• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKELET AKSIAL TRENGGILING JAWA

BAHAN DAN METODE

SKELET AKSIAL TRENGGILING JAWA

Tulang Tengkorak

Trenggiling memiliki daerah cavum nasi yang luas karena dinaungi oleh tiga tulang yaitu os frontale, os nasale, dan os praemaxillare. Hal ini diduga berkaitan dengan penciuman trenggiling yang tajam. Penciuman tersebut digunakan pada saat mencari sumber makanan berupa semut atau rayap. Kepala trenggiling berbentuk kerucut memanjang sehingga lebih memudahkannya untuk menerobos masuk ke dalam sarang semut atau rayap. Menurut Feldhamer et al. (1999), kepala yang berbentuk kerucut memanjang merupakan ciri hewan insektivora.

Os occipital trenggiling memiliki permukaan yang luas dan kasar. Tulang ini juga berkembang dengan baik pada anjing dan kucing, tetapi tidak pada kuda dan sapi (Colville & Bassert 2002). Menurut Getty (1975), os occipital merupakan insersio dari otot-otot yang berfungsi sebagai fleksor dan ekstensor kepala dan leher. Hal ini menunjukkan bahwa otot-otot fleksor dan ekstensor kepala dan leher yang berinsersio pada os occipital trenggiling relatif subur. Trenggiling tidak memiliki processus paramastoideus. Processus ini merupakan origo m. digastricus dan m. occipitohyoideus yang berperan dalam proses pengunyahan. Hal ini sesuai dengan perilaku makan trenggiling yang tidak melakukan proses pengolahan makanan secara mekanis di dalam mulutnya. Trenggiling memiliki dua condylus occipitalis. Menurut Kent & Carr (2001), mamalia modern memiliki dua condylus occipitalis, sedangkan pada kelompok tetrapoda awal dan reptil hanya memiliki satu condylus occipitalis.

Pada tengkorak trenggiling tidak didapatkan adanya arcus zygomaticus dan crista facialis. Menurut Getty (1975), arcus zygomaticus dan crista facialis merupakan insersio dari m. masseter. Otot ini mempunyai fungsi menekan os mandibulare ke rahang atas serta membuat gerakan lateral dari os mandibulare (mengunyah). Menurut Kent & Carr (2001), arcus zygomaticus sangat berkembang pada beberapa hewan dan tidak berkembang pada hewan lain tergantung pada aktifitas m. masseter yang bertaut padanya. Arcus zygomaticus dan crista facialis yang tidak berkembang pada trenggiling sesuai dengan pola

30

makan hewan ini yang tidak mengunyah makanan, akan tetapi langsung menelannya. Makanan yang ditelan oleh trenggiling akan dicerna di dalam lambungnya.

Trenggiling memiliki fossa temporalis yang sempit, berbeda dengan karnivora yang memiliki fossa temporalis luas. Fossa ini pada karnivora berfungsi sebagai tempat pertautan otot-otot temporal (Feldhamer et al. 1999). Trenggiling tidak mempunyai gigi karena pada os maxillare, os praemaxillare, dan os mandibulare tidak terdapat limbus alveolaris. Ketiga tulang ini mempunyai bentuk yang sederhana. Os mandibulare trenggiling tidak memilki ramus vertikal, sehingga trenggiling tidak memiliki angulus mandibulare. Bagian dorsoposterior os mandibulare mempunyai facies articularis yang rata dengan os temporale, menyebabkan gerakan membuka lebar dari os mandibulare trenggiling sangat terbatas. Hal ini sangat berbeda dengan kelompok hewan lain seperti karnivora dan herbivora yang memiliki ramus vertikal, sehingga memungkinkan gerakan membuka rahang bawah lebih besar. Walaupun os mandibulare trenggiling berbentuk sederhana tetapi memiliki foramen mandibulare yang relatif besar dan dihubungkan oleh canalis mentalis yang besar. Canalis mentalis dilalui oleh nervus mandibulare. Menurut Dyce et al. (1996) nervus mandibulare berfungsi untuk menginervasi daerah bibir. Hal ini menunjukkan bahwa moncong trenggiling merupakan daerah yang sensitif dan aktif.

