• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TINDAKAN YANG DILAKUKAN OLEH KREDITUR

C. Sita Jaminan Terhadap Jaminan Debitur Yang Hanya

Pelaksanaan eksekusi terhadap jaminan yang hanya diikuti dengan pembuatan SKMHT saja dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri, dengan permohonan meletakan sita jaminan. Hanya dapat dilakukan degan permohonan saja, karena yang diajukan hanyalah berlandaskan SKMHT saja, bukan yang sudah ada Hak Tanggungannya. Apabila sudah adanya Hak Tanggungan, maka terhadap hal tersebut apabila debitur wanprestasi atau kredit macet dapat diajukan ke balai pelelangan, agar dapat dilakukannya pelelangan terhadap jaminan tersebut. Tetapi oleh hanya karena dengan SKMHT saja, maka yang dapat dilakukan adalah dengan sita jaminan. Hal ini dilakukan untuk memberikan shock therapy kepada debiturya.

Cara atau pelaksanaan eksekusi jaminan harus sesuai dengan bentuk atau cara pengikatan kreditnya, yaitu sebagai berikut:157

a.Eksekusi jaminan berdasarkan putusan Pengadilan Negeri yang sudah berkekuatan pasti.

Adapun urutan jalannya berperkara di Pengadilan Negeri adalah sebagai berikut:

1. Kreditor/bank menyiapkan surat gugatan terhadap debitur yang disertai bukti-bukti berupa surat perjanjian kredit, surat jaminan, surat teguran dan sebagainya. Gugatan tersebut didaftarkan pada Pengadilan Negeri yang berwenang disertai permohonan sita jaminan (conservatoir beslag) atas barang-barang jaminan.

2.Debitur, yang kemudian menjadi gugatan biasanya tidak akan tinggal diam dan mengajukan perlawanan dengan gugatan tersebut dengan mengajukan jawaban bahkan kadang-kadang mengajukan gugatan balik (gugatan rekovensi) dan banding serta kasasi., yang tujuannya hanyalah mengulur waktu. Gugatan harus memuat unsur-unsur sebagai berikut:

a) Identitas para pihak, yaitu penggugat,tergugat, dan penjamin (bila ada).

b) Posita atau dasar gugatan yang berisi antara lain:

1. Uraian tentang kejadian atau peristiwanya (feitelijk gronden).

2.Uraian tentang dasar hukumnya (recht gronden).

3. Petitum (tuntutan)

157 Adrian Sutedi Hukum Hak Tanggungan,( Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hal 213-216

3. Setelah tergugat mengajukan jawaban, penggugat harus mengajukan replik kemudian dijawab oleh tergugat dengan duplik setelah itu disusul dengan pengajuan saksi-saksi. Terakhir mengajukan kesimpulan, kemudian hakim menjatuhkan putusan

4. Proses perkara ini biasanya berlangsung berbulan -bulan (kurang lebih 6-8 bulan) dan dapat berlangsung lebih dari itu apabila debitur berusaha mengulur-ulur waktu dengan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi, proses ini dapat berlangsung sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Setelah ada putusan dari Pengadilan Tinggi dalam perkara banding tersebut, masih ada upaya debitur untuk mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan proses mengajukan kasasi ini juga memakan waktu yang lama.

Prosedur penyelesaian kredit macet melalui gugatan di PengadilanNegeri memerlukan waktu cukup lama, karena debitur yang diputuskan kalah pada tingkatpertama pada umumnya melakukan upaya perlawanan (verzet), banding, kasasi, bahkan peninjauan kembali. Untuk mengatasi hal ini, dalam praktek bank meminta kepada Notaris PPAT yang membuat perjanjian kredit agar SKMHT yang telah dibuat ditindaklanjuti dengan pembuatan APHT dan juga didaftarkan di Badan Pertanahan Nasional agar diterbitkan sertipikat Hak Tanggungan, sehingga mempunyai asas spesialitas dan publisitas. Dengan diterbitkannya sertipikat Hak Tanggungan yang memuat irah-irah dengan kata-kata“DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan

hukum tetap dan berlaku sebagai gross akta sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 14 ayat (3) Undang-undang Hak Tanggungan. Manfaat adanya grosse akta itu yaitu bank dapat terhindar dari proses perkara yang berbelit-belit, karena dengan adanya grosse akta tersebut bank cukup mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Negeri.158

