I.3.2. Manfaat Penelitian
1.4. Sistematika Penulisan
Penulisan penelitian ini disajikan dalam bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 4. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1. Landasan Teori
2. Penelitian Yang Relevan 3. Kerangka Pemikiran 4. Definisi Konsep 5. Definisi Operasional
BAB III METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian 2. Lokasi Penelitian 3. Populasi dan Sampel 4. Teknik Pengumpulan Data 5. Teknik Analisis Data
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Temuan Umum
1. Letak Geografis Lokasi Penelitian 2. Profil Lokasi Penelitian
3. Visi, misi, dan tujuan Lokasi Penelitian
4. Struktur Organisasi/Lembaga Lokasi Penelitian 5. Kondisi Umum Tentang Klien
6. Keadaan Umum Tentang Petugas
7. Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian BAB V HASIL PENELITIAN
1. Deskripsi Data Hasil Penelitian 2. Pembahasan Hasil Penelitian 3. Keterbatasan Penelitian BAB VI
1. Kesimpulan 2. Saran
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori
2.1.1. Dampak 2.1.1.2. Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dampak adalah benturan atau pengaruh kuat yang mendatangkan akibat, baik negatif maupun positif. Pengaruh tersebut diakibatkan karena adanya benturan yang cukup hebat antara dua benda/orang. Pengaruh adalah suatu keadaan dimana ada hubungan timbal balik atau hubungan sebab akibat atara apa yang mempengaruhi dengan apa yang dipengaruhi. Pada mulanya istilah dampak digunakan sebagai padanan istilah dalam Bahasa Inggris yakni kata impact. Makna impact dalam Bahasa Inggris ialah tabrakan badan ; benturan.
Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat.
Peneliti menyimpulkan bahwa dampak adalah segala sesuatu yang timbul akibat adanya suatu kejadian atau kegiatan yang ada di dalam masyarakat dan menghasilkan perubahan yang berpengaruh positif ataupun negatif terhadap kelangsungan hidup. Pengaruh positif berarti menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik, sedangkan pengaruh negatif berarti menunjukkan perubahan kearah yang lebih buruk dari sebelum adanya kegiatan yang dilakukan.
2.1.2. Karakter
2.1.2.1. Pengertian Karakter
Kata character berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggambar), seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal. Berakar dari pengertian yang seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan suatu pandangan bahwa karakter adalah ‘pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang’.
Karakter menurut Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat tempreman, watak. Coon (dalam Zubaedi, 2011) mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subjektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter merupakan keseluruhan disposisi kodrati dan disposisi yang telah dikuasai secara stabil yang mendefinisikan seorang individu dalam keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikannya tipikal dalam cara berpikir dan bertindak.
Menurut Ekowarni (2010) (dalam Zubaedi, 2011), pada tatanan mikro, karakter diartikan (a) kualitas dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi tertentu; atau (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri kelompok dan lebih luas lagi menjadi ciri sosial. Ciri psikologis individu akan memberi warna dan corak identitas kelompok dan pada tatanan makro akan menjadi ciri psikologis atau karakter suatu bangsa.
Pembentukan karakter suatu bangsa berproses secara dinamis sebagai suatu fenomena sosio-ekologis.
Menurut Suryanto (dalam Iswantiningtyas dan Wulansari, 2018) karakter dapat diartikan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas individu untuk hidup bersama dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Seseorang yang memiliki karakter baik merupakan individu yang mampu membuat keputusan dan bertanggungjawab setiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Michael Novak (dalam Sudrajat, 2011), karakter adalah campuran atau perpaduan dari semua kebaikan yang berasal dari tradisi keagamaan, cerita, dan pendapat orang bijak, yang sampai kepada kita melalui sejarah. Menurut Novak, tak seorang pun yang memiliki semua kebajikan itu, karena setiap orang memiliki kelemahan-kelemahan. Seseorang dengan karakter terpuji dapat dibedakan dari yang lainnya.
Dalam Mu’in (2016) terdapat beberapa pengertian karakter menurut para ahli seperti, menurut Simon Philips (2008), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan, Doni Koesoema A. (2007) memahanmi bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misainya keluarga pada masa kecil, juga bawaan sejak lahir. Sementara, Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan
bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk.
Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan personality. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.