Tulang Belakang

Trenggiling memiliki ossa vertebrae cervicalis yang pendek dan secara umum sama dengan ossa vertebrae cervicalis mamalia lain. Menurut Feldhamer et al. (1999) dan Kent & Carr (2001) os vertebrae cervicalis pertama dan kedua, yaitu os atlas dan os axis mengalami banyak perubahan untuk menyediakan banyak pergerakan dengan kepala. Gerakan fleksio os atlas trenggiling tertahan oleh processus spinosus os axis pada tuberculum dorsalis caudalis. Processus spinosus os axis pada trenggiling mirip dengan processus spinosus os axis pada karnivora. Menurut Getty (1975), processus spinosus os axis merupakan origo dari m. rectus capitis dorsalis major yang berfungsi sebagai ekstensor kepala.

31

Processus transversus pada ossa vertebrae cervicalis trenggiling panjang melekuk ke caudoventral. Hal ini menunjukkan bahwa trenggiling memiliki otot- otot leher yang subur. Os vertebrae cervicalis VII pada trenggiling betina bersendi dengan tulang melekuk mirip os costae. Menurut Kent & Carr (2001), buaya memiliki os cervicalis delapan buah dan semuanya bersendi dengan os costae cervicalis, sehingga gerakan leher buaya kaku. Pada trenggiling diduga processus transversus yang panjang menyebabkan gerakan leher trenggiling kaku. Otot-otot leher trenggiling mendapat dukungan suplai nutrisi oleh arteri vertebralis yang berjalan di sepanjang os vertebrae cervicalis melalui foramen transversarium.

Ossa vertebrae thoracalis dan ossa vertebrae lumbalis trenggiling membentuk satu kesatuan garis lengkung seperti busur. Posisi ossa vertebrae thoracalis dan lumbalis yang melengkung ini sangat mendukung kemampuan trenggiling ketika menggulung badannya. Daerah punggung trenggiling merupakan merupakan lengkung busur yang tertinggi sehingga otot-otot di daerah ini aktif digunakan. Hal ini diduga menyebabkan processus spinosus osa vertebrae thoracalis mempunyai ujung yang tumpul. Processus mammilaris pada ossa vertebrae thoracalis dan lumbalis sangat berkembang. Menurut Getty (1975), pada kuda processus mammilaris merupakan insersio dari m. multifidus dorsi. Otot ini berfungsi sebagai ekstensor punggung dan fleksor punggung ke lateral.

Pada ossa vertebrae cervicalis, thoracalis, dan lumbalis trenggiling, di antara processus spinosus dan processus transversus terdapat daerah lekukan yang jelas terlihat sebagai tempat berlalunya m. longisimus. Menurut Dyce et al. (1996) m. longisimus biasanya berorigo pada os ilium, os sacrum, dan processus mammilaris ossa vertebrae thoracalis dan lumbalis, kemudian berinsersio pada processus transversus ossa vertebrae thoracalis dan lumbalis serta ossa costae. Otot ini berfungsi sebagai fleksor dan ekstensor punggung dan lumbar ke lateral.

Pada ossa vertebrae thoracalis 13-15 dan semua ossa vertebrae lumbalis trenggiling memiliki hubungan persendian antara processus accessorius dengan processus articularis cranialis yang unik, karena saling bertautan satu dengan yang lain. Processus articularis cranialis melekuk ke medial sehingga menahan gerakan fleksio ossa vertebrae thoracalis dan lumbalis pada saat menggulung.

32

Persendian yang saling mengunci antara processus accssorius dan processus articularis cranialis juga ditemukan pada processus ossa vertebrae lumbalis anjing (Dyce at al. 1996). Akan tetapi berbeda dengan anjing, “interlocking articulation” pada trenggiling terbentuk di medial dari processus mammilaris.

Trenggiling memiliki os sacrum yang bersatu dengan os coxae. Hubungan ini sangat kuat dan mencirikan hewan penggali (Pough et al. 2005). Hal ini dapat dimengerti karena pada saat menggali tanah, maka kaki belakang trenggiling berfungsi sebagai penahan utama badan, sehingga diperlukan struktur yang kuat pada daerah panggul. Selain itu, struktur yang kuat pada daerah panggul didukung oleh kecilnya sudut yang dibentuk oleh os ilium dengan ossa vertebrae lumbalis. Mamalia modern biasanya memiliki os sacrale 3-5 buah, berbeda dengan beberapa hewan lain, seperti amfibi (satu os sacrale), reptil, burung, dan tikus tanah (dua os sacrale) (Kent & Carr 2001). Jumlah os sacrale trenggiling tiga buah pada jantan dan empat buah pada betina sehingga trenggiling termasuk mamalia modern.

