BAB I PENDAHULUAN
F. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini, terdapat enam bab, dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I : Pendahuluan
Bab ini menguraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Bab ini menguraikan penjelasan atas teori-teori pendukung yang berkaitan dengan topik penelitian yang akan digunakan sebagai acuan dalam melakukan pembahasan masalah.
BAB III : Metode Penelitian
Bab ini menguraikan jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, data yang dibutuhkan, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, serta sumber data.
BAB IV : Gambaran Umum
Bab ini menguraikan secara singkat mengenai objek penelitian, yaitu Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
BAB V : Analisis Data dan Pembahasan
Bab ini membahas tentang analisis data yang telah diperoleh dari penelitian yang dilakukan.
BAB VI : Penutup
Bab ini merupakan bagian akhir dari penelitian yang menjelaskan tentang kesimpulan dan saran dari hasil penelitian oleh penulis.
8 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kinerja
1. Pengertian Kinerja
Menurut Mahsun (2011: 141), Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi.Bastian (2006:274) mengatakan “Kinerja merupakan prestasi yang dapat dicapai oleh organisasi dalam periode tertentu”.
Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan pencapaian suatu kegiatan/program dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi dalam periode tertentu.
2. Indikator Kinerja
Menurut Bastian (2006: 267), Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhitungkan indikator masukan (inputs), keluaran (outputs), hasil (outcomes), manfaat (benefits), dan dampak (impact).
a. Indikator masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan
keluaran. Indikator ini dapat berupa dana, sumber daya manusia, informasi, kebijaksanaan/peraturan perundang-undangan, dan sebagainya.
b. Indikator keluaran (outputs) adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari suatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau nonfisik.
c. Indikator hasil (outcomes) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka mengengah (efek langsung).
d. Indikator manfaat (benefits) adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan.
e. Indikator dampak (impacts) adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif terhadap setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan.
Menurut Bastian (2002: 267), syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu indikator kinerja adalah:
a. Spesifik, jelas, dan tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi.
b. Dapat diukur secara objektif baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, yaitu dua atau lebih yang mengukur indikator kinerja mempunyai kesimpulan yang sama.
c. Relevan, indikator kinerja harus menangani aspek objektif yang relevan.
d. Dapat dicapai, penting, dan harus berguna untuk menunjukkan keberhasilan masukan, proses keluaran, hasil, manfaat, serta dampak.
e. Harus cukup fleksibel dan sensitif terhadap perubahan/penyesuaian pelaksanaan dan hasil pelaksanaan kegiatan.
f. Efektif, data/informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja bersangkutan dapat dikumpulkan, diolah dan dianalisis dengan biaya yang tersedia.
Adapun manfaat indikator kinerja menurut Bastian (2006:269) adalah:
a. Kejelasan tujuan organisasi
b. Mengembangkan persetujuan pengukuran aktivitas c. Keuntungan proses produksi harus dipahami lebih jelas
d. Tersedianya pembandingan kinerja dari organisasi yang berbeda e. Tersedianya fasilitas setting of target untuk penilaian organisasi dan
individual manager sebagai bagian dari pertanggungjawaban organisasi kepada pemilik saham.
3. Pengertian Pengukuran Kinerja
Menurut Robertson (2002) dalam Mahsun (2006: 141), pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan barang dan jasa; kualitas barang dan jasa; hasil kegiatan dibandingkan
dengan maksud yang diinginkan, dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan.
Larry D. Stout (1993) dalam Performance Measurement Guide dalam Bastian (2006: 275) mengatakan, “Pengukuran/penilaian kinerja merupakan proses mencacat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi (mission accomplishment) melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa, ataupun suatu proses”.
4. Tujuan Pengukuran Kinerja
Tujuan pengukuran kinerja menurut Mardiasmo (2002: 122) adalah:
a. Untuk mengkomunikasikan strategi secara lebih baik (top down dan bottom up).
b. Untuk mengukur kinerja finansial dan non-finansial secara berimbang sehingga dapat ditelusur perkembangan pencapaian strategi.
c. Untuk mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan bawah serta memotivasi untuk mencapai keselarasan antara tindakan dengan tujuan yang ingin dicapai (goal congruence);
dan
d. Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan kemampuan kolektif yang rasional.
