merupakan faktor yang mendukung pola asuh gizi dalam kaitannya dengan perawatan balita, asupan makanan maupun jalannya pelayanan kesehatan pada balita.
2. Kontribusi Kelembagaan (Organisasi Kemasyarakatan)
Kontribusi kelembagaan yang mempengaruhi pola asuh gizi pada masyarakat Desa Pecuk adalah kelembagaan yang bersifat tradisional, yang banyak tergantung pada nilai-nilai, ikatan primodial (keluarga, suku, kelompok dan pemimpin) yang ada di masyarakat. Kelembagaan/organisasi kemasyarakatan yang ada di Desa Pecuk dan sangat berhubungan dengan status gizi balita adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Walaupun Posyandu merupakan bagian dari kegiatan dan program Puskesmas, tetapi dalam petunjuk pelaksanaannya Posyandu direncanakan dan dikembangkan oleh kader bersama Kepala Desa dan LKMD (seksi KB-Kes dan PKK) dengan bimbingan Tim Pembina LKMD Tingkat Kecamatan, mereka adalah warga masyarakat yang tidak mendapat imbalan berupa gaji dari pemerintah, melainkan bekerja secara sukarela.
Kegiatan Posyandu adalah perwujudan dari peran serta masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan. Upaya masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan sudah dikenal sejak lama, tetapi biasanya dalam bentuk perorangan atau keluarga. Kegiatan posyandu, masyarakat mempunyai peran pokok dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan, sedangkan peran petugas kesehatan adalah untuk membantu upaya yang pada dasarnya merupakan kegiatan masyarakat sendiri. Salah satu tujuan diselenggarakannya Posyandu, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan
164
kegiatan-kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan.
Peran kader dalam kegiatan posyandu sangat dibutuhkan, dimana kader posyandu adalah anggota masyarakat yang: 1) dipilih dari dan oleh masyarakat setempat yang disetujui dan dibina oleh LKMD, 2) dalam melaksanakan kegiatan bertanggung jawab pada masyarakat melalui LKMD, 3) mau dan mampu bekerja secara sukarela, 4) sebaiknya dapat membaca dan menulis huruf latin, 5) masih mempunyai cukup waktu untuk bekerja bagi masyarakat disamping usahanya mencari nafkah (Depkas RI 1987).
Posyandu di Desa Pecuk termasuk dalam stratifikasi Posyandu Madia (warna kuning), dengan hasil penilaian yang berdasarkan indikator yang telah ditentukan, yaitu Posyandu sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali pertahun, dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau lebih, akan tatapi cakupan program utamanya masih rendah, yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian kegiatan posyandu sudah baik tetapi dengan cakupan yang masih rendah.
Jumlah balita yang berkunjung ke posyandu Desa Pecuk pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2009 mengalami fluktuasi dan cenderung terjadi penurunan, dimana jumlah kunjungan yang tertinggi terjadi pada bulan Mei, yaitu sebesar 58,25%, dengan rata-rata jumlah kunjungan balita sebesar 46,76% (Gambar 6.3). Jumlah kunjungan terbanyak terdapat di Dusun Pecuk, dimana Posyandu Dusun Pecuk ini merupakan pusat pelayanan oleh bidan yang berupa pemeriksaan kesehatan dan pengobatan serta imunisasi yang sekaligus juga merupakan Puskesmas Pembantu, yang bertempat di Balai Desa Pecuk. Organisasi posyandu di Desa Pecuk memang tak lepas dari program puskesmas, yang dalam hal ini merupakan institusi pemerintah yang menangani bidang kesehatan di wilayah sekecamatannya, tetapi dalam pelaksanaannya faktor
sosiokultural yang ada di Desa Pecuk turut menentukan bentuk atau model manajemen yang dijalankan. Faktor-faktor tersebut kemudian dapat menentukan tingkat keberhasilan posyandu sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.
