• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

G. Sistematika Penulisan

Dalam Proposal ini Dalam proposal ini penulis menyusun lima bab uraian, dimana dalam tiap-tiap bab dilengkapi dengan sub-sub bab masing-masing, yaitu sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi landasan teori yang menjelaskan teori-teori yang diperlukan untuk menjelaskan variabel-variabel pada penelitian ini., kerangka pemikiran, kemudian hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Berisi variabel penelitian dan definisi operasional variabel, penentuan populasi dan sampel, jenis dan sumber data yang digunakan, metode pengumpulan data, serta metode analisis data.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi hasil dan pembatasan penelitian yang menguraikan analisis menyeluruh atas penelitian yang dilaksanakan beserta pembahasan hipotesisnya.

BAB V PENUTUP

Berisi kesimpulan serta saran dan keterbatasan dari penulis yang merupakan hasil dari penelitian yang dapat memberikan manfaat bagi pihak yang membutuhkan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITINAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit

RSUD Ajappange Soppeng pertama kali berdiri pada tahun 1943 dengan nama RSU Watansoppeng dan berlokasi di Jalan Pemuda (Kantor Diknas).

Selanjutnya pada tahun 1959, lokasi RSU Watansoppeng berpindah tempat ke Jalan Samudera (lokasi RSUD Ajappange Soppeng sekarang).

Sejak tahun 1966 s/d 1987 RSU Watansoppeng merupakan bagian dari kantor Dinas Kesehatan Kab. Soppeng, sehingga jabatan pimpinan rumah sakit dijabat oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab. Soppeng. Dalam sejarahnya, gedung RSU Watansoppeng pernah dua kali mengalami musibah kebakaran yaitu pada tanggal 19 Agustus 1983 dan 15 September 1985.

Berdasarkan surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan tanggal 17 April 1987 No.299/IV/1987 tentang struktur organisasi RSU kelas D Kab/Kodya, maka sejak saat itu jabatan Direktur RSU Watansoppeng tidak lagi dijabat oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab. Soppeng. Berdasarkan surat Keputusan Bupati Kepala Daerah tingkat II Soppeng tertanggal 11 Februari 1991 No.46/II/1991, nama RSU Watansoppeng berubah menjadi RSUD Ajappange Soppeng.

Pada tahun 1997, Kelas RSUD Ajappange ditingkatkan dari rumah sakit kelas D menjadi rumah sakit kelas C sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI tanggal 28 Oktober 1997 No.1238/Menkes/SK/X/1997. Kemudian pada tanggal 15 April 2008 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI,No.01/III/1220/2008 maka RSUD Ajappange Soppeng telah terakditasi lima.

pelayanan dasar terakditasi penuh, dan Insya Allah pada tahun mendatang diusahakan terakditasi 12 pelayanan.

B. Visi, Misi dan Falsafah a) Visi

RSUD Ajappange Soppeng adalah terwujudnya RSUD Ajappange Soppeng yang unggul dalam mutu, terjangkau dan manusiawi.

b) Misi

1. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas secara profesional selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.

2. Meningkatkan kemampuan manajemen RSUD Ajappange Soppeng sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Soppeng.

3. Mengembangkan pelayanan kesehatan yang terintegrasi dengan system kesehatan nasional dan propinsi.

4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan sehinnga termotivasi untuk melaksanakan tugas dengan baik.

c) Falsafah

1. Pengguna adalah manusia individu dan keluarga yang memiliki hak untuk dipenuhi kebutuhannya, oleh karena itu perlu dibantu agar memperoleh keamanan dan kepuasan.

2. Keselamatan dan kesembuhan adalah kebutuhan dasar pengguna jasa, oleh karena itu menjadi tanggung jawab setiap pegawai dan karyawan untuk memberi pelayanan terbaik.

3. Profesionalisme dapat meningkatkan mutu, oleh karena itu petugas senantiasa diminta untuk mengembangkan diri seiring dengan kemajuan IPTEK.