5. Informasi yang Digunakan untuk Pengukuran Kinerja
Mardiasmo (2002: 123) menjelaskan, terdapat dua informasi yang dapat digunakan untuk pengukuran kinerja, yaitu:
a. Informasi Finansial
Penilaian laporan kinerja finansial diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat.Penilaian tersebut dilakukan dengan menganalisis varians (selisih atau perbedaan) antara kinerja aktual dengan yang dianggarkan. Analisis varians secara garis besar berfokus pada:
1) Varians pendapatan (revenue variance) 2) Varians pengeluaran (expenditure variance)
a) Varians belanja rutin (recurrent expenditure variance) b) Varians belanja investasi/modal (capital expenditure
variance)
b. Informasi Nonfinansial
Jenis informasi nonfinansial dapat dinyatakan dalam bentuk variabel kunci (key variable) atau sering dinamakan sebagai key success factor, key result factor, atau pulse point.Variabel kunci adalah variabel yang
mengindikasikan faktor-faktor yang menjadi sebab kesuksesan organisasi.Jika terjadi perubahan yang tidak diinginkan, maka variabel ini harus segera disesuaikan. Suatu variabel kunci memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
1) Menjelaskan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi
2) Sangat volatile dan dapat berubah dengan cepat 3) Perubahannya tidak dapat diprediksi
4) Jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera
5) Variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung maupun melalui ukuran antara (surrogate).
B. Ekonomi dan Efisiensi dalam Value For Money 1. Pengertian Value For Money
Menurut Mardiasmo (2002: 4) Value For Money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama, yaitu: ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
a. Ekonomi
Mahmudi (2010: 83-84) menjelaskan bahwa, “ekonomi terkait dengan pengkonversian input primer berupa sumber daya keuangan (uang/kas) menjadi input sekunder berupa tenaga kerja, bahan, infrastruktur, dan barang modal yang dikonsumsi untuk kegiatan operasi organisasi. Konsep ekonomi sangat terkait dengan konsep biaya untuk memperoleh unit input. Ekonomi memiliki pengertian bahwa sumber daya input hendaknya diperoleh dengan harga lebih rendah (spending less), yaitu harga yang mendekati harga pasar”.
“Ekonomi (hemat/tepat guna) sering disebut kehematan yang mencakup juga pengelolaan secara hati-hati atau cermat (prudency) dan tidak ada pemborosan. Suatu kegiatan operasional dikatakan
ekonomis bila dapat menghilangkan atau mengurangi biaya yang tidak perlu” (Mardiasmo 2002: 131).
b. Efisiensi
“Efisiensi berbicara mengenai input dan output. Efisiensi terkait dengan hubungan antara output berupa barang atau pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut” (Mahmudi, 2010: 85).
Menurut Mardiasmo (2002: 132), efisiensi berhubungan erat dengan konsep produktivitas. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap input yang digunakan (cost of output). Proses kegiatan operasional
dapat dikatakan efisien apablia suatu produk atau hasil kerja tertentu dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya dan dana yang serendah-rendahnya (spending well).
2. Manfaat Pengukuran Ekonomi dan Efisiensi dalam Value For Money Menurut Halim (2002: 14) konsep value for money sangat penting bagi pemerintah sebagai pemberi pelayanan kepada masyarakat karena pemakaian konsep tersebut akan memberikan manfaat berupa:
a. Meningkatkan efektivitas pelayanan publik, dalam arti pelayanan publik yang diberikan tepat sasaran.
b. Meningkatkan mutu pelayanan publik.
c. Menurunkan biaya pelayanan publik karena hilangnya inefisiensi dan terjadinya penghematan dalam penggunaan input.
d. Alokasi belanja yang lebih berorientasi pada kepentingan publik.
e. Meningkatkan kesadaran akan uang publik (public costs awareness), sebagai akar pelaksanaan akuntabilitas publik.
3. Indikator Ekonomi dan Efisiensi dalam Value For Money
Menurut Mardiasmo (2002: 130) tujuan yang dikehendaki oleh masyarakat mencakup pertanggungjawaban mengenai pelaksanaan value for money, yaitu ekonomis (hemat cermat) dalam pengadaan dan alokasi
sumber daya, efisien (berdaya guna) dalam penggunaan sumber daya dalam arti penggunaannya diminimalkan dan hasilnya dimaksimalkan, serta efektif dalam arti mencapai tujuan dan sasaran.Peranan indikator kinerja adalah untuk menyediakan informasi sebagai pertimbangan untuk pembuatan keputusan. Indikator value for money dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Indikator alokasi biaya (ekonomi dan efisiensi)
Ekonomi artinya pembelian barang dan jasa dengan tingkat kualitas tertentu pada harga terbaik (spending less).
