• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

H. Metodologi Penelitian

I. Sistematika Pembahasan

Bab i pendahuluan, latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, studi pendahuluan, metodologi penelitian, sistematika penulisan.

17

Bab ii membahas tentang teori kebenaran. Pada bab ini akan membahas dua hal, yaitu pandangan filosof Islam tentang kebenaran dan pandangan filosof Barat tentang kebenaran. Pemikiran tokoh Islam tentang teori kebenaran yang akan dibahas di sini meliputi pandangan Ghazālī, Ibnu Sīnā, Muḥammad Naqīb

al-„Aṭās, Muḥammad Taqī Miṣbāḥ Yazdī dan Mula Shadra. Sedangkan pandangan tokoh Barat ialah meliputi René Descartes sebagai wakil dari rasionalisme, Bertrand Russel dan Francis Bacon sebagai wakil dari empirisme, Charles S. Peirce pragmatisme.

Biografi Murtaḍá Muṭahharī dibahas pada bab iii. Di antara bagian-bagiannya ialah riwayat hidup dan pendidikan Muṭahharī. Pada sub bab ini dibahas secara tuntas riwayatnya, mulai dari sejak lahir hingga ia wafat. Di samping itu juga akan dibahas tentang guru-guru yang mempengaruhinya. Juga pemikiran seperti apa yang mempengaruhinya. Serta juga akan dibahas kondisi sosial pada setiap perjalanan hidupnya.

Sub bab bagian dua membahas tentang daftar karyanya serta resensi dari karya-karyanya. Karya-karya Murtaḍá Muṭahharī cukup banyak, tetapi akan penulis sajikan satu persatu sesuai dengan kemampuan penulis. Kemudian pada sub bab bagian tiga, penulis akan membahas peran Murtaḍá Muṭahharī dalam pemikiran Islam. Sumbangan apa saja yang ia berikan kepada pemikiran perkembangan Islam.

Bab berikutnya ialah bab iv. Bab ini berisi tentang Epistemologi Kebenaran, Prinsip-Prinsip Kebenaran, Metode Mencari Kebenaran dan Kritik Murtaḍá Muṭahharī kepada Barat. Epistemologi kebenaran yang di maksud di sini adalah landasan dasar dari teori kebenarannya. Bagaimana prosesnya sehingga dia berkesimpulan sebagaimana ia pahami tentang teori kebenaran. Prinsip-prinsip kebenaran di sini membahas tentang apa saja hal-hal yang membuat suatu teori atau pengetahuan itu benar. Pembahasan selanjutnya ialah hubungan kebenaran dengan fitrah seseorang.

Dalam bab v akan dibahas tentang kritik Murtaḍá Muṭahharī kepada Barat.

Barat yang dimaksud ialah pemikiran tentang kebenaran tokoh-tokoh populer seperti Karl Marx, Descartes dan Comte. Ketiga tokoh ini banyak dikritik olehnya di berbagai bukunya.

Sedangkan bab terakhir ialah bab penutup yang berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang penulis lakukan. Di samping itu juga berisi tentang saran dan kritikan penulis terhadap hasil penelitian.

18

19

BAB II

TEORI KEBENARAN DARI BERBAGAI PANDANGAN A. Model-model Kebenaran

Secara garis besar, kebenaran dapat disusun menjadi empat model yang secara makna dan sumbernya berbeda. Di antaranya ialah kebenaran empiris, kebenaran logis, kebenaran etis dan kebenaran metafisika.1

1. Kebenaran Empiris

Kata empiris sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu empeiria yang berarti berpengalaman dalam, berkenalan dengan dan terampil untuk.2 Aliran filsafat yang membahas tentang pengalaman disebut dengan empirisme.

Empirisme merupakan ide atau pengetahuan berasal dari pengalaman manusia.

Bagi aliran ini pengetahuan merupakan abstraksi dari berbagai pengalaman manusia. Karena pengetahuan adalah abstraksi dari pengalaman, maka relasi pengalaman dengan pengetahuan menjadi penentu kebenaran suatu pengetahuan.

Oleh karena itu kebenaran empirik dapat kita pahami sebagai kebenaran yang dapat kita temukan pada level pengalaman empiris. Pengalaman empiris dapat didefinisikan sebagai pengalaman yang kita temui dalam keseharian kita.

