• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

H. Metodologi Penelitian

I. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan dan dalam usaha memberikan penggambaran singkat mengenai isi dari sekripsi ini. Penulis membagi skripsi ini dalam 5 bab, dan ditiap babnya terdiri dari sub-sub bab yeng tentunya antara satu bab dengan bab yang lainnya mempunyai keterkaitan.

Adapun sistematik penulisan secara terperinci sebagai berikut:

BAB I Yaitu yang berjudul pendahuluan yang berisi mengenai latar belakang masalah, permasalahan, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penelitian terdahulu, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II Yaitu yang berjudul kajian teori tentang arah kiblat. Bab ini membahas tentang akurasi arah kiblat dari segi teori secara umum, seperti pengertian arah kiblat, sejarah arah kiblat, dasar hukum dan hukum arah kiblat, kemudian perhitungan dan pengukuran arah kiblat.

BAB III Yaitu yang berjudul profil masjid dan musala. Bab ini membahas tentang data geografis Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan, dan data umum masjid dan musala di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan.

BAB IV Yaitu yang berjudul deskripsi hasil penelitian. Bab ini membahas tentang metode yang digunakan dalam penentuan arah kiblat masjid dan musala di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan pada awal pembangunan, deskripsi hasil pengukuran arah kiblat masjid dan musala di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan, dan analisis data.

BAB V Yaitu yang berjudul penutup. Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran atas hasil penelitian yang telah dilakukan penulis.

9

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Arah Kiblat

Menghadap kiblat adalah suatu syarat sah dalam salat, apabila tidak dipenuhi maka salat tersebut batal atau tidak sah. Ada beberapa istilah penting yang perlu dijelaskan untuk mempermudah memahami skripsi ini, yaitu akurasi, arah, kiblat dan Ka‟bah. Empat istilah tersebut saling berkaitan satu sama lain dan merupakan pembahasan pokok dalam skripsi ini.

Arah dalam bahasa Arab disebut jihah atau syatrah, dan disebut juga dengan qiblah yang berasal dari kata qabala - yaqbulu yang artinya menghadap. Dengan kata lain, kiblat secara bahasa bermakna menghadap (qiblah) atau berhadapan (muqabalah).15 Sedangkan dalam bahasa latin disebut dengan azimuth. Sementara arah itu sendiri adalah jarak terdekat dari suatu tempat ke Mekah. Sehingga arah kiblat adalah suatu arah yang wajib dituju oleh umat islam ketika melakukan salat.16 Dalam kamus Mu‟jam al Ma‟ani kata qiblah merupakan kata isim yang memiliki bentuk jamak qiblaat, yang berarti jihah atau arah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akurasi ialah kecermatan, ketelitian, ketetapan.17 Arti arah ialah jurusan, tujuan.18 Kemudian kiblat ialah arah ke Ka‟bah di Mekah (pada waktu salat)19 dan Ka‟bah20 ialah

15Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar. Pengantar Ilmu Falak: Teori, Praktik, dan Fikih. (Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2018) h. 47

16 Maskufah. Ilmu Falaq. (Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta, 2009) h. 124-125

17 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan pertama Edisi IV, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 ) h. 33

18 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan pertama Edisi IV, h.

83

19 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan pertama Edisi IV, h.

695

20 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia masih tertulis dengan kata Kakbah. Pada tahun 2019 adanya pembaharuan kata baku serapan Bahasa Arab berdasarkan surat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan No. 1513/62/BS/2019 .

bangunan suci yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail terletak di dalam Masjidilharam di Mekah, berbentuk kubus, dijadikan kiblat salat bagi umat Islam dan tempat tawaf pada waktu menunaikan ibadah haji dan umrah.21 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa arah kiblat merupakan arah menghadap yang dituju oleh umat islam ketika menjalankan ibadah salat, yaitu menghadap ke Ka‟bah di Mekah.

B. Sejarah Arah Kiblat

Ka‟bah merupakan bangunan di lokasi kemah Nabi Adam setelah diturunkan Allah SWT dari surga ke bumi. Setelah Nabi Adam wafat, kemah itu diangkat ke langit. Dari masa ke masa tempat tersebut diagungkan dan disucikan oleh umat para Nabi.22 Sampai pada masa Nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad SAW, Ka‟bah menjadi pusat tempat yang dituju umat muslim untuk melakukan ibadah salat dan haji, bahkan untuk kegiatan lainnya seperti menguburkan jenazah dan lain sebagainya.