Efisiensi artinya output tertentu dapat dicapai dengan sumber daya yang serendah-rendahnya (spending well).
b. Indikator kualitas pelayanan (efektivitas)
Efektivitas artinya kontribusi output terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan (spending wisely).
C. Langkah Pengukuran Ekonomi dan Efisiensi dalam Value For Money 1. Pengukuran Ekonomi
Menurut Mardiasmo (2002: 133), pengukuran efektivitas hanya memperhatikan keluaran yang didapat, sedangkan pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan masukan yang dipergunakan. Ekonomi merupakan ukuran relatif. Pertanyaan sehubungan dengan pengukuran ekonomi adalah:
a. Apakah biaya organisasi lebih besar dari yang telah dianggarkan oleh organisasi?
b. Apakah biaya organisasi lebih besar daripada biaya organisasi lain yang sejenis yang dapat diperbandingkan?
c. Apakah organisasi telah menggunakan sumber daya finansialnya secara optimal?
Tingkat ekonomi menurut Mahmudi (2010: 84) sebagai berikut:
Ekonomi = 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡
Harga 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 (Rp)x 100%
Keterangan:
Input : Realisasi anggaran Harga Input : Anggaran
Menurut Mahsun (2006: 186), kriteria ekonomi adalah:
a. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x < 100%) berarti ekonomis.
b. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti ekonomi berimbang.
c. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x > 100%) berarti tidak ekonomis.
2. Pengukuran Efisiensi
“Efisiensi merupakan hal penting dari ketiga pokok bahasan value for money.Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin
besar output dibandinginput, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi” (Mardiasmo, 2002: 133). Pengukuran efisiensi dinyatakan dalam rumus berikut:
Efisiensi =𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡
𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 x 100%
Keterangan:
Output : Hasil yang dicapai oleh kebijakan program dan aktivitas Input : Realisasi anggaran
Menurut Mahsun (2006: 187), kriteria efisiensi adalah:
a. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x < 100%) berarti tidak efisien.
b. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti efisien berimbang.
c. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x > 100%) berarti efisien.
D. Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Bentuk pemenuhan standar pelayanan publik institusi penyedia pelayanan publik di Indonesia, baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah, adalah kewajiban untuk melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM).Standar Pelayanan Minimal adalah suatu standar dengan batas minimal tertentu untuk mengukur kinerja pelaksanaan kewenangan wajib yang harus dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah, berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat.
Standar Pelayanan Minimal mencakup kewenangan wajib instansi penyedia pelayanan publik, jenis pelayanan, indikator, dan nilai (benchmark).Kewenangan wajib adalah bentuk kewenangan instansi penyedia
pelayanan publik yang penyelenggaraannya diwajibkan oleh pemerintah untuk menjamin terlaksananya pelayanan dasar kepada masyarakat.Jenis pelayanan berisi tentang bentuk-bentuk pelayanan yang dapat diberikan oleh instansi sebagai bentuk pelaksanaan kewenangan wajib.Masing-masing instansi penyedia pelayanan publik memiliki jenis pelayanan yang berbeda-beda.Jenis pelayana tersebut selanjutnya ditentukan indikatornya berdasarkan indikator
tersebut, ditetapkan nilai (benchmark).Nilai inilah yang menjadi Standar Pelayanan Minimal yang harus dipenuhi (Mahmudi, 2010: 233).
E. Penelitian Terdahulu
Penelitian dilakukan Niken Dwi Kuswanti (2010) dari Universitas Sanata Dharma dengan judul Analisis Kinerja Keuangan Melalui Pendekatan Value For Money studi kasuspada Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kinerja Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2012 yang diukur menggunakan pendekatan value for money (ekonomi, efisiensi, dan efektivitas).Teknik pengumpulan data
yang digunakan berupa wawancara, dokumentasi, dan kuisioner. Dalam penelitian ini, pengukuran nilai ekonomi membandingkan realisasi dana yang digunakan dengan dana yang dianggarkan dari data Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Nilai efisiensi menggunakan perbandingan output dan input dari data Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Kesehatan Kabupten Gunungkidul, sedangkan nilai efektivitas dihitung berdasarkan perbandingan nilai outcome dan output. Sampel pada kuisioner ini berjumlah 100, yang kemudian dilakukan uji validitas dan reabilitas untuk mengukur keandalan data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja Dinas Kesehatan pada tahun 2012 untuk kegiatan Pengembangan Media Promosi dan Informasi Sadar Hidup Sehat menunjukkan kinerja yang ekonomis, cukup efisien, dan
sangatefektif. Pada kegiatan Pengadaan Obat-obatan dan Perbekalan Kesehatan menunjukkan kinerja yang sangat ekonomis, sangat efisien, dan cukup efektif.
