HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis Deskriptif Penelitian
4.3 Skenario Perbaikan Berdasarkan skor efisiens
Seperti diketahui bahwa DEA mampu memberikan nilai perbaikan pada unit yang mengalami inefisiensi, maka kabupaten/kota yang menjadi sampel yang mengalami inefisiensi kinerja usahatani padi sawah dapat dicari nilai perbaikannya berdaasarkan similasi manajerial yang dilakukan oleh Data Envelopment Analysis (DEA).
Kabupaten Tapanuli Selatan
Adapun tabel efisiensi kabupaten Tapanuli Selatan adalah sebagai berikut : Tabel 4.3
Efisiensi Kabupaten Tapanuli Selatan
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 28828,15 28828,15 0 Pupuk Organik 16250 16250 0 Pupuk NPK 1390350 1390350 0 Pupuk ZA 164570 164570 0 Pupuk UREA 588945,5 588945,5 0 Benih 9167600 9167600 0 Outputs Produksi 71528908 71528908 0
Tapanuli Selatan mempunyai luas lahan sebesar 29343 hektar, produksi padi sebesar 147787 ton dan tingkat produktivitasnya sebesar 50,37 kw/ha. Berdasarkan perhitungan DEA, nilai efisiensi yang diperoleh oleh kabupaten Tapanuli Selatan menunjukkan angka 100 persen. Melalui perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam usahatani padi sawah di Tapanuli Selatan pada tahun 2012, baik dalam pemakaian benih, pupuk Urea, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk organik, tenaga kerja, dan memperoleh hasil produksi yang maksimum berdasarkan faktor-faktor produksi yang digunakan. Namun kabupaten Tapanuli Selatan bukan merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input produksi berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Toba Samosir
Adapun tabel efisiensi kabupaten Toba Samosir adalah sebagai berikut : Tabel 4.4
Efisiensi Kabupaten Toba Samosir
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 41959,72 23338,12 -44,38 Pupuk Organik 58350 4182,34 -92,83 Pupuk NPK 686205 569708,3 -16,98 Pupuk ZA 145040 119291,3 -17,75 Pupuk UREA 508267,5 421979,2 -16,98 Benih 20382000 13694069 -32,81 Outputs Produksi 58419284 58419284 0
Kabupaten Toba Samosir memiliki luas panen sebesar 21992 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 120701 ton serta produktivitas sebesar 54,88 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh kabupaten Toba Samosir dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 83,02 persen. Melalui perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usahatani padi sawah di kabupaten Toba Samosir memperoleh pendapatan dari hasil produksi sebesar Rp 584.192.840.000. Adapun pengeluaran tenaga kerja aktual sebesar Rp 41.959.720.000. Namun dari hasil analisis, jumlah biaya tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 23.338.120.000 sehingga pengeluaran untuk tenaga kerja di kabupaten ini telah mengalami inefisiensi, maka butuh pengurangan biaya tenaga kerja sebesar 44,38 persen. Biaya aktual pupuk organik sebesar Rp 583.500.000. Target biaya untuk pupuk organik sebesar Rp 41.823.400 sehingga terjadi inefisiensi, maka butuh pengurangan biaya sebesar 92,83 persen. Biaya aktual pupuk NPK sebesar Rp 6.862.050.000. Target biaya untuk pupuk NPK sebesar Rp 5.697.083.000 sehingga butuh pengurangan biaya sebesar 16,98 persen. Biaya Aktual pupuk ZA sebesar Rp 1.450.400.000. Target biaya untuk pupuk ZA sebesar Rp 1.192.913.000 sehingga terjadi inefisiensi pada pupuk ZA, maka butuh pengurangan biaya sebesar 17,75 persen. Biaya aktual untuk pupuk Urea sebesar Rp 5.082.675.000. Target biaya untuk pupuk Urea sebesar Rp 4.219.792.000 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya pada pupuk Urea sebesar 16,98 persen. Biaya aktual untuk benih sebesar Rp 203.820.000.000. Target biaya untuk benih padi sebesar Rp 136.940.690.000 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya penggunaan benih
sebesar 32,81 persen di kabupaten Toba Samosir tahun 2012. Kabupaten Toba Samosir bukan merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Asahan
Adapun tabel efisiensi kabupaten Asahan adalah sebagai berikut : Tabel 4.5
Efisiensi Kabupaten Asahan
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 32860,12 16141,73 -50,88 Pupuk Organik 66250 5891,39 -91,11 Pupuk NPK 1592060 520137,3 -67,33 Pupuk ZA 342440 168215,2 -50,88 Pupuk UREA 823745 383415,5 -53,45 Benih 41539075 11881775 -71,4 Outputs Produksi 45095732 45095732 0
Sumber: Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 3
Kabupaten Asahan memiliki luas panen sebesar 17982 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 93173 ton serta produktivitas sebesar 51,81 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh kabupaten Asahan dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 49,12 persen. Melalui perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usahatani padi sawah di kabupaten Asahan memperoleh pendapatan dari hasil produksi padi sebesar Rp. 450.957.320.000.
