IMPLEMENTASI KAPALLI’ DI ERA MODERN
A. Sistem Sosial Masyarakat Selayar
Kapalli’ baik sebagai istilah maupun pesan kultural bermakna pantangan, dalam perkembangannya telah dimaknai beragam yang ditentukan oleh seberapa besar kadar kepercayaan dan keyakinan seseorang. Karena itu, motif atas keyakinan kukuh sebagian orang terhadap pesan kultural ini, serta penyebab memudarnya nilai karena pengaruh modernisasi dalam wajah rasionalisasi tindakan menjadi inti kajian dalam tulisan ini.
Permasalahan sekitar bagaimana orientasi-orientasi individu dan tindakan-tindakan mereka terjalin dalam suatu sistem sosial, pada prinsipnya dipengaruhi oleh dua elemen dasar yakni orientasi motivasional dan orientasi nilai. Menurut Parson bahwa orientasi motivasional merujuk pada keinginan individu yang bertindak itu untuk memperbesar kepuasan dan mengurangi kekecewaan. Sementara itu, orientasi nilai merujuk pada standar-standar normatif yang mengendalikan pilihan-pilihan individu (alat dan tujuan) dalam perioritas sehubungan dengan adanya kebutuhan dan tujuan yang berbeda (Johnson, 1986: 114-115).
44
Orientasi motivasional, mencakup 3 dimensi yakni:
1) Dimensi kognitif, yakni merujuk pada pengetahuan orang yang bertindak itu mengenai situasinya, khususnya kalau dihubungkan dengan kebutuhan dan tujuan-tujuan pribadi. Dimensi ini mencerminkan kemampuan dasar manusia untuk membedakan antara rangsangan-rangsangan yang berbeda dan membuat generalisasi dari satu rangsangan dengan rangsangan lainnya
2) Dimensi katektik, yakni merujuk pada reaksi apektif atau emosional dari orang yang bertindak itu terhadap situasi atau pelbagai aspek di dalamnya. Hal ini juga mencerminkan kebutuhan dan tujuan individu.
Umumnya, orang memiliki suatu reaksi emosional positif terhadap elemen-elemen dalam lingkungan itu yang memberikan kepuasan atau dapat digunakan sebagai alat dalam mencapai tujuan dan reaksi yang negatif terhadap aspek-aspek dalam lingkungan itu yang mengecewakan 3) Dimensi evaluatif, yakni merujuk pada dasar pilihan seseorang antara
orientasi kognitif atau katektik secara alternatif. Orang selalu memiliki banyak kebutuhan dan tujuan, dan untuk kebanyakan atau kalau bukan semua situasi, ada kemungkinan banyak interpretasi kognitif dan reaksi katektik. Kriteria yang digunakan untuk memilih dari alternatif ini merupakan dimensi evaluatif.
Untuk mengungkap seberapa eksis dan terimplementasi nilai-nilai luhur atau kearifan lokal ini masyarakat Selayar di era modern sekarang, maka data dari informan yang dijaring untuk sementara divariasikan berdasarkan jenis data yang diperlukan. Elemen pertama yang sangat penting untuk dimintai keterangan adalah para tokoh masyarakat, antara lain:
1) Tokoh agama, dimaksudkan untuk memperoleh keterangan mengenai seberapa kuat pengaruh Islam terhadap perubahan orientasi nilai budaya lokal atau sebaliknya;
2) Tokoh adat, dimaksudkan untuk memperoleh data mengenai masih seberapa eksis nilai-nilai luhur tersebut.
3) Aparat desa, dimaksudkan untuk menjaring data mengenai masih seberapa kuat pengaruh kearifan lokal terhadap sistem pemerintahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kalangan tokoh masyarakat, pun berbeda secara diferensiasif dalam memaknai kapalli’ tersebut. Hal ini tentu saja disebabkan oleh perbedaan sudut pandang masing-masing pihak mengenai fungsi dan orientasi nilai yang dikandungnya.
Adapun dari pandangan bapak Mustawil yang akrab disapa Dg. Tawile’
adalah tokoh agama sekaligus seorang guru pada salah satu Sekolah Dasar di Selayar, mengatakan bahwa :
“Kedudukan kapalli’ sebagai pedoman hidup, sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Malahan keduanya bisa saling melengkapi dimana ajaran Islam memuat perintah dan larangan dan dalam kapalli’ juga mengandung semacam larangan yang tujuannya baik. Jadi, sama-sama berfungsi mengatur kehidupan masyarakat. Malahan jika orang tidak perduli
pada sesuatu yang termasuk kapalli’, maka langsung mendapat ganjarannya sehingga orang banyak yang patuh karena takut. Cuma sayang sekali karena generasi sekarang, kurang percaya lagi dan nanti setelah ada yang menimpa dirinya baru percaya (wawancara,4 september 2017).”
Hal senada yang dikemukakan oleh salah seorang tokoh adat Samsuri bahwa :
“saat ia melakukan ritual tolak bala (songkabala, Selayar) beberapa tahun belakangan ini sudah sangat kurang pesertanya. Mengenai penyebabnya, ia menjelaskan:”mungking kurang tappa’mo tauyya, jari gelemo laporhatikang”. Ungkapan ini bermakna mungkin orang kurang percaya sehingga tidak terlalu diperhatikan lagi (Wawancara pak Samsuri,4 september 2017)”
Adapun dari pandangan tokoh masyarakat terhadap eksistensi kapalli’ di era modern sekarang :
Sebagaimana yang diungkap salah seorang tokoh masyarakat bernama Papa Lihing, yaitu :
”ana-ana’ konni-konni susai, nasaba kurangmo tappa injo mange ri pau-pau tau toa. Pappisangka labua’mo kelong-kelong, pappasang tau ri olo lapa ri boko tolimo. Jari sauang tommo, manna tarumpappi nampai sadara”
(wawancara, 5 September 2017)”
Terjemahan:
”Generasi muda sekarang tampak kurang percaya lagi pada nasihat orang tua. Sebagai contoh larangan dianggap bak nyanyian, pesan-pesan leluhur tak didengar lagi. Jadi biarkan saja, nanti setelah kena batunya baru mereka sadar”.