Omeri (2015) dalam jurnalnya mengemukakan bahwa karakter adalah perpaduan antara moral, etika, dan akhlak. Moral lebih menitikberatkan pada kualitas perbuatan, tindakan atau perilaku manusia atau apakah perbuatan itu bisa dikatakan baik atau buruk, atau benar atau salah. Sebaliknya, etika memberikan penilaian tentang baik dan buruk, berdasarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tertentu, sedangkan akhlak tatanannya lebih menekankan bahwa pada hakikatnya dalam diri manusia itu telah tertanam keyakinan di mana keduanya (baik dan buruk) itu ada. Dapat disimpulkan bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral.
2.1.2.2. Unsur-unsur Karakter
Fatchul Mu’in (2016: 167-182) mengungkapkan bahwa ada beberapa unsur dimensi manusia secara psikologis dan sosiologis yang berkaitan dengan terbentuknya karakter pada diri manusia tersebut. Unsur-unsur ini menunjukan bagaimana karakter seseorang. Unsur-unsur tersebut antara lain:
1) Sikap, sikap seseorang merupakan bagian dari karakter, bahkan dianggap cerminan karakter seseorang tersebut. Dalam hal ini, sikap seseorang terhadap sesuatu yang ada dihadapannya, biasanya menunjukan bagaimana
karakter orang tersebut. Jadi, semakin baik sikap seseorang maka akan dikatakan orang dengan karakter baik. Sebaliknya, semakin tidak baik sikap seseorang maka akan dikatakan orang dengan karakter yang tidak baik.
2) Emosi, emosi merupakan gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia, yang disertai dengan efeknya pada kesadaran, perilaku, dan juga merupakan proses fisiologis. Tanpa emosi, kehidupan manusia akan terasa hambar karena manusia selalu hidup dengan berfikir dan merasa. Emosi identik dengan perasaan yang kuat.
3) Kepercayaan, kepercayaan merupakan komponen kognitif manusia dari faktor sosiopsikologis. Kepercayaan bahwa sesuatu itu “benar” atau
“salah” atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, dan intuisi sangatlah penting dalam membangun watak dan karakter manusia. Jadi, kepercayaan memperkukuh eksistensi diri dan memperkukuh hubungan dengan orang lain.
4) Kebiasaan dan Kemauan, kebiasaan merupakan aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis pada waktu yang lama, tidak direncanakan dan diulangi berkali-kali. Sedangkan kemauan merupakan kondisi yang sangat mencerminkan karakter seseorang karena kemauan berkaitan erat dengan tindakan yang mencerminkan perilaku orang tersebut.
5) Konsepsi diri (Self-Conception), proses konsepsi diri merupakan proses totalitas, baik sadar maupun tidak sadar tentang bagaimana karakter dan diri seseorang sdibentuk. Jadi konsepsi diri adalah bagaimana “saya” harus
membangun diri, apa yang “saya” inginkan dari, dan bagaimana “saya”
menempatkan diri dalam kehidupan.
Unsur-unsur tersebut menyatu dalam diri setiap orang sebagai bentuk kepribadian orang tersebut. Jadi, unsur-unsur ini menunjukan bagaimana karakter seseorang. Selain itu, unsur-unsur tersebut juga dapat dijadikan pedoman dalam mengembangkan dan membentuk karakter seseorang.
2.1.2.3. Pembentukan Karakter
Pembentukan karakter anak tidaklah lahir begitu saja, ada suatu proses yang dilewati sehingga proses tersebut pun menjadi karakter yang melekat dalam diri seorang anak. Mulai dari anak tersebut lahir, tumbuh berkembang hingga dewasa di lingkungan keluarga, bergaul dengan teman-teman dalam kelompok permainan, sekolah, sampai dengan masyarakat.
Menurut Megawangi (dalam Prasanti, 2018), anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal.
Hal ini juga mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro, maka semua pihak - keluarga, sekolah, media massa, komunitas bisnis, dan sebagainya turut andil dalam perkembangan karakter anak.
Membentuk karakter dapat diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata. Doni Koesoema A (2007) dalam bukunya juga mengungkapkan bahwa karakter adalah sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau
karakteristik yang bersifat khas dari seseorang yang bersumber dari hasil bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan (Prasanti, 2018).
Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa pembentukan karakter adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga `berbentuk' unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau `berkarakter' tercela).