4. Peningkatan derajat kesehatan adalah tanggung jawab semua warga Negara.

5. Pegawai/karyawan rumah sakit adalah asset yang memiliki kemampuan pengetahuan dan teknis serta kemampuan untuk melayani setiap pelanggan/pengguna dalam mencapai tujuannya, oleh karena itu haknya perlu dihargai dan dilindungi untuk mencapai kesejahteraan.

6. Bekerja dengan tulus akhlas adalah merupakan landasan pengabdian sebagai ibadah, oleh karenanya akan membawa kebahagian dan kepuasan dalam bertugas.

Bagian dalam struktur organisasi RSUD Ajappange secara garis besar sebagai berikut :

1. Kepala;

2. Komite Medik;

3. Jabatan Fungsional;

4. Bagian Tata Usaha, terdiri dari : Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan; dan Sub Bagian Umum;

5. Bidang Medik, terdiri dari : Sub Bidang Pelayanan Medik dan Rujukan; dan Sub Bidang Rekam Medik;

6. Bidang Keperawatan, terdiri dari : Sub Bidang Pengembangan dan Bimbingan Keperawatan; dan Sub Bidang Pelayanan Keperawatan;

7. Bidang Sarana dan Sanitasi, terdiri dari : Sub Bidang Sarana; dan Sub Bidang Sanitasi.

Pelaksanaan pelayanan kesehatan di RSUD Ajappange Soppeng pada tahun 2013 didukung oleh tenaga baik medis maupun paramedic dan jenis ketenagaan yang lainnya, selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4. 1.

Jumlah dan jenis ketenagaan yang ada di RSUD Ajappange Soppeng Tahun 2013

11 Perawat Kesehatan

(SPK/SPR) 2 - - - -

12 Tenaga Perawat lainnya - - - - -

13 Sekolah pengatur Rawat

Gigi - - - - -

25 D3 Teknik Radiologi dan

32 Tenaga Keterapian Fisik

Lainnya 4 - - - -

Sumber : Rekam Medik RSUD Ajappange (2013)

C. Instalansi Rawat Inap

Pelayanan pasien rawat inap pada RSUD Ajappange Soppeng menjadi 6 bangsal perwatan yaitu perawatan bedah untuk pasien bedah dan mata, perawatan interna untuk pasien penyakit dalam saraf, perawatan anak, perawatan obgyn, super VIP dan ICU. Masing-masing bangsal terdiri dari empat kelas yaitu kelas VIP, Kelas I, Kelas II, dan Kelas III. Penggolongan kelas perawatan ini bukan untuk membedakan pelayanan tetapi hanya untuk memberikan pilihan ruang perwatan kepada pasien yang akan dirawat.

Jumlah kunjungan pasien di dua unit pelayanan RSUD Ajappange Soppeng selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut :

Tabel 4. 2.

Perkembangan Kunjungan Pasien RSUD Ajappange Soppeng Periode Tahun 2009 s/d 2013 Sumber : Rekam Medik RSUD Ajappange (2013)

Jumlah kunjungan rawat jalan dan rawat inap dibandingkan 2012 mengalami peningkatan, bila dikaji lebih jauh, rata-rata kunjungan pasien rawat jalan adalah 41.195/tahun atau 3433/bulan, pasien rawat inap adalah 6.968/tahun atau 581/bulan.

Tabel 4. 3.

Perkembangan Indikator Pelayanan RSUD Ajappange Soppeng Periode 2009 - 2013

NO Indikator Pelayanan Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1 BOR 62,03 72,74 64,29 73,05 74,80

2 LOS 3,92 4,05 4,10 4,08 4,10

3 BTO 57,37 64,76 57,04 64,52 63,91

4 TOI 2,42 1,54 2,28 1,53 1,44

Sumber : Sub. Bag. Umum RSUD Ajappange (2013)

BOR dan BTO mengalami peningkatan pada tahun 2013 dan BOR terendah pada tahun 2009 yaitu 62.03%, BTO terendah pada tahun 2011 yaitu 57,04%.

Kedua indikator ini terkait erat dengan jumlah pasien rawat inap dan jumlah

tempat tidur pada tahun yang sama. Semakin besar jumlah pasien, semakin besar pula BOR dan BTO.

