• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematika Pembahasan

Dalam dokumen OLEH : YUNANI NIM : SKRIPSI (Halaman 30-0)

BAB 1 PENDAHULUAN

K. Sistematika Pembahasan

Sebagai upaya memudahkan alur pembahasan dalam penelitian ini, maka penulis uraikan sistematika pembahasan ini kedalam lima bab, dan masing-masing bab memiliki kerangka-kerangka pembahasan sebagai berikut :

Bab pertama berisikan pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua berisikan kajian teori yang menguraikan tentang metodologi pendidikan, mengenal malaikat dan tugasnya, pengertian

metode Make a Match, pelaksanaan pembelajaran Make a Match dan kelebihan serta kelemahan metode Make a Match.

Bab ketiga berisikan tentang setting wilayah penelitian yang menguraikan tentang sejarah berdirinya SD Negeri 103 Palembang, jumlah pegawai, jumlah guru, jumlah siswa serta sarana dan prasaran di SD Negeri 103 Palembang.

Bab keempat berisikan hasil penelitian dan pembahasan yang menguraikan masing-masing siklus dengan data lengkap, menyangkup aspek yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan.

Bab kelima adalah bab penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Belajar dan Hasil Belajar

1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar

Dalam kaitannya dengan perkembangan manusia, belajar merupakan faktor penentu proses perkembangan berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, nilai, reaksi, keyakinan, dan lain-lain tingkah laku yang dimiliki manusia adalah diperoleh melalui belajar11

Secara kuantitatif belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta yang sebanyak-banyaknya. Secara institusional belajar dipandang sebagai proses validasi ( pengabsahan) terhadap penguasaan peserta didik atas materi- materi yang telah diajarkan.

Sedangkan menurut Hilgard dan Bower sebagaimana dikutip oleh Ngalim Purwanto menjelaskan :

“ Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecendrungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan seseorang”.12

Dari beberapa pendapat ahli mengenai belajar, dapat dianalisis oleh penulis bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai

11 Alifus Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional IAIN Fakultas Tarbiyah, ( Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya,2007), hal 54

12 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosda Karya, 2010), hal.84

akibat pengalaman atau latihan yang berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan lain-lain.

Menurut Dimyati dan Mudjino, hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran13.

Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti14.

Bloom merumuskan hasil belajar sebagai perubahan tingkah laku yang meliputi domain ( ranah ) kognitif. Ranah afektif, dan ranah psikomotorik.

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disintesiskan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang, serta akan tersimpan dalam jangka

13 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta : Rineka Cipta, 1999), hlm.250-251.

14 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. ( Bandung: Bumi Aksara,2006), hlm. 30

waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan prilaku yang lebih baik.

2. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Ada berbagai factor yang mempengruhi proses dan hasil belajar siswa di sekolah yang secara garis besarnya dapat dibagi dalam dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal siswa15.

a. Faktor Eksternal 1. Faktor Sekolah

Faktor lingkungan sekolah sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Hal yang paling mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa di sekolah mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, pelajaran waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang ditegakkan secara konsekuen dan konsisten.

2. Faktor Lingkungan Keluarga

Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Suasana lingkungan rumah yang cukup tenang, adanya perhatian orang tua terhadap perkembangan proses belajar dan

15 Rusman. (2012). Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer Mengembangkan Profesionalisme Guru Abad 21. Bandung: ALFABETA

pendidikan anak-anakny maka akan mempengaruhi keberhasilan belajarnya.

3. Faktor Lingkungan Masyarakat

Seseorang siswa hendaknya dapat memilih lingkungan masyarakat yang dapat menunjang keberhasilan belajar. Masyarakat merupakan faktor eksternal yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadaannya dalam masyarakat. Lingkungan yang dapat menunjang keberhasilan belajar diantaranya adalah lembaga-lembaga pendidikan non formal, seperti kursus bahasa asing, bimbingan tes, pengajian remaja dan lain-lain.

b. Faktor Internal

1. Faktor biologis ( Jasmaniah )

Keadaan jasmani yang perlu diperhatikan, pertama kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak dalam kandungan sampai sesudah lahir. Kondisi fisik normal ini terutama harus meliputi keadaan otak, panca indera, anggota tubuh. Kedua, kondisi kesehatan fisik. Kondisi fisik yang sehat dan segar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Di dalam menjaga kesehatan fisik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain makan dan minum yang teratur, olahraga serta cukup tidur.