Sita jaminan diatur dalam Pasal 261 Rbg. Sita jaminan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Sita jaminan diletakan atas harta yang disengketakan status kepemilikannya 2. Sita jaminan juga bisa diletakan terhadap harta kekayaan tergugat dalam sengketa

utang piutang atau tuntutan ganti rugi.

Berdasarkan dari kedua ciri terebut dapat dikatakan bahwa atas harta kekayaan tergugat pada perkara hak milik, utang-piutang atau pada tuntutan ganti-kerugian.

Objek sita jaminan dapat berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak baik terhadap benda berwujud maupun tidak berwujud (lychammelijk on lychammelijk).

Mengenai harta benda berwujud tentunya dapat kita temukan dengan mudah.

Sedangkan benda tak berwujud misalnya macam- macam hak.159 Pembebanan sita jaminan bisa hanya terbatas pada barang tertentu jika gugatan seperti hak gadai , hak merek dan lainya.didalilkan berdasarkan sengketa hak milik atas barang-barang tertentu. Namun dilain sisi sita juga dapat meliputi seluruh harta kekayaan tergugat

158 Victor M. Situmorang dan Cormentyna Sitanggang, Grosse Akta Dalam Pembuktian Dan Eksekusi,Cet 1, (Jakarta: Rineka Cipta,1993) hal 150 .

159C. S. T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Umum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002),hal. 244

sampai mencukupi seluruh jumlah tagihan apabila gugatan didasarkan atas utang piutang atau tuntutan ganti-kerugian.

Mengenai tujuan dari pada sita jaminan tidak lain agar mampu menjamin gugatan penggugat agar tidak illusioner (hampa) saat putusan telah berkekuatan hukum tetap.

Sehingga harta yang dipersengketakan atau harta tergugat yang disita tetap terjamin keutuhannya sampai tiba waktunya perkara untuk dieksekusi. Sita jaminan dapat dijalankan sebelum putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, jadi sita jaminan ini adalah upaya hukum yang bersifat eksepsional, yang berbeda dengan sita eksekusi yang dapat dilaksanakan apabila putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Dari segi kewenangan pelaksanaan, kewenangan memerintahkan pelaksanaan sita jaminan terletak pada tangan ketua majelis yang memeriksa perkara tersebut. Ini karena hakim diperintahkan undang-undang sebagai penilai unsur persangkaan suatu permohonan sita jaminan. Terdapat hal lainnya juga yang perlu dibahas adalah berhubungan dengan sita jaminan yang diletakan

atas harta kekayaan tergugat atas jenis perkara sengketa utang-piutang dan tuntutan ganti-kerugian. Sita jaminan yang diletakan atas harta kekayaan tergugat dengan sendirinya akan berubah menjadi sita eksekusi. Hal ini terjadi apabila gugatan dikabulkan yang terhitung sejak putusan yang bersangkutan mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Sehingga berdasarkan asasnya sita jaminan dapat menjadi sita eksekusi,apabila telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Oleh karena sita

jaminan otomatis mempunyai kekuatan hukum executorial beslag , dengan demikian tidak ada lagi diperlukan tahap proses executorial beslag.160

160 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta:

Sinar Grafika, 2009), hal.70

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

1. SKMHT hanyalah berupa lembaga kuasa, bukan merupakan suatu lembaga jaminan, sehingga apabila terhadap perjanjian kredit bank yang hanya diikuti dengan pembuatan SKMHT dan tidak adanya ditingkatkan ke APHT atau tidak dipasangnya Hak Tanggungan maka tidak akan keluar sertifikat. Perjanjian kredit yang hanya dengan SKMHT pada dasarnya sudah memiliki kekuatan hukum yang kuat, hal ini berlaku untuk pinjaman-pinjaman kredit kecil, pembuatan SKMHT dibuat dengan akta notaris yang dituangkan dalam Bahasa Indonesia dan merupakan akta Jaminan Hak Atas Tanah , hal ini berarti bahwa SKMHT memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna, sebab berbentuk akta notariil.