Nilai LOS terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu 3,92 atau 4 hari dan nilai tertinggi terjadi pada tahun 2011 dan 2013 yaitu 4,10 atau 4 hari. Indikator ini menggambarkan tingkat efisiensi dan mutu pelayanan rumah sakit. Semakin rendah LOS, maka mutu dan efisiensi pelayanan semakin baik. Selanjutnya untuk TOI, nilainya semakin rendah pada tahun 2013 yaitu 1,44 atau 1 hari dan tertinggi pada tahun 2009 yaitu 2.42 atau 3 hari. Nilai TOI menggambarkan tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Semakin kecil nilai TOI, maka efisiensi penggunaan tempat tidur rumah sakit semakin meningkat.

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Distribusi Kusioner

Bedasarkan hasil kusioner yang telah dibagikan terhadap responden, ada sebagian responden yang tidak mengisi kusioner yang telah dibagikan dan dapat dilihat sebagai tabel berikut :

Tabel 5. 1.

Distribusi Kusioner

NO Aktivitas Jumlah

1 Jumlah kusioner yang ada 70

2 Jumlah kusioner yang dikembalikan 70 3 Jumlah kusioner yang dapat diolah 50 4 Jumlah kusioner yang tidak dapat diolah 20

Berdasarkan tabel 5. 1. Menunjukkan bahwa dari 70 kusioner yang dibagikan kepada responden hanya 50 yang dapat diolah dan 20 tidak dapat diolah.

B. Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh tentang usia pasien RSUD Ajappange Kabupaten Soppeng dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 5. 2.

Sumber : Data primer diolah (2014)

Tabel di atas menunjukkan bahwa pasien dari RSUD Ajappange Kabupaten Soppeng yang menjadi responden terbesar dalam penelitian ini berusia 31 – 40 tahun yaitu sebesar 28 %, Sedangkan yang paling sedikit berusia kurang dari 21 – 30 tahun yaitu sebanyak 6 orang sebesar 12 %. Berarti pasien lebih didominasi oleh dewasa.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data tentang jenis kelamin pasien RSUD Ajappnge Kabupaten Soppeng dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 5. 3.

Karakteristik berdasarkan Jenis kelamin Responden

NO Jenis Kelamin

Sumber : Data primer dioalah (2014)

Tabel di atas menunjukkan bahwa pasien RSUD Ajappange terbanyak berjenis kelamin wanita dengan jumlah 31 orang sebesar 62 %, Sedangkan pria sebanyak 19 orang dengan prosentase sebesar 38 %.

C. Distribusi Jawaban Responden terhadap Variabel Penelitian 1. Differensiasi Kompetitif

Differensiasi kompetitif merupakan salah satu cara Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange dalam melakukan inovasi yang bersifat pre-imptive yang dapat diandalkan orang-orangnya (SDM), lingkungan fisiknya, dan proses di rumah sakit saat ini menurut sebagian besar pengunjung sudah baik. Data hasil penelitian untuk variabel differensiasi kompetitif diperoleh melalui pengisian angket oleh responden, untuk mengungkap variabel differensiasi kompetitif digunakan empat butir pernyataan dan didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 5. 4.

Tanggapan Responden Mengenai Differensiasi Kompetitif yang diberikan oleh RSUD Ajappange

Frequency Percent Valid Percent

Sumber : Data primer yang diolah (2014)

Berdasarkan tabel 5. 3. dapat di jelaskan bahwa pada umumnya responden memberi jawaban Sesuai yaitu sebanyak 26 orang atau 52,0%,

kemudian terdapat 14 orang memberi jawaban kurang sesuai atau 28,0%, 6 orang memberi tanggapan sangat sesuai atau 12,0%. Kemudian terdapat 4 orang atau 8,0% menjawab tidak sesuai dan tidak ada responden yang memberi jawaban sangat tidak sesuai.

2. Mengelola Kualitas Jasa

Data hasil penelitian untuk variabel mengelola kualitas jasa diperoleh melalui pengisian angket oleh responden, untuk mengungkap variabel mengelola kualitas jasa menggunakan empat butir pernyataan dan didapat hasil.

