• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

DESKRIPSI DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Temuan Umum Penelitian

3. Sistem Sosial dan Budaya Masyarakat Melayu Deli

Kota Medan yang juga dikenal dengan sebutan Tanah Deli, berasal dari sebuah desa yang ternama Kampung Medan yang terletak di “Medan Putri”, yaitu dataran tempat bertemunya sungai Deli dengan sungai Babura. Lokasinya tidak jauh dari jalan Tembakau Deli/jalan Yos Sudarso (dahulu Jalan Putri Hijau). Menurut riwayat, kampung Medan ini didirikan Raja Guru Patimpus, yaitu nenek moyang dari

Datuk Hamparan Perak (Si Sepuluh Dua Kuta dan Sukapiring, yakni dua dari empat Kepala Suku Kesultanan Deli).

Suku Melayu Deli adalah penduduk asli Kota Medan. Dewasa ini mereka tersebar pada beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Medan Labuhan, Medan Deli, Medan Sunggal, Medan Kota (terutama di Kota Maksum dan Istana Maimun), dan Medan Baru. Selain di daerah tersebut, suku Melayu Deli dijumpai juga di Kecamatan Hamparan Perak dan Kecamatan Percut Sei Tuan, di Kabupaten Deli Serdang. Semua suku Melayu yang berada di Sumatera Utara sama halnya dengan suku Melayu di Riau yang pada umumnya tidak mempunyai marga dan terlihat pada suku elayu Deli adanya kelompok bangsawan dan rakyat biasa.

a) Hubungan Kekerabatan

Masyarakat budaya Melayu menjunjung tinggi tutur sapa dan kata tertib dalam memanggil atau menyapa seseorang. Yusmaniar menyatakan sebutan yang menyatakan hubungan kekeluargaan dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Ayah, Bapak adalah sebutan untuk orang tua laki-laki, yang pada bangsawan disebut entu

2. Emak, Mak adalah sebutan untuk orang tua perempuan, pada kaum bangsawan ende atau bonde.

3. Atok, Datu, Nenek adalah panggilan untuk kedua orang tua ayah atau ibu. Biasanya untuk orang tua ayah/ibu yang perempuan disebut atok puan atau atok tine (betina) dan atok laki atau atok lantan untuk orang tua ayah/ibu yang laki-laki.

4. Uak adalah sebutan untuk saudara ayah/ibu yang lebih tua, baik perempuan maupun laki-laki. Biasanya disertai dengan nama tutur seperti Uak Long (anak yang sulung), Uang Ngah (anak yang tengah).

5. Pakcik adalah sebutan untuk saudara ayah/ibu yang muda, biasanya disebut ayah Ucu (bungsu).

6. Makcik adalah sebutan untuk saudara ayah/ibu yang lebih muda, biasanya disebut dengan nama tutur ende cik biasanya disebut dengan nama tutur

ende cik (anak kedelapan)

8. Ipar Kadim adalah sebutan untuk saudara kandung istri atau suami. 9. Biras adalah sebutan untuk suami dari saudara istri dari saudara suami. 10. Besan adalah sebutan antara orang tua seorang tua istri dan suami.

11. Besan sebantal adalah sebutan untuk suami dan istri yang masing-masing mempunyai anak dari perkawinan mereka terdahulu dan anak mereka itu kawin pola satu dengan yang lain.

12. Saudara Impal adalah sebutan untuk anak dari saudara perempuan ayah. 13. Saudara sepupu adalah sebutan untuk anak dari saudara perempuan ibu

kita.

14. Abang, abah adalah sebutan untuk saudara laki-laki. 15. Kakak akak adalah sebutan untuk saudara perempuan.

16. Mentua atau mertua adalah sebutan seorang perempuan /laki-laki kepada orang tua suami/istri.

17. Cucu adalah sebutan atok kepada anak dari anaknya baik laki-laki maupun perempuan.

18. Cicit adalah sebutan untuk anak perempuan/laki-laki dari cucu. 19. Piut adalah panggilan kepada anak dari cicit.

20. Kalak adalah panggilan untuk anak laki-laki. 21. Subang adalah panggilan untuk anak perempuan.103

Yusmaniar menjelaskan bahwa hubungan pertalian darah dapat dituturkan dengan nama-nama sebagai berikut:

a. Sulang, Ulang adalah sebutan untuk anak pertama. b. Ngah, Awang adalah sebutan untuk anak kedua. c. Alang, Lang adalah sebutan untuk anak ketiga d. Uteh adalah sebutan untuk anak keempat. e. Andak adalah sebutan untuk anak kelima. f. Uda adalah sebutan untuk anak keenam

g. Itam, Anjang adalah sebutan untuk anak ketujuh. h. Acik, Cik adalah sebutan untuk anak kedelapan.