Kebenaran ini juga dapat dikatakan dengan kebenaran faktual. Faktual dalam pengertian di sini adalah segala sesuatu yang dapat dirasakan atau dijangkau oleh pancaindra. Konsekuensi dari konsep kebenaran empirik mengakibatkan tidak satu pun pengetahuan yang benar kecuali pengetahuan yang bersifat indrawi. Dalam rangka membuktikan kebenaran pengetahuan, mau tidak mau ilmuwan harus menyajikan bukti-bukti empiris yang dapat diverifikasi melalui pancaindra.3 Rasa asin pada garam akan dikatakan sebuah pengetahuan yang benar hanya ketika rasa asin pada garam tersebut dapat diuji melalui pengalaman langsung mengenai rasa asin yaitu dengan cara mencicipi garam tersebut, jika garam rasanya memang asin maka pengetahuan tentang garam asin dapat dibenarkan.

Memperkuat kuat argumen tentang kebenaran empirik, tokoh empirisme John Lock mengatakan bahwa manusia dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apapun. Otak manusia kosong seperti kertas putih yang kosong yang belum terisi apapun. John Lock mengistilahkan keadaan tersebut dengan tabula rasa (kertas kosong).4 Kemudian dalam perjalanan hidupnya, manusia terus mendapatkan pengetahuan melalui pengalaman-pengalaman empiris. Dari pengalaman indra

1 Yvonna S. Lincoln dan Egon G. Guba, Naturalistic Inquiry, (London: Sage Publications, 1985), h. 14-15. Diakses pada Agustus 2019 dari https://books.google.co.id/books?id=2oA9aWlNeooC&pg=PA14&lpg=PA14&dq=julienne+

ford+Lincoln+dan+Guba&source=bl&ots=0tpzX9S6wn&sig=ACfU3U1hFNRtXzpcXsuc1kj

_L05VWq-fXw&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwjR_6OHzqDkAhWRiHAKHYyFBdYQ6AEwC3oECAk QAQ#v=onepage&q=julienne%20ford%20Lincoln%20dan%20Guba&f=false

2 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2005), h. 197.

3 Mahfud Junaedi, Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam, (Depok: Kencana, 2017), h. 33.

4 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 177.

20

itulah pengetahuan manusia didapatkan.5 Frederick Suppe mengatakan bahwa dunia atau hal empiris merupakan awal mula dari terbentuknya proposisi. Maka proposisi yang benar adalah proposisi yang benar-benar menegaskan secara empiris tentang dunia.

Di sini lah tampak bahwa indra mempunyai posisi yang sangat penting dalam mendapatkan pengetahuan, hingga ia dapat menentukan benar tidaknya suatu pernyataan. Sedangkan batas-batas dari kebenaran empirik ini adalah sejauh pancaindra mampu menunjukkan fakta empirisnya.6 Seandainya seseorang tidak dapat menggunakan pengalaman indranya, maka ia tidak akan pernah sampai pada kebenaran dari suatu pengetahuan. Seseorang tersebut tidak akan mendapatkan pengetahuan yang benar. Semakin banyak pengalamannya maka semakin banyak juga ia dapat membuktikan kebenaran suatu pengetahuan.

Bahkan bagi penganut kebenaran empirik kebenaran pengetahuan rasional sekalipun seperti teori kausalitas, kebenarannya tidak dapat dikaji dan dibuktikan oleh logika. Premis yang mengatakan bahwa semua manusia mati, Andi adalah manusia. Jadi Andi pasti mati. Menurut kebenaran empiris tidak dapat dikatakan benar begitu saja. Muḥammad tidak dapat digeneralisir premis pertama secara tidak benar, sebab kita belum tahu apakah kematian berlaku bagi masing-masing individu manusia seperti telah kita duga.7 Maka untuk membuktikan kebenarannya ialah kita harus melihat bahwa memang Muḥammad adalah manusia yang mati.

Bagi penganut kebenaran empirik, teori kausalitas bukan berasal dari akal karena akal tidak mampu menciptakan pengetahuan sendiri. Teori kausalitas merupakan hasil dari pengalaman manusia, sehingga dalam menguji kebenarannya harus dibuktikan secara empiris.8 Batu yang dilepaskan akan jatuh ke bawah. pernyataan ini sebenarnya bukan berasal dari akal, tetapi berasal dari pengelaman manusia yang melihat batu yang dilepaskan kemudian jatuh ke bawah. Di situlah sebenarnya jika ingin membuktikan bahwa batu yang dilepaskan akan jatuh ke bawah, maka seseorang harus melakukan percobaan. Dengan melakukan percobaan, maka jelas kebenarannya. jika memang batu yang dilepaskan jatuh ke bawah, maka pengetahuan tersebut benar adanya.