Penulusuran yang dilakukan oleh kaum mufassirin dan lainnya mengatakan tidak ditemukan teks yang menyebutkan siapa pendiri pertama dari ka‟bah. Qur‟an hanya menyebutkan bahwa ka‟bah adalah Baitullah yang diperuntukkan bagi manusia untuk beribadah kepada Allah.23 Pada saat pembangunan Ka‟bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail beserta kaumnya, pondasi kakbah berupa gundukan tanah merah yang sebelumnya pernah dibangun oleh Nabi Adam yang tidak jauh dari sumur zamzam, dibangun dengan panjang 31 hasta dan lebar 21 hasta, tidak beratap dan dua pintu tanpa daun pintu, satu pintu ke arah sumur zamzam dan pintu lainnya ke arah sebaliknya.24 Dalam keterangan lain, pintu

21 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan pertama Edisi IV, h. 605

22 Rahmi Nailur. Urgensi Penentuan Kiblat dengan Teknologi. (JURIS: Jurnal Ilmiah Syariah, vol.

10, No. 2, 2018) h. 188

23 Mutmainnah. Kiblat dan Kakbah Dalam Sejarah Perkembangan Fikih. (Ulumuddin: Jurnal ilmu-ilmu Keislaman vol 7, No. 1, Juni 2017) h. 2

24 Fathi Fauzi „Abd Al-Mu‟thi. Misteri Ka‟bah. (Bandung: Zaman, 2010) h. 36-37

terletak diatas tanah.25 Dalam pembangunan itu, Ismail menerima Hajar Aswad dari malaikat Jibril di Jabal Qubais, lalu meletakkannya disudut tenggara bangunan. Bangunan tersebut berbentuk kubus yang dalam bahasa arab yaitu muka‟ab, dari kata inilah muncul sebutan Ka‟bah.26 Pemberian pintu dan penutup ka‟bah sebagai hadiah oleh raja Tubba dari Yaman, dimana awalnya datang ke Mekah ingin menghancurkan Ka‟bah namun dengan izin Allah keinginan itu diganti dengan rasa syukur ketika melihat Ka‟bah.27

Berjalannya waktu Ka‟bah telah dilakukan pembangunan kembali, yaitu: Pertama, pada masa kekuasaan Qushay bin Kilab. Kedua, pada masa kekuasaan Al-Walid bin Al-Mughirah.28 Saat itu Nabi Muhammad berusia 30 tahun, beliau menyelesaikan perselisihan antar kepala suku ketika peletakan kembali batu Hajar Aswad dengan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.29 Ketiga, pada masa kekuasaan ibnu Yazid dan Marwan bin Hakam, pembangunan dipimpin oleh Abdullah bin Zubair dengan menambah tinggi 10 hasta dan lebar 10 hasta dengan dua pintu ka‟bah barat dan timur, satu pintu masuk dan satu pintu keluar.

Keempat, pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan, pembangunan dipimpin oleh Al-Hajjaj dengan menutup pintu sebelah barat Ka‟bah.

Kelima, pada masa kekuasaan Sultan Ahmad yaitu mengganti batu Ka‟bah dengan batu yang lebih kuat, agar tidak mudah rusak ketika terjadi banjir.30 Dalam The Encyclopedia or Religion dijelaskan bahwa bangunan Ka‟bah dibangun dengan bentuk kubus dengan tinggi kurang lebih 16 meter, panjang 13 meter dan lebar 11 meter.31

Pada renovasi ketiga, ada bagian dari Ka‟bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Ka‟bah yang sekarang disebut dengan

25 Dhiauddin Tanjung. Ilmu Falak:Kajian Akurasi Arah Kiblat Kota Medan, Metode dan Solusi.

(Medan: Perdana Publishing, 2018) h. 51

26 Moh. Murtadho. Ilmu Falak Praktis. (Malang: UIN Malang Press, 2008) h. 135-136

27 Fathi Fauzi „Abd Al-Mu‟thi. Misteri Ka‟bah. h. 72

28 Fathi Fauzi „Abd Al-Mu‟thi. Misteri Ka‟bah. h. 80-118

29 Maskufah. Ilmu Falaq. h. 130

30 Fathi Fauzi „Abd Al-Mu‟thi. Misteri Ka‟bah. h. 184-214

31 Mutmainnah. Kiblat dan Kakbah Dalam Sejarah Perkembangan Fikih. h. 1

Hijir Ismail yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Ka‟bah. Sehingga umat muslim ketika melakukan tawaf diharuskan mengelilingi Ka‟bah dan Hijir Ismail karena Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka‟bah.32