Trenggiling memanfaatkan ekornya untuk beberapa fungsi yang beragam, seperti pada beberapa monyet yang menggunakan ekornya untuk berpegangan pada dahan pohon dan untuk menahan berat tubuhnya. Menurut Kent & Carr (2001) pada mamalia modern jumlah tulang ekor semakin berkurang dan sangat bervariasi tergantung pada fungsi ekor. Hewan yang tidak menggunakan ekornya sebagai alat gerak utama, maka semakin ke caudal ekor lebih menyerupai bentuk silinder. Processus transversus, processus spinosus, dan processus mammilaris tulang ekor trenggiling sangat berkembang, sehingga otot-otot ekor trenggiling juga sangat berkembang. Di bagain ventral os coccygeae trenggiling terdapat os chevron yang terdapat sampai os coccygeae terakhir. Os chevron adalah tulang yang berada di bagian medioventral tulang ekor dan menjadi tempat berlalunya arteri dan vena caudalis (Kent & Carr 2001). Os chevron pada trenggiling jantan terdapat pada daerah persendian antara os sacrum terakhir dengan os coccygeae pertama, sedangkan pada trenggiling betina terdapat pada bidang ventral persendian antara os coccygae pertama dan kedua. Hal ini menyebabkan ruang pelvis trenggiling betina lebih luas dan bermanfaat untuk mempermudah

33

kelahiran. Os chevron juga ditemukan pada os coccygeae anjing, buaya, dan ular. Tulang ini mempunyai arah cranioventral. Pada trenggiling os chevron mengalami perubahan bentuk dari os coccygeae cranial ke caudal, yaitu dari bentuk huruf ’Y’ menjadi huruf ’V’. Foramen yang dibentuk os chevron dan ossa coccygeae trenggiling besar, karena selain dilalui oleh arteri dan vena coccygeae medialis juga dilalui oleh otot fleksor ekor. Os chevron trenggiling juga diduga berfungsi menahan fleksio ekor yang kuat pada saat menggulung serta membantu dalam mengembalikan posisi ekor seperti semula.

Tulang Rusukdan Tulang Dada

Tulang rusuk (ossa costae) trenggiling secara umum sama dengan ossa costae mamalia lain. Os costae berfungsi untuk melindungi organ-organ penting yang ada di dalam rongga dada, sehingga mempunyai sifat lentur dan ringan (Hildebrand & Goslow 2001). Ossa costae trenggiling hanya ada pada ossa vertebrae thoracalis. Pada tetrapoda awal, ossa costae terdapat pada ossa vertebrae cervicalis, thoracalis, lumbalis, dan os coccygeae awal (Kent & Carr 2001). Ossa costae trenggiling dihubungkan dengan os sternum oleh cartilago costae yang cukup panjang sehingga lebih melenturkan konstruksi tulang-tulang dada.

Tulang dada (os sternum) berada di medioventral thorax dan bersendi dengan beberapa ossa costae thoracalis. Tulang ini bersifat lentur. Pada hewan terestrial os sternum tersusun oleh beberapa sternebrae (segmen tulang) dan relatif lebih sempit dari pada os sternum reptil. Os sternum tidak terbentuk atau tereduksi pada tetrapoda yang memiliki kaki depan tidak berkembang (Kent & Carr 2001). Os sternum trenggiling tersusun oleh beberapa segmen tulang dengan processus xiphoideus yang memanjang dan melebar di bagian caudal. Diduga os sternum yang bersegmen ini bermanfaat mempermudah trenggiling ketika menggulung badannya. Menurut Getty (1975) os sternum merupakan origo dari m. pectoralis profundus pars humeralis (posterior) yang berfungsi sebagai aduktor dan retraktor kaki depan. Perkembangan os sternum pada trenggiling menunjukkan otot-otot yang bertaut padanya berfungsi baik. Hal ini dapat dimengerti karena kaki depan trenggiling digunakan untuk beberapa fungsi seperti

34

menggali tanah dan memanjat pohon. Aktifitas tersebut tentu berkaitan dengan aduktor dan retraktor kaki depan. Processus xiphoideus trenggiling besar seperti kepala sendok karena menjadi origo dari otot lidah yang panjang.

Tulang Lidah

Tulang lidah (os hyoideus) trenggiling mempunyai bentuk yang lebih sederhana daripada os hyoideus karnivora. Menurut Colville & Bassert (2002) tulang ini terletak di bagian awal dari lidah, faring, dan laring, serta berfungsi untuk membantu menelan makanan.