Penganut positivisme seperti Rudolf Carnap dan Moritz Schlick, bahkan mengatakan dengan tegas bahwa hanya putusan-putusan ilmiah yang dapat diverifikasi secara empiris yang dapat dianggap sebagai pengetahuan yang benar.

Karena untuk mengetahui kebenaran suatu putusan ilmiah harus menggunakan metode verifikasi. Ketika putusan-putusan ilmiah telah diuji dengan kenyataan yang dapat diamati oleh indra, dan ternyata putusan-putusan tersebut sesuai dengan

5 K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), h. 50.

6 Mukhtar latif, Orientasi Ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu, (Jakarta: Prenada Media Group, 2016), h. 101.

7 Sayyid Muḥammad Bāqir al-Ṣadr, Falsafatunā. Penerjemah M. Nur mufid bin Ali, (Bandung: Mizan, 1995), h. 41.

8 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum ...,h.183-184.

21

kenyataan yang ditangkap oleh indra, maka putusan itu sudah diverifikasi dan kebenarannya sudah dikuatkan.9

Teori kebenaran empirik berdampak besar terhadap pengetahuan manusia.

Teori-teori non-indrawi selama ini yang banyak dianut oleh manusia menjadi salah menurut pandangan empirisme, termasuk pengetahuan tentang agama. Teori-teori yang disajikan oleh agama banyak pembahasan tentang sesuatu yang tidak tampak.

Ketika kita membahas tentang ilmu agama, tampaknya ilmuwan akan mengalami kesulitan dalam membuktikan setiap teori yang terdapat dalam ajaran agama jika ia menggunakan pendekatan empiris.

Kajian agama yang paling abstrak ialah kajian tentang Tuhan. Teori agama mengatakan bahwa Tuhan adalah ada. Lalu bagaimana seseorang membuktikan keberadaan Tuhan melalui pengalaman manusia sedangkan Ia begitu abstrak.

Dalam rangka menguji benar tidaknya pengetahuan tentang keberadaan Tuhan menggunakan pendekatan kebenaran empirik, seseorang harus menunjukkan bukti-bukti empiris mengenai keberadaan Tuhan berupa wujud Tuhan, tempat tinggalNya dan pengalaman lain yang dapat dijangkau oleh indera. Jika seseorang tidak dapat menunjukkan hal-hal empiris mengenai Tuhan, maka selama itu juga pernyataan tentang “Tuhan ada” adalah salah. Keberadaan Tuhan menurut kebenaran empiris tidak dapat dipertanggung jawabkan sehingga Tuhan dapat dikatakan tidak ada. Maka tidak heran jika David Hume menolak tentang keberadaan Tuhan.10 Jika agama dikaji menggunakan pendekatan kebenaran empiri maka agama akan kehilangan sisi kebenarannya. Bahkan dampaknya, manusia akan banyak kehilangan pengetahuan. Pengetahuan manusia tentang agama dan pengetahuan metafisika lain yang sudah bertahan ribuan tahun akan musnah begitu saja.

2. Kebenaran Logis

Kebenaran logis11 merupakan kebenaran yang didasarkan pada akal sehat dan dibangun berdasarkan konstruksi argumen logika. Di sini terdapat syarat agar pengetahuan yang dicapai oleh akal mampu mencapai kebenaran yaitu akal yang sehat. Akal yang tidak sehat hanya akan mencapai kebenaran palsu, seperti cermin rusak yang tidak akan mampu menampilkan objek dengan sebenar-benarnya.

Fahruddi Faiz12 mengatakan bahwa akal sehat berarti akal yang lurus, jujur dan tidak memihak. Akal yang tidak sehat akan mengantarkan kita kepada

9 Muchamad Iksan, “Epistemologi Mencari Kebenaran Dengan Pendekatan Transendental”, Proceeding Seminar Nasional Pengembangan Epistemologi Ilmu Hukum, April 2015, ISBN 978-602-72446-0-3, h. 34.

10 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum ..., h.183.

11 Istilah logis berasal dari bahasa latin yaitu logos yang berarti perkataan atau sabda. Di samping itu, logik juga berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti logos yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Mukhtar Latif, Orientasi Ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu ..., h. 155. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2005), h. 519.

12 Fahruddin Faiz adalah dosen filsafat Islam pada Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

22

pembenaran-pembenaran atau yang biasa kita sebut dengan rasionalisasi.13 Rasionalisasi adalah ketidakbenaran yang kemudian diberikan alasan-alasan rasional sehingga pengetahuan itu tampak seakan-akan benar.