Tabel 5. 5.

Tanggapan Responden Mengenai Pengelolaan Kualitas Jasa

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Sumber : Data primer yang diolah (2014)

Berdasarkan tabel 5. 4. dapat di jelaskan bahwa pada umumnya responden memberi jawaban Sesuai yaitu sebanyak 26 orang atau 52,0%, kemudian terdapat 15 orang memberi jawaban kurang sesuai atau 30,0%, 6 orang memberi tanggapan sangat sesuai atau 12,0%. Kemudian terdapat 3 orang atau 6,0% menjawab tidak sesuai dan tidak ada responden yang memberi jawaban sangat tidak sesuai.

3. Mengelola Produktifitas Kerja

Data hasil penelitian untuk variabel mengelola produktifitas kerja diperoleh melalui pengisian angket oleh responden, untuk mengungkap variabel mengelola produktifitas kerja menggunakan empat butir pernyataan dan didapat hasil :

Tabel 5. 6.

Tanggapan Responden Mengenai Pengelolaan Produktifitas Kerja

Frequency Percent Valid

Sumber : Data primer yang diolah (2014)

Berdasarkan tabel 5. 5. dapat di jelaskan bahwa pada umumnya responden memberi jawaban Sesuai yaitu sebanyak 35 orang atau 70,0%, kemudian terdapat 6 orang memberi jawaban kurang sesuai atau 12,0%, 5 orang memberi tanggapan sangat sesuai atau 10,0%. Kemudian terdapat 4 orang atau 8,0% menjawab tidak sesuai dan tidak ada responden yang memberi jawaban sangat tidak sesuai.

4. Kepuasan Konsumen

Kepuasan konsumen yaitu hasil membandingkan harapan dan kenyataan (hasil) dari suatu produk barang atau jasa. Data hasil penelitian untuk variabel kepuasan diperoleh melalui pengisian angket oleh

responden, untuk mengungkap variabel kepuasan menggunakan empat butir pertanyaan dan didapat hasil :

Tabel 5. 7.

Tanggapan Responden Mengenai Kepuasan Konsumen

Frequency Percent Valid

Sumber : Data primer yang diolah (2014)

Berdasarkan tabel 5. 6. dapat di jelaskan bahwa pada umumnya responden memberi jawaban puas yaitu sebanyak 29 orang atau 58,0%, kemudian terdapat 8 orang memberi jawaban kurang puas atau 16,0%, 11 orang memberi tanggapan sangat puas atau 22,0%. Kemudian terdapat 2 orang atau 4,0% menjawab tidak puas dan tidak ada responden yang memberi jawaban sangat tidak puas.

D. Analisis Hasil Penelitian

1. Analisis Regresi Linier Berganda

Berdasarkan data yang diperoleh dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dapat diketahui ada tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Persamaan digunakan untuk menganalisis ada tidaknya pengaruh differensiasi, kualitas jasa dan produktifitas kerja terhadap kepuasan konsumen RSUD Ajappange Kabupaten Soppeng.

Tabel 5. 8.

Dependent Variabel : Kepuasan (2014)

Dari hasil perhitungan analisis regresi dengan SPSS release 12.0, diperoleh konstanta sebesar 0,168 dan koefisien regresi sebesar 0,345 untuk X

1, koefisien regresi sebesar 0,430 untuk X

2 dan koefisien regresi sebesar 0,249 untuk X

3 sehingga dapat diketahui persamaan regresi yang diperoleh adalah : Y = 0,168 + 0,345 X

1 + 0,430 X

2 + 0,249 X

3 + e Persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Konstanta sebesar 0,168; artinya jika differensiasi kompetitif (X

1), kualitas jasa (X

2) dan produktivitas kerja (X

3) nilainya adalah konstan, maka kepuasan konsumen (Y) nilainya adalah 0,168.