Masa sebelum hijrah ke Madinah Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin menghadap ke Ka‟bah/Baitullah ketika salat. Setelah hijrah ke Madinah kiblat dipindahkan ke Baitul Maqdis di Yerussalem dengan tujuan agar kaum Yahudi Bani Israil bisa tertarik dengan ajaran Islam tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Selama setahun setengah lebih Nabi SAW dan kaum muslimin mengarah kiblatnya ke Baitul Maqdis tetapi kaum Yahudi tetap dalam agamanya bahkan bersikap memusuhi Nabi SAW dan kaum muslimin. Sehingga Nabi SAW berharap dan berkeinginan untuk kembali mengarah ke Ka‟bah.33 Dalam sumber lain dinyatakan bahwa perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‟bah terjadi setelah bulan ke-17 hijrah, yaitu setelah turun surat Al-Baqarah ayat 144.34

ةيلاا ...

ْمُكَىوُجُو اوُّلَوَ ف ْمُتْ نُك اَمُثْ يَحَو ِماَرَْلْا ِدِجْسَمْلا َرْطَش َكَهْجَو ِّلَوَ ف ُهَرْطَش

...

“...Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya...”

Sejak ayat tersebut diturunkan kaum muslimin berkiblat ke Ka‟bah di Mekah. Artinya dari zaman Nabi SAW sampai sekarang, Ka‟bah menjadi pusat untuk melakukan ibadah di seluruh belahan bumi, baik

„ainul ka‟bah maupun jihadul ka‟bah, dengan menggunakan berbagai

32 Dhiauddin Tanjung. Ilmu Falak:Kajian Akurasi Arah Kiblat Kota Medan, Metode dan Solusi. h.

51

33 Maskufah. Ilmu Falaq. h. 131-132

34 Fathi Fauzi „Abd Al-Mu‟thi. Misteri Ka‟bah. h. 151

macam metode dan alat yang terus berkembang mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan penentuan arah kiblat oleh umat islam di indonesia, yaitu: pertama, menentukan arah kiblat ke barat dengan alasan Ka‟bah yang terletak di Saudi Arabia berada di sebelah barat Indonesia, tanpa perhitungan dan pengukuran terlebih dahulu. Kedua, berdasarkan letak geografis Saudi Arabia terletak di sebelah barat agak miring ke utara (barat laut) sehingga umat islam memiringkan arah kiblatnya agak ke utara meskipun masjid sudah benar menghadap kiblat. Ketiga, berdasarkan ilmu falak menentukan arah kiblat dengan rashdul kiblat. Keempat, menentukan arah kiblat dengan menggunakan kompas dan ilmu ukur (ilmu ukur bidang datar dan ilmu ukur bola/spherical trigonometri). Perkembangan terakhir, menentukan arah kiblat dengan berbagai alat modern.35 Seperti accurat times, mizwa qibla finder, theodolit dan lain sebagainya.

C. Dasar hukum Arah Kiblat

Dasar hukum arah kiblat terdapat terdapat dalam Alquran dan hadits Nabi, diantaranya sebagai berikut:

1. Dasar hukum dari Alquran

ةَل ۡ بِق َكَّنَ يِّلَوُ نَلَ ف ِِۖءٓاَمَّسلٱ ِفِ َكِهۡجَو َبُّلَقَ ت ٰىَرَ ن ۡدَق

Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai.

Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan

35 Maskufah. Ilmu Falaq. h. 132-135

Kaum sufi berpendapat bahwa ayat ini memerintahkan untuk mengalihkan wajah, bukan hati dan pikiran. Karena hati dan pikiran hendaklah mengarah kepada Allah. Hati dan isinya ialah suatu yang gaib, maka sesuai dengan sifatnya itu, hati harus mengarah ke yang Maha Gaib.

Sedangkan wajah merupakan sesuatu yang nyata, maka diarahkan kepada sesuatu yang sifatnya nyata, yaitu bangunan yang berbentuk kubus yang berada di Masjidil Haram.36 Artinya dalam menghadap arah kiblat ke Ka‟bah di Mekah cukup menjadi tempat yang dituju dalam mengarahkan wajah dan anggota badan sedangkan hati dan pikiran tetap khusuk palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Dalam tafsir ath-Thabari menjelaskan tentang surat al-Baqara ayat 150, di tempat dan daerah manapun kamu berada, wahai Muhammad, tetaplah menghadapkan wajahmu ke arah Masjidil Haram, yakni sisi (Ka‟bah) Masjidil Haram. Di bumi kalian berada wahai orang-orang mukmin, tetaplah menghadap wajah ke arah Masjidil Haram disaat menjalankan salat. Kata سانلاdalam firman سانلل نوكي لَّئل adalah ahli kitab, ulama yang berpendapat demikian, menyebutkan bahwa: Bisyr bin Mu‟adz menceritakan kepada kami, katanya: Yazid bin Zurai menceritakan kepada kami, katanya: Sa‟id menceritakan kepada kami, dari Qatadah, firman

36 M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Jilid I. h. 418

Allah ةجح مكيلع سانلل نوكي لَّئل maksudnya, para ahli kitab, mereka berkata tatkala Nabi SAW memalingkan wajahnya ke arah Ka‟bah di Masjidil Haram, dan kata mereka: orang itu (Nabi SAW) sudah merindukan Bait ayahnya (Ibrahim AS) dan agama kaumnya.

Bisyr bin Mua‟adz menceritakan kepada kami, katanya: Yazid menceritakan kepada kami, dari Sa‟id, dari Qatadah, firman Allah نيذلالَّا مهنم اوملظ artinya dan orang-orang zalim, yakni kaum musyrikin Bani Quraisy, katanya: mereka akan memperdebatkan hal itu dengan kalian, hujjah mereka adalah sikap Nabi SAW yang berpaling menghadap ke arah Baitul Haram, mereka berkata: Muhammad akan kembali mengikuti agama kita sebagaimana ia telah menghadap ke kiblat kita.37

تِلَّو

مكيلع تىمعن artinya di bumi manapun kalian dilahirkan, kemanapun kalian berpindah-pindah, hadapkan wajahmu kearah Masjidil Haram; dimanapun kamu Muhammad dan orang-orang mukmin berada, hadapkan wajahmu, dalam salat, ke arah Masjidil Haram. Jadikan Masjidil Haram itu sebagai kiblat kalian agar tidak ada hujjah bagi siapapun untuk membantah kecuali kaum musyrikin Bani Qurais; dan Aku akan menyempurnakan hidayah-Ku dan nikmat-Ku kepada kalian (dengan perintah) menghadap kiblat Ibrahim AS yang mana Aku telah menjadikannya sebagai imam (panutan), Aku juga akan meyempurnakan kemuliaan kepada kalian, Aku juga sempurnakan juga syariat agama kalian yang islam dan hanif, agama yang juga telah diwasiatkan kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. مكلعلو نودتته artinya, agar kalian mendapat petunjuk ke jalan kebenaran, yaitu kiblat.38

Dari dua ayat diatas, merupakan sebagian dari banyak ayat yang membahas arah kiblat. Artinya ayat yang membicarakan tentang arah

37 Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Tafsir Ath-Thabari. (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007) jilid 2. h. 656-659

38 Abu Ja‟far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Tafsir Ath-Thabari. h. 663-664

kiblat secara langsung cukup panjang dan banyak, karena pengalihan kiblat dinilai sebagai persoalan pertama yang dibatalkan hukumnya oleh al-Qur‟an. Pembatalan sesuatu yang sebelumnya telah direstui itu boleh jadi meresahkan umat islam apalagi berkaitan dengan ibadah salat yang merupakan tiang agama. Disisi lain, pembatalan ini juga menimbulkan keberatan dan kritik orang Yahudi dan kaum musyrikin. Faktor-faktor itulah yang mengundang al-Qur‟an berbicara panjang lebar, antara lain menjelaskan, mengingatkan, mengancam dan menjanjikan, mengajukan dalil dan menampik keberatan.39

2. Dasar hukum dari Hadits

رباج نع

kendaraan dengan menghadap kemana saja kendaraan itu menghadap. dan apabila beliau hendak melakukan salat fardhu, maka beliau turun dan menghadap ke kiblat.”

برك و ةلبقلا لبقتسا :صلى الله عليه وسلم بينلا لاق :ةريرى وبا لاقو

Artinya: “Abu Hurairah berkata, Nabi SAW bersabda, „menghadaplah kearah kiblat dan bertakbirlah‟.”

Seorang mukmin saat melaksanakan salat fardhu harus menghadap kiblat di manapun ia berada, baik sedang dalam perjalanan atau tidak.

Sebagaimana diterangkan pada hadits Jabir. ةريرى وبا لاقو (dan berkata Abu Hurairah) ini adalah penggalan hadist beliau sehubungan dengan peristiwa

39 M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur‟an. h. 427

40 Ringkasan Shohih Bukhari. (Surakarta: Insan Kamil. No. 261, Bab Shalat, Jilid 1, 2012) h. 91

orang yang keliru dalam salat. Imam Bukhari telah meriwayatkan lafazh seperti ini dalam kitab “Al Isti‟dzan”.41

ك :لاق امهنع الله يضر بزاع نب ءابرلا نع

„SesungguhnyaKami tahu engkau menghadapkan mukamu ke langit berulang-ulang‟, maka setelah itu Nabi SAW salat menghadap Kakbah.

tetapi orang-orang bodoh, antara lain orang-orang Yahudi, berkata

“Apakah sebabnya mereka berpaling dari kiblat mereka semula?” Katakan hai Muhammad! „kepunyaan Allah Timur dan Barat. ditunjukiNya kepada jalan yang lurus siapa-siapa yang dikehendakiNya‟. Seorang laki-laki salat bersama Nabi SAW waktu terjadinya perubahan kiblat itu, setelah selesai salat dia pergi. Dia melewati sekelompok orang Anshar sedang salat ashar, masih menghadap ke Baitul Maqdis. Lalu dikatakannya, bahwa tadi dia salat bersama Nabi SAW menghadap ke Kakbah. karena itu mereka merubah arah kiblat mereka dan menghadap ke Kakbah.

ةبعكلا لىا وجوي نا بيح ناكو (Rasulullah SAW senang untuk dipalingkan ke Kakbah) disebutkan dalam riwayat yang dinukil oleh At-Thabari dan selainnya melalui jalur Ali bin Abu Thalib dari Ibnu Abbas, dia berkata,

“ketika Nabi SAW hijrah ke Madinah –dan mayoritas penduduknya adalah Yahudi- mereka menghadap Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi pun

41 Ibnu Hajar Al Asqalani. Fathul Baari: Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari. (Jakarta: Pestaka Azzam, 2006) h.101

42 Shohih Bukhari. (Jakarta: Widyana. No. 240, Bab Shalat, Jilid 1, Cet. 13) h. 148

merasa gembira. Nabi SAW menghadap selama tujuh belas bulan.

Rasulullah SAW suka untuk menghadap kiblat Nabi Ibrahim. Beliau SAW senantiasa berdoa dan menengada ke langit, akhirnya turunlah ayat”.

Selanjutnya dari Abu Al Aliyah, bahwasannya Nabi SAW salat menghadap Baitul Maqdis untuk menarik hati para ahli kitab. Namun pernyataan ini tidak menafikan bahwa perbuatan itu berdasarkan wahyu dari Allah.

سدقلما تيب ونح (menghadap Baitu Maqdis) yakni ketika beliau berada di Madinah. Dijelaskan pada bab shalat adalah sebagian dari iman dalam kitab Al Iman, mengenai lamanya beliau SAW menghadap Baitul Maqdis, yaitu enam belas bulan beberapa hari. لجر صلى الله عليه وسلم بينلا عم ىلصف (seorang laki-laki salat bersama Nabi SAW) telah disebutkan dalam kitab Al-Iman bahwa namanya adalah Ibad bin Bisyr. Adapun salat yang dimaksud adalah salat dhuhur. Disebutkan oleh Muhammad bin Sa‟as dalam kitab Ath Thabaqat, dia berkata, “dikatakan bahwa beliau SAW salat dua rakaat darisalat dhuhur di masjid beliau SAW dengan mengimami kaum muslimin.

Kemudian diperintahkan untuk menghadap ke Masjidil Haram, maka beliau SAW berbalik ke arah itu dan kaum muslimin berbalik bersama beliau” Dikatakan Nabi SAW mengunjungi Ummu Bisyri membuatkan makanan untuk Nabi SAW dan masuklah waktu dhuhur, maka Nabi SAW salat mengimami para sahabatnya sebanyak dua rakaat. Kemudian beliau diperintahkan untuk berbalik ke arah Ka‟bah seraya menghadap ke Al-Mizab, akhirnya dinamakan masjid qiblatain (dua kiblat). ibnu Sa‟ad berkata “Al-Waqidi berkata, „ini adalah riwayat paling akurat yang ada pada kami‟.”43

D. Hukum Arah Kiblat

Para fuqaha sepakat berpendapat bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat syah salat. Artinya untuk melakukan ibadah salat kaum