Kebenaran logis adalah persoalan apakah proses validasi berlangsung sesuai dengan kaidah-kaidah berpikir. Jadi kebenaran ini ditentukan oleh aturan-aturan logika.14 Logika itu sendiri mengkaji hubungan antara pernyataan-pernyataan yang berupa kalimat-kalimat atau rumusan-rumusan, sehingga dapat ditentukan apakah suatu itu adalah benar atau salah. Dalam kajian logika, benar tidaknya suatu pernyataan lebih mengarah kepada bentuk. Sedangkan kalimat yang mempunyai nilai kebenaran disebut dengan proposisi. Proposisi hanya mempunyai satu nilai kebenaran, yaitu benar atau salah dan tidak bisa keduanya.15

Proposisi, menurut logika tradisional Aristoteles, harus terdiri atas tiga bagian, yaitu subyek, predikat, dan kopula. Kopula adalah suatu tanda yang menyatakan hubungan di antara subyek dan predikat. Hubungan yang dinyatakan oleh kopula mungkin berupa afirmasi (pembenaran), artinya kopula menyatakan bahwa di antara subyek dan predikat memang terdapat suatu hubungan, dan mungkin pula kopula menyatakan negasi (pengingkaran), artinya kopula menyatakan bahwa antara subyek dan predikat tidak terdapat suatu hubungan apapun.16

Contoh dari proposisi ialah “semua pencuri adalah penjahat”. Pada contoh tersebut dapat ditentukan bahwa term semua “pencuri” adalah subyek, term

“penjahat” adalah predikat. Sedangkan term “adalah” merupakan kopula17. Ketika suatu proposisi telah terbukti benar, suatu kesimpulan baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses ini disebut dengan penalaran.18 Contoh dari penalaran di antaranya yaitu:

Semua pencuri adalah penjahat. (a adalah c)  (Premis mayor) Andi adalah pencuri. (b adalah a)  (Premis minor)

Jadi Andi adalah penjahat. (b adalah c)  (Konklusi)

13 Fakhruddin Faiz, Teori Kebenaran, video youtube ke-1 menit ke 25.48, 17

Desember 2015. Diakses pada 19 Juli 2019.

https://www.youtube.com/watch?v=hCNvfg_4P-o

14 Y.P Hayon, Kesesatan Berpikir, (Surakarta: Tiga Pena Mandiri, 2012), h. 35.

15 Muhammad Rakhmat, Pengantar Logika Dasar, (Bandung: Logoz Publishing, 2013), h. 57.

16 Muhammad Roy Purwanto, Ilmu Mantiq, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2019), h. 67.

17 Dalam sistem bahasa Inggris dan Arab, istilah kopula bisa berupa “to be” (is, are, am) atau ẓamir (huwa, huma, hum dan seterusnya), sedangkan dalam tata bahasa Indonesia kopula (seperti kata “adalah”) tidak begitu diperlukan karena pengertiannya sudah terkandung dalam susunan subyek dan predikat. Misalnya proposisi “Ali adalah seorang nelayan”, term “adalah” itu dapat dihilangkan dan tidak merubah arti. Akan tetapi dalam pembahasan logika dengan pengantar bahasa Indonesia ini, kata “adalah” yang merupakan kopula, harus tetap ditampilan demi menjaga persyaratan proposisi. Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, Pengantar Logika, (Jakarta: Binatjipta, 1968), h. 34-5.

18 R.G. Soekadijo, Logika Dasar: Tradisional, Simbolik dan Induktif, (Jakarta:

Gramedia, 1985), h. 6.

23

Pada contoh di atas

merupakan contoh penalaran yang terdiri dari tiga proposisi, yaitu dua buah proposisi dasar dan satu buah proposisi yang merupakan kesimpulan dari kedua proposisi awal. Proposisi kesimpulan disebut konklusi dan dua proposisi dasar disebut dengan premis (premis mayor dan minor). Tiap-tiap proposisi terdiri dari dua term, dan karena itu silogisme meski mempunyai enam term. Namun pada dasarnya, ia hanya terdiri dari tiga term, yang masing-masing diulang dua kali, yaitu term mayor (major term), term minor (minor term), dan term tengah (middle

term), yang dilambangkan dengan M. Menurut Aristoteles, term mayor

adalah term yang menjadi predikat pada konklusi, sedangkan term minor adalah term yang menjadi subyek pada konklusi. Selanjutnya, premis yang terdapat term mayornya disebut premis mayor, dan premis yang terdapat term minornya disebut premis minor.