2. Faktor Psikologis

Faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang.

Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi

mental yang mantap dan stabil. Faktor psikologis ini meliputi hal-hal berikut, pertama, Intelegensi. Intelegensi atau tingkat kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Kedua, kemauan. Kemauan dapat dikatakan faktor utama penentu keberhasilan belajar seseorang. Ketiga, bakat. Bakat ini bukan menentukan mampu atau tidaknya seseorang dalam suatu bidang, melainkan lebih banyak menentukan tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam suatu bidang.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar seseorang dan dapat mencegah siswa dari penyebab-penyebab terhambatnya pembelajaran.

3. Indikator Keberhasilan Belajar

Keberhasilan belajar mengajar dapat dilihat dari :

1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.

2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajarkan intruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

Akan tetapi, indikator yang banyak dipakai sebagai tolak ukur keberhasilan adalah daya serap.16

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar.

Masalah yang dihadapi adalah sampai ditingkat mana prestasi (hasil)

16 http://blog.umy.ac.id/retnoeno/2012/01/07/keberhasilan-belajar-mengajar/

belajar yang telah dicapai. Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Istimewa/maksimal : Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai para siswa.

2. Baik sekali/optimal : Apabila sebagian besar (76% s.d.99%) bahan pembelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh siswa.

3. Baik/minimal : Apabila bahan pembelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d.75% saja dikuasai oleh siswa.

4. Kurang : Apabila bahan pembelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.

Dengan melihat data yang terdapat dalam format daya serap siswa dalam pembelajaran dan persentase keberhasilan dalam mencapai TIK tersebut, dapatlah diketahui keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan siswa dan guru.17

B. Metode Make a Match

1. Pengertian Metode Make a Match

Metode Make a Match adalah metode mencari pasangan, metode ini berbentuk permainan dengan cara mencari pasangan kartu yang dipegangnya dengan kartu yang dipegang teman lainnya.

17 http://blog.umy.ac.id/retnoeno/2012/01/07/keberhasilan-belajar-mengajar/

Salah satu keunggulan metode Make a Match ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topic dalam suasana yang menyenangkan.

2. Langkah-Langkah Pembelajaran Metode Make a Match

Adapun langkah-langkah yang perlu dipersiapkan guru sebelum menggunakan metode Make a Match adalah:

e. Siapkanlah satu karton berukuran lebar

f. Guntinglah karton menjadi 20 bagian, usahakan setiap potongan karton atau kartu berukuran sama.

g. Tulislah nama-nama malaikat dan tugas-tugasnya pada karton yang berbeda.

h. Usahakan tulisan tersebut jelas dan harus menggunakan warna yang sama.18

Sedangkan langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode Make a Match adalah sebagai berikut:

l. Guru menjelelaskan cara penerapan metode Make a Match dalam proses pembelajaran terhadap siswa. Namun jangan lupa menjelaskan tujuan dari proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.

m. Guru menentukan batas waktu untuk menentukan pasangannya masing-masing, misalnya waktu maksimal 1 menit.

18 http://gurupkn.wordpress.com/2007/11/13/metode-team-games-tournament-tgt/

n. Menentukan hukuman yang akan diberikan kepada siswa yang tidak dapat menetukan pasangannya. Misalnya, membersihkan teras kelas atau hukuman yang mendidik lainnya,

o. Guru mengocok susunan potongan karton sehingga nama-nama malaikat dan tugasnya menjadi tidak berurutan.

p. Guru membagi siswa menjadi dua kelompok

q. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan nama malaikat atau tugas malaikat

r. Tiap siswa memikirkan nama malaikat atau tugas malaikat dari kartu yang dipegang

s. Setiap siswa mencari pasanga kartu yang cocok dengan kartunya.

