• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN DAERAH PENELITIAN:

2.3 Sistem Religi

kepercayaan yang dianut oleh orang Bali pada umumnya. oleh sebab itu, dasar sistem kepercayaan yang melandasi kehidupan masyarakat Banjar Banda bersumber pada ajaran agama Hindu. Dasar pokok kepercayaan ini lebih dikenal dengan ajaran Panca Sradha/lima keyakinan dalam agama Hindu, yaitu (1) percaya dengan adanya Tuhan Yang Mahaesa (Ida Sang

Hyang Widhi Wasa) sebagai pencipta kehidupan di dunia ini, (2) percaya

dengan adanya atma/roh­roh yang menjiwai atau memberikan kehidupan bagi makhluk hidup di dunia ini, (3) percaya dengan adanya hukum karma

phala, yaitu setiap perbuatan yang dilakukan oleh makhluk hidup akan

mendapatkan hasil yang setimpal sesuai dengan perbuatannya, (4) percaya dengan adanya reinkarnasi, yaitu setiap makhluk hidup yang meninggal akan terlahir kembali untuk menebus dosa­dosa semasa hidupnya, dan (5) percaya dengan adanya moksha, yaitu kebebasan yang abadi (terbebas dari kelahiran berulang­ulang). Ajaran Hindu yang berkembang di Bali maupun di Banjar Banda adalah ajaran Ciwa-Sidhanta, yaitu ajaran yang menekan­ kan pada pemujaan lingga6 dengan tokohnya Tri Murti, yaitu Dewa Brahma sebagai dewa pencipta alam beserta isinya, Dewa Wisnu sebagai dewa pe-melihara alam beserta isinya, dan Dewa Siwa sebagai dewa pelebur.

Selanjutnya, ada konsepsi Tri Purusa, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa. Konsepsi Tri Purusa ini merupakan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai penguasa alam atas, alam tengah, dan alam bawah. Hal tersebut dilukiskan sebagai Parama-Siwa (penguasa alam atas atau alam para dewa), Sada-Siwa (penguasa alam tengah atau alam tempat tinggal manusia) ,dan Siwa (penguasa alam bawah atau alam bagi makhluk­ makhluk alus yang tidak terlihat). Kemudian, Tuhan sebagai penguasa arah laut (kelod/selatan), tengah (madya), dan arah gunung (kaja/utara) disebut Tri Murti, yaitu Brahma (arah laut/kelod/selatan), Siwa (tengah/ madya), dan Wisnu (arah gunung/kaja/utara). Ajaran Siwa­Sidhanta di Bali yang ada sampai saat ini dibawa dan dikembangkan oleh Mpu Kuturan dan Dang Hyang Nirarta. Mpu Kuturan membawa dan mengembangkan konsepsi pemujaan pada Tri Murti dengan mendirikan pura Kahyangan

Tiga (Pura Teritorial), yaitu Pura Puseh (pemujaan kepada Dewa Wisnu), Bale-Agung/Pura Desa (pemujaan kepada Dewa Brahma), dan Pura Dalem (pemujaan kepada Dewa Siwa). Sementara Dang Hyang Nirarta

me ngembangkan konsepsi Tri-Purusa, bangunan Padmasana, ajaran

Panca-Yadnya, dan sebagainya.

Secara kultural kehidupan masyarakat Bali pada umumnya, dan Banjar Banda pada khususnya, bersifat religius dengan seringnya melakukan

yadnya, yaitu korban suci yang bersifat tulus iklas. Yadnya Dalam ajaran

Agama Hindu ada lima jenis korban yang harus dilaksanakan oleh manusia, yang disebut dengan Panca Yadnya, yaitu (1) Dewa Yadnya, (2) Rsi Yadnya, (3) Manusia Yadnya, (4) Pitra Yadnya, dan (5) Bhuta Yadnya.

Panca Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada Ida

Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) berupa hasil alam. Umat memujaan

para dewa karena para dewalah yang menciptakan, mempengaruhi, dan mengatur gerak kehidupan di dunia ini. Sementara Rsi Yadnya, yaitu korban suci yang dipersembahkan ke hadapan para rsi/orang suci yang telah memberi tuntunan hidup berupa pengetahuan untuk menuju kebahagiaan lahir batin di dunia dan akhirat.