19

Pembahasan di atas merupakan suatu contoh penalaran yang tepat dan menghasilkan kesimpulan yang tepat, karena susunan premis-premisnya sudah dilakukan dengan tepat atau struktur proposisi dalam premis tetap. Meskipun proposisi pada premis-premis adalah benar, namun ketika penyusunan tidak tepat atau strukturnya berubah-ubah, maka dapat dipastikan kesimpulan yang dihasilkan akan salah.20 Seperti susunan premis-premisnya salah meskipun setiap premisnya benar, yaitu:

Semua pegawai negeri adalah penerima gaji. (benar) Semua pegawai swasta adalah penerima gaji. (benar) Jadi pegawai negeri adalah pegawai swasta. (salah)

Contoh penalaran salah yang disebabkan oleh struktur yang berubah ialah:

Ada puteri sala yang wanita luwes R.S Ani adalah puteri sala

Jadi R.S Ani adalah wanita luwes

Bentuk kebenaran logis ini tidak memerlukan objek materi untuk membuktikan kebenarannya, karena kebenaran dan kesalahan murni terdapat dalam pikiran. Aturan-aturan logislah yang menjadi penentu kebenaran. Hal ini dapat kita pahami bahwa nalar akal tampaknya dapat mengantarkan manusia pada kebenaran yang pasti. 21 Lebih jauh dari itu, kebenaran logis dapat kita pahami sebagai kebenaran yang masuk akal. Kebenaran yang dimaksud merupakan pernyataan hipotesis yang secara logis atau matematis sejalan dengan pernyataan lain yang telah diketahui sebagai suatu kebenaran.22 Jadi dalam kajian level kebenaran ini, kekuatan proposisi dalam menentukan dirinya benar atau salah ialah

19 Muhammad Roy Purwanto, Ilmu Mantiq, (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2019), h. 71.

20 R.G. Soekadijo, Logika Dasar: Tradisional, Simbolik dan Induktif, (Jakarta:

Gramedia, 1985), h. 8.

21 Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim: Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), h. 135.

22 A. Susanto, Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 89.

24

argumen-argumen rasional yang secara logis sangat kuat dan sudah diakui sebelumnya sebagai suatu kebenaran. Kekuatan pengalaman atau benda-benda fisik tidak menjadikan suatu pernyataan benar atau salah. Suatu pernyataan akan tetap dianggap benar, meskipun tidak mempunyai bukti empiris berupa fakta-fakta fisik. Fakta-fakta empiris seperti pengalaman manusia dan benda fisik lainnya hanyalah menjadi penguat dari argumen-argumen logis. Suparlan mengatakan bahwa kebenaran level ini merupakan kebenaran yang ditandai oleh adanya gambaran yang jelas dan tegas tentang sesuatu itu dalam pikiran. Kebenaran ini berprinsip bahwa kebenaran dapat ditangkap atau dikenal oleh akal karena adanya kejelasan dan kepastian yang dihasilkan oleh kemampuan berpikir itu sendiri.23 3. Kebenaran Etik

Kebenaran etik adalah kebenaran yang berdasarkan etika. Landasan kebenaran ini berbeda dengan apa yang telah dijelaskan sebelumnya. Yang terpenting pada level kebenaran ini adalah kesesuaian suatu pernyataan/prilaku/teori dengan norma-norma etis. Secara umum, norma-norma etis terdapat dua bagian di antaranya ialah etika universal dan etika relatif/lokal.

Dengan demikian, kebenaran etik pun dapat dibagi dua, kebenaran etik universal dan kebenaran etik lokal. Etika universal meyakini suatu nilai-nilai yang bersifat konstan dan tidak terikat dengan syarat atau kondisi tertentu. Suatu tindakan dapat dikatakan sebagai perilaku yang benar berdasarkan tolok ukur “keutamaan”.

Keutamaan memungkinkan manusia memilih perilaku yang tepat dan universal.24 Contoh dari etika universal di antaranya ialah membunuh sesama manusia. Dalam tatanan kebenaran etik, perilaku membunuh tidak dapat dibenarkan karena bertentangan dengan etika. Membunuh dalam kajian etika dilarang dan termasuk prilaku yang buruk.