43 Ibnu Hajar Al Asqalani. Fathul Baari: Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari. h.102-104

muslimin wajib mengarah ke kiblat. Kecuali dua keadaan, yaitu ketika salat sunah di atas kendaraan bagi musafir, karena mengikuti arah kendaraan melaju dan ketika dalam keadaan khauf atau takut, yaitu kiblat menghadap ke arah yang aman.44 Dalam sumber lain dinyatakan bahwa kewajiban menghadap kiblat itu gugur yaitu salatnya orang yang dipaksa dan sakit.45 Pada masa Nabi Muhammad SAW kewajiban menghadap ke dari Mekah tidak bisa melihat Ka‟bah secara langsung. Apakah kewajiban menghadap kiblat itu harus pada fisik Ka‟bah (‟ain Ka‟bah) atau cukup dengan arahnya saja (syatrah atau jihah).46

Para fuqaha juga sepakat bahwa bagi seseorang yang dapat melihat Ka‟bah secara langsung, wajib menghadap kiblat dengan tepat dan penuh keyaqinan ke bangunan Ka‟bah. Sedangkan bagi mereka yang tidak dapat melihat Ka‟bah secara langung ada perbedaan pendapat, yaitu menurut jumhur ulama, orang yang tidak dapat melihat melihat bangunan Ka‟bah cukup dengan jihah Ka‟bah. kemudian menurut Syafi‟iyah, orang yang berada diluar Mekah diwajibkan menghadap ke arah Ka‟bah („ain Ka‟bah) sebagimana orang yang dapat melihat Ka‟bah secara langsung.47 Artinya Syafi‟iyah lebih ketat dalam memberikan keputusan hukum, menghadap kiblat haruslah menghadap „ainul Ka‟bah baik orang yang dekat dengan Ka‟bah atau yang jauh dari Ka‟bah. Bagi yang jauh dari Ka‟bah wajib berijtihad untuk mengetahui Ka‟bah sehingga seperti menghadap „ainul

44 Wahbah Az-Zuhaili. Tafsir Al- Munir. (Jakarta: Gema Insani, jilid 1, 2013) h. 286

45 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah (Jakarta: Cakrawala Publishing, jilid 1, 2011) h. 223

46 Maskufah. Ilmu Falaq. h. 128

47 Wahbah Az-Zuhaili. Fiqih Islam Wa Adillatuhu. (Jakarta: Gema Insan, 2010) h. 631-632

Ka‟bah meskipun pada hakikatnya menghadap jihah Ka‟bah.48 Pendapat tersebut dapat diikuti dari salah satunya.

Al-Qurthubi berpendapat bahwa menghadap ke arah kiblat itulah pendapat yang benar, karena tiga alasan, yaitu Pertama, yang memungkinkan dan taklif selalu dikaitkan dengan batas yang memungkinkan bagi mukalaf. Kedua, yang diperintahkan oleh Allah

“Palingkanlah mukamu ke masjidilharam. Dan di mana saja kau berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” artinya, baik di timur maupun di barat, menghadap ke arah masjidilharam. Ketiga, para ulama berargumen dengan shaf yang panjang yang diketahui secara pasti bahwa panjangnya berkali lipat dari lebar Ka‟bah.49

Bagi orang yang tidak mengetahui arah kiblat, dia harus bertanya kepada seseorang yang dapat menunjukkan arah kiblat. Jika dia tidak menemukan seseorang yang dapat menunjukkan arah kiblat, dia dapat menentukan sesuai dengan ijtihad yang diyakininya. Jika salat sudah selesai dilakukan dan arah kiblatnya salah, salatnya tetap sah dan tidak wajib mengulangi salatnya lagi. Jika pertengahan salat dia menyadari bahwa arah kiblat salah, dia cukup memutar tubuhnya sehingga tidak perlu menghentikan salatnya.50 Berdasarkan hadits

Bagi orang yang tidak mengetahui arah kiblat, dia harus bertanya kepada seseorang yang dapat menunjukkan arah kiblat. Jika dia tidak menemukan seseorang yang dapat menunjukkan arah kiblat, dia dapat menentukan sesuai dengan ijtihad yang diyakininya. Jika salat sudah selesai dilakukan dan arah kiblatnya salah, salatnya tetap sah dan tidak wajib mengulangi salatnya lagi. Jika pertengahan salat dia menyadari bahwa arah kiblat salah, dia cukup memutar tubuhnya sehingga tidak perlu menghentikan salatnya.50 Berdasarkan hadits

Dokumen terkait