Karakter sebagai pengembangan kualitas diri, tidak berkembang dengan sendirinya. Perkembangan karakter pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan faktor lingkungan (nurture). Menurut para developmental psychologist, setiap manusia memiliki potensi bawaan yang akan termanisfestasi setelah dia dilahirkan, termasuk potensi yang terkait dengan karakter atau nilainilai kebajikan. Dalam hal ini, Confusius -seorang filsuf terkenal Cina menyatakan bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi mencintai kebajikan, namun bila potensi ini tidak diikuti dengan pendidikan dan sosialisasi setelah manusia dilahirkan, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi. Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan – baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas - sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak (Kaimuddin 2018).
Secara normatif pembentukan karakter yang baik memerlukan kualitas lingkungan yang baik pula. Dari sekian banyak faktor lingkungan yang berperan dalam pembentukan karakter, ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan karakter yaitu:
a. Keluarga
Keluarga adalah komunitas pertama yang manjadi tempat bagi seseorang sejak usia dini, belajar konsep baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah. Di keluargalah proses pendidikan karakter seharusnya berawal. Pendidikan di keluarga akan menentukan seberapa jauh seorang anak dalam prosesnya menjadi anak yang lebih dewasa, memiliki komitmen terhadap nilai dan moral tertentu dan menentukan bagaimana melihat dunia sekitarnya, seperti memandang orang lain yang tidak sama dengan dia, berbeda status sosial, berbeda suku, berbeda agama, berbeda ras serta latar belakang budaya.
b. Media Massa
Dalam era kemajuan teknologi informasi adalah satu faktor yang berpengaruh sangat besar dalam pembangunan, atau sebaliknya bahwa perusakan karakter atau bangsa adalah media massa khususnya media elektronik, dengan pelaku utama televisi. Sebenarnya besarnya peran media, khususnya media cetak dan radio dalam pembangunan karakter bangsa telah dibuktikan secara nyata oleh pejuang kemerdekaan. Bung Karno, Bung Hatta dan Ki Hajar Dewantara melakukan pendidikan bangsa untuk menguatkan karakter bangsa melalui tulisan-tulisan mereka di surat kabar. Bung Karno dan Bung Tomo mengobarkan semangat perjuangan,
keberanian dan persatuan melalui radio. Mereka memanfaatkan secara cerdas dan arif teknologi yang ada pada saat itu untuk membangun karakter bangsa. Besarnya pengaruh media massa terhadap pembentukan karakter ditunjukkan oleh berbagai eksperimen dan kajian. Pemuda yang mnyaksikan adegan kekerasan di televisi punya kecendrungan lebih besar untuk menunjukkan prilaku agresif. Ekspos terhadap adegan kekerasan di media massa ketika masih kanak-kanak menyebabkan berkembangnya prilaku agresif yang tetap terbawa sampai remaja dan dewasa (Gede Raka, 2011).
Megawangi (dalam Kaimuddin, 2018) menyebutkan, bahwa untuk membentuk karakter anak, ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, yaitu :
a) Maternal bonding (kelekatan psikologis dengan ibunya) merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Kelekatan ini membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman dan rasa percaya. Kelekatan diusia awal, yang biasanya terbangun antara ibu dan anak, akan menjadi ikatan emosional yang erat antara ibu dan anak hingga dewasa.
b) Rasa aman, yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman.
Kebutuhan ini penting bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan perkembangan emosi anak.
Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman,
misalnya anak berkesulitan makan, hal ini akan tidak kondunsif untuk pertumbuhan anak yang optimal.
c) Kebutuhan akan stimulasi fisik dan mental juga merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter anak. Tentu saja hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara ibu dan anaknya. Dengan demikian, seorang ibu yang sangat perhatian (yang diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada anaknya) terhadap anaknya yang berusia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan menjadikannya anak yang kreatif.
2.1.3. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan suatu upaya yang dirancang dan diimplementasikan secara sistematik untuk menanamkan nilai-nilai perilaku anak didik yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat (Gunawan dalam Iswantiningtyas dan Wulansari, 2018). Pendidikan karakter merupakan salah satu pendidikan yang tidak hanya meningkatkan mutu pendidikan saja, namun dimaksudkan untuk membentuk karakter, mengembangkan karakter bangsa dan akhlak mulia.
Omeri (2015) mengungkapkan pendidikan karakter adalah suatu sistem penamaan nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Artinya, perkembangan budaya dan karakter dapat dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peseta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.