SKELET APENDIKULAR TRENGGILING JAWA Tulang Kaki Depan

Kaki depan trenggiling secara umum mempunyai susunan yang sama dengan beberapa mamalia penggali seperti anjing, kelinci, tikus, dan beberapa kelompok hewan pemakan semut.

Os scapula trenggiling memiliki permukaan yang meluas di beberapa bagian, yaitu pada angulus caudalis dan angulus glenoidalis. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) dan Pough et al. (2005) os scapula mamalia penggali memiliki struktur yang khas karena pada angulus caudalis os scapula mengalami perluasan sebagai pertautan dari m. teres major yang berfungsi untuk meningkatkan daya angkat kaki depan.

Spina scapula trenggiling tidak bersambung sampai ke margo vertebralis, berbeda dengan pada sapi atau anjing. Menurut Dyce et al. (1996) spina scapula merupakan insersio dari m. trapezius pars thoracis. Otot ini menjaga supaya os scapula tidak terkuak ke lateral.

Os humerus mempunyai caput yang besar dengan permukaan persendian konveks yang luas sehingga memungkinkan banyak gerakan seperti fleksio, ekstensio, dan abduksio. Trenggiling memiliki beberapa penonjolan yang besar, seperti tuberculum humeri medialis, tuberositas teres, crista condylus lateralis, epicondylus lateralis, dan epicondylus medialis. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) dan Pough et al. (2005) epicondylus lateralis yang besar merupkan ciri mamalia penggali yang berfungsi sebagai origo dari otot supinator dan ekstensor.

35

Bagian mediodistal os humerus trenggiling memiliki foramen supracondyloidea. Menurut Dyce et al. (1996) foramen ini terdapat pada os humerus kucing dan berfungsi sebagai tempat berlalunya nervus medianus dan arteri brachialis. Foramen ini menurut Hildebrand & Goslow (2001) merupakan ciri khas pada hewan pemanjat (climbers). Pada trenggiling foramen supracondyloidea di duga berfungsi untuk mencegah terjepitnya pembuluh darah dan syaraf kaki depan, karena trenggiling sangat aktif menggunakan kaki depan untuk menggali atau memanjat pohon.

Os radius dan os ulna tidak bersatu tetapi membentuk persendian pada kedua ekstremitasnya. Os radius trenggiling terletak di bagian cranial dari os ulna. Menurut Dyce et al. (1996) jika os radius dan os ulna tidak bersatu maka dapat melakukan beberapa gerakan seperti supinasio dan pronasio yang lebih banyak. Pada trenggiling gerakan tersebut diduga dapat dilakukan dengan baik dalam aktifitas penggalian tanah atau ketika memanjat pohon. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) dan Pough et al. (2005) mamalia penggali memiliki os radius yang pendek, sehingga mengurangi ”cut-lever” dari m. triceps.

Bidang mediodistal os radius trenggiling terlihat jelas seperti crista, daerah ini merupakan insertio dari m. brachialis yang berfungsi sebagai fleksor persendian siku. Trenggiling memiliki olecranon yang panjang sehingga menghasilkan tenaga ungkit yang besar. Olecranon tidak dijumpai pada reptil seperti buaya (Kent & Carr 2001). Olecranon merupakan insersio dari otot-otot ekstensor persendian siku, seperti m. tensor fascia antibrachii, m. triceps brachii, dan m. anconeus. Pada ujung mediodistal dari os radius trenggiling berkembang menjadi processus styloideus medialis, sedangkan pada ujung laterodistal os ulna menjadi processus styloideus lateralis. Hal ini sama seperti pada anjing.

Ossa carpal, metacarpal, dan phalanges trenggiling pendek dan besar. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) dan Pough et al. (2005) hal itu menunjukkan ciri hewan penggali dan pemanjat. Fleksio dari daerah manus ini dilakukan oleh kelompok otot-otot fleksor. Kelompok otot ini pada anjing memiliki beberapa ciri umum seperti dapat melakukan fleksio carpus, terletak di caudal manus, dan berorigo pada epicondylus medialis. Pada trenggiling, otot-otot fleksor memiliki peran penting untuk menggali dan memanjat. Fungsi otot-otot

36

fleksor ini juga dibantu oleh ossa sesamoidea proximalis. Menurut Dyce et al. (1996), pada karnivora dan babi hanya memiliki beberapa jari yang aktif, yaitu jari pertama, kedua, dan kelima pada anjing dan kucing, serta jari kedua dan kelima pada babi. Sedangkan pada trenggiling, kelima jarinya aktif dan memiliki peran penting. Secara umum susunan ossa carpi trenggiling sama dengan susunan ossa carpi karnivora.