Dengan demikian kedudukan para pihak pun menjadi lebih kuat karenanya, hak maupun kewajiban para pihak menjadi lebih jelas dan pasti. Ketentuan mengenai hal ini terdapat dalam pasal 10 ayat (2) dan Pasal 15 ayat (1) UUHT dan PMNA/

KBPN Pasal (1) .

2. Terjadinya kredit macet bukanlah keinginan baik dari pihak debitur maupun krediturnya, apabila terjadinya suatu kredit macet dapat dilakukan terlebih dahulu bersifat pendekatan kepada debitur yakni negoisasi, atau pihak bank dapat melakukan suatu upaya, yakni melalui upaya rescheduling, reconditioning, restructuring, dan suplesi. Dan apabila ketika terjadinya kredit macet tersebut

dengan diikuti SKMHT mati masa berlakunya, maka sepanjang mengenai surat

kuasa yang diberikan dalam rangka menjamin pelunasan jenis-jenis kredit tertentu seperti yang terdapat dalam Pasal (1) dan (2) PMNA/ KBPN, maka terhadap SKMHT tersebut jangka waktunya dapat lebih panjang yakini enam bulan lamanya.

3. Pelaksanaan eksekusi terhadap perjanjian kredit bank yang hanya diikuti dengan pembuatan SKMHT tidak dapat dilakukan eksekusi langsung, bagi pemegang SKMHT tanah yang belum bersertifikat, maka kreditur harus meminta kepada Pengadilan negeri untuk dilakukan lelang eksekusi terhadap tanah termaksud yang harus dilakukan secara Perdata. Maksudnya adalah dengan melakukan sita eksekusi ( executoir beslag), dilakukanya melalui gugatan secara perdata, karena hanya dengan SKMHT tidak diikat dengan Hak Tanggungan dan tidak adanya didaftarakan Hak Tanggungan ke BPN sehingga tidak dapat dilakukan melalui pelelangan atau didaftarkan ke Balai Lelang.

. B. SARAN

1. Alangkah baiknya apabila Kepala Pimpinan BPN dan Kepala Pimpinan BI duduk bersama dan membuat SK Bersama untuk dapat membahas mengenai perjanjian kredit yang hanya dengan SKMHT tersebut dapat dibuat juga hak tanggungannya, hingga terbitlah sertifikat dan memiliki kekuatan hukum yang kuat, hingga bank pun merasa lebih aman karena mereka memiliki pegangan yang kuat, tidak hanya dengan SKMHT saja.

2. Ada baiknya apabila dalam pelaksanaan kegiatan perjanjian kredit bank tersebut, pemberian kredit terhadap debitur dilakukan secara bertahap. Apabila debitur hendak ada melalukan penambahan kredit, nanti akan diurus oleh bank.

Sekiranya hal ini dapat menanggulangi apabila terjadinya kredit macet. Adanya penandatanganan Addendum oleh debitur apabila terjadinya kredit macet, dan penandatangan ulang terhadap SKMHT yang sudah berakhir masa waktunya.

3. Tindakan kredit macet yang hanya dengan diikuti SKMHT saja, dapat saja dilakukan pelelangan, tetapi proses untuk menuju melakukan pelelangan yang dilakukan secara perdata tersebut akan merepotkan dan akan membutuhkan biaya yang banyak. Oleh karena itu alangkah baiknya apabila perjanjian kredit tersebut dapat langusung dipasang dengan Hak Tanggungan untuk menjaga juga agar tidak terjadinya kredit macet, dan untuk melakukan proses eksekusi juga lebih memudahkan dan tidak memakan biaya yang terlalu besar

DAFTAR PUSTAKA A. BUKU

Asikin, Zainal, Pokok-Pokok Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta : RajaGrafindoPersada, 1995.

