BAB I. PENDAHULUAN
G. Sistematika Penulisan Skripsi
3. Sistem Wali asuh Dalam Lingkup Pesantren
Sistem adalah sebuah cara untuk bisa. Adapun wali adalah orang yang menurut agama diserahi tugas untuk mendidik / mengasuh anak yatim sebelum anak itu dewasa.7 Sedangkan asuh adalah menjaga, merawat dan mendidik anak kecil untuk dapat berdiri sendiri.8
Jadi yang dimaksud dengan sistem wali asuh adalah sebuah sistem yang di dalamnya terdapat sebuah proses bimbingan, penyuluhan, serta mendidik dan mengasuh peserta didik.
Adapun indikatomya ad alah : • Memberikan bimbingan
• Memberikan penyuluhan
7 Op. cid. hlm.4
• Sebagai pendidik (mendidik) • Mengasuh peserta didik
C. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan sistem wali asuh di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung?
2. Bagaimana sikap kepribadian santri di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung?
3. Adakah pengaruh sistem wali asuh terhadap sikap keperibadian santri di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan sistem wali asuh di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.
2. Untuk mengetahui bagaimana sikap keperibadian santri Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.
3. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh sistem wali asuh terhadap sikap kepribadian santri di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.
E. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.9
9 Suliarsiini Ari Kunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi III. Reneka Cipta Jakarta, 1996. him.67.
Hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah : “sistem wali asuh berpengaruh terhadap sikap kepribadian santri di pondok pesantren”. Dengan kata lain, semakin tinggi penerapan sistem wali asih, semakin tinggi sikap kepribadian santri di pondok pesantren.
F. Metode Penelitian
1. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi
Adapun populasi santri yang berada di Pondok Pesantren Al- M u’min Muhamamdiyah Tembarak Temanggung berjumlah 150 santri. b. Sampel
Karena yang kami teliti merupakan suatu populasi yang menunjukkan adanya lapisan-lapisan atau strata maka di dalam pengambilan sampel kami menggunakan stratified random sampling.
Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 45 santri pondok pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung.
2. Teknik Pengumpulan Data a. Metode Observasi
Didalam melakukan observasi ini penulis melakukan pengamatan, pencatatan, dan mengumpulkan data yang ada hubungannya dengan Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak
Temanggung. Hal ini perla penulis lakukan dalam rangka mengetahui secara langsung terhadap data-data yang penulis perlukan.
b. Metode Angket
Kuesioner adalah suatu alat pengumpul informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh respondenya. Angket ini hanya ditujukan pada siswa untuk untuk mendapatkkan data tentang sikap sosial keberagaman santri di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung. c. Metode Interview
Interview dilakukan kepada kepala direktur pondok, Kepala Sekolah Madrasah Ttsanawiyah, Kepala Madrasah Aliyah dan para guru untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan sistem wali asuh dan sikap sosial keberagaman santri di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhamadiyah Tembarak Temanggung.
d. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi ini untuk mendapatkan dokumen^dokumen pondok seperti buku, kaset, dan arsip-arsip pondok.
3. Teknik Analisa Data
a. Analisis Pendahuluan
Analisis ini digunakan untuk menghitung sekor masing-masing variabel. Analisis ini digunakan rumus presentase :
P = — *
100%
iVKeterangan :
P = Presentase perolehan F = Frekuensi mentah N = Jumlah total responden10 b. Analisis Lanjutan
Analisis ini digunakan untuk mengetahui adakah pengaruh sistem wali asuh terhadap sikap kepribadian santri di pondok pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah dan sekaligus untuk menguji hipotesa yang telah diajukan dan analisis lanjutan, penulis menggunakan rumus product momen adalah sebagai berikut :
N ^ X Y - C ^ x y z r ) ^ ' { N ' L X * - C Z Y f )
Keterangan :
rxy = Koefisien antara variabel x dan N = Banyaknyta data
X = Variabel pengaruh Y - Variabel terpengaruh
XX = Jumlah skor dalam distribusi x XY = Jumlah skor dalam distribusi y XX2 = Jumlah kuadrat sekor x
XY2 = Jumlah kuadrat sekor y
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk memudahkan pemahaman dan pengertian sisi skripsi ini, maka penulis membagi ke dalam sistematika penulisan. Adapun sistematika penulisan tersebut adalah sebagai berikut :
• Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini berisi latar belakang masalah, penegasan istilah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian hipotesa, metode penelitian, sistematika penulisan.
• Bab II : Tinjauan Pustaka
Pada bab ini diuraikan pembahasan teori yang menjadi tinjauan pustaka, penelitian, khususnya berkaitan dengan variabel penelitian. Pada variabel pertama meliputi : sistem wali asuh, pengertian sistem wali asuh, macam-macam wali asuh, sistem wali asuh dalam lingkup pesantren. Pada variabel kedua meliputi : pengertian sikap sosial keberagaman, aspek-aspek kepribadian, konsep kepribadian Islami, ciri-ciri kepribadian muslim, hubungan wali asuh terhadap kepribadian santri. •
• Bab III : Laporan Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dilaporkan hasil pengumpulan data dari pondok pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Purwodadi, Tembarak, Temanggung, yaitu data mengenai sejarah berdirinya, keadaan santri yang ada di pondok pesantren Al-Mu’min Muhamamdiyah. Daftar nama responden dan daftar hasil angket.
• Bab IV : Analisis Data
Pada bab ini akan dianalisis terhadap data yang terkumpul, dengan tahapan-tahapan klasifikasi data, perhitungan frekuensi dan presentase untuk menjawab pokok masalah pertama dan kedua, sementara untuk menjawab pokok masalah yang ketiga, yaitu tentang ada tidaknya pengaruh sistem wali asuh terhadap sikap kepribadian santri. •
• Bab V : Penutup
Untuk mengakhiri penulisan skripsi, pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan akhir dari hasil penelitian, saran-saran dan kata penutup.
A. Sistem Wali Asuh
1. Pengertian Sistem Wali Asuh
Sistem adalah sebuah cara untuk bisa." Wali adalah orang yang menurut agama diserahi tugas untuk mendidik atau mengasuh anak yatim sebelum anak itu dewasa.11 12 Sedangkan asuh adalah menjaga, merawat, dan mendidik anak kecil untuk dapat berdiri sendiri.13
Jadi sistem wali asuh adalah sebuah sistem yang di dalamnya terdapat sebuah proses bimbingan, penyuluhan, serta mendidik dan mengasuh peserta didik.
Proses bimbingan, penyuluhan, serta mengasuh anak didik merupakan suatu yang menjadi bagian pokok untuk mengembangkan serta memperbaiki keperibadian pada diri santri.
Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik pria maupun wanita, yang memiliki pribadi yang baik dan pendidikan yang memadai, kepada seorang individu dari setiap usia untuk menolongnya mengemudikan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah
11 Kamus Besar Bahasa Indonesia. Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta : 1995. hlin.667.
12 Ibid. K
13 W.JS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, : 1982. hlm.63.
pandangannya sendiri, membuat pilihannya sendiri dan memikul bebannya sendiri.
Selain wali asuh diasumsikan sebagai pola penyuluhan. Penyuluhan merupakan suatu proses yang diberikan kepada anak peserta didik. Adapun penyuluhan di sini mempunyai satu makna dengan membimbing dengan tunjuan untuk memberikan perubahan pada diri peserta didik baik yang menyangkut masalah akademik, sosial, keluarga, dan lain sebagainya.14
Adapun dalam konteks lain wali asuh diasumsikan dengan istilah
guidance yang memiliki arti bimbingan, pimpinan, arahan, pedoman, dan petunjuk, menuntun, mempedomi, menjadi petunjuk jalan, mengemudikan.15
2. Macam-macam Sistem Wali Asuh
Dalam dunia pendidikan istilah wali asuh sangatlah asing, dalam konteks ini wali asuh mempunyai hubungan erat dengan bimbingan dan penyuluhan, bahkan bimbingan dan penyuluhan dalam dunia pendidikan dipandang sebagai salah satu perangkat yang mendukung perkembangan peserta didik.
Adapun salah satu pola penerapan pola bimbingan ataupun penyuluhan yang secara optimal dan secara kesinambungan terdapat di pondok pesantren. Sebuah pondok pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional di mana para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah seorang (lebih) guru yang dikenal dengan sebutan 14 Syaifiil, Bahri Djamroh, Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga Sebuah
Prespektif Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 2004. him 10.
kyai.16 Asrama untuk para siswa tersebut berada dalam lingkungan kompleks pesantren di mana kyai bertempat tinggal yang juga menyediakan Masjid untuk beribadah, raung untuk belajar dan ruang kegitan-kegiatan agama lainnya, kompleks pesantren ini biasanya dikelilingi dengan tembok untuk mengawasi keluar dan masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.17
Di samping itu dalam kehidupan yang diikat dengan sistem wali asuh terlihat di dunia pesantren. Dalam kehidupan pesantren terdapat karakteristik yang unik yaitu :
1) Hubungan antara guru (kyai) dan murid (santri) tampak lebih bebas dan saling menguntungkan.
2) Kehidupan antara santri sangat demokratis, mereka menghadapi pekeijaan bersama-sama dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi secara bersama-sama.
3) Di samping pelajaran, pesantren juga mengajarkan idealisme, persaudaraan dan kesamaan serta rasa percaya diri.
Ciri-ciri pola asuh (sistem pesantren) pondok pesantren yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain yaitu :
a. Adanya hubungan yang akrab antara kyai dengan murid (santri). Kyai sangat memperhatikan kehidupan santrinya. Hal ini dimungkinkan karena mereka tinggal bersama-sama dalam satu pondok atau kampus.
16 Ismail SM. Dinamika Pesantren dan Madrasah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002. hlm.49. 17 Dhofar, Zamarkasi, Tradisi Pesantren, LP3S, Jakarta, 1984. him 44.
b. Tunduknya santri kepada kyai. Para santri menganggap bahwa menentang Kyai dianggap kurang sopan juga bertentangan dengan ajaran agama. c. Hidup hemat dan sederhana benar-benar dilakukan dalam pondok
pesantren hidup mewah tidak terdapat dalam pondok pesantren.
d. Semangat menolong diri amat terasa dan kentara dikalangan pondok pesantren. Hal ini disebabkan karena para santri mencuci pakaiannya sendiri, membersihkan kamar sendiri dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang memasak makanan sendiri.
e. Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan sangat mempengaruhi pergaulan di pondok pesantren. Hal ini disebabkan karena kehidupan yang merata dikalangan para santri, juga karena santri harus mengeijakan pekeijaan-pekeijaan yang sama, baik pekeijaan yang bersifat agama seperti: sholat beijamaah atau yang bukan bersifat agama, seperti membersihkan tempat sholat / tempat belajar.
f. Pendidikan disiplin sangat ditekankan dalam kehidupan pondok pesantren. Pagi-pagi benar antara jam 04.30 sampai 05.00 pagi Bapak Kyai sudah membangunkan santri untuk diajak sholat beijamaah. Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan adalah merupakan salah satu pelajaran yang diperoleh di pondok pesantren. Hal ini dilakukan oleh para santri dengan kebiasaan tirakat, baik dengan puasa sunah, sholat tahajud pada waktu malam, I'tikaf di masjid dengan merenungkan kebesaran dan kemurahan Allah maupun dengan amalan-amalan lainnya.
3. Sistem Wali asuh Dalam Lingkup Pesantren
Sistem wali asuh pada lembaga pondok pesantren merupakan cara, metode, solusi untuk memberikan bimbingan, penyuluhan secara menyeluruh kepada diri santri.
Adapun peran seorang pendidik dalam upaya penerapan sistem wali asuh pada lembaga pendidikan terutama dalam pondok pesantren harus memahami dan menyadari tentang tujuh wawasan tarbiyah. Adapun tujuh wawasan terbiyah adalah :
1) Memandang bahwa anak adalah fitrah
Setiap santri adalah seorang anak. Mereka bukan orang dewasa yang telah memiliki kematangan berfikir. Mereka terkadang ingin dimanja, butuh perhatian, suatu saat perlu disanjung, ingin kasih sayang, memerlukan sarana bermain, bertanya-tanya sesuatu dan selalu ingin coba-coba, mereka membutuhkan orang tempat mencurahkan isi hati, mereka juga butuh bimbingan ketika berbuat salah. Itulah ciri anak-anak, jadi memperlakukan mereka seperti orang dewasa adalah sebuah kekeliruan. Meski mereka terkadang mencoba berbuat kesalahan tetapi pada hakekatnya mereka fitrah, yaitu memiliki kecenderungan untuk taat dan patuh pada peraturan Allah SWT. di sinilah letak kebutuhan seorang pengasuh atau pendidik. 2) Setiap anak memiliki kelebihan dan potensi untuk berkembang
Proses pendidikan secara fisik maupun mental, anak-anak itu masih terus berkembang, mereka selalu berupaya untuk menemukan
pelajaran tetapi mereka memiliki hak untuk mendapatkan ilmu yang lebih luas lagi yang bermanfaat bagi mereka dalam kehidupan dunia maupun akherat. Karena itu kesempatan untuk memilih jurusan (apabila sudah ada lebih dari satu jurusan) diberikan seluas-luasnya sesuai bakat dan minat mereka, demikian juga dalam memilih kegiatan ekstra (kecuali yang wajib), bacaan-bacaan yang disediakan dalam perpustakaan maupun bacaan-bacaan yang lain dengan aneka ragam ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
4) Ustadz adalah Murrobi
Seorang ustadz bukanlah seorang guru yang hanya bertugas menstransfer ilmu (teaching) kepada santrinya, tetapi lebih dari itu ia merupakan Murrobi, pendidik sekaligus pengasuh muridnya. Ustadz merupakan elemen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan. Ia merupakan ujung tombak. Ia merupakan contoh teladan. Proses belajar siswa atau santri sangat dipengaruhi oleh bagaimana siswa memandang perform ance (penampilan) guru mereka. Kepribadian guru seperti memberi perhatian, hangat, dan suportif •(memberi semangat), diyakini bisa memberikan motivasi yang pada gilirannya meningkatkan prestasi siswa. Empati yang tepat seorang guru kepada siswanya membantu perkembangan prestasi akademik mereka secara signifikan. Guru juga perlu membangun citra yang positif (dapat dicontoh atau ditiru) tentang dirinya jika ingin agar santrinya memberi respon dan bisa diajak kerjasama dalam proses pendidikan dan belajar mengajar.
Guru juga sangat perlu memiliki "Profesionalism e” dan
"Kom petensi". Yang dimaksud dengan guru profesional adalah guru yang dalam melaksanakan aktifitas kerjanya didasarkan pada :
a) Yuridis formal dan etis ilmiyah,
b) Mengacu pada bidang pengetahuan khusus yang diperoleh melalui proses pendidikan dan atau pelatihan serta pengalaman dan,
c) Upaya meningkatkan diri yang kontinu.
Adapun yang dimaksud dengan kompetensi adalah bahwa guru harus :
a. Menguasai landasan-landasan pendidikan, b. Menguasai bahan atau materi pelajaran, c. Mampu mengolah program KBM, d. Mampu mengelola kelas,
e. Mampu megelola interaksi KBM,
f. Mampu menggunakan media dan sumber belajar, g. Mampu menilai basil belajar atau prestasi siswa,
h. Mampu mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan,
i. Mampu memahami prinsip dan menafsirkan basil penelitian untuk keperluan mengajar, dan
j. Mengenal dan menyelengsarakan administrasi M adrasah.19
19 Ainur Rahim. Faqih, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, UII Press, Yogyakarta, 2001. him. 16.
5) Belajar itu menyenangkan.
Masih ada kesan bahwa belajar itu "membosankan, membebani dan membuat stress". Anak-anak merasa terbebani dengan tugas-tugas, seperti : PR, hafalan, resume, dan lain-lain. Kesan demikian muncul tentu karena anak-anak belum menyadari akan pentingnya tugas, resume dan lain-lain. Yang menjadi masalah adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran. Di sinilah kita merasa perlu memasukkan point kelima ini ke dalam wawasan tarbiyah. Ustadz harus membimbing, mengarahkan, merangsang anak-anak dengan cara yang tidak hanya bertumpu pada "Verbal" (berupa perkataan semata) tetapi juga dengan trik-trik dan improvisasi yang membuat anak-anak "ketagihan" belajar.
Hidup tanpa ilmu bagaikan beijalan di tengah-tengah gelapnya malam tanpa obor. Padahal ilmu hanya bisa didapat melalui belajar (membaca, berdiskusi, mencermati, mengamati dan lain-lain. Karena itu belajar adalah (harus diupayakan menjadi) sesuatu yang indah dan menyenangkan. Dengan belajar seorang anak bisa berimajinasi, mereka juga dapat berasosiasi dan berkomunikasi dengan alam lingkungannya. Dengan belajar anak mengetahui tentang bulan meski tidak harus menginjakkan kakinya di bulan.
Dengan belajar anak menjadi tahu tentang gua Hiro' meski mereka belum pemah mengunjunginya, dan dengan belajar anak dapat menghitung jutaan rupiah meski mereka belum pemah memilikinya.
6) Penilaian atas dasar akhlaq atau amal dan prestasi akademik
Santri atau anak bukanlah objek. Mereka adalah subyek perubahan, mereka sendiri yang akan merubah dirinya melalui proses bimbingan, didikan dan asuhan guru atau ustadz. Segala aktivitas atau amal yang mereka lakukan adalah proses perubahan itu. Segala macam aktivitas yang baik adalah hak mereka melakukannya dan akan didorong terus menerus oleh para ustadz, sedangkan aktivitas yang kurang baik akan diarahkan kepada yang baik. Aktivitas atau amalan ini merupakan manifestasi dari ilmu akademik yang dipelajarai oleh setiap individu anak, karena itu bobot amal adalah sama dengan bobot prestasi akademiknya. Jadi adalah sebuah kekeliruan manakala penilaian hanya didasarkan pada prestasi akademik yang lebih bersifat kognitif dengan mengesampingkan prestasi amal atau akhlaq seorang anak. Cakupan semacam ini, akan memberi perhatian yang sama terhadap domain kognitif, afektif dan psikomotoriknya.
7) Menyembunyikan aib dan menampakkan prestasi
Adalah sebuah kewajaran apabila seorang manusia atau anak dan basil kreasinya mengandung kekurangan dan bahkan mungkin kesalahan. Tetapi akan menjadi tidak wajar jika kekurangan atau kesalahan seorang anak selalu ditampakkan pada orang lain (kecuali untuk dicarikan solusi atau terapinya dalam rangka perbaikan). Perlakuan yang lebih bijak adalah dengan menampakkan prestasinya
sebagai stimulan bagi yang lain untuk turut berprestasi dan motivasi bagi yang bersangkutan.