• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPANGAN PARKIR

C. Pelabuhan Perikanan

3.2.1.3 SISTEM TRANSPORTASI UDARA

Kota Kupang sebagai pintu gerbang ke Indonesia karena berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste di sebelah Timur dan Negara Australia di sebelah Selatan, memiliki bandar udara yang memegang peranan penting dalam mendukung perannya sebagai simpul pelayanan jaringan transportasi wilayah dan nasional, serta sebagai kota persinggahan utama terkait kedudukannya sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Bandar Udara Eltari yang berada di wilayah Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, adalah bandar udara kelas I yang terdapat di Kota Kupang dan berperan sebagai pusat penyebaran sekunder.

Kedudukan Kota Kupang sebagai ibukota provinsi juga menjadikan bandar udara ini sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta memegang peranan penting dalam mendukung pergerakan masyarakat dari maupun menuju Kota Kupang.

Kondisi Bandar Udara El Tari Kupang saat ini secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut :

Dimensi runway /Arah / PCN adalah 2.500 m x 45 m / 07-25 / 38 FCXT  Ketinggian bandar udara adalah +102 m MSL (Mean Sea Level)

Memiliki Terminal Domestik seluas 5.215 m2

 Mempunyai pelayanan LUU : ADC

 Pesawat rencana adalah Boeing B-737-900ER, dengan bobot lepas landas maksimum 58.132 kg, panjang dasar runway yang dibutuhkan 2.295 m, kapasitas tempat duduk 105 orang, dan konfigurasi roda pendaratan utama adalah dual wheel.

 Kemampuan operasi sebagai bandar udara alternatif adalah Airbus A-300-B4. Bandar udara alternatif adalah bandar udara yang digunakan untuk pergerakan pesawat dalam keadaan darurat dengan bobot pendaratan dan lepas landas seminimum mungkin sehingga panjang runway yang dibutuhkan kurang lebih sama dengan yang tersedia.

Secara fungsional kawasan penerbangan harus memiliki perlindungan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) yang ditetapkan sebagai kawasan dengan pengembangan terbatas dengan maksud menjaga keselamatan operasi penerbangan guna melindungi masyarakat dari kemungkinan bahaya kecelakaan pesawat terbang atau kebisingan. Dalam pengembangan Bandara El Tari perlu ditetapkan area kawasan keselamatan operasi penerbangan Bandara El Tari, yang meliputi wilayah bandara ditambah wilayah-wilayah yang ada di sekitar bandara dengan luas dan jarak tertentu, yang penentuan batas-batas kawasan keselamatan operasi penerbangan, terbagi atas :

1. Kawasan Transitional Surface, yang merupakan kawasan pendekatan dan lepas landas, yaitu kawasan yang merupakan perpanjangan dari ujung landasan dan berbentuk trapesium, yaitu sejauh 15 Km dari ujung landasan dengan kemiringan 2%.

2. Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan, yaitu kawasan yang merupakan perpanjangan dari kawasan transitional surface yaitu sejauh 3 Km dari ujung landasan.

3. Permukaan Transisi, yaitu bidang miring sejajar poros landasan sampai 315 m dari sisi landasan, dengan kemiringan 14,3% sampai memotong Permukaan Horizontal Dalam.

4. Kawasan Permukaan Horisontal Dalam, yaitu bidang datar di atas dan disekitar bandara dengan radius 4 m dari ujung landasan/permukaan utama dengan ketinggian +51 m diatas ketinggian ambang landasan yang ditetapkan, yaitu ambang landasan 29 dengan ketinggian + 731,783 m dpl, sehingga ketinggian permukaan horizontal dalam ini adalah 782,783 m dpl.

5. Kawasan Permukaan Kerucut, yaitu bidang miring antara jarak 4 Km sampai 6 Km dari ujung landasan/permukaan utama, dengan kemiringan 5%, yang menghubungkan tepi luar permukaan horizontal dalam dengan tepi dalam permukaan horizontal luar.

6. Kawasan Permukaan Horizontal Luar, yaitu bidang datar di sekitar bandara dengan radius mulai dari 6 Km sampai 15 Km dari ujung landasan, dengan ketinggian + 156 m di atas ketinggian ambang landasan atau ketinggian + 887,783m dpl.