Apa yang diungkapkan papa Lihing hamper sama seperti yang diungkapkan oleh Asygar S.pd. (tokoh masyarakat sekaligus guru):
“Kalau saya berpikir rasional, tentu saya mengatakan bahwa kapalli’ itu adalah suatu hal yang tidak wajar dipercayai. Tetapi kita masih sering lihat kejadian yang persis sama dengan ketentuan kapalli’ yang dilanggar dari aktivitas sebelumnya. Oleh karena itu, terkadang saya berpikir bahwa
mungkin ada rahasia Tuhan yang belum saya ketahui sehubungan dengan kapalli’. Jadi saya masih berada di antara percaya atau tidak (Wawancara 5 Setpember 2017).”
Uraian tersebut menunjukkan bahwa di kalangan masyarakat Selayar masih ada yang mempercayai kapalli’ dengan berpedoman pada beberapa kejadian yang terbukti dialami oleh mereka yang mengabaikan pesan kapalli’ tersebut.
Hal ini dapat kita ketahui melalui keterangannya yang lain sehubungan dengan pertanyaan penelitian mengenai apakah ia pernah melihat atau mendengar kejadian yang dialami oleh seseorang karena melanggar kapalli’, sebagai berikut:
Adapun dari pandangan bapak Syahbuddin selaku tokoh masyarakat :
”... ya. Saya pernah. Salah satu contoh bukti yang biasa saya kemukakan di sini adalah: contoh kapalli yakni ’seorang suami kapalli’ menyembeli hewan ketika istrinya dalam keadaan hamil, karena dapat berakibat bukuruk terhadap janin yang dikandungnya (anaknya akan cacat)’. Ketentuan kapalli’
ini pernah dilanggar oleh seorang suami dan ternyata setelah bayi yang dikandung oleh istrinya lahir, leher bayi itu luka seperti bekas sayatan pisau.
Mungkin saja itu hanya kebetulan, akan tetapi begitulah kenyataannya.
Wallahu a’lam bissawab”
Hal senada juga di ungkapkan oleh ibu Fatma selaku tokoh masyarakat :
“Kapalli’ adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan bertujuan agar setiap orang senantiasa berhati-hati dalam setiap pelerjaan. Sebagai contoh dapat saya kemukakan bahwa penah sepupu saya menolak ajakan makan dan meninggalkan rumah, ternyata ia mendapat kecelakaan (tabrakan). Jadi kapalli’ tergantung pada jenisnya yang membuat kita percaya atau tidak (Wawancara, 5 September 2017).”
Dari penjelasan informan diatas dapat disimpulkan bahwa kepada kita bahwa kedua sistem norma yakni tradisi lokal dan Islam dapat saling melengkapi dalam banyak hal terkait dengan kehidupan bermasyarakat. Bahkan ia secara tidak langsung hendak menyampaikan bahwa ”lebih takut” kepada sanksi kapalli’ yang langsung
diperoleh ganjarannya daripada ancaman dosa yang selalu dihubungkan dengan hari akhirat (hari kemudian). Selain itu, ia juga telah mengungkapkan wujud keprihatinannya pada implementasi nilai-nilai luhur ini dalam kehidupan bermasyarakat sekarang.
Sekadar digambarkan bahwa ritual songkabala (tolak bala) ini, di kalangan masyarakat Selayar khususnya Kecamatan Pasimasunggu timur (tapi tidak semua) dahulu merupakan hajatan tahunan yang rutin pelaksanaannya. Bahkan menurut keterangan salah seorang warga bahwa bukan hanya penduduk setempat yang meramaikan acara ini, tetapi orang Selayar yang merantau pun sesekali datang (pulang kampung) untuk berpartisipasi. Tujuan ritual ini menurut Samado’ antara lain adalah menghalau atau menangkal datangnya wabah penyakit atau bencana ke dalam kampung. Konon penyakit atau musibah akan menimpa suatu kampung, manakala sudah banyak bentuk pelanggaran norma yang dilakukan oleh warganya (termasuk dalam hal ini pengabaian terhadap kapalli’).
Ungkapan tersebut juga menunjukkan keprihatinan seorang tokoh adat atas semakin memudarnya nilai-nilai luhur lokal yang seharusnya menjadi pedoman hidup bermasyarakat. Bahkan satu hal menarik dan sedikit agak ironis yakni generasi muda yang kurang pecaya lagi pada kapalli’, setelah terbentur pada sesuatu baru mempercayainya. Hal ini diakui sendiri oleh Lihing tadi bahwa banyak di antara mereka yang berkunjung ke rumahnya untuk menanyakan banyak hal, misalnya:
mengenai penyebab penyakit aneh yang diderita seseorang, perempuan yang telat dapat jodoh, anaknya cacat, usia perkawinannya tidak lama, dan sebagainya.
Kapalli’ masih dipercayai sebagai hal yang sakral sifatnya sehingga setiap orang harus hati-hati dalam bertindak. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa di antara rasa percaya dan tidak pada akibat kapalli’ ini, terkadang kondisinya atau bahkan fakta terbentang di depan mata.
BAB VII