Trenggiling mempunyai susunan ossa phalanges 3-3-3-3-3. Susunan ossa phalanges trenggiling sama dengan kebanyakan hewan plantigradi seperti beruang dan monyet. Pada hewan pentadactyla memiliki susunan ossa phalanges kaki depan dimulai dari ibu jari biasanya 2-3-4-5-3, sedangkan pada therapsida awal menjadi 2-2-4-5-3 (Kent & Carr 2001). Secara umum pada mamalia modern memiliki lima jari. Kelima jari trenggiling dilengkapi dengan kuku yang panjang dan kuat. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) dan Pough et al. (2005) mamalia penggali memiliki kaki yang dilengkapi dengan kuku yang panjang dan kuat untuk menggali tanah

Tulang Kaki Belakang

Tulang kaki belakang berperan sebagai pendorong tubuh. Pada kaki hewan pelari biasanya mempunyai morfologi tulang yang ramping dan panjang, berbeda dengan hewan penggali atau pemanjat yang cenderung memiliki morfologi tulang pendek, besar, dan memiliki banyak bungkul untuk pertautan otot.

Perilaku trenggiling seperti menggali tanah, memanjat pohon, dan menggulung tubuhnya menyebabkan os coxae trenggiling berbeda dengan os coxae mamalia pada umumnya. Trenggiling memiliki margo cranial dan cudal dari os pubis yang lebih vertikal sehingga symphysis pelvisnya menjadi lemah. Margo cranial dan caudal dari os pubis ini diduga menjadi origo dari otot-otot perut dan ekor yang kuat. Sudut kemiringan yang dibentuk oleh os coxae dengan os sacrum relatif kecil sehingga os ilium hampir berada dalam satu garis lurus dengan os ischium. Hal ini menyebabkan persendian paha trenggiling lebih ke dorsal. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) dan Pough et al. (2005), pada hewan penggali memiliki symphysis pelvis yang lemah, os sacrum yang bersatu

37

dengan os coxae, dan persendian paha yang relatif lebih ke dorsal mendekati spina sacralis.

Processus transversus os sacrum trenggiling dihubungkan dengan tuber ischium oleh ligamen. Ligamen ini juga terdapat pada beberapa mamalia. Menurut Dyce et al. (1996); Hildebrand & Goslow (2001) ligamen ini juga terdapat pada anjing dan disebut ligamentum sacrotuberous. Pada trenggiling hubungan yang disebabkan oleh ligamentum sacrotuberous ini menyebabkan terbentuknya foramen berbentuk oval di bagian dorsal foramen obturatorium (foramen sacroischium). Menurut Hildebrand & Goslow (2001) ligamentum sacrotuberous pada anjing berfungsi untuk menahan os innominate (os ilium, os ischium, dan os pubis yang menyatu ketika dewasa) yang berotasi pada os sacrum ketika kaki belakang berayun ke dorsal. Pada ungulata ligamentum ini dinamakan ligamentum sacrosciatic, karena berkembang luas seperti pita di antara sudut lateral oa sacrum dan sudut dorsal dari os ilium dan os ischium (Dyce et al. 1996). Os sacrum dan os coxae yang bersatu pada trenggiling mengakibatkan ligamentum sacrotuberous sangat pendek.

Pada os femur trenggiling terdapat bebarapa bungkul yang menarik untuk dikaji, karena merupakan tempat pertautan otot-otot kaki belakang. Penonjolan pada os femur trenggiling yang jelas terlihat adalah trochanter major dan trochanter minor. Os femur trenggiling mirip dengan os femur pada anjing dan kelinci (Getty 1975; Popesko et al. 1992).

Menurut Getty (1975) trochanter major merupakan origo dari m. vastus lateralis yang berfungsi sebagai ekstensor stifle joint (persendian lutut). Selain itu, trochanter major juga menjadi insersio bagi m. gluteus medius dan m. gluteus profundus. M. gluteus medius berfungsi sebagai ekstensor hip joint (persendian panggul) dan abduktor kaki belakang, Sedangkan m. gluteus profundus berfungsi sebagai abduktor kaki belakang dan rotasi kaki belakang ke dalam. Trochanter minor merupakan insersio dari m. psoas major dan m. iliacus. Kedua otot ini berfungsi untuk memfleksor persendian panggul dan rotasi paha ke luar. Pada bagian medial os femur trenggiling banyak terdapat foramen nutrien.

