• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Majelis Hakim memeriksa identitas Anda dan suami

2. Jika Anda dan suami hadir, maka Majelis Hakim berusaha mendamaikan anda dan suami, baik langsung maupun melalui proses mediasi.

3. Majelis Hakim berusaha mendamaikan anda dan suami dalam setiap kali sidang, namun anda punya hak untuk menolak untuk berdamai dengan suami.

4. Anda dan suami boleh memilih mediator yang tercantum dalam daftar yang ada di Pengadilan tersebut.

1) Jika mediator adalah hakim, maka anda tidak dikenakan biaya. Jika mediator bukan hakim, anda dikenakan biaya.

2) Mediasi bisa dilakukan dalam beberapa kali persidangan.

3) Jika mediasi menghasilkan perdamaian, maka anda diminta untuk mencabut gugatan.

4) Jika mediasi tidak menghasilkan perdamaian, maka proses berlanjut ke persidangan dengan acara pembacaan surat gugatan, jawab menjawab antara anda dan suami, pembuktian, kesimpulan, musyawarah Majelis Hakim dan Pembacaan Putusan

2.3.Alasan-alasan Sebagai Syarat Pengajuan Gugatan Cerai Oleh Pegawai Neger i Sipil

Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa dalam mengajukan atau meminta izin perceraian kepada pimpinan atau pejabat dalam lingkungan

hukumnya, Pegawai Negeri Sipil harus melampirkan alasan-alasan yang melandasi untuk mengajukan perceraian.

Berdasarkan ketentuan Pasal 209 (KUHPerdata), menyatakan bahwa, alasan-alasan yang dapat mengakibatkan perceraian adalah dan hanyalah sebagai berikut:

a. Zina;

b. Meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad jahat;

c. Penghukuman dengan hukuman penjara lima tahun lamanya atau dengan hukuman yang lebih berat, yang diucapkan setelah perkawinan;

d. Melukai berat atau menganiaya, dilakukan oleh si suami atau si isteri terhadap isteri atau suaminya, yang demikian sehingga membahayakan jiwa pihak yang dilukai atau dianiaya, atau sehingga mengakibatkan lukaluka yang membahayakan.

Alasan perceraian sebagaimana yang dimaksud di atas, menurut C.S.T Kansil adalah :

a. Zina ;

b. Meninggalkan tempat tinggal bersama dengan itikad jahat ;

c. Mendapatkan hukuman penjara 5 tahun atau lebih dalam suatu keputusan yang diucapkan selama pernikahan ;

d. Melukai berat atau menganiaya, yang dilakukan suami terhadap isteri atau sebaliknya, dengan demikian sehingga membahayakan jiwa korban atau sehingga korban memperoleh luka-luka yang membahayakan (209 KUH Perdata) ;

e. Keretakan yang tidak dapat dipulihkan.26

26

Pasal 7 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, menyatakan bahwa, izin untuk bercerai dapat diberikan oleh pejabat apabila didasarkan pada alasan-alasan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan dan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

Alasan-alasan sebagaimana tersebut di atas, diatur dalam Pasa1 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yang menyatakan bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan :

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut turut tanpa ijin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat atau tak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri.

f. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan kan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang Perkawinan, menyatakan bahwa, untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri. Sedangkan dalam ketentuan . Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, tidak diatur secara khusus tentang alasan-alasan untuk mengajukan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.

Dalam peraturan tersebut hanya dinyatakan tentang alasan-alasan yang dapat mengakibatkan tidak diberikannya pembagian gaji akibat perceraian Pegawai Negri Sipil, yang terdapat pada ketentuan Pasal 8 Ayat (4) yang menyatakan bahwa, pembagian gaji kepada bekas isteri tidak diberikan apabila alasan perceraian disebabkan karena isteri berzinah, dan atau isteri melakukan kekejaman atau penganiayaan berat baik lahir maupun batin terhadap suami, dan atau isteri menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan, dan atau isteri telah meninggalkan suami selama dua tahun berturut-turut tanpa izin suami dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.