Lickona (dalam Sudrajat, 2011) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Dari definisi tersebut, ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang ingin kita bangun pada diri para siswa, jelaslah bahwa ketika itu kita menghendaki agar mereka mampu memahami nilai-nilai tersebut, memperhatikan secara lebih mendalam mengenai benarnya nilai-nilai itu, dan kemudian melakukan apa yang diyakininya itu, sekalipun harus menghadapi tantangan dan tekanan baik dari luar maupun dari dalam dirinya. Dengan kata lain mereka meliliki ‘kesadaran untuk memaksa diri’
melakukan nilai-nilai tersebut. Lickona juga menekankan dalam pendidikan
karakter pentingnya tiga komponen karakter yang baik (components of good character), yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral).
(a) Moral knowing terdiri dari enam hal, yaitu (1) moral awareness (kesadaran moral), (2) knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), (3) perspective taking, (4) moral reasoning, (5) decision making, dan (6) self knowledge. (b) Moral feeling merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral, terdapat enam hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter, yakni (1) conscience (nurani), (2) self esteem (percaya diri), (3) empathy (merasakan penderitaan orang lain), (4) loving teh good (mencintai kebenaran), (5) self control (mampu mengontrol diri), (6) humility (kerendahan hati).
(c) Moral acting adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter, yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
Pendidikan karakter berupaya menanamkan nilai-nilai sosial dalam diri anak/peserta didik. Nilai-nilai tersebut akan berfungsi sebagai kerangka acuan dalam berinteraksi dan berperilaku dengan sesama sehingga keberadaanya diterima oleh masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Raven (dalam Zubaedi,
2011) bahwa, “social values are set of society attitude considered as a truth and it is become the standard for people to act ini order to achieve democratic and harmonious life”. Artinya : “nilai-nilai sosial merupakan seperangkat sikap individu yang dihargai sebagai suatu kebenaran dan dijadikan standar bertingkah laku guna memperoleh kehidupan masyarakat yang demokratis dan harmonis.”
Nilai-nilai sosial perlu dijadikan materi dari pendidikan karakter dikarenakan dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan bangsa. Nilai-nilai sosial memberikan pedoman bagi masyarakat untuk hidup berkasih sayang dengan sesama manusia, hidup harmonis, hidup disiplin, hidup berdemokrasi, dan hidup bertanggung jawab. Sebaliknya tanpa nilai-nilai sosial suatu masyarakat dan negara tidak akan memperoleh kehidupan yang harmonis dan demokratis.
Pada sisi lain, pembentukkan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan action”. Pembentukkan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukkan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan “latihan otot-otot akhlak” secara terus menurus agar menjadi kokoh dan kuat (Muslich, 2011).
Pada dasarnya, anak yang berkarakter rendah merupakan anak yang tingkat perkembangan emosi-sosialnya rendah sehingga anak beresiko untuk mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan tidak mampu mengontrol diri.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang megarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. Dengan pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri
meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi, serta mepersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia senhingga terwujud dalam perilaku sehari-hari (Muslich, 2011).
2.1.3.1.Nilai Pendidikan Karakter
Di Indonesia nilai-nilai pendidikan karakter dikembangkan melalui empat sumber, yakni Pertama, Agama (religiusitas), kedua, Ideologi Bangsa (Pancasila), ketiga, Budaya (culture), keempat, Tujuan Pendidikan Nasional (UU No 20 tahun
2003 tentang Pendidikan Nasional dalam membentuk watak serta peradaban bangsa (Zubaedi, 2011).
Pertama, agama. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama.
Oleh sebab itu, hampir seluruh kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasarkan pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama.
Kedua, Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila.
Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 yang selanjutnya dijabarkan ke dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, ekonomi, hukum, kemasyarakatan, budaya, serta seni.
Ketiga, budaya. Tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari maupun dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang diakui dalam
masyarakat tersebut. Nilai budaya ini dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat.
Keempat, tujuan pendidikan nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang wajib digunakan untuk mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 33 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab”.
Berdasarkan keempat sumber nilai pendidikan karakter tersebut maka dapat diidentifikasi nilai-nilai dalam pendidikan karakter seperti berikut :
Religius, adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Jujur, adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.
Toleransi, adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Disiplin, adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Kerja Keras, adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh
dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik baiknya.
Kreatif, merupakan berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasil-kan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki
Mandiri, merupakan sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas
Demokratis, merupakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Demokratis, merupakan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.