Badrulzaman, Mariam Darus, Aneka Hukum Bisnis, Alumni: Bandung. 1994.

Bahsan, M, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

Budiono, Herlien, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan,Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010.

________________, Ajaran Umum Hukum Perjanjian Dan Penerapannya Di Bidang Kenotariatan,Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010.

Djumhana, Muhamad, Hukum Perbankan Di Indonesia,Cet 3, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000

Firdaus, Rachmat, Teori dan Analisa Kredit Serta Ketentuan-Ketentuan Tentang Beberapa Jenis Kredit,Bandung: Purna Sarana Lingga Utama, 1985.

Fuady, Munir, Hukum Kontrak (dari Sudut Pandang Hukum Bisnis),Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.

Harahap, M. Yahya, Segi-segi Hukum Perjanjian, cet ke-2, Bandung, Alumni, 1986.

_______________, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan,cet ke 9, Jakarta: Sinar

Grafika, 2009.

Harsono, Boedi, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaanya, Cet 8, Jakarta: Djambatan, 2007.

Harun, Badriyah Penyelesaian Sengketa Kredit Bermasalah, Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010.

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Jakarta: Kencana,2005.

Hernoko, Agus Yudha, Hukum Perjanjian: Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial,Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2010.

HR.Otje Salman dan Anton F.Susanto, Teori Hukum, Bandung: Rafika Aditama, 2005.

H.S, Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada,2001.

Ibrahim, Johannes , Mengupas Tuntas Kredit Komersil Dan Konsumtif Dalam Perjanjian Kredit Bank Dalam Perspektif Hukum Dan Ekonomi, Bandung:

Mandar Maju, 2004.

Koidin, Problematika Eksekusi Sertifikat Hak Tanggungan, Yogyakarta: Laks Bang Pressindo, 2005.

Lubis, H.Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim, Kepemilikan Properti Di Indonesia Termasuk Kepemilikan Rumah Oleh Orang Asing, Bandung:

Mandar Maju,2013.

Parlindungan,A.P, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria,Bandung: Mandar Maju, 2008.

Poesoko, Herowati, Parate executie obyek Hak Tanggungan (inkonsistensi, Konflik Norma dan Kesesatan Penalaran dalam UUHT), Yogyakarta:

LaksBangPRESSindo,2007.

Purnamasai, Irma Devita, Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami Masalah Hukum Jaminan Perbankan, Cet I ,Bandung: Kaifa,2014.

Rasjidi, Lili Rasjidi dan Ira Thania , Pengantar Filsafat Hukum, Bandung: Mandar Maju, 2002.

Saliman, Abdul R , Esensi Hukum Bisnis Indonesia, Jakarta: Kencana, 2004.

Satrio,J., Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007.

Sitnggang, Victor M. Situmorang dan Cormentyna, Grosse Akta Dalam Pembuktian Dan Eksekusi,Cet 1, Jakarta: Rineka Cipta,1993.

Sjahdeini, ST.Remy, Hak Tanggungan, Asas-Asas, Ketentuan-Ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang-Undang Hak Tanggugan),Bandung : Alumni, 1999.

Suharnoko, Hukum Perjanjian : Teori Dan Analisa Kasus, ed: I, Cet:ke 6, Jakarta:

Kencana Prenada Media Group,2009.

Sunggono,Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010.

Soemitro, Ronny Hanitijo, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta: Gahlia Indonesia, 1998

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995

Sofwan, Sri Soedewi Maschoen, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Yogyakarta: Liberty,1980.

Subekti, R, Hukum Perjanjian, Cetakan ke-21, Jakarta: PT.Intermasa, 2005.