Pengeluaran tenaga kerja aktual sebesar Rp 328.601.200. Namun dari hasil analisis, jumlah biaya tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 161.417.300 sehingga pengeluaran untuk tenaga kerja di kabupaten ini telah mengalami inefisiensi dan perlu pengurangan biaya sebesar 50.88 persen. Biaya aktual pupuk organik sebesar Rp 662.500.000. Target biaya untuk pupuk organik sebesar Rp 58.913.900 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya sebesar 91,11 persen, Biaya aktual pupuk NPK sebesar Rp. 15.920.600.000. Target biaya untuk pupuk NPK sebesar Rp 5.201.373.000 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya sebesar 67,33 persen. Biaya Aktual pupuk ZA sebesar Rp3.424.400.000. Target biaya untuk pupuk ZA sebesar Rp1.682.152.000 sehingga terjadi inefisiensi pada pupuk ZA dan perlu pengurangan biaya sebesar 50,88 persen. Biaya aktual untuk pupuk Urea sebesar Rp. 8.237.450.000. Target biaya untuk pupuk Urea sebesar Rp 3.834.155.000 sehinga terjadi inefisiensi pada pupuk Urea dan perlu pengurangan biaya sebesar 53,45 persen. Biaya aktual untuk benih sebesar Rp 415.390.750.000. Target biaya untuk benih padi sebesar Rp 118.817.750.000 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya penggunaan benih sebesar 71,4 persen di kabupaten Asahan tahun 2012. Kabupaten Asahan bukan merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Simalungun
Adapun tabel efisiensi kabupaten Simalungun adalah sebagai berikut : Tabel 4.6
Efisiensi Kabupaten Simalungun
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 89563,06 89563,06 0 Pupuk Organik 182805 182805 0 Pupuk NPK 3474840 3474840 0 Pupuk ZA 853846 853846 0 Pupuk UREA 2799563 2799563 0 Benih 2488625 2488625 0
Outputs Produksi 213440128 2,13E+08 0
Sumber: Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 3
Kabupaten Simalungun memiliki luas panen sebesar 76608 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 440992 ton serta produktivitas sebesar 57,56 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh oleh kabupaten Simalungun berdasarkan perhitungan DEA menunjukkan angka 100 persen. Melalui perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam usahatani padi sawah di Simalungun pada tahun 2012, baik dalam pemakaian benih, pupuk Urea, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk organik, tenaga kerja, dan memperoleh hasil produksi yang maksimum berdasarkan faktor-faktor produksi yang digunakan. Kabupaten Simalungun merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara. Sehingga untuk meningkatkan produksinya perlu meningkatkan lahan padi sawah serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Dairi
Adapun tabel efisiensi kabupaten dairi adalah sebagai berikut : Tabel 4.7
Efisiensi Kabupaten Dairi
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 599239,59 13773,3 -76,75 Pupuk Organik 170250 9710,15 -94,3 Pupuk NPK 1820565 544573,4 -70,09 Pupuk ZA 286300 85639,01 -70,09 Pupuk UREA 1524250 305046,7 -79,99 Benih 15600400 4666443 -70,09 Outputs Produksi 34424016 34424016 0
Sumber: Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 3
Kabupaten Dairi memiliki luas panen sebesar 14056 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 71124 ton serta produktivitas sebesar 50,6 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh kabupaten Dairi dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 29,76 persen. Melalui perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usahatani padi sawah di kabupaten Dairi memperoleh pendapatan sebesar Rp 344.240.160.00. Pengeluaran biaya tenaga kerja aktual sebesar Rp 5.992.395.900. Namun dari hasil analisis jumlah biaya tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 13.773.300 sehingga pengeluaran untuk tenaga kerja di kabupaten ini telah mengalami inefisiensi dan perlu pengurangan biaya sebesar 76,75 persen. Biaya aktual pupuk organik sebesar Rp 1.702.500.000. Target biaya untuk pupuk organik sebesar Rp 97.101.500 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya sebesar 94,3 persen, Biaya aktual pupuk NPK sebesar Rp 18.205.650.000. Target biaya untuk pupuk NPK sebesar Rp 5.445.734.000 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya sebesar 70,99 persen.