Gambar 6.3: Grafik jumlah balita yang berkunjung ke Posyandu dalam bulan Mei - Agustus tahun 2009 di Desa Pecuk, Kec. Mijen, Kab. Demak
Sumber: Posyandu Desa Pecuk
Kontribusi yang perlu mendapat perhatian adalah pada sistem kelembagaan yang ada di Posyandu Desa Pecuk, yang berkaitan dengan: 1) sistem sosialisasi, 2) sistem informasi, 3) sifat kebersamaan dan 4) petugas proaktif. Seperti hasil data yang didapat, yaitu:
a. Undangan atau informasi kegiatan posyandu dapat tersosialisasi dengan baik oleh karena informasi jadwal posyandu dari puskesmas yang sampai kekelurahan akan langsung disampaikan ke salah satu kader posyandu yang juga merupakan tenaga bantu di kelurahan atau disampaikan kepada salah satu kader yang merupakan anak dari perangkat desa, kemudian
165
166
akan disampaikan secara tradisional dari mulut ke mulut (getok tular) bila bertemu dengan ibu balita. Informasi juga dilakukan oleh beberapa kader posyandu yang bekerja sebagai penjual sayur keliling, seperti yang dikatakan Ibu Hasunah:
Ngopyak-opyak ke posyandu, ya sekaligus ider blanjaan (mengajak ke posyandu sekaligus pada waktu menjajakan dagangan).
b. Sesama ibu balita saling mengingatkan jadwal posyandu apabila sudah mendapat kepastian dari puskesmas
c. Adanya rasa kebersamaan dalam masyarakat, seperti yang dinyatakan oleh informan dari ibu balita, yaitu merasa sama-sama membutuhkan kesehatan untuk balitanya, yang dapat dipantau berdasarkan kenaikan berat badan balita. Mereka merasa orang desa dengan pengetahuan terbatas, tak mempunyai banyak uang, semua serba terbatas maka harus di upayakan bersama-sama.
d. Bagi balita yang tidak dapat hadir ke penimbangan posyandu, maka kader sebagai petugas posyandu akan secara aktif mendatangi rumah balita, terutama untuk pemberian kapsul vitamin A. Sedangkan untuk penimbangan balita tidak semua balita dapat terjangkau secara proaktif.
Gambar 6.4: Suasana kegiatan di posyandu Desa Pecuk pada bulan Agustus tahun 2009, dengan tempat dan peralatan yang sangat sederhana dan pengunjung yang antusias menimbangkan balitanya.
Sumber: Data primer
C. Kontribusi Sosiokultural Dalam Perspektif Teoritis
Sosiokultural yang dalam penelitian ini di fokuskan pada sistim sosial dan sistim budaya, merupakan faktor yang mempunyai kontribusi dalam menentukan status gizi balita di Desa Pecuk.
Di dalam perspektif Koentjaraningrat, sistem pendidikan Indonesia yang tradisional mengajarkan sejak kecil suatu pola perilaku yang selalu rukun terutama dengan keluarga dan masyarakat dilingkungannya. Hal ini muncul oleh sebab
167
168
adanya pandangan hidup, bahwa seseorang tidak mungkin hidup sendiri tanpa kerjasama. Di masyarakat pedesaan Indonesia perwujudan kerjasama yang menonjol berupa gotong royong dan tolong menolong.
Gotong royong pada dasarnya adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat secara sadar untuk mencapai suatu kepentingan bersama tanpa didasarkan oleh pertimbangan imbalan materi bagi mereka yang terlibat didalamnya. Berbeda dengan kegiatan gotong royong dan tolong menolong yang biasanya ditemukan berkaitan dengan masalah pertanian (kroyokan, grojogan), kehidupan kekerabatan (rerukun alur waris), dalam menyiapkan pesta dan upacara (sambatan, rencang), dan dalam hal kecelakaan dan kematian. Pada hasil penelitian ini gotong royong dan tolong menolong yang merupakan unsur dari kohesi sosial (keakraban sosial) telah meluas berkaitan dengan pola asuh gizi balita.
Gotong royong yang juga merupakan bentuk kerjasama, menurut perspektif Koentjaraningrat muncul karena orientasi orang per orang terhadap kelompoknya dan kelompok lainnya, yang berupa:
1. Motivasi pribadi. Tujuan-tujuan pribadi dihimpun dalam usaha-usaha bersama untuk mencapainya.
2. Kepentingan bersama, berdasarkan tujuan-tujuan yang dianggap bernilai tinggi,dapat memberi motivasi kepada orang-orang atau berbagai kelompok dan organisasi untuk bekerjasama.
3. Motivasi altruistik, motivasi ini bersumber dari keinginan seseorang untuk menolong pihak lain, karena panggilan hati.
4. Tuntutan situasi, misalnya karena musibah banjir orang tergerak untuk menanggulangi bersama berbagai akibatnya.