2.4.Penentuan Kewajiban untuk Memberi Biaya Penghidupan oleh Suami terhadap Bekas Istri dan Anak

Diatur secara khusus dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990.

a. Apabila perceraian itu terjadi atas kehendak Pegawai Negeri Sipil pria, ia wajib menyerahkan bagian gajinya untuk penghidupan bekas Istri dan anak-anaknya. Pegawai Negeri Sipil yang diwajibkan menyerahkan bagian gajinya untuk penghidupan bekas Istri dan anak-anaknya, diwajibkan untuk membuat pernyataan tertulis. Pembagian gaji tersebut ialah sepertiga untuk Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan, sepertiga untuk bekas istrinya dan sepertiga untuk anak-anaknya. Seandainya dari perkawinan tersebut tidak anak, maka bagian gaji yang diwajibkan diserahkan oleh Pegawai Negeri Sipil pria kepada bekas istrinya ialah setengah dari gajinya.

b. Hak atas bagian untuk bekas Istri tidak diberikan bila perceraian terjadi atas kehendak istrinya, yaitu apabila perceraian terjadi karena Istri telah terbukti berzina dan/atau istri telah terbukti melakukan kekejaman atau penganiayaan baik berat baik, lahir maupun batin terhadap suami, dan/atau

Istri terbukti menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan dan/atau Istri terbukti telah meninggalkan suami selama dua tahun berturut-turut tanpa ijin suami dan tanpa alasan yang sah atau karena hal diluar kemampuannya.

c. Apabila bekas Istri Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan kawin lagi, haknya atas sebagian gaji dari bekas suaminya menjadi hapus terhitung mulai ia kawin lagi.

Bendaharawan gaji wajib menyerahkan secara langsung bagian gaji yang menjadi hak bekas Istri dan anak-anaknya sebagai akibat terjadinya perceraian, tanpa lebih dahulu menunggu pengambilan gaji dari Pegawai Negeri Sipil bekas suami yang telah menceraikannya. Bahkan bekas Istri dapat mengambil bagian gaji yang menjadi haknya secara langsung dari bendaharawan gaji atau dengan surat kuasa, atau dapat meminta untuk dikirimkan langsung kepadanya27.

2.5. Sanksi Pegawai Negeri Sipil Apabila Melakukan Perceraian

Sesuai pasal 16 Undang-Undang Pegawai Negeri Sipil Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil. Pegawai Negeri Sipil yang melanggar ketentuan Pasal 3 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhetian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil28.

Sesuai dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, menyatakan bahwa, akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :

a. Baik ibu atau Bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak bilamana ada

27

Ibid hal.423 28

Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perorangan & Kekeluargaan di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta: 2006, hal.423.

perselisihan mengenai penguasaan anak-anak pengadilan memberi keputusan.

b. Bapak yang bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas istri29.

29

3.1. Akibat Perceraian Suami Pegawai Negeri Sipil (PNS) Ter hadap Hak Isteri dan Anak

Dalam melakukan perceraian pada umumnya, salah satu pihak harus mengajukan gugatan, baik dari suami atau isteri yang mengajukan gugatan perceraian di Pengadilan di daerah hukumnya. Dengan telah bercerainya suami dan isteri, maka tidak dengan sendirinya kewajiban antara kedua belah pihak, khususnya kewajiban terhadap kehidupan anak, hilang. Namun dengan berakhirnya perkawinan, akan timbul akibat-akibat, yang antara lain putusnya ikatan perkawinan antara suami isteri, pembagian harta perkawinan yang termasuk harta bersama, serta pemeliharaan anak.

Dalam kaitannya dengan ketiga akibat perceraian ini, ketika mengajukan permohonan perceraian, para pihak, dapat mengajukan permohonan putusan pembagian harta dan pemeliharaan anak bersama dengan permohonan perceraian, atau dapat pula mengajukan permohonan secara sendiri-sendiri.

Ketentuan terhadap putusnya perkawinan dan akibatnya bagi suami isteri yang tidak merupakan Pegawai Negeri SipiI (PNS), diatur dalam bab VIII Undang Perkawinan. Menurut ketentuan Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa, akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberikan keputusannya;

b. Bapak yang bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajibannya tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut. c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan

biaya penghidupan dan atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas isteri.

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka menurut Undang-Undang Perkawinan, walaupun telah terjadi perceraian, suami dan isteri masih memiliki kewajiban dalam hal pemeliharaan anak yang telah dilahirkan dalam perkawinan mereka.

Sebagai suatu peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan . pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan, bagi orang-orang yang beragama Islam, Kompilasi Hukum Islam juga mengatur tentang ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan pemeliharaan anak setelah perceraian, namun bukan untuk Pegawai Negeri Sipil. Ketentuan tersebut terdapat pada Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam, yang menyatakan sebagai berikut :

1) Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berusia 18 tahun, adalah hak ibunya.