Manusia Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan ke hadapan

manusia, dari sejak dalam kandungan sampai akhir hidupnya. Dalam fase­ fase perkembangan kehidupan manusia ada berbagai upacara penyucian diri yang harus dilaksanakan agar manusia selamat dari bahaya yang mengancam kehidupannya. Tingkatan upacara ini secara keseluruhan dapat dibedakan menjadi beberapa prosesi, yaitu bayi dalam kandungan (upacara pagedong-gedongan atau 7 bulan kandungan), dilanjutkan de­ ngan masa bayi meliputi upacara penanaman ari­ari, upacara

kepus-pung-sed (tali plasenta bayi putus), upacara bajangin/ngelepas hawon (bayi

berusia 12 hari), upacara tutug kambuhan (bayi berusia 42 hari), upacara

nelu-bulanin/nyambutin (bayi berusia 105 hari), dan upacara otonan (bayi

berusia 210 hari). Setelah dewasa akan dilaksanakan upacara raja sewala (menek kelih/meningkat dewasa), upacara mepandes (potong gigi), dan upacara mesakapan (pernikahan).

Pitra Yadnya yaitu korban suci yang ditujukan kepada roh leluhur yang

telah meninggal. Upacara penyucian atau meralina serta penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dilakukan dengan prosesi upacara

ngaben, ngeroras, dan meligia untuk menyatukan atma dengan parama-atma (sumber kehidupan dalam Agama Hindu).

Bhuta Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para bhuta-kala (waktu atau energi) yang sering mengganggu kehidupan ma­

nusia. Oleh karena bhuta-kala meliputi unsur alam semesta dengan ke­ kuatan yang dimilikinya, maka tujuan upacara ini untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan bhuta-kala7 dan memanfaatkan daya gunanya.

Sistem religi yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak dalam masyarakat Banda dipaparkan oleh Pak GY sebagai berikut.

“Dalam kehidupan, manusia memiliki fase-fase atau mengalami proses kehidupan yang selalu akan mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Manusia akan memperingati hal tersebut dengan menjalin hubungan yang baik dengan alam serta Sang Pencipta dengan menghaturkan banten8. Dalam maknanya adalah sebagai pemberi tahu atau kesadaran atas diri manusia mengalami fase atau tingkatan perjalanan kehidupan.”

Berdasarkan informasi dari Pak GY, masyarakat Banda memiliki ke­ sadaran akan alam serta fase­fase dalam kehidupan yang diwujudkan dengan upacara. Upacara ini disebut dengan upacara manusia yadnya (upacara yang diperuntukkan kepada manusia) yang merupakan fase­fase kehidupan manusia dari dalam kandungan hingga mati. Beberapa upacara dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Magedong-gedongan (garbhadhana samskara)

Upacara ini dilakukan ketika kandungan berusia 7 bulan. Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan agar pada waktu persalinan, bayi dan ibu sehat tanpa kekurangan apa pun. Dengan mengadakan upacara ini diharapkan bayi terlahir menjadi anak yang sehat dan cerdas, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi banyak orang.

a. Sarana/upakara

1) Pamarisuda, terdiri atas tataban dan prasyascita.

2) Tataban, terdiri atas sesayut, pengambean, peras penyeneng, dan sesayut pamahayu tuwuh.

3) Di depan sanggah9: benang hitam satu gulung (kedua ujung dikaitkan pada dua dahan dadap), bambu, daun talas, ikan air tawar, ceraken (tempat rempah­rempah).

b. Waktu pelaksanaan

Upacara garbhadhana dilaksanakan pada saat kandungan berusia kurang lebih 210 hari (7 bulan) dengan memilih hari yang dianggap baik.

8 Sesajen yang dilengkapai dengan hasil bumi. 9 Tempat suci yang bersifat tidak permanen.

Ini dikarenakan, menurut kepercayaan masyarakat Hindu, segala kegiatan yang dilaksanakan, baik upacara untuk manusia maupun upacara lainnya harus menggunakan hari baik. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan sesuai dengan harapan.

c. Tempat upacara

Upacara garbhadhana dilaksanakan di dalam rumah, pekarangan, halaman rumah, di tempat permandian darurat yang khusus dibuat untuk itu, dan dilanjutkan di depan sanggah pemujaan (sanggah kemulan). d. Pelaksana upacara

Upacara ini dipimpin oleh pinandita/pemangku (pendeta dalam agama Hindu) atau salah seorang yang tertua dalam keluarga tersebut (pinisepuh).

e. Tata cara upacara

1) Ibu yang sedang hamil terlebih dahulu dimandikan (siraman), di-parisuda, lalu dilanjutkan dengan mataban dan prayascita. 2) Ibu menjunjung tempat rempah­rempah, sedangkan tangan

kanan menjinjing daun talas berisi air dan ikan yang masih hidup.