Penelitian yang dilakukan Melchior Eugenndori Gare (2013) dari Universitas Sanata Dharma dengan judul Analisis Pengukuran Kinerja dengan Menggunakan Value For Money bertujuan untuk mengetahui kinerja klinik Adhiwarga PKBI DIY pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2015. Data diperoleh dengan wawancara, dokumentasi, dan penyebaran kuisioner. Total sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 50 responden dari total populasi 60 klien lama. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ekonomis
kinerja klinik Adhiwarga PKBI DIY pada tahun 2013 sampai dengan 2015 menunjukkan kinerja yang ekonomis, tingkat efisiensi menunjukkan tingkat kerja yang efisien, dan kinerja klinik Adhiwarga PKBI DIY menunjukkan tingkat kinerja yang tidak efektif.
Dian Annisa (2011) melakukan penelitian tentang Evaluasi Kinerja Keuangan Dinas Kesehatan Kota Makasar Melalui Pendekatan Valur For Money. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja Keuangan
Dinas Kesehatan Kota Makasar melalui pengukuran 3E (ekonomi, efisiensi, efektivitas). Dalam penelitian ini, pengukuran nilai ekonomi menggunakan teknik wawancara, nilai efisiensi menggunakan perbandingan output dan input dari data LAKIP, sedangkan nilai efektivitas dihitung berdasarkan
perbandingan nilai outcome dan output, dimana nilai outcome berisi tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari kuisioner kepada masyarakat Kota Makasar. Sampel pada kuisioner ini berjumlah 100, yang kemudian dilakukan uji validitas dan reabilitas untuk mengukur keandalan data.Hasil penelitian ini menunjukkan untuk tingkat ekonomi dan efisiensi mampu mencapai hasil yang cukup baik.Namun untuk tingkat efektivitasnya masih kurang, karena didasari tingkat kepuasan masyarakat yang belum maksimal.
Penelitian yang dilakukan Marietta Sinta Dewi (2012) dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dengan judul Analisis Pengukuran Kinerja Organisasi Sektor Publik Dengan Pendekatan Value For Money bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 yang diukur dengan menggunakan pendekatan value for money. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa dokumentasi. Peneliti membandingkan antara realisasi anggaran dengan dana yang dianggarkan untuk mengukur nilai ekonomi. Nilai efisiensi menggunakan perbandingan antara output dan input yang diperoleh dari Laporan Kinerja Kegiatan (LKK) Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, sedangkan nilai efektivitas diperoleh berdasarkan perbandingan antara outcome dan output, dimana nilai outcome adalah dampak yang ditimbulkan atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Hasil penelitian ini menunjukkan menunjukkan bahwa kinerja Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta pada tahun
2012 sangat ekonomis, cukup efisien, dan cukup efektif.Sedangkan kinerja pada tahun 2013 menunjukkan kinerja yang sangat ekonomis, cukup efisien, dan cukup efektif.Kinerja Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta pada tahun 2014 menunjukkan kinerja yang sangat ekonomis, cukup efisien, dan cukup efektif.
23 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu penelitian secara mendalam terhadap suatu objek untuk memberikan gambaran mengenai objek tersebut.Penelitian ini dilakukan secara langsung di Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sehingga hasil yang diperoleh hanya berlaku pada objek yang diteliti.
B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada:
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret tahun 2018.
C. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dan objek penelitian ini adalah:
1. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia khususnya bagian Administrasi Data dan Pelaporan.
2. Objek Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah Pencapaian Realisasi Keuangan Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang terdapat pada Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).
D. Data yang Dibutuhkan
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah
1. Gambaran umum Direktorat Kesehatan LingkunganKementerian Kesehatan Republik Indonesia
2. Laporan Realisasi Anggaran Kementerian Kesehatan 3. Laporan Anggaran Penerimaan Kementerian Kesehatan
E. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Dokumentasi
Dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan topik penelitian.
2. Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan topik penelitian.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif, teknik analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis yang telah dirumuskan dalam proposal (Sugiyono, 2011:331).