2. Koefisien regresi variabel differensiasi kompetitif (X

1) sebesar 0,345;

artinya jika variabel independen lainya nilainya tetap dan differensiasi kompetitif mengalami kenaikan 1%, maka kepuasan konsumen (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,345. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara differensiasi kompetitif dengan kepuasan

konsumen, semakin naik differensiasi kompetitif maka semakin meningkat kepuasan konsumen.

3. Koefisien regresi variabel kualitas jasa (X

2) sebesar 0,430; artinya jika variabel independen lainya nilainya tetap dan kualitas jasa mengalami kenaikan 1%, maka kepuasan konsumen (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,430.

4. Koefisien regresi variabel produktivitas kerja (X

3) sebesar 0,249; artinya jika variabel independen lainya nilainya tetap dan produktivitas jasa mengalami kenaikan 1%, maka kepuasan konsumen (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 0,249.

E. Analisis Uji Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara tentang rumusan masalah penelitian yang belum dibuktikan kebenarannya. Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah kesimpulan pada sampel dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini terdiri dari uji parsial dan uji simultan.

a. Uji Parsial (Uji t)

Pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan perbandingan nilai thitung masing-masing koefisien regresi dengan t

tabel pada taraf signifikan 5%.

Berdasarkan perhitungan komputer dengan program statistik versi 12.0 diperoleh t

hitung untuk variabel bebas differensiasi kompetitif, kualitas jasa,

produktivitas kerja terhadap variabel terikat kepuasan konsumen, dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut :

Tabel 5. 9.

Hasil Perhitungan Uji Persial dengan Dependen Variabel Variabel Kepuasan Konsumen

Differensiasi kompetitif 0,345 0,108 0,369 3,206 0,002

Kualitas Jasa 0,430 0,112 0,442 3,839 ,000

Produktivitas Kerja 0,249 0,091 0,242 2,736 0,009 Dependent Variabel : Kepuasan

Sumber : Data primer yang diolah (2014) Nilai t

hitung untuk variabel differensiasi kompetitif sebesar 3,206 diperoleh signifikansi 0,002 atau probabilitas dibawah 0,05 koefisien regresi signifikan dan bertanda positif artinya, secara parsial differensiasi kompetitif berpengaruh positif terhadap kepuasan pasien RSUD Ajappange Kabupaten Soppeng, sehingga hipotesis yang berbunyi “ada pengaruh diferensiasi kompetitif terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Ajappange” diterima.

Nilai t

hitung untuk variabel mengelola kualitas jasa sebesar 3,839 diperoleh signifikansi 0,000 atau probabilitas dibawah 0,05 koefisien regresi signifikan dan bertanda positif artinya, secara parsial mengelola kualitas jasa berpengaruh positif terhadap kepuasan pasien RSUD Ajappange Kabupaten Soppeng, sehingga hipotesis yang berbunyi “ada pengaruh kualitas jasa terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Ajappange” diterima.

Nilai t

hitung untuk variabel mengelola produktivitas kerja sebesar 2,736 diperoleh signifikansi 0,009 atau probabilitas dibawah 0,05 koefisien regresi signifikan dan bertanda positif artinya, secara parsial mengelola produktivitas jasa berpengaruh positif terhadap kepuasan pasien RSUD Ajappange Kabupaten Soppeng, sehingga hipotesis yang berbunyi “ada pengaruh produktivitas kerja terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Ajappange” diterima.

b. Uji Simultan ( Uji F)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen (X

1, X

2, X3) secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (Y). Atau untuk mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen atau tidak. Pada penelitian ini karena menggunakan analisis multivariat maka yang pertama yaitu mencari tahu sejauh mana pengaruh variabel differensiasi kompetitif (X

1), kualitas jasa (X

2), dan produktivitas kerja (X

3) (sebagai variabel independen) terhadap kepuasan konsumen (Y) (sebagai variabel dependen). Cara yang digunakan dengan membandingkan antara F

tabel dan F

hitung atau dengan perhitungan SPSS dengan membandingkan nilai probabilitas.

Tabel 5. 10.

