dalam melakukan kaderisasi yang ideologis dan berbasis masa telah menjadikan Indone- sia krisis pemimpin yang benar-benar peduli terhadap nasib rakyat. Dalam gerakan masa tani tidak bisa terlepas dari tiga unsur, yaitu pemimpin masa, penggerak masa dan masa tani. Ketiga unsur ini harus bisa bekerja sama untuk mendorong satu agenda kepentingan rakyat tani. Jika salah satu unsur ini meny- impang maka dorongan untuk mencapai cita-cita luhur memajukan kaum tani, baik dari segi ekonomi, sosial, politik dan budaya tidak akan pernah terwujud.
Seorang pemimpin tani harus harus lahir dari rahim rakyat tani yang selama ini ditindas oleh penguasa melalui suatu sistem tangan besi5. Sebagai pemimpin tani harus
bisa melihat peluang sehingga tidak terje- bak oleh sistem pemerintah yang bertujuan mengkecilkan gerakan tani. Jika pemimpin masa tani tertangkap maka ini akan mem- berikan pengaruh yang buruk kepada organ- isasi ataupun serikat tani. Hal ini dikarenakan sifat gerakan tani yang masih mengandalkan ketokohan.
Pemimpin masa tani harus mampu menjaga semangat kaum masa tani dalam perjuangan dan bisa mencegah terjadinya perpecahan ditubuh organisasi. Perjuan- gan yang lama dan belum ada tanda-tanda akan berhasil melahirkan kejenuhan ditu- buh masa sehingga pemimpin harus bijsak- sana dalam menghadapi keluhan-keluhan masa dan mampu mencari langkah-langkah perjuangan yang baru untuk memenangkan tuntutan terhadap pemerintah. Kehati-ha-
5. Sejak peristiwa Satu Oktober1965, Soeharto menjalankan roda pemerintahan dengan tangan besi karena lebih menggunakan cara-cara militeristik untuk menyelesaikan masalah sosial di masyarakat. Rakyat dilarang berbicara politik dan tidak boleh mengkritik pemerintah karena bisa dituduh makar. Semasa pemerintahan SBY pola ini masih digunakan, tetapi berkedok hukum. Atas nama hukum, petani dan aktivis agraria ditem- bak, ditangkap dan mendapat perlakuan kekerasan.
tian dalam membangun kerjasama dengan kelompok lain seperti lembaga permintahan atau pengusaha sangat diperlukan. Kesalahan dalam membangun kerjasama bisa menim- bulkan kekecewaan di internal organisasi tani sehingga menjadi pemicu perpecahan.
Penggerak massa bukan sekedar menggerakkan massa tani untuk berdomon- strasi ataupun menggerakkan masa dalam pemilu untuk memilih seseorang. Posisi penggerak masa di sini adalah untuk men- tranformasikan segala pengetahuan yang ada di luar petani sehingga bisa mereka konsumsi serta memberikan informasi tentang kehidu- pan petani kepada dunia luar. Untuk itu mereka harus membagi kerjanya, ada yang mengkaji kondisi sosial petani, baik lokal, nasional maupun global; ada yang mengisi posisi sebagai orang yang mengkampanyekan kehidupan mereka sehingga menarik simpati dari luar masa tani; ada yang harus melaku- kan kaderisasi dengan tujuan pencerdasan masa tani; dan ada yang memegang simpul masa untuk menggerak masa tani jika sewak- tu-waktu diperlukan aksi.
Masa tani merupakan kekuatan sesunguhnya dari gerakan tani, tanpa adanya masa tani yang terpimpin maka semua wa- cana gerakan tani untuk perubahan hanya “Omong Kosong”. Jumlah masa tani men- jadi sesuatu yang dipertimbangkan karena dalam aksi-aksi petani, baik dalam reklaim- ing maupun aski penuntutan sering berhada- pan dengan apratus negara yang berjumlah besar.
Dalam organisasi, masa tani wajib mengikuti instruksi pemimpin masa tani yang diambil melalui musyawarah. Secara individu, petani harus mampu mengem- bangkan kemampuannya dalam beorganisasi di tengah-tengah kesibukannya dalam perta- nian. Masa tani yang memiliki kemampuan yang rendah dalam bertani akan menyulitkan penggerak masa tani, baik dalam pendidikan masa tani maupun mobilisasi masa. Ren- dahnya kemampuan beroganisasi dari petani dikarenakan mereka tidak percaya diri aki- bat dari terlalu lama mengalami penindasan. Kondisi ini membutuhkan waktu yang relatif lama menyadarkan masa tani yang tertindas karena mereka masih merasa “nyaman” den- gan kehidupan sekarang.
Kesimpulan
Gerakan tani di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kebijakan pemerintah yang terus menindas kehidupan mereka. Di za- man Soekarno gerakan tani mengalami perkembangan yang cukup pesat, bahkan se- mua partai besar mempunyai organisasi yang bernafaskan masa petani. Dukungan pemer- intah melalui program landreform semakin menyuburkan gerakan petani yang kala itu mengarah kepada revolusi sosial.
Namun agenda landreform yang ter- tuang dalam UUPA tidak pernah menjadi prioritas pemerintah setalah peristiwa Satu Oktober 1965. Praktis agenda ini terhenti sampai terjadi penggulingan terhadap pres- iden Soeharto, pada 1998. Kemudian gerakan agraria semakin menguat pasca disahkannya TAP MPR No.IX/2001 dan dorongan terha- dap pemerintah agar segara melakukan redis- tribusi tanah di kaum tani semakin masif.
Gerakan tani yang berkembang diera reformasi ini tidak begitu solid untuk mende- sak pemerintah agar menjalankan reforma agraria. Dengan kondisi sekarang maka gera-
kan tani harus membentuk satu kekuatan baru yang tergabung dalam satu wadah. Ger- akan tani yang terorganisir ini harus bisa me- lebur dengan gerakan sosial lainnya sehingga semakin kuat untuk menekan pemerintah untuk perubahan sosial.
Referensi
Fauzi, Noer. 2003. Bersaksi Untuk Pembaharuan Agraria. Insist Press Printing, Yogyakarta. Fauzi, Noer. 2012. Landreform Dari Masa ke Masa. Tanah Air Beta dan Konsorsium
Pembaruan Agraria, Yogyakarta.
Mulyanto, Dede. 2011. Antropologi Marx, Karl Marx Tentang Masyaraka dan Kbudayaan. Ultimus, Bandung.
Rajaguguk, Erman. 1995. Hukum Agraria, Pola Penguasaan Tanah dan Kebutuhan Hidup. Chandra Pratama, Jakarta.
Soekarno, 1986. Amanat Proklamasi III 1956-1960. Inti Idayu Press dan Yayasan pendidi kan Soekarno.
Tauchid, Mochhammad, 2009. Masalah Agraria, Sebagai Masalah Penghidupan dan Ke makmuran Rakyat Indonesia. STPN Press dan PEWARTA, Yogyakarta.