3) Tangan kiri suami memegang benang, sementara tangan ka­ nannya memegang bambu runcing.

4) Suami sambil menggeser benang langsung menusuk daun talas yang dijinjing istri sampai air dan ikannya tumpah.

5) Selanjutnya, mereka melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan.

6) Ditutup dengan nglukat dan terakhir natab. 2. Upacara kelahiran (jatakarma samskara)

Upacara ini ditujukan bagi bayi yang baru lahir. Upacara ini me­ ngandung makna sebagai ucapan angayubagia/rasa syukur atas kehadiran bayi di dunia.

a. Sarana/upakara

1) Dapetan, terdiri atas nasi berbentuk tumpeng dengan lauk pauk nya (rerasmen) dan buah­buahan.

3) Untuk menanam ari­ari (mendem ari-ari) diperlukan sebuah kendil (periuk kecil) dengan tutupnya atau sebutir buah kelapa yang airnya telah dibuang.

b. Waktu pelaksanaan

Upacara jatakarma dilaksanakan bagi bayi yang baru lahir dan telah mendapat perawatan pertama.

c. Tempat upacara

Upacara jatakarma dilaksanakan di dalam dan di depan pintu rumah.

d. Pelaksana upacara

Upacara ini dilaksanakan atau dipimpin oleh salah seorang keluarga yang tertua, demikian juga untuk menanam (mendem) ari-arinya.

e. Tata cara upacara

1) Bayi yang baru lahir diupacarai dengan banten dapetan, canang sari, canang genten, sampiyan, dan penyeneng. tujuannya agar

atma/roh yang menjelma pada si bayi mendapatkan kese­

lamatan.

2) Setelah ari­ari dibersihkan, lalu dimasukkan ke dalam kendil ke mudian ditutup. Apabila mempergunakan kelapa, terlebih dahulu kelapa dibelah menjadi dua bagian, selanjutnya ditutup kembali. Perlu diingat, sebelum kendil atau kelapa ditutup, pada dasar atau bagian dalam kendil/kelapa diberi tulisan dengan aksara suci Om Kara (Om) dan aksara Ah kara (Ah).

3) Kendil atau kelapa tersebut kemudian dibungkus kain putih dan yang di dalamnya diisi bunga.

4) Proses selanjutnya, kendil atau kelapa ditanam di halaman rumah, tepatnya di bagian kanan pintu rumah untuk laki­laki, dan bagian kiri untuk wanita (di lihat dari dalam rumah). 3. Upacara kepus puser

Upacara kepus puser atau pupus puser adalah upacara yang dilakukan pada saat pusar bayi lepas (kepus). Ini merupakan simbol lepasnya keter­ ikatan bayi dengan kandungan si ibu.

a. Sarana/upakara

1) Banten penelahan beras kuning, daun dadap.

2) Banten kumara: hidangan berupa ajuman putih kuning, beberapa jenis kue, buah­buahan (pisang emas), canang, lengawangi, buratwangi, canangsari. banten labaan: hidangan/ nasi dengan lauk pauknya. segehan catur warna: empat buah dengan warna merah, putih, kuning, dan hitam masing­masing berisi bawang, jahe, dan garam.

b. Waktu pelaksanaan

Upacara kepus puser dilaksanakan pada saat pusar bayi sudah pupus/ lepas, umumnya pada saat bayi berumur tiga hari.

c. Tempat upacara

Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah terutama di sekitar tempat tidur si bayi.

d. Pelaksana upacara

Untuk melaksanakan upacara ini cukup dipimpin oleh keluarga yang tertua (sesepuh).

e. Tata cara upacara

1) Pusar bayi yang telah lepas dibungkus dengan kain putih, lalu dimasukkan ke dalam ”ketupat kukur” (ketupat yang berbentuk burung tekukur) disertai rempah­rempah seperti cengkeh, pala, lada, dan lain­lain, lalu digatung pada kaki tempat tidur si bayi. 2) Dibuatkan kumara tempat menaruh sesajian.

3) Di tempat ari­ari ditanam, dibuat sanggah cucuk yang diisi

banten kumara, lalu di bawahnya ditaruh sajen segehan berupa

nasi empat warna.