Suharnoko, Hukum Perjanjian : Teori Dan Analisa Kasus, ed: I, Cet:ke 6, Jakarta:

Kencana Prenada Media Group,2009.

Susanto, Herry, Peranan Notaris Dalam Menciptakan Kepatutan Dalam Kontrak, Cetakan Pertama, Juli 2010, Yogyakarta: FH UII Press.

Sutedi, Adrian, Hukum Hak Tanggungan, Sinar Grafika, Jakarta, 2010.

Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010

Usman,Rachmadi, Hukum Jaminan Keperdataan,Jakarta: Sinar Grafika,2009

Widiyono Try, Agunan Kredit Dalam Financial Engineering, Bogor: Ghalia Indonesia,Cetakan Pertama Mei 2009

Wijaya, Kartini Mulyadi dan Gunawan, Perikatan Yang Lahir dari Perjanjian, ed.1, cet.2, Jakarta:Raja Grafindo Perkasa, 2004.

Zaeni Asyhadie dan Arief Rahman, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Rajawali Press, 2013.

B. Jurnal

Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, KEKUATAN MENGIKAT SURAT KUASA MEMBEBANKAN HAK TANGGUNGAN DALAM PERJANJIAN UTANG PIUTANG MENURUT UU NO 4 TAHUN 1996 Ahmaturrahman, Sri Turatmiyah Universitas Sriwijaya, Palembang

Kiki Riarahma, Fungsi Dan Kedudukan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan Dalam Perjanjian Kredit (Suatu Penelitian Di PT.Bank Bukopin Cabang Medan).

Tan Kamello, Penyelesaian Kredit Macet Dengan Eksekusi Jaminan, Makalah Dalam Seminar Nasional Perspektif Notaris Sebagai Pejabat Lelang, Diselenggarakan Oleh Sekolah Pasca Sarjana Hukum Uiversitas Sumatera Utara, Medan 14 April 2007.

C. Website.

Endsten’s Blog, Jenis Surat Kuasa, https://endsten.wordpress.com/tag/syarat-syarat-surat-kuasa-khusus/

Hak Kreditur Atas SKMHT Terhadap Tanah Belum Bersetifikat, http://gamas09.blogspot.co.id/2009/03/ hak-kreditur-atas-skmht-terhadap-tanah.html

Imil Fitra, Aspek Yuridis Dalam Penggunaan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan Dalam Perjanjian Kredit Pemilikan Rumah (Studi Di Pt. Bank Tabungan Negara Cabang Harmoni Jakarta), http://eprints.undip.

ac.id/24112/1/IMIL_ FITRA.pdf.

Kajian Hukum Terhadap Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (Skmht) Yang Termuat Dalam Pasal 15 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, http://eprints.undip.ac.id/ 17476/ 1/HADI _ SAPUTRO_WIDJAJA.pdf.

Legal Banking, Perjanjian Kredit dan Pengakuan Hutang https:// legalbanking.

wordpress.com/ materi-hukum /perjanjian- kredit –dan pengakuan-hutang/

Mazhab, Teori dan Aliran Hukum, http://pelajargawl. blogspot.com/2014/02 /mazhab-teori-dan-aliran-hukum-oleh.html.

Objek Jaminan Kredit dan Perjanjian Penjamin Kredit http://www.utangpiutang.com/

2015/02/ objek-jaminan-kredit-perjanjian.html,

Pengertian kredit macet, Penyebab dan Cara Penyelesaian kredit macet,

http://abg01.blogspot.com/2014/08/pengertian-kredit-macet-penyebab-dan.html.

Prestasi dan Wanprestasi, http://sangkoeno.blogspot.com/2015/01/prestasi-dan-wanprestasi.html.

Wanprestasi, http://kamusbisnis.com/arti/wanprestasi/

D. Peraturan Perundang-Undangan

Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Penetapan Batas Waktu Penggunaan Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan Untuk Menjamin Pelunasan Kredit-Kredit Tertentu

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang berkaitan dengan tanah.

Undang-Undang KUHPerdata

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.