Os sessamoidea pada kaki belakang trenggiling yang terletak di bagian plantar epicondylus lateralis os femur mirip dengan os sessamoidea yang terdapat

38

pada anjing dan kelinci. Menurut Getty (1975) dan Popesko et al. (1992) os sesamoidea ini merupakan origo dari musculus gastrocnemius yang berfungsi

sebagai fleksor persendian lutut dan ekstensor persendian tarsus. Os femur trenggiling memiliki trochlea yang lebar. Menurut Hildebrand & Goslow (2001) trochlea yang lebar merupakan ciri hewan pemanjat seperti pada tupai terbang.

Tulang tempurung (os patella) trenggiling mempunyai permukaan persendian yang konveks dan mengadakan persendian dengan trochlea os femur. Menurut Getty (1975) os patella menjadi insersio dari m. rectus femoris, m. vastus lateralis, m. vastus medialis, dan m. vastus intermedius. Keempat otot ini berfungsi sebagai ekstensor persendian lutut. Pada reptil seperti buaya tidak memiliki os patella, karena reptil berjalan dengan merayap, sehingga fungsi extensor persendian lutut tidak optimal digunakan (Kent & carr 2001).

Trenggiling memiliki caput fibula yang besar. Daerah ini menjadi origo bagi m. soleus. Otot ini berfungsi untuk membantu kerja m. gastrocnemius sebagai ekstensor persendian tarsus dan fleksor persendian lutut (Getty 1975). Os tibia dan os fibula pada trenggiling tidak bersatu tetapi membentuk persendian. Di antara kedua tulang tersebut terdapat spatium interoseum yang luas. Diduga os tibia dan os fibula yang tidak bersatu dapat melakukan banyak gerakan seperti pronasio, supinasio, adduksio, dan abduksio.

Pada trenggiling, susunan ossa tarsi mirip dengan susunan ossa tarsl karnivora. Di bagian medial dari os tarsi primum bersendi dengan os sesamoidea. Os sesamoidea ini juga terdapat di os tarsi monyet, tetapi di bagian lateral os tarsi IV dan V yang bersatu (Kent & Carr 2001).

Tuber calcis trenggiling besar dan panjang. Menurut Getty (1975) tuber calcis menjadi insersio dari m. biceps femoris, m. semitendinosus, dan m. flexor digitalis pedis superficialis yang berfungsi sebagai fleksor, ekstensor, dan abduktor kaki belakang. Diduga aktifitas tersebut bermanfaat ketika trenggiling naik pohon dan mendorong tanah ke belakang pada saat menggali. Fungsi fleksor kaki belakang juga dibantu oleh ossa sesamoidea proximalis. Trenggiling memiliki susunan jari 3-3-3-3-3 hampir sama dengan hewan plantigradi lainnya. Kelima jari kaki belakang trenggiling dilengkapi dengan kuku yang panjang dan kuat untuk mendukung aktifitas memanjat dan menggali.

KESIMPULAN

Kesimpulan

Tulang tengkorak trenggiling berbentuk kerucut memanjang mencirikan hewan insektivora, serta tidak memiliki arcus zygomaticus, crista facialis, dan limbus alveolaris.

Collumna vertebralis trenggiling terdiri dari vertebrae cervicalis (C=7), thoracalis (T=15), lumbalis (L=6), sacralis (♀S=4, ♂S=3), dan coccygeae (♀Cy=28, ♂Cy=27). Struktur kerangka trenggiling secara umum mirip karnivora. Columna vertebralis memiliki processus transversus, processus mammilaris, processus spinosus, dan os chevron yang berkembang subur. Os atlas dan os axis trenggiling mirip karnivora. Processus accessorius berkembang mulai dari dua atau tiga os thoracalis terakhir sampai enam os coccygeae pertama dan membentuk “interlock articulation” (persendian yang saling mengunci) dengan processus articularis cranialis. Trenggiling memiliki os sacrum yang bersatu dengan os coxae dan ini merupakan ciri hewan penggali. Ossa coccygeae memiliki processus transversus sangat subur, serta os chevron yang berkembang sampai os coccygeae akhir.

Tulang kaki depan dan belakang trenggiling menyerupai karnivora dan merupakan ciri hewan penggali dan pemanjat.

Saran

Untuk lebih memahami dan menganalisa proses gerakan yang dapat dilakukan oleh sistem rangka trenggiling, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

Dokumen terkait