2) Pemeliharaan yang sudah mumayyiz, diserahkan kepada anak untuk memilih diantara bapak atau ibunya yang memegang hak pemeliharaannya;

3) Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka di dalam Undang-Undang Perkawinan, kewajiban pemeliharaan anak sama dengan ketentuan yang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam, hanya saja dalam Kompilasi Hukum Islam terdapat batasan usia anak.

Setiap anak memiliki hak, kecuali anak luar kawin tidak akan memperoleh hak yang menjadi kewajiban ayahnya, karena ketidak absahan pada anak luar kawin tersebut. Konsekwensinya adalah laki-laki yang sebenarnya menjadi ayah tidak memiliki kewajiban memberikan hak anak

tidak sah. Sebaliknya anak itupun tidak bisa menuntut ayahnya untuk memenuhi kewajibannya yang dipandang menjadi hak anak bila statusnya sebagai anak tidak sah. Hak anak dari kewajiban ayahnya yang merupakan hubungan keperdataan itu, biasanya bersifat material. .

Di dalam Undang-undang Perkawinan, tidak hanya mengatur tentang hak-hak yang seharusnya diperoleh seorang anak pada umumnya tetapi juga kewajiban antara orang tua dengan anaknya yang terdapat dalam pasal 45 sampai dengan pasal 49:

1) Pasal 45 berbunyi : “Bahwa kewajiban orang tua memelihara dan mendidik anak berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri dan kewajiban tersebut berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.”

“Maka dari isi pasal diatas dikaitkan dengan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam dapat disimpulkan bahwa anak masih menjadi tanggung jawab orang tuanya sampai anak tersebut dapat hidup mandiri.”

2) Pasal 46 berbunyi : “Bahwa anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik. Apabila anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya apabila orang tua dan keluarganya dalam garis lurus ke atas memerlukan bantuannya.” “Maka dari isi pasal diatas dikaitkan dengan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam dapat disimpulkan bahwa anak wajib menghormati dan mentaati kehendak mereka, anak tersebut wajib menjaga orang tuanya.”

3) Pasal 47 berbunyi : “Bahwa anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan serta orang tua berkewajiban mewakili anaknya mengenai perbuatan hukum di dalam dan di luar pengadilan, selama anak berada di bawah kekuasaan orang tua selama kekuasaan orang tuanya tidak dicabut.” “Maka dari isi pasal diatas dikaitkan dengan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam dapat disimpulkan bahwa selama anak tersebut belum berumur 18 tahun orang tuanya wajib menjaga serta mewakili anaknya mengenai perbuatan hukum.”

4) Pasal 48 berbunyi : “Bahwa orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau belum melangsungkan perkawinan kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya.”

“Maka dari isi pasal diatas dikaitkan dengan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam dapat disimpulkan bahwa orang tua wajib menjaga dan menyimpan barang-barang anaknya selama anaknya belum berumur 18 tahun.”

5) Pasal 49 berbunyi : “Bahwa apabila seorang anak atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua. yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan pengadilan dalam hal-hal:

a. Ia sangat melalaikan kewajibannya kepada anaknya b. Ia berkelakuan buruk sekali.”

“Selain itu meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.”

“Maka dari isi pasal tersebut diatas dikaitkan dengan Pasal 105 Kompilasi Hukum Islam dapat disimpulkan bahwa apabila anak tersebut telah dewasa biaya pemeliharaannya di tanggung oleh bapaknya.”

Ketentuan yang mengatur tentang akibat perceraian Pegawai Negeri Sipil (PNS) terhadap hak isteri dan anak, terdapat pada ketentuan Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, yang menyatakan sebagai berikut :

1) Apabila perceraian terjadi atas kehendak Pegawai Negeri Sipil pria, maka ia wajib menyerahkan sebagian gajinya untuk penghidupan bekas isteri dan anak-anaknya.

2) Pembagian gaji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ialah sepertiga untuk Pegawai Negeri Sipil pria yang bersangkutan, sepertiga untuk bekas isterinya, dan sepertiga untuk anak atau anak-anaknya.

3) Apabila dari perkawinan tersebut tidak ada anak, maka bagian gaji yang wajib diserahkan oleh Pegawai Negeri Sipil pria kepada bekas isterinya adalah setengah dari gajinya.

4) Pembagian gaji kepada bekas isteri tidak diberikan apabila alasan perceraian disebabkan karena isteri berzinah, dan atau isteri melakukan kekejaman atau penganiayaan berat baik lahir maupun batin terhadap suami, dan atau isteri menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan, dan atau isteri telah meninggalkan suami selama dua tahun berturut-turut tanpa ijin suami dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.

5) Apabila perceraian terjadi atas kehendak isteri, maka ia tidak berhak atas bagian penghasilan dari bekas suaminya.

6) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tidak berlaku, apabila isteri meminta cerai karena dimadu, dan atau suami berzinah, dan atau suami melakukan kekejaman atau penganiayaan berat baik lahir maupun batin terhadap isteri, dan atau suami menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan, dan atau suami telah meninggalkan isteri selama dua tahun berturut-turut tanpa izin isteri dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya. 7) Apabila bekas isteri Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan kawin

lagi, maka haknya atas bagian gaji dari bekas suaminya menjadi hapus terhitung mulai ia kawin lagi.

Berdasarkan ketentuan ini, perceraian oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS), berakibat pada pembagian gaji antara Pegawai Negeri Sipil tersebut, bekas isteri, serta anak-anak yang dilahirkan dalam perkawinan. Maksudnya dimana bekas isteri dan anak diberikan pembagian sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

3.2.Sanksi Ter hadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) Atas Tidak Dipenuhinya Hak Isteri dan Anak Setelah Perceraian

Pembagian gaji setelah adanya perceraian, adalah kewajiban dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bersangkutan. Apabila dalam hal kewajibannya tidak dipenuhi, maka terhadap Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat dikenakan sanksi.

Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, yang menyatakan bahwa," Pegawai Negeri Sipil yang menolak melaksanakan ketentuan pembagian gaji sesuai dengan ketentuan Pasal 8,

dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 Tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil." Namun setelah diadakan perubahan, maka hukuman disiplin berat tersebut didasarkan pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

PNS yang tidak mentaati ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan atau Pasal 4 Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, dijatuhi hukuman disiplin. Hukuman disiplin menurut ketentuan Pasal 1 angka 4 Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, adalah hukuman yang dijatuhkan kepada PNS karena melanggar peraturan disiplin PNS. Sedangkan disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah . kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk mentaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.

Pelanggaran disiplin menurut ketentuan Pasal 1 angka 3 Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, adalah setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang tidak mentaati kewajiban dan atau melanggar larangan ketentuan disiplin Pegawai Negeri Sipil, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja.

Hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4), menurut ketentuan Pasal 10 Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, dijatuhkan bagi pelanggaran terhadap kewajiban:

1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 3, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;

2. Mentaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 4, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;

3. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 5, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;

4. Menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah, dan martabat PNS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 6, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau Negara;

5. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri, seseorang, dan/atau golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 7, apabila pelanggaran berdampak negatif pada Pemerintah dan/atau negara;

6. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus dirahasiakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 8, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau Negara;

7. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 9, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;

8. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 10, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;

9. Masuk kerja dan mentaati ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 11;

10.Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 12, apabila pencapaian sasaran kerja pegawai pada. akhir tahun kurang dari 25% (dua puluh lima persen); 11.Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan

sebaik-baiknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 13, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara;

12.Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 14, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

13.Mentaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 angka 17, apabila pelanggaran berdampak negatif pada pemerintah dan/atau negara.

Berdasarkan ketentuan Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, di atas yang menyebutkan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaksanakan kewajibannya atas pembagian gaji setelah perceraian, akan diberikan hukuman disiplin berat. Menurut ketentuan Pasal 7 Ayat (4) Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, menyatakan bahwa:

"Jenis hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari:

a. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun; b. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah; c. Pembebasan dari jabatan; .

d. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS; dan

e. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

Terhadap hukuman disiplin Pegawai Negeri Sipil, termasuk Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaksanakan kewajibannya atas pembagian gaji yang menjadi hak bekas isteri dan hak anaknya, setelah adanya perceraian, dan berhak memberikan hukuman disiplin sesuai dengan peraturan yang ada.

4.1.Kesimpulan

Dari uraian yang telah disajikan, maka terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan, sebagai berikut :

Tata cara perceraian Pegawai Negeri Sipil (PNS), menyatakan sebagai

Dokumen terkait