Level norma etika yang lain ialah etik relatif, yaitu suatu norma etika yang tolok ukur kebaikan dan keburukannya bersesuaian dengan keadaan sosial pada suatu tempat.25 Maka setiap suku tampaknya mempunyai kebenaran etik masing-masing. Istilah lain ialah kebenaran etik merupakan kebenaran yang dihasilkan dari hasil kesepakatan sosial. Orang Indonesia ketika bertemu dengan guru maka murid harus mencium tangan, menunduk bahkan dalam memanggilnya harus menggunakan bahasa yang halus dan sopan, perilaku seperti ini bagi orang Indonesia dianggap benar. Tetapi berbeda dengan di Australia, di sana murid yang mencium tangan, menunduk dan memanggil dosen menggunakan bahasa yang halus dan sopan justru diyakini oleh gurunya sebagai murid yang ingin menciptakan jarak dengan guru, maka perilaku tersebut dikatakan sebagai perilaku yang salah. Satu perilaku yang sama tampaknya mempunyai sisi kebenaran yang berbeda sesuai dengan wilayahnya. Kebenaran relatif ini akan mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan konteks dan kesepakatan-kesepakatan sosial yang ada.

23 Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan: Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan, (Jogjakarta: Ar Ruzz Media, 2005), h. 82.

24 K. Bertens, “Kata Pengantar” dalam Aristoteles, Nicomachean Ethics: Sebuah Kitab Suci Etika. Penerjemah Embun Kenyowati, (Jakarta: Teraju, 2004), h. viii.

25 K. Bertens, Etika, (Jakarta: Gramedia, 2007), h. 279.

25

Kebenaran ini didukung oleh filosof Barat yang mengatakan bahwa sebenarnya kebenaran bukan tentang seberapa jauh subjek menangkap objek, melainkan seberapa sesuai subjek dengan ranah praktis. Pandangan ini datang dari penganut realisme. Mereka memandang realitas sebagai suatu yang bersifat plastis atau berubah-ubah serta selalu mendapatkan pengaruh dari keadaan praktis seperti ekonomi dan kultur.26 Maka teori kebenaran etis mempunyai pandangan yang sejalan dengan teori ini bahwa kebenaran dapat kita lihat melalui etika yang bisa jadi aturan-aturannya berbeda antara wilayah yang satu dengan yang lainnya.

Selain itu, kebenaran etika juga mengalami perubahan dari masa ke masa.

Fakta di masyarakat, nilai-nilai etika yang dilandaskan pada agama diakui sebagai kebenaran dan diterapkan dalam kehidupan. Bagi muslim Indonesia misalnya, berboncengan dengan lawan jenis di luar nikah diakui sebagai kesalahan dalam bergaul antara pria dan wanita. Pengakuan tersebut berlandaskan pada nilai-nilai etika keagamaan. Fenomena ini terwujud dalam fakta di masyarakat yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari pada era pra globalisasi.

Sebaliknya, di era globalisasi nilai-nilai kebenaran khususnya kebenaran etika bergaul dan berpakaian antara pria dan wanita menurut Islam sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian anggota masyarakat remaja yang terwujud dalam fakta.

Sebagai contoh ajaran Islam (larangan mendekati zina) sebagai suatu ajaran yang mengandung nilai kebenaran mutlak, kini telah ditinggalkan oleh sebagian remaja yang berpola pikir kebarat-baratan. Islam juga mengajarkan nilai sopan santun yang mengandung nilai kebenaran tentang keharusan kaum wanita untuk menutup aurat, namun dalam faktanya, sebagian remaja kita telah menganggap ajaran itu tidak benar atau kuno, sehingga mereka berpakaian sangat seksi. Karena itu dapat disimpulkan bahwa nilai kebenaran agama mengalami krisis dan kesenjangan dengan kenyataan atau fakta yang diamati dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

4. Kebenaran Metafisik

Ibn Rushd mendefinisikan metafisika sebagai pengetahuan tentang wujud.

Metafisika adalah bagian dari ilmu teoritis. Ia mempelajari kemaujudan secara mutlak; prinsip nonbendawi hal-hal fisis yang dapat dirasakan seperti kesatuan, kemajemukan, kemampuan, aktualisasi dan sebagainya; sebab-sebab segala yang ada di samping Tuhan dan wujud-wujud suci. Jadi metafisika mempelajari tentang sebab-sebab tertinggi dari hal tertentu yang jauh melampaui jangkauan indra.27

Kebenaran metafisik merupakan kebenaran tentang hal-hal di balik dunia

Kebenaran metafisik merupakan kebenaran tentang hal-hal di balik dunia