Langkah-langkah yang digunakan dalam teknik analisis data sebagai berikut:
1. Ekonomi
Menurut Mardiasmo (2002: 133), pengukuran efektivitas hanya memperhatikan keluaran yang didapat, sedangkan pengukuran ekonomi hanya mempertimbangkan masukan yang dipergunakan. Ekonomi merupakan ukuran relatif.
Tingkat ekonomi menurut Mahmudi (2010: 84) sebagai berikut:
Ekonomi = 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡
Harga 𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 (Rp)x 100%
Keterangan:
Input : Realisasi anggaranberdasarkan Laporan Realisasi Anggaran Harga Input: Anggaran kegiatanbersasarkan Laporan Realisasi Anggaran Menurut Mahsun (2006: 186), kriteria ekonomi adalah:
a. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x < 100%) berarti ekonomis.
b. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti ekonomi berimbang.
c. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x > 100%) berarti tidak ekonomis.
2. Efisiensi
“Efisiensi merupakan hal penting dari ketiga pokok bahasan value for money.Efisiensi diukur dengan rasio antara output dengan input. Semakin
besar output dibanding input, maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi” (Mardiasmo, 2002:133). Pengukuran efisiensi dinyatakan dalam rumus berikut:
Efisiensi =𝑂𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡
𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 x 100%
Keterangan:
Output :Hasil yang dicapai oleh kebijakan program dan aktivitasberdasarkan LAKIP
Input : Realisasi anggaran dari Direktorat Jenderal Kesehatan Lingkungan
Menurut Mahsun (2006: 187), kriteria efisiensi adalah:
a. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x < 100%) berarti tidak efisien.
b. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti efisien berimbang.
c. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x > 100%) berarti efisien.
G. Sumber Data
1. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) tahun 2014-2016
2. Dokumen lain yang terkait dengan pengukuran ekonomi dan efisiensi
28 BAB IV
GAMBARAN UMUM
A. Sejarah Singkat
Pada tahun 2016 Kelembagaan Direktorat Penyehatan Lingkungan terjadi perubahan struktur organisasi dan tata kerja, hal ini disebabkan karena adanya pergantian presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Joko Widodo, sehingga Kelembagaan Direktorat Penyehatan Lingkungan berubah menjadi Direktorat Kesehatan Lingkungan
B. Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Penyehatan Lingkungan
Kelembagaan Direktorat Kesehatan Lingkungan seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 64 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pemberian bimbingan teknis, dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kesehatan lingkungan. Dalam Pasal 182, peraturan tersebut dinyatakan bahwa Direktorat Kesehatan Lingkungan menyelenggarakan fungsi:
1. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;
2. Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;
3. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;
4. Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;
5. Pemantauan, evaluasi dan penyusunan pelaporan di bidang penyehatan air dan sanitasi dasar, penyehatan pangan, dan penyehatan udara, tanah, dan kawasan, serta pengamanan limbah dan radiasi;
6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat;
C. Visi dan Misi Direktorat Penyehatan Lingkungan
Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 – 2019 tidakada visi dan misi, namun mengikuti visi dan misi Presiden Republik Indonesia, yaitu
“Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”.
Upaya untuk mewujudkan visi tersebut, melalui 7 misi pembangunan:
1. Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, berkeseimbangan, dan demokratis.
3. Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
4. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju, dan sejahtera.
5. Mewujudkan bangsa Indonesia yang berdaya saing.
6. Mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional.
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Dalam RPJMN 2015-2019 sasaran pembanguan kesehatan meliputi:
1. Meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat
2. Meningkatnya pengendalian penyakit menular dan tidak menular 3. Meningkatnya pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan
4. Meningkatnya perlindungan finansial, ketersediaan, penyebaran dan mutu obat serta sumber daya kesehatan
Strategi pembangunan kesehatan 2015-2019 meliputi:
1. Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja dan lanjut usia yang berkualitas.
2. Mempercepat perbaikan gizi masyarakat.
3. Meningkatkan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan.
4. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas.
5. Meningkatkan akses pelayanan kesehatan rujukan yang berkualitas.
6. Meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan dan kualitas farmasi dan alat kesehatan.
7. Meningkatkan pengawasan obat dan makanan.
8. Meningkatkan ketersediaan, penyebaran dan mutu Sumber Daya Manusia Kesehatan.
9. Meningkatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
10. Menguatkan manajemen, penelitan pengembangan dan system informasi.
11. Memantapkan pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) BIdang Kesehatan.
12. Mengembangkan dan meningkatkan efektivitas pembiayaan kesehatan.
Tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019 yaitu:
Tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019 yaitu: