• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Landasan Teori

1. Sistem Religi dan Teori Liminalitas

Dua aspek penting dalam permasalahan penelitian ini adalah musik dan ritual religi, sehingga konsep dan pemikiran serta hubungan keduanya menjadi faktor penting untuk memahami posisi dan hubungan unsur tersebut. Mediasi musik dalam proses resepsi dilihat sebagai hubungan dua unsur kebudayaan yaitu seni dan religi.

Sistem religi atau agama merupakan suatu fenomena yang kompleks karena terdiri dari relasi banyak unsur yang terintegrasi. Konsep Koentjaraningrat tentang komponen dan sistem religi merupakan pemikiran yang relevan untuk memahami kedudukan dan fungsi seni secara umum dalam peristiwa keagamaan. Konsep sistem religi menurut Koentjaraningrat terdiri atas: sistem keyakinan, sistem ritual, sarana dan peralatan keagamaan, umat

atau pelaku keagamaan, dan emosi keagamaan. Hubungan antar unsur religi dapat dilihat seperti bagan berikut ini :27

Gambar 1. Bagan Lima Komponen Sistem Religi oleh Koentjaraningrat

Unsur sentral dalam sistem religi adalah emosi keagamaan, karena unsur inilah yang mendorong dan menggerakkan umat atau pelaku agama melakukan perilaku keagamaan, juga menjadi dasar atau pengikat penganut agama untuk memelihara keyakinan dan melaksanakan ritual dan upacara keagamaan. Sistem keyakinan berwujud pikiran dan gagasan atau konsepsi tentang hakikat dan sifat Tuhan, roh, manusia, mahluk, kosmologi, roh dan pewahyuan mencakup nilai-nilai, doktrin atau ajaran agama. Ritual dan upacara agama merupakan wujud ekspresi nyata dari emosi keagamaan dan sistem keyakinan

27Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi. (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986),80

melalui tindakan berkenaan dengan tempat, waktu, aturan dan tata cara yang harus diterapkan dalam pelaksanaanya. Sarana dan peralatan adalah perlengkapan dan media yang digunakan untuk melaksakan ritual. Umat beragama merupakan kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan dan melaksanakan ritual.

Berdasarkan konsep komponen religi yang tergambar dalam bagan tersebut menjadi perangkat pemikiran untuk memahami kedudukan dan fungsi musik dalam suatu sistem religi berdasarkan hubungan antar komponen. Keterlibatan, penciptaan, penggunaan unsur seni khususnya musik sebagai sarana ritual dapat dijelaskan dengan memahami keterkaitan dengan komponen religi yang lain dipengaruhi atau didorong oleh ‘emosi keagamaan’ sebagai komponen utama gejala religi.

Konsep penting lain sebagai perangkat pemikiran yang berhubungan erat dengan permasalahan penelitian tentang musik dan ritual/ibadah adalah konsep tentang ritual itu sendiri. Meskipun komponen ritual religi telah disinggung sebagai salah satu bagian erat dalam sistem religi yang berwujud aktivitas dan tindakan manusia dalam melaksanakan sistem keyakinannya dengan didasarkan pada bentuk, isi, susunan atau pola dan aturan tertentu, namun demikian pemahaman lebih lanjut hakikat dan konsep ritual akan lebih memberikan pemahaman secara

mendalam dan menyeluruh mengenai unsur, fungsi, proses dan makna ritual.

Setelah melakukan eksplorasi dari berbagai literatur yang terkait dengan konsep ritual maka dapat diabstraksikan bahwa ritual atau ritualisasi dapat dipahami dalam empat perspektif seperti diungkapkan oleh Richard Schechner meliputi: 1) Struktur, berkenaan dengan elemen yang membentuk ritual, hal ini nampak dari unsur dan aktivitas ritual yang dapat diamati antara lain mengenai bagaimana mereka menggunakan ruang, siapa saja pelaku yang terlibat dalam ritual, dan bagaimana mereka melakukan aktivitas ritual tersebut melalui pola tindakan tertentu; 2) Fungsi, apakah ritual berlaku bagi atau berhubungan dengan kelompok, kebudayaan, atau individual; 3) Proses, aspek yang mendasari dan mengendalikan dinamika dalam ritual; dan bagaimana ritual dilakukan serta tentang perubahan yang terjadi dalam ritual; 4) Pengalaman – bagaimanakah merasa atau hal-hal apakah yang dapat dirasakan dan dialami dalam ritual.28

Salah satu teori atau konsep ritual yang relevan dan signifikan untuk mendekati permasalahan penelitian ini adalah konsep liminal yang dikemukakan oleh Victor Turner. Dalam antropologi, liminalitas (asal kata bahasa Latin ‘Limen’, yang memiliki arti "ambang batas") adalah kualitas ambiguitas atau

28 Richard Schecner, Performance Studies: An Introduction.(New York: Routledge.2002), 49

disorientasi yang terjadi di suatu tahapan proses ritual. Selama tahap liminal ritual ini, subjek berada dalam "posisi ambang" ‘antara’ cara mereka sebelumnya penataan identitas waktu, komunitas, dan cara baru melalui penetapan proses ritual.

Konsep liminalitas pertama kali dikembangkan pada awal abad 20 oleh antropolog Arnold van Gennep dan kemudian digunakan dan dipopulerkan oleh Victor Turner. Baru-baru ini, penggunaan istilah itu telah diperluas untuk menggambarkan perubahan politik dan budaya serta ritual. Victor Turner, menyampaikan gagasan sebagai berikut:

Liminality – liminal entities are neither here nor there; they are betwixt and between the position assigned and arrayed by law, custom, convention, and ceremonial. As such, their ambigous and intermediate attributes are expressed by a rich variety of symbols in the many societies that ritualize social and cultural transitions. Thus, liminaly is frequently likened to death, to being in the womb, to invisibility, to darkness, to bisexaulity, to the wilderness, and to an eclipse of the sun or moon. Liminal entities, such as neophytes in initiation or puberty rites, may be represented as possessing nothing. The behavior is normally is passive or humble; they must obey their instructors implicity, and accept arbitrary punishment without complain. It is as thought they are being reduced or grown down to uniform condition to be fashioned anew and endowed with additional powers to enable them to cope with their new stations in life. Among themselves, neophytes tend to develop an intense comradeship and egalitarianism29

Selanjutnya Victor Turner dalam Processual Symbolic

Analysis berpandangan bahwa kajian tentang proses ritual

terdapat empat dimensi yaitu:1) Process analysis : yaitu dimensi

29 Victor Turner, The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. (Chicago: Aldine PublishingCompany,1969),95

proses spirito-psycho-social yang terjadi, aspek metodikal dan tahapan-tahapannya (fase-fase transformasi). 2) Symbolic theory: yaitu memahami makna-makna simbolis yang direpresentasikan. 3) Structure dan anti-structure : bahwa ritual memiliki kaitan yang erat dalam formasi sebuah struktur kemasyarakatan maupun deformasi (pengubahan) sebuah struktur yang mapan. Sebuah ritual dipelajari dalam kaitannya dengan kerangka struktur kemasyarakatan maupun fungsinya sebagai penjaga social order. 4) Liminal: Liminal state adalah sebuah kondisi yang terdapat dalam suatu peralihan/tranformasi, dimana terdapat disorientasi, ambiguitas, keterbukaan, dan ketidakpastian (indeterminancy). Dalam ‘liminal state’ inilah maka dimungkinkan terjadinya perubahan-perubahan, misalnya: status sosial, personality value, atau identitas pribadi. Jadi dengan kata lain, liminalias adalah sutu periode transisi di mana pikiran normal, self-understanding dan tingkah laku dalam kondisi relaks, terbuka dan receptive untuk menerima perubahan.30

Pandangan tersebut tampak menunjukkan bahwa gagasan utama Victor Turner untuk memahami ekspresi agama berupa konsep mengenai proses yang terdapat dalam ritual sebagai suatu

30

Victor Turner, Source Process, System, and Symbol: A New Anthropological SynthesisAuthor(s) dalam Discoveries and Interpretations: Studies in ContemporaryScholarship, Volume I (American Academy of Arts & Sciences: The MIT Press, 1977), 61-80

sistem yang bersifat formatif dan reflektif. Konsepnya mengenai liminalitas sebagai suatu ‘jembatan penghubung’; yaitu sesuatu yang tidak berstruktur, bersifat transisi, dan merupakan suatu tingkatan atau tahapan tanpa klasifikasi. Tahap liminalitas dalam ritual mendasari suatu proses transformasi yang secara bersamaan mengabsahkan kembali kategori-kategori lama yang bersifat struktural sekaligus juga berfungsi sebagai “pusat kekuatan pendorong berbagai kegiatan” untuk penciptaan bentuk-bentuk baru dari konsep-konsep yang bersifat struktural.

Ide penting dari liminalitas adalah entitas liminal antara ‘berada di sini atau di sana’ ; posisi ‘antara-ambang’. ‘Liminalitas’ tidak hanya berfungsi untuk mengidentifikasi pentingnya periode ‘di-antara’, tetapi juga untuk memahami reaksi manusia ketika berada dalam pengalaman tersebut. Liminalitas memiliki dimensi spasial dan temporal, dan dapat diterapkan untuk berbagai subjek. Dimensi temporal liminalitas dapat berhubungan dengan

moment (peristiwa sesaat), periode (minggu, bulan, atau mungkin

tahun), dan zaman (dekade, generasi, bahkan mungkin berabad-abad).31

Gagasan liminalitas oleh Victor Turner ini menjadi konsep penting untuk memahami permasalahan konteks ritual atau ibadah dalam penelitian ini. Secara fenomenologis, sekelompok

31Bjørn Thomassen, The Uses and Meanings of Liminality (International Political Anthropology,2009) ,51

orang dikatakan “sedang beribadah” ketika mereka berkumpul pada waktu dan tempat tertentu, lalu melakukan ritual religius menurut tata cara yang telah disepakati bersama dengan tujuan ‘bersekutu’ (bertemu, berdialog, menyatukan diri, meyembah) dengan Tuhan.

Ibadah gereja merupakan suatu aktifitas keagamaan yang disusun sedemikian rupa sehingga tampak kesakralannya. Kesakralan itu disusun dan diatur melalui suatu tata liturgi, sehingga umat yang beribadah masuk dalam situasi tertentu, beralih dari dunianya, dari aktifitas kesehariannya, dan merasakan ‘kehadiran Tuhan’ (God Presence) di dalam ibadah itu. Ketika digunakan dalam lingkungan ritus agama, ibadah dipahami sebagai bentuk dan tindakan simbolik jemaat untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Aspek ekspresi umat melalui tindakan liturgis (berdoa, bermusik, menyanyi, berprosesi) menjadi hal penting sebagai cara jemaat/umat merespon ‘kehadiran Tuhan’. Dalam proses ini, bentuk relasi sosial diubah menjadi suatu relasi ritual yang dianggap ‘mistis’, ’suci’, oleh karena itu aspek pelaksanan atau penyelenggaraannya dipahami sebagai ‘pelayanan’ ritual. Aktivitas ritual tersebut dilakukan berulang-ulang secara periodik dalam waktu tertentu sehingga menjadi tradisi yang distrukturkan dari kelompok tersebut. Ibadah dalam

konteks ini dapat dipahami sebagai komunitas atau jemaat gereja memasuki ruang liminal.

Dokumen terkait