Misalnya, pemegang kartu yang bertuliskan nama malaikat Ridwan akan mencari pasangannya atau siswa yang memegang karton yang bertuliskan penjaga pintu surga.

t. Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin

u. Jika siswa tidak dapat mencocokan kartunya dengan kartu temannya ( tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban ) akan mendapatkan hukuman yang telah disepakati bersama. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

v. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Make a Match

Kelebihan metode Make a Match adalah sebagai berikut:

f. Dapat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi pelajaran.

g. Dapat meningkatkan daya ingat siswa terhadap materi pelajaran.

h. Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

i. Menghilangkan kejenuhan belajar siswa dengan penggunaan metode pembelajaran yang berbentuk game.

j. Dapat meningkatkan kecepatan berpikir siswa.19 Kelemahan metode Make a Match :

c. Membutuhkan alat atau media seperti karton sehingga sulit untuk menyiapkannya.

d. Bila media tidak dibuat sebagus mungkin maka akan dapat mengurangi motivasi belajar siswa.

C. Materi Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama

Terdapat perbedaan pendapat mengenai pengertian Pendidikan Agama Islam dari beberapa tokoh pemikir. Diantaranya ialah rumusan Zuhairani (1983:27) bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha sadar yang dilakukan secara sistematis dan pragmatis dalam membantu peserta didik untuk hidup sesuai dengan ajaran islam. Sedangkan menurut Ahmad Tafsir bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar yang dibimbingnya

19 http://nadhirin.blogspot.com/2008/08/metode-pembelajaran-efektif.html

tersebut berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam (2005:45)20

Lain halnya dengan pendapat E. Mulyasa yang mengatakan bahwa pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengimani ajaran islam yang dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain. Pengertian ini mengarah pada penguatan pemahaman keagamaan (individu) peserta didik, dan toleransi (sosial).

Adapun defenisi PAI yang dikemukakan dalam kurikulum 2004 Standar Komptensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SD dan MI adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yakni kitab Suci Al-Quran dan Hadits melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengamalan.21

Dari beberapa pengertian tersebut di atas, peneliti dapat menarik kesimpulan terkait dengan Pengertian Pendidikan Agama Islam sebagai sebuah proses sadar yang dilakukan secara sistematis dalam upaya pembimbingan peserta didik untuk hidup dibawa naungan ajaran-ajaran atau bimbingan wahyu dalam setiap langkah kehidupannya baik secara individu maupun sosial.

20 Zuhaerini, 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha Nasional.

21 Yatim, 2006. Pengembangan Kurikulum dan Seputar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), IKAPI : Universiti Press.

2. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Terdapat beberapa aspek yang menjadi ruang lingkup dari Pendidikan Agama Islam, yaitu:

1. Al-Quran dan Hadits yang merupakan rujukan inti dan utama dalam menjalani setiap sendi-sendi kehidupan,

2. Aqidah, yakni kristalisasi nilai-nilai ketauhidan dalam diri peserta didik,

3. Akhlak atau etika, yakni penjabaran secara taktis nilai-nilai ajaran

Islam dalam kehidupan,

4. Fiqih, adalah rujukan perilaku yang bersifat spesifik dan rinci,

5. Tarikh dan Kebudyaan Islam, memuat ajaran-ajaran yang terkandung

dalam sejarah dan kultur islam itu sendiri.

Kesemua ruang lingkup di atas bertujuan untuk meningkatkan keseimbangan, keselarasan, dan keselarasan hubungan antara manusia dengan Allah SWT, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.

3. Pokok Bahasan Mengenal Malaikat dan Tugasnya

Secara Etimologi, kata Malaikat ( dalam bahasa Indonesia disebut Malaikat) adalah bentuk jamak dari Malak, berasal dari Masdar Al-Aluka yang artinya Ar-Risalah ( misi atau pesan). Yang membawa misi disebut dengan Rosul ( utusan ). Dalam beberapa ayat dalam Al-Quran Malaikat juga disebut dengan Rosul ( utusan-utusan ). Misalnya dalam Al-Quran Surat Hud ayat 69 dibawah ini :

Artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami ( Malaikat-Malaikat) telah dating kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan : “Selamat”. Ibrahim menjawab: “ Selamatlah” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”

Malaikat merupakan salah satu mahluk ciptaan Allah SWT yang diciptakan dari nur ( cahaya), jasadnya bersifat halus, tidak dapat dilihat atau diraba oleh panca indra, dan bentuknya dapat berubah-ubah dengan izin Allah. Malaikat tidak pernah merasa letih atau lelah, serta tidak sombong. Malaikat merupakan makhluk Allah yang paling taat beribadah.

Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya ayat 19 :

Artinya : “Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi.

Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih” ( QS. Al-Anbiya’ : 19)

Malaikat secara terus menerus bertasbih mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Perhatikan firman Allah SWT dalam surah AL-Anbiya’ ayat 20 berikut ini :

Artinya : “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya”. (QS. Al-Anbiya:20)

1. Tugas-Tugas Malaikat

Jumlah Malaikat sangat banyak, hanya Allah SWT yang tahu mengenai persis jumlahnya. Akan tetapi, Malaikat yang wajib diketahui hanya ada 10, yaitu sebagai berikut :

· Malaikat Jibril disebut juga Ruhul Qudus atau Ruhul Amin. Malaikat jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada rosul

· Malaikat Mikail bertugas menyampaikan rizki, menurunkan hujan, dan mengatur sinar matahari.

· Malaikat Isrofil tugasnya adalah meniup sangkakala dalam dua tiupan. Tiupan pertama untuk merusak alam seisinya, tiupan kedua untuk membangkitkan segala yang mati dan mengumpulkannya di padang mahsayr untuk dihisab.

· Malaikat Izroil disebut malaikat maut, bertugas mencabut nyawa setiap makhluk hidup.

· Malaikat Raqib, tugasnya mencatat amal baik manusia selama hidup di dunia.

· Malaikat Atid, bertugas mencatat amal buruk manusia selama hidup di dunia,

· Malaikat Munkar, bertugas memeriksa setiap ruh di dalam kubur.

· Malaikat Nakir, bertugas sama dengan malaikat munkar.

· Malaikat Malik, bertugas menjaga dan mengatur urusan neraka dan dibantu oleh malaikat Zabaniyah.

· Malaikat Ridwan, bertugas menjaga dan mengatur urusan surga.

2. Tujuan dan Hikmah Meyakini Adanya Malaikat

Sebagai salah satu rukun iman, keyakinan adanya Malaikat memiliki hikmah, diantaranya :

1. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling mulia dibandingkan mahluk lainnya termasuk para malaikat, namun ibadah dan kesyukuran yang ditampilkan manusia tidak sebanding dengan ibadah dan kesyukuran yang ditunjukkan para malaikat. Dengan iman kepada para malaikat dan mengenali mereka secara benar, manusia akan sadar akan kelemahan dan kedurhakaannya kepada Allah SWT.

2. Manusia akan senantiasa merasa diawsi oleh Allah, sehingga idak akan sewenang-wenang berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama.

3. Senantiasa berusaha mengadakan hubungan dengan para malaikat dengan jalan mensucikan jiwa dan meningkatkan ibadah kepada

Allah, sebab seseorang akan sangat beruntung apabila termasuk golongan yang sering didoakan oleh para malaikat, karena doa malaikat tidak pernah ditolak Allah SWT.

4. Untuk menambah ketaqwaan kepada Allah SWT, sebab segala perbuatan dan tindak-tanduk yang dilakukan oleh manusia tidak luput dari pengamatan Allah SWT22

22 Ibid,

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Adapun yang menjadi subjek penelitian pada penelitian ini adalah SD Negeri 103 Palembang. Dan penulis mengambil objek pada kelas IV yang berjumlah 35 orang siswa terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada 2014/2015 yaitu bulan Maret sampai dengan April 2015. Penentuan waktu disesuaikan dengan kalender pendidikan sekolah, karena penelitian ini memerlukan beberapa siklus tindakan dalam proses belajar mengajar.