4. Upacara 12 hari (namadheya samskara)

Setelah bayi berumur 12 hari dilaksanakan upacara yang disebut upacara ngelepas hawon. Anak biasanya baru diberi nama (namadheya), demikian pula Sang Catur Sanak atau saudara empat kita setelah

di-lukat akan berganti nama, di antaranya Banaspati Rraja, Sang Anggapati,

a. Sarana/upakara

1) Upakara yang kecil terdiri atas peras, penyeneng, jerimpen tunggal, dan kelengkapan lain semampunya.

2) Upacara yang sedang (madya) terdiri atas peras, penyeneng,

jerimpen tunggal ditambah dengan penembusan.

3) Upacara yang besar (utama) terdiri atas sarana upacara madya dengan menggunakan jerimpen tegeh dan diikuti ilan-ilan joged atau wayang lemah.

b. Waktu pelaksanaan

Upacara ini dilaksanakan pada saat si bayi sudah berumur genap 12 hari.

c. Tempat upacara

Upacara ini dilaksanakan di dalam rumah dan pekarangan, yaitu di sumur (permandian), di dapur, dan di sanggah kemulan (bila ada).

d. Pelaksana upacara

Upacara ini dipimpin oleh keluarganya yang paling dituakan dan mampu mengemban tugas itu.

e. Tata cara upacara

Upacara ini ditujukan kepada si ibu dan si anak. Upacaranya dila-ku kan di dapur, di permandian, dan di sanggah kemulan (berfungsi memohon pengelukatan ke hadapan Bhatara Brahma, Wisnu, dan Siwa). Jenis upakara yang ditujukan kepada si ibu adalah banten byakaonan dan prayascita disertai dengan tirta pembersihan dan pengelukatan. Sementara jenis banten inti untuk si bayi adalah banten pasuwungan yang terdiri atas pras, ajuman, daksina, suci, sorohan alit pengelukatan, dan lain-lain. Banten pengelukatan di dapur, permandian, dan kemulan pada pokoknya sama, hanya saja warna tumpengnya berbeda, yaitu merah untuk di dapur, hitam untuk di permandian, dan putih untuk di kemulan. 5. Upacara tutug kambuhan (42 hari)

Upacara ini dilakukan ketika bayi berumur 42 hari, bertujuan untuk pembersihan lahir batin bayi dan ibunya, dan untuk membebaskan si bayi dari pengaruh­pengaruh negatif (mala). Dari hasil wawancara dengan Pak GY, dijelaskan bawa:

“Upacara tungtung kambuhan adalah upacara pembersihan sang ibu yang dalam proses kehudidupannya sebagai seorang ibu sudah selelsai atau sudah bersih yang dalam dunia kesehatan sudah sehat kembali setelah melahirkan.”

Dari uraian di atas dapat dianalisis bahwa seorang ibu selesai se­ lesainya masa nifas akan diperingati dengan upacara tutug kambuhan yang berfungsi sebagai pembersihan dari segala kotoran.

b. Waktu pelaksanaan

Upacara tutug kambuhan dilaksanakan pada saat bayi berusia 42 hari.

c. Tempat upacara

Keseluruhan rangkaian upacara tutug kambuhan dilaksanakan di da-lam lingkungan rumah (di dapur, di hada-laman rumah, dan di sanggah

ke-mulan).

d. Pelaksana upacara

Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita atau pinandita. e. Tata cara upacara

1) Dalam upacara kecil

a) Kedua orang tua si bayi matataban dan maprayascita. b) Si bayi beserta kedua orang tua diantar ke sanggah kemulan

untuk natap.

2) Dalam upacara yang lebih besar

a) Si bayi di­lukat di dapur, di permandian, dan terakhir di

sanggah kemulan.

b) Kedua orang tua si bayi matataban dan maprayascita. f. Si bayi beserta kedua orang tuanya natab di sanggah kemulan. 6. Upacara bayi umur 3 bulan (niskramana samskara)

Upacara ini dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari. a. Sarana/upakara.

2) Upakara besar: panglepasaon, penyambutan, jejanganan,

ban-ten kumara, tataban, pula gembal, banban-ten panglukatan, banban-ten

turun tanah/tedak sithi. b. Waktu pelaksanaan

Upacara ini dilakukan pada saat bayi berusia 105 hari. Bila tidak memungkinkan hendaknya disesuaikan dengan kondisi yang ada.

c. Tempat upacara

Seluruh rangkaian upacara bayi tiga bulanan ini dilaksanakan di ling­ kungan rumah.

d. Pelaksana upacara

Upacara ini dipimpin oleh pandita atau pinandita. e. Tata cara upacara

1) Pandita/pinandita memohon tirtha panglukatan.

