertindak sebagai “wali” (trustee). Diartikan bahwa si wakil bebas bertindak atau mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri tanpa perlu berkoordinasi atau berkonsultasi dengan yang diwakilinya.

b. Si wakil bertindak sebagai “utusan” (delegate). Dalam hal ini si wakil sebagai utusan atau duta dari yang di wakilinya. Si wakil dalam melakukan tugasnya selalu mengikuti instruksi dan petunjuk dari yang diwakilinya.

c. Si wakil bertindak sebagai “politio”. Menurut tipe ini si wakil kadang-kdang bertindak sebagai wali (trustee) tapi terkdang juga bertindak sebagai utusan (delegate). Tindakannya tergantung pada issue (materi) yang dibahas.

d. Si wakil bertindak sebagai “partisan”. Dalam tipe ini si wakil bertindak sesuai dengan keinginan atau program partai politik si wakil. Setelah si wakil dipilih oleh pemilihnya (yang diwakilinya), lepaslah hubungan dengan pemilih dan mulailah hubungannya dengan partai politik yang mencalonkannya dalam pemilihan.

131

Bintan R. Saragih dalam Eddy Purnama, Negara Kedaulatan Rakyat…, Op.Cit., hlm. 13.

132

Dalam kaitannya dengan cara pembentukan lembaga perwakilan ini Maurice Duverger membaginya ke dalam tiga kategori, yaitu: melalui tata cara yang otokratis, melalui tata cara yang demokratis, dan melalui tata cara campuran.133 Terhadap ketiga cara diatas selanjutnya Duverger menentukan bahwa cara yang otokratis meliputi cara perebutan kekuasaan, penunjukan berdasarkan keturunan dan secara kooptasi. Cara yang demokratis, menurutnya hanya terjadi lewat pemilihan umum. Sedangkan cara campuran dapat ditempuh melalui pengangkatan. Karena pengangkatan ini sebenarnya, pada bagian kecil mengandung corak yang demokratis.

Di dalam negara demokrasi modern, hal yang menjadi substansial adalah bahwa lembaga perwakilan rakyat dilembagakan berdarkan paham kedaulatan rakyat. Rakyat tetap sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, sehingga karena kedaulatannya itulah terbentuk lembaga perwakilan rakyat karena alasan yang teknis, perkembangan negara, kompleksitas kehidupan manusia, dan lainnya membawa kepada suatu keadaan yang tidak memungkinkan bagi rakyat sendiri untuk sendiri-sendiri menyalurkan aspirasinya. Maka muncullah konsep demokrasi tidak langsung dengan melembagakan kedaulatan rakyat melalui lembaga perwakilan rakyat yang nantinya diisi oleh wakil-wakil rakyat yang dipilih sendiri oleh rakyat melalui pemilihan umum. Mereka ini membawa aspirasi rakyat yang bersifat formal, dan tentunya melakukan pengawasan terhadap lembaga eksekutif. Di sini jelas terlihat bahwa salah satu prinsip yang paling diutamakan dalam negara demokrasi modern adalah prinsip bahwa kehendak rakyat merupakan unsur penentu.

2. Pengaruh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor Putusan Nomor 22-24/PUU- VI/2008 Tentang Pengujian Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan

133

Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terhadap Hubungan Wakil Rakyat dengan Pemilih.

Pasal 214 huruf e UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu yang menyatakan bahwa dalam hal tidak ada calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari BPP, maka calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut,134 kemudian ketentuan pada undang-undang135 yang sama yang memberikan kebebasan dalam hal penentuan calon anggota legislatif dan pemberian nomor urut bagi para calon tersebut memberikan gambaran betapa pentingnya peran partai politik dalam penentuan keterpilihan seorang calon anggota lembaga perwakilan rakyat. Hal ini berimplikasi pada renggangnya hubungan dengan calon wakil rakyat yang terpilih dengan para pemilihnya.

Pembatalan ketentuan Pasal 214 UU No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu oleh Mahkamah Konstitusi berdasarkan alasan penegakan prinsip kedaulatan rakyat yang selengkapnya adalah:

“Ketentuan Pasal 214 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e UU 10/2008 yang menentukan bahwa calon terpilih adalah calon yang mendapat di atas 30% (tiga puluh per seratus) dari BPP, atau menempati nomor urut lebih kecil, jika tidak ada yang memperoleh 30% (tiga puluh per seratus) dari BPP, atau yang menempati nomor urut lebih kecil jika yang memperoleh 30% (tiga puluh per seratus) dari BPP lebih dari jumlah kursi proporsional yang diperoleh suatu partai politik peserta Pemilu adalah inkonstitusional. Inkonstitusional karena bertentangan dengan makna substantif kedaulatan rakyat sebagaimana telah diuraikan di atas dan dikualifisir bertentangan dengan prinsip keadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 28D ayat (1) UUD 1945. Hal tersebut merupakan pelanggaran atas kedaulatan rakyat jika kehendak rakyat yang tergambar dari pilihan mereka tidak diindahkan dalam penetapan anggota legislatif akan benar-benar melanggar kedaulatan rakyat dan keadilan, jika ada dua orang calon yang mendapatkan suara yang jauh berbeda secara ekstrem terpaksa calon yang mendapat

134

Pasal 214 huruf e UU No.10 Tahun 2008 Tentang Pemilu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 51).

135

Pasal 52 dan Pasal 55 UU No. 10 Tahun 2008 Tentang Pemilu (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 51).

suara banyak dikalahkan oleh calon yang mendapat suara kecil, karena yang mendapat suara kecil nomor urutnya lebih kecil”136

Manurut Mahkamah Konstitusi bahwa UUD 1945137 mengamanatkan agar penyelenggaraan Pemilu lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas prinsip demokrasi, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, harus menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan Pemilu, untuk dikembangkan dan diimplementasikan oleh undang-undang mengenai Pemilu secara singkat dan sederhana, yang dipergunakan untuk memberi landasan bagi seluruh tahapan penyelenggaraan Pemilu agar dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, rakyat sebagai subjek utama dalam prinsip kedaulatan rakyat, tidak hanya ditempatkan sebagai objek oleh peserta Pemilu dalam mencapai kemenangan semata. Mahkamah Konstitusi menambahkan bahwa Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota merupakan pemilu yang dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka, dengan demikian adanya keinginan rakyat memilih wakil-wakilnya yang diajukan oleh partai politik dalam Pemilu, sesuai dengan kehendak dan keinginannya dapat terwujud, harapan agar wakil yang terpilih tersebut juga tidak hanya mementingkan kepentingan partai politik, tetapi mampu membawa aspirasi rakyat pemilih. Dengan sistem proporsional terbuka, rakyat secara bebas memilih dan menentukan calon anggota legislatif yang dipilih, maka akan lebih sederhana dan mudah ditentukan siapa yang berhak terpilih, yaitu calon yang memperoleh suara atau dukungan rakyat paling banyak.138

Pandangan bahwa kedaulatan rakyatlah yang menentukan calon-calon wakil rakyat yang akan duduk di lembaga kedaulatan rakyat menjadikan hubungan rakyat atau pemilih dengan wakilnya menjadi semakin erat karena wakil rakyat menyadari bahwa keberadaanya

136

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22-24/PUU-VI/2008 tentang Pengujian Undang-Undang (PUU) UU

Dokumen terkait