C. Tempat Penelitian

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 103 Palembang untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas IV. Dan penulis mengambil objek pada kelas IVa yang berjumlah 35 orang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan.

D. Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan

Agama Islam dalam mengenal Malaikat dan tugasnya melalui metode Make a Match.

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

Metode obesrvasi yaitu berupa kegiatan pengamatan dan pencatatan terhadap gejala-gejala yang ditemukan di lokasi penelitian yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, seperti proses belajar mengajar, penggunaan metode, keadaan guru dan siswa serta sarana dan prasarana yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data dengan cara mengadakan pengamatan langsung terhadap aktifitas peserta didik dalam proses pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PAI materi mengenal Malaikat dan tugasnya di kelas IVa SD N 103 Palembang sebelum dan sesudah menggunakan metode Make a Match.

2. Tes

Adapun bentuk tes yang digunakan untuk mengukur keberhasilan metode Make a Match dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam mengenal malaikat dan tugasnya pada kelas IV yaitu dengan menggunakan tes tertulis dan lisan.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif – kuantitatif. Analisis data secara kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif, seperti hasil observasi dan studi

dokumentasi. Data kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa, tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran (kognitif), proses pembelajaran berlangsung, pandangan atau sikap siswa (afektif), antusiasme, motivasi belajar dan sejenisnya. Tahapan analisis data deskriptif kualitatif terdiri dari: pemaparan data, reduksi (data yang sudah ada di cek dan dicatat kembali), kategorisasi (data dipilah-pilah), penafsiran dan penyimpulan.

Analisis data deskriptif kuantitatif digunakan untuk menganalisa data kuantitatif, seperti hasil tes. Data kuantitatif berupa nilai hasil belajar siswa yang didapat dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif misalnya, mencari nilai rerata.

G. Indikator Kinerja

Sedangkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan penelitian tindakan ini apabila :

1. Meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran PAI dalam mengenal Malaikat dan tugasnya ditandai rata-rata nilai yang dicapai diatas KKM 75 sebanyak 75% dari jumlah siswa.

2. Adanya peningkatan keaktifan belajar siswa pada kategori sangat aktif dan aktif mencapai 80%.

H. Prosedur Penelitian

Secara garis besar prosedur penelitian tindakan kelas mencakup empat taraf : Perencanaan ( planning ), Tindakan ( acting, pengamatan

(Observing), dan refleksi ( reflecting )23. Penelitian Tindakan Kelas ini dipilih dengan menggunakan model spiral dari Kemmis dan Taggart yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dalam bukunya “Penelitian Tindakan Kelas” yang terdiri dari beberapa siklus tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil tindakan-tindakan pada siklus sebelumnya. Dalam setiap siklusnya terdiri dari empat elemen penting, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi24.

Dalam penelitian tindakan kelas peneliti menggunakan tahapan siklus, yaitu siklus 1, siklus II dan siklus III. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

A. Siklus I

Pada kegiatan ini, peneliti melaksanakan pembelajaran kompetensi dasar menyebutkan tugas-tugas malaikat dengan menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab. Peneliti dan kolaborator mencermati dan mengadakan pengamatan terhadap proses pembelajaran di kelas yang diteliti, yaitu siswa kelas IV SDN 103 Palembang dan melaksanakan diskusi dengan kolaburator tentang hasil temuan. Apakah kompetensi yang diharapkan sudah tercapai ? Apakah siswa sudah terlibat aktif dalam pembelajaran ? Apakah hasil belejar sudah mencapai ketuntasan ? Adapun pelaksanaan kegiatannya adalah sebagai berikut :

23 Saminto,Ayo Praktik PTK, hlm.8

24 Suharsimi Arikunto,dkk, Penelitian Tindakan Kelas, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2009)

a. Perencanaan

1. Peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan pada kompetensi dasar menyebutkan tugas-tugas malaikat.

2. Peneliti menyiapkan kertas untuk dibagikan kepada peserta didik guna

2. Peneliti menyiapkan kertas untuk dibagikan kepada peserta didik guna

Dalam dokumen OLEH : YUNANI NIM : SKRIPSI (Halaman 30-0)

Dokumen terkait