2) Pandita/Pinandita melakukan pemujaan, menghaturkan upa­ kara dan memerciki tirtha pada sajen dan pada si bayi.

3) Bila si bayi akan memakai perhiasan­perhiasan seperti gelang, kalung (badong) dan lain­lain, terlebih dahulu benda tersebut di-parisudha dengan diperciki tirtha.

4) Doa dan persembahyangan untuk si bayi dilakukan oleh ibu dan bapaknya, diantar puja/mantra pandita/pinandita.

5) Si bayi diberikan tirtha puja mantra pangening (tirtha amertha), kemudian ngayab jejanganan.

6) Terakhir si bayi diberi natab sajen ayaban, yang bermakna memohon keselamatan.

7. Upacara satu oton (wetonan)

Upacara ini dilakukan setelah bayi berumur 210 hari. Upacara ini ber-tujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.

a. Sarana/upakara

1) Upakara kecil: prayascita, parurubayan, jejanganan, tataban,

peras, banten pesaksi bale agung (ajuman) sajen turun tanah

dan sajen kumara.

2) Upakara yang lebih besar: prayascita, parurubayan, jejanganan,

tataban, peras, banten pesaksi bale agung (ajuman) sajen turun

tanah, sajen kumara, pula gembal bebangkit. b. Waktu pelaksanaan

Upacara wetonan dilaksanakan pada saat bayi berusia 210 hari. Pada saat itu kita akan bertemu dengan hari yang sama seperti saat lahirnya si bayi (hari dan pasaran sama). Selanjutnya boleh dilaksanakan setiap 210 hari.

c. Tempat upacara

Seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. d. Pelaksana upacara

Upacara dipimpin oleh pandita/pinandita atau oleh keluarga tertua. e. Tata cara upacara

1) Pandita/pinandita sebagai pemimpin upacara melakukan pe­ mu jaan untuk memohon persaksian terhadap Sang Hyang

Widhi Wasa dengan segala manifestasinya.

2) Pemujaan terhadap Siwa Raditya (Surya stawa). 3) Penghormatan terhadap leluhur.

4) Pemujaan saat pengguntingan rambut (potong rambut). 5) Pemujaan saat pawetonan dan persembahyangan. 8. Upacara tumbuh gigi (ngempugin).

Upacara ini dilakukan pada saat anak tumbuh gigi yang pertama. Upacara ini bertujuan untuk memohon agar gigi si anak tumbuh dengan baik.

a. Sarana/upacara

(1) Upacara kecil: petinjo kukus dengan telur.

b. Waktu pelaksanaan

Upacara ini dilaksanakan pada saat bayi tumbuh gigi yang pertama dan sedapat mungkin tepat pada waktu matahari terbit.

c. Tempat upacara

Keseluruhan rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. d. Pelaksanaan upacara

Upacara ini dipimpin oleh seorang pandita/pinandita atau salah seorang anggota keluarga tertua.

e. Tata cara upacara

1) Pemujaan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa dengan mem­ persembahkan segala sesajen yang tersedia.

2) Si bayi natab mohon keselamatan.

3) Selesai upacara, si bayi diberi sesajen untuk dinikmati dan selan­ jutnya gusinya di gosok­gosok dengan daging dari sesajen. 9. Upacara tanggal gigi pertama (makupak)

Upacara ini bertujuan mempersiapkan si anak untuk mempelajari ilmu pengetahuan.

a. Sarana/upakara

(1) Banten tataban dan sesayut tatebasan. (2) Canang Sari

b. Waktu pelaksanaan

Upacara tanggal gigi pertama dilaksanakan pada saat si anak untuk pertama kalinya mengalami tanggal gigi. Upacara ini dapat pula disatukan dengan wetonan berikutnya.

c. Tempat upacara

Keseluruhan rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. d. Pelaksana upacara

e. Tata cara upacara

(1) Pemuja mempersembahan sesajen ke hadapan Sang Hyang

Widhi Wasa.

(2) Si anak dipersembahyangkan.

(3) Setelah selesai sembahyang, dilanjutkan dengan natab sesayut/

tetebasan.

(4) Dipercikan tirtha.

Dari rangkaian upacara yang dipaparkan di atas tampak bahwa tradisi yang amat kuat masih dilaksanakan oleh masyarakat Banda, dan sistem kepercayaan masyarakat di Banda sangat kompleks seperti dipaparkan oleh Wayan BK berikut ini.

“Di masyarakat Banda juga dikenal Lingih Ratu Bajang (tugu) di mana diperuntukan untuk memohon bayi biar dijaga dan diempu (diasuh) yang bertempat di sebelah tempat permandian umum Banjar Banda.”