i. Ucu, Bungau, Buau adalah sebutan untuk anak yang terakhir.

j. Ulong Cik adalah sebutan untuk anak sesudah anak terakhir, kalau masih ada lagi.104

Istilah kekerabatan atau sebutan kekeluargaan yang dikemukakan di atas berkaitan erat dengan adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat Melayu Deli. Kaum pendatang yang telah lama bermukim di daerah Melayu Deli turut

103 Yusmaniar, dkk, (1990) Sastra Lisan Melayu Deli, Sumatera Utara: Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah h. 7-22.

menyesuaikan diri dalam adat-istiadat Melayu Deli. Hal ini menunjukkan bahwa antara masyarakat Melayu Deli dan kaum pendatang telah terjalin hubungan kekeluargaan yang erat, sehingga kaum pendatang tersebut telah dianggap mereka sebagai anggota masyarakat Melayu pula.

b) Upacara Adat

Melayu berarti lemah lembut, merendahkan diri, dan tidak mau membensar-besarkan diri. Dalam masyarakat Melayu, adat itu mencakup empat, yaitu:

1. Adat yang sebenar adat 2. Adat yang diadatkan 3. Adat yang teradat 4. Adat-istiadat

1.1. Adat yang sebenar adat

Masyarakat budaya Melayu berpegang pada adat seperti kata pepatah “Hukum berdiri dengan saksi, adat berdiri dengan tender”. Adat yang sebenar adat adalah menurut waktu dan keadaan. Jika dikuragi merusak, jika dilebihi mubazir, dengan landasan kesedisan hati nurani manusia, keikhlasan tanpa pamrih dan keputusan yang berpadan atau selaras. Hal-hal di atas dapat dilibatkan dalam pantun dan pepatah Melayu sebagai berikut:

 Berbuat karena Allah, bukan karena ulah, Penuh tidak melimpah, berisi tidak kurang.

 Yang besar dibesarkan, yang tua dihormati, yang kecil disayangi, yang sakit diobati

 Yang bodoh diajari, yang benar diberi hak, yang kuat tidak melanda, yang tinggi tidak menghimpit. Hidup berpatutan, makan berpadanan.

1.2. Adat yang diadatkan

Adat yang diadatkan itu adalah sesuatu yang telah diterima untuk menjadi kebiasaan atau peraturan yang diperbuat bersama atas mufakat, menurut ukuran yang patut dan benar yang dapat dirurun-naikkan. Diselenggarakan dan diperbaiki seperti tergambar dalam pepatah berikut:

 Penuh tidak melimpah, berisi tidak berkurang, terapung tidak hanyut, terendam tidak basah.

1.3. Adat yang teradat

Adat yang teradat ialah kebiasaan-kebiasaan yang lama kelamaan atau tiba-tiba jadi adat seperti tersirat dalam pepatah ini:

“Sekali air bah, sekali tepian berpindah.” “Sekali zaman beredar, sekali adat berkisar.”

Yang walaupun ada perubahan, inti adat tidak akan lenyap, seperti kata pepatah: “Adat pasang turun naik, adat api panas, dalam gerak berkeseimbangan antara akhlak dan pengetahuan.”

1.4. Adat-istiadat

Adat-istiadat merupakan kumpulan berbagai kebiasaan yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan dalam upacara khusus seperti istiadat perkawinan adat-istiadat penobatan, pemakaman raja, dan lain-lain.

Jika kita memperhatikan acara-acara adat perkawinan suku Melayu Deli ini banyak sekali nilai-nilai karakter yang ditonjolkan dan ada yang beberapa karakter

tersebut mirip dengan Islam dan ada yang juga tidak dipertentangkan oleh para ulama. Dan di dalam upacara perkawinan pun bahwa orang Melayu Deli masih menjalankan dan mengajarkan nilai-nilai karakter Islami baik secara zhahir maupun tersirat. Bahkan di dalam pemilihan pakaian adat perkawinan masyarakat Melayu memakai pakaian yang sopan hanya saja tinggal memakai jilbabnya saja yang belum dilakukan, apabila dilakukan maka sudah tentu mirip sekali dengan ajaran Islam. Hal ini berbeda dengan sebagian pakaian adat perkawinan dari suku-suku lain yang terbuka auratnya tentu hal ini tidak bisa disingkirkan melainkan hanya tidak sesuai dengan ajaran Islam.