Adapun wilayah kawasan keselamatan operasi penerbangan yang harus dijadikan sebagai kawasan lindung meliputi Kawasan Transitional Surface, yaitu kawasan pendekatan dan lepas landas pesawat yang merupakan perpanjangan dari ujung landasan dan berbentuk trapesium. Adapun pedoman yang harus diikuti dalam

upaya pengembangan kawasan keselamatan operasi penerbangan untuk kegiatan budidaya, diantaranya berupa tempat pemakaman umum, kegiatan perkebunan atau pertanian yang tidak mengundang burung-burung untuk datang, karena dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Sedangkan kawasan di luar

Transitional Surface yang masih dalam kawasan keselamatan operasi penerbangan

diarahkan melalui pengembangan terbatas, terutama yang menyangkut kepadatan bangunan dan ketinggian bangunan yang harus dibatasi sesuai toleransi yang diijinkan, jenis kegiatan yang tidak menimbulkan polusi serta tidak mengundang banyak burung, sehingga tidak mengganggu aktivitas penerbangan.

Bandara El Tari Kupang saat ini merupakan bandara yang mengemban 2 fungsi yaitu Bandara Umum/Komersial dan Bandara Khusus Militer, Karena selain memiliki terminal penumpang penerbangan domestik, Bandara El Tari juga diakses oleh Pangkalan TNI Angkatan Udara bagi kepentingan penerbangan pesawat-pesawat tempur. sebagai pusat pelayanan sekunder serta pangkalan militer TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara. Saat ini Bandara El Tari memberikan pelayanan bagi penerbangan komersial domestik yang melibatkan 8 maskapai penerbangan, yaitu : Lion Air, Batavia Air, Sriwijaya Air, Mandala Air, Garuda Airlines, Merpati, Trans Nusa, dan Susi Air. Kecuali Trans Nusa, maka maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara El Tari Kupang merupakan maskapai penerbangan nasional yang telah memiliki jalur penerbangan ke seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan Trans Nusa merupakan maskapai penerbangan lokal antar pulau yang melayani penerbangan antara Kupang menuju kabupaten-kabupaten di wilayah Kota Kupang, dan penerbangan menuju Denpasar dan Makasar.

Selanjutnya dengan memperhatikan dua fungsi pelayanan yang diemban oleh Bandara El Tari tersebut di atas, maka langkah pengembangan Bandara El Tari di masa mendatang harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

 Pelaksanaan fungsi rangkap Bandara El Tari antara komersial umum dengan khusus militer masih dapat dipertahankan bila kepadatan lalu lintas pesawat di Bandara El Tari masih cukup rendah, namun bila kepadatan lalu lintas udaranya telah padat, maka pemisahan kedua fungsi tersebut antara Bandara Komersial Umum dengan Bandara Militer di Bandara El Tari.

 Kebutuhan pengendalian kawasan sekitar Bandara baik akibat dari pengembangan bandara itu sendiri beserta operasi penerbangannya, maupun karena timbulnya kegiatan-kegiatan yang tumbuh di sekitar bandara. Dalam hal ini yang perlu dikendalikan adalah kemungkinan pencemaran suara, emisi mesin waterpurity.

 Kebutuhan untuk perencanaan tata ruang pengendalian kawasan sekitar bandara terutama berkaitan dengan :

 Pengaturan ketinggian bangunan bagi keselamatan operasi penerbangan; dan

 Pengaturan jenis kegiatan yang menimbulkan interferensi elektrik dengan komunikasi radio atau alat bantu navigasi udara, cahaya yang dapat menggangu pilit dan asap yang dapat mengurangi daya penglihatan srta bau yang mengganggu kenyamanan (misalnya : Lokasi Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPA).

Dengan demikian penatagunaan udara di sekitar Kawasan Bandara El Tari di maksudkan untuk :

 Memenuhi kebutuhan pengembangan bandara atau Keselamatan Operasi Penerbangan (KOP) Luar;

 Meminimumkan gangguan akibat kegiatan bandara terhadap kawasan/ kegiatan lain di sekitarnya.

 Dalam penatangunaan bandara kawasan bandara tercakup ketentuan-ketentuan jenis yang terkait dengan keselamatan operasi penerbangan yang meliputi : Ketinggian bangunan dan pencahayaan, di samping itu aspek kepentingan penduduk yang berada di sekitar bandara perlu mendapatkan perhatian khusus. Rencana pengembangan bandar udara meliputi :

 Peningkatan sarana dan prasarana penunjang bandar udara;

 Penambahan rute penerbangan., baik lokal, regional maupun manca negara.

Untuk lebih jelasnya sistem transportasi udara dapat dilihat pada gambar nomor 3.9 (peta sistem transportasi udara) dan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan pada gambar nomo 3.10 (peta KKOP).

Dokumen terkait