Setelah pemaparan dari Wayan BK dapat kami peroleh gambar yang menunjukan tempat sakral yang dipercaya memiliki kekuatan memelihara keselamatan balita. Gambar berikut adalah salah satu tempat keramat untuk memohon keselamatan bayi/balita.

Tempat suci yang memiliki hubungan dengan kepercayaan masyarakat Banda untuk menjaga kesehatan dan keselamatan balita di Banjar Banda adalah Pura Musen, yang tempatnya di Banjar Belangsinga, Desa Saba, tepatnya di sebelah utara Banjar Banda. Warga mempercayai hal ini dari warisan atau kebiasaan/leluhur pendahulu mereka. Pura Musen adalah tempat pembersihan balita dengan simbol memotong rambut balita yang dibawa sejak lahir. Adapun Pura Musen yang dimaksud adalah seperti tampak pada gambar 2.18 berikut ini.

Gambar 2.18 Pura Musen di Banjar Belangsinga, Desa Saba.

Dari hasil wawancara dengan Jero Mangku Pura Musen, Jero MKB menjelaskan arti dan fungsi pura ini sebagai berikut.

”Pura Musen diartikan musen=embuse (dilepas). Dalam cerita para pendahulu atau lelulurnya bahwa Pura Musen diceritakan Dang Hyang Niratha dalam perjalan dari Jawa ke Bali. Salah satu tempat yang beliau lewati adalah mata air pura ini. Di tempat ini Dang Hyang Niratha melakukan pembersihan diri dengan melepas kerucut/makhkota beliau. Kata melepas ini dalam bahasa Bali adalah embus. Lama-lama kata embus menjadi musen. Dari pelepasan rambut beliau yang disanggul atau dikerut menjadi terurai. Dang Hyang Nirata juga dikenal dengan penyatuan Hindu Buddha, Buddha=botak=kepala bersih. Di Pura Musen tempat pembersihan kotoran secara

rohani dan jasmani. Jadi dulu yang memotong rambut di pura ini adalah bayi yang rambutnya sakit, sakit ini adalah rambut bayi gimbal, yang bila dipotong akan menyebabkan bayi ini sakit, nah bila ingin memotong rambut ini harus dilakukan upacara memotong rambut. Hubungan rambut gimbal/gempel ini dengan bayi/balita adalah orang-orang yang leluhurnya dulu sebagai pengikut dari Dang Hyang Niratha. Oleh karena lupa akan silsilah leluhur, maka beliau mengigatkan bahwa generasi yang baru lahir dengan rambut gimbal/gempel. Masyarakat Banda yang sejak dulu sudah melaksanakan prosesi ritual potong rambut di Pura Musen akan melaksanakan potong prosesi potong rambut tersebut untuk keturunan selanjutnya.”

Berdasarkan informasi yang diporoleh dari mangku Pura Musen dan dari hasil observasi dapat dijelaskan bahwa Pura Musen adalah tempat suci yang memiliki aura kesunyian. Kesucian sangat terasa ketika kami datang dan melihat situasi di sana. Kami datang ke Pura Musen untuk meliput prosesi makayehan (prosesi potong rambut bayi berumur 21 bu-lan). Kami menempuh medan perjalanan menuruni anak tangga kira­kira 127 anak tangga. Beberapa anak remaja dan orang dewasa membawa air dalam galon yang diambil dari bawah yang ditaruh di atas kepala sambil menaiki anak tangga Pura Musen. Air dalam galon ini digunakan untuk minum. Kami bertemu dengan warga sekitar, salah satunya Pak UP yang hendak mandi di Sugai Petanu di dekat mata air Pura Musen. Pak UP se-ring mandi di sungai karena segar dan mengilangkan panas dalam. Pak UP juga menceritakan bahwa di bawah dekat sugai banyak ada moyet liar hidup di hutan sekitar tempat itu.

Sambil menunggu rombongan yang mau melakukan upacara

maka-yehan, kami turun ke mata air dengan menuruni anak tangga. Di sisi

kanan dan kiri anak tangga penuh dengan lumut dan beberapa ukiran arca macan, Ganesha, pendeta, ibu­ibu, yang dihiasi kain poleng (kain hitam putih). Kanan kiri diterangi dengan lampu hias lampu kapal dan di sekitarnya penuh dengan pohon­pohon besar.

Setelah selesai menuruni tangga tampak Pura Ratu Ayu di samping