Hasil Perhitungan Uji F

Dengan Dependen variable Kepuasan Konsumen

ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 17.455 3 5.818 28.101 .000a

Residual 9.525 46 0.207

Total 26.98 49

a. Predictors: (Constant), Produktivitas Kerja, Differensiasi kompetitif, Kualitas Jasa b. Dependent Variable: Kepuasan Konsumen

Hasil perhitungan pada dependen variabel kepuasan pasien diperoleh F sebesar 28,101 terlihat juga pada kolom signifikan adalah 0,000a atau probabilitas jauh dibawah 0,05 sehingga hipotesis (H

4) yang berbunyi “ada pengaruh diferensiasi kompetitif, kualitas jasa, dan produktifitas kerja terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Ajappange” diterima.

c. Uji Determinasi

Besarnya pengaruh differensiasi kompetitif, kualitas jasa, dan

produktivitas kerja terhadap kepuasan konsumen dapat diketahui dari besarnya koefisien determinasi simultan (R²).

Tabel 5. 11.

Hasil Perhitungan Uji Koefisien Determinasi (R2) Dengan Dependen Variabel Kepuasan Konsumen

Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), Produktivitas Kerja, Differensiasi kompetitif, Kualitas Jasa b. Dependent Variable: Kepuasan Konsumen

Berdasarkan analisis linier berganda pada tabel diperoleh koefisien determinasi (R²) sebesar 0,647 pada dependen variabel kepuasan konsumen, hal ini berarti persentase pengaruh differensiasi kompetitif, kualitas jasa, dan produktivitas kerja terhadap kepuasan konsumen (Y) sebesar 64,7% sedangkan sisanya sebesar 35,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti.

F. Pembahasan Hasil Penelitian

Secara nyata berdasarkan hasil penelitian menunjukkan yang terdiri dari differensiasi kompetitif (X1) sebesar, kualitas jasa (X2) sebesar, produktifitas kerja (X3) sebesar, secara signifikan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen (Y), pada pasien Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange Kabupaten Soppeng.

1. Pengaruh differensiasi kompetitif terhadap kepuasan konsumen

Adanya pengaruh differensiasi kompetitif (X1), terhadap kepuasan konsumen (Y), rawat inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange Kabupaten Soppeng disebabkan secara mendasar kebutuhan seorang pasien adalah pelayanan dari dokter, perawat dan petugas administrasi yang memuaskan menyangkut kemudahan menghubungi, perlakuan terhadap pasien, ketepatan

diagnosis, dan ketepatan jadwal pemeriksaan yang akan mempercepat proses kesembuhan mereka sebagai kebutuhan utama seorang pasien, Kesopanan dan keramahan para tenaga medis dan petugas administrasi dapat menumbuhkan rasa percaya pasien terhadap rumah sakit di samping tingkat pengetahuan dan profesionalisme tenaga medis saat melakukan penanganan pada pasien.

Sedangkan komponen yang dipandang pasien belum sepenuhnya baik adalah tenaga medis saat memberikan pelayanan. data menunjukkan differensiasi kompetitif di Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange Kabupaten Soppeng telah baik. Tetapi jika dilihat dari tiap-tiap indikator pada variabel differensiasi kompetitif, pasien berpendapat bahwa tidak semuanya atau sebagian belum mampu memberikan pelayanan yang memuaskan terhadap pasien.

Setelah dilakukan pengolahan data diferensiasi kompetitif (X1), sebagai variabel independen dan Kepuasan konsumen (Y), sebagai variabel dependen maka hasilnya penulis akan dapat melihat besar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

Berdasarkan hasil analisis tersebut diketahui bahwa diferensiasi kompetitif signifikan terhadap kepuasan konsumen dengan koefisien sebesar 0,345 dengan tingkat signifikan 0,002 < 0, 050. Hal ini berarti differensiasi kompetitif maka kepuasan konsumen akam selalu bertambah.

2. Pengaruh kualitas jasa terhadap kepuasan konsumen

Adanya pengaruh Kualitas jasa (X2), terhadap Kepuasan konsumen (Y), rawat inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange Kabupaten Soppeng, Pasien terpuaskan oleh pelayanan yang diberikan dokter dan perawat, tetapi juga

menyangkut penanganan perawatan dilakukan dengan cepat yang diberikan perawat dan dokter. Dokter dan perawat selalu berusaha memberikan pelayanan kepada pasien dengan sebaik-baiknya, tetapi masih ada pasien yang mengeluhkan akan sulitnya menghubungi. Keadaan ini yang menjadikan sedikit pasien tidak terpuaskan karena pelayanan yang diberikan Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange, keterbatasan jumlah dokter dan perawat berdampak pada waktu kunjungan dokter dan perawat dalam melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang kurang sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Setelah dilakukan pengolahan data Kualitas jasa (X2), sebagai variabel independen dan Kepuasan konsumen (Y), sebagai variabel dependen maka hasilnya penulis akan dapat melihat besar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

Berdasarkan hasil analisis tersebut diketahui bahwa Kualitas jasa berpengaruh terhadap Kepuasan konsumen besar 0, 430 dan probabilitas sebesar 0,000 yang berarti bahwa Kualitas jasa berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan konsumen.

3. Pengaruh produktifitas kerja terhadap kepuasan konsumen

Adanya pengaruh Produktifitas kerja (X3), terhadap Kepuasan konsumen (Y), rawat inap pada Rumah Sakit Umum Daerah Ajappange Kabupaten Soppeng, agar selalu terjaganya kenyamanan pasien dari pihak rumah sakit umum daerah Ajappange seharusnya bekerja lebih keras dan lebih terampil dalam melayani pasien. Menambah peralatan medis guna mendukung tersedianya

pelayanan kesehatan secara lengkap. Pengelola rumah sakit diharapkan dapat memberikan pelatihan berkala untuk para karyawan dan petugas medis untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pasien.

Setelah dilakukan pengolahan data Produktifitas kerja (X3), sebagai variabel independen dan Kepuasan konsumen (Y), sebagai variabel dependen maka hasilnya penulis akan dapat melihat besar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pada bab-bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Ada pengaruh yang signifikan antara differensiasi kompetitif terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan jasa RSUD Ajappange dengan persentase sebesar 0,002.

2. Ada pengaruh yang signifikan antara mengelola kualitas jasa terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan jasa RSUD Ajappange dengan persentase sebesar 0,000.

3. Ada pengaruh yang signifikan antara mengelola produktifitas kerja terhadap kepuasan konsumen dalam menggunakan jasa RSUD Ajappange dengan persentase sebesar 0,009.

4. Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen rawat inap pada RSUD Ajappange adalah kualitas jasa yaitu sebesar 0,000 yang berarti bahwa kualitas jasa sudah memenuhi harapan pasien rawat inap.

B. Saran - saran

Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diajukan saran kepada RSUD Ajappange dalam rangka meningkatkan kepuasan konsumen, sebagai berikut :

1. RSUD Ajappange harus lebih berorientasi untuk kepuasan konsumen dengan cara memberikan pelayanan secara baik, ramah, lebih perhatian dan cekatan (cepat tanggap) , selain untuk memberikan perawatan untuk kesehatan konsumen. Memperhatikan dan menjaga lingkungan interior dan eksterior rumah sakit dengan bersih dan teratur.

2. RSUD Ajappange memberikan kualitas jasa pelayanan yang baik kepada pengguna jasa dengan cara mengidentifikasi dan membuat urutan peringkat dari dimensi kualitas jasa secara spesifik;

3. Meningkatkan produktifitas kerja konsumen dengan bekerja lebih keras dan lebih terampil dalam melayani konsumen. Menambah peralatan medis guna mendukung tersedianya pelayanan kesehatan secara lengkap.

Pengelola rumah sakit diharapkan dapat memberikan pelatihan berkala untuk para karyawan dan petugas medis untuk memberikan pelayanan yang maksimal.

4. Kepuasan konsumen merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu usaha, hal ini dikarenakan dengan memuaskan konsumen organisasi dapat

4. Kepuasan konsumen merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu usaha, hal ini dikarenakan dengan memuaskan konsumen organisasi dapat

Dokumen terkait