Biaya Aktual pupuk ZA sebesar Rp 2.863.000.000. Target biaya untuk pupuk ZA sebesar Rp 856.390.100 sehingga terjadi inefisiensi pada pupuk ZA dan perlu pengurangan biaya sebesar 70,09 persen. Biaya aktual untuk pupuk Urea sebesar Rp. 15.242.500.000. Target biaya untuk pupuk Urea sebesar Rp 3.050.467.000 sehinga terjadi inefisiensi pada pupuk Urea dan perlu pengurangan biaya sebesar 79,99 persen. Biaya aktual untuk benih sebesar Rp 156.004.000.000. Target biaya untuk benih padi sebesar Rp. 46.664.430.000 sehingga terjadi inefisiensi dan perlu pengurangan biaya penggunaan benih sebesar 70,09 persen di kabupaten Dairi tahun 2012. Kabupaten Dairi bukan merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Karo
Adapun tabel efisiensi kabupaten karo adalah sebagai berikut : Tabel 4.8
Efisiensi Kabupaten Karo
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 53851,33 16025,48 -70,24 Pupuk Organik 456706 15740,59 -96,55 Pupuk NPK 2819098,5 713880,3 -74,68 Pupuk ZA 839937 249954,7 -70,24 Pupuk UREA 2234726 471661,5 -78,89 Benih 39191275 11662831 -70,24 Outputs Produksi 46210868 46210868 0
Kabupaten Karo memiliki luas panen sebesar 16997 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 95477 ton serta produktivitas sebesar 56,17 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh kabupaten Karo dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 29,76 persen. Melalui perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usahatani padi sawah di kabupaten Karo memperoleh pendapatan sebesar Rp 462.108.680.000. Pengeluaran biaya tenaga kerja aktual sebesar Rp 538.513.300. Namun dari hasil analisis jumlah biaya tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 160.254.800 sehingga pengeluaran untuk tenaga kerja di kabupaten ini telah mengalami inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 70,24 persen. Biaya aktual pupuk organik sebesar Rp 4.567.060.000. Target biaya untuk pupuk organik sebesar Rp 157.405.900 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 96,55 persen, Biaya aktual pupuk NPK sebesar Rp 28.190.985.000. Target biaya untuk pupuk NPK sebesar Rp 7.138.803.000 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 74,68 persen. Biaya Aktual pupuk ZA sebesar Rp 8.399.370.000. Target biaya untuk pupuk ZA sebesar Rp 2.499.547.000 sehingga terjadi inefisiensi pada pupuk ZA dan butuh pengurangan biaya sebesar 70,24 persen. Biaya aktual untuk pupuk Urea sebesar Rp 22.347.260.000. Target biaya untuk pupuk Urea sebesar Rp4 .716.615.000 sehinga terjadi inefisiensi pada pupuk Urea dan butuh pengurangan biaya sebesar 78,89 persen. Biaya aktual untuk benih sebesar Rp 391.912.750.000. Target biaya untuk benih padi sebesar Rp 116.628.310.000 sehingga terjadi inefisiensi penggunaan benih dan butuh pengurangan biaya sebesar 70,24 persen di kabupaten Karo tahun 2012. Kabupaten Karo bukan
merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Deli Serdang
Adapun tabel efisiensi kabupaten Deli Serdang adalah sebagai berikut : Tabel 4.9
Efisiensi Kabupaten Deli Serdang
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 135251,9 82846,19 -38,76 Pupuk Organik 48450 6248,82 -87,1 Pupuk NPK 2203975 2088106 -5,26 Pupuk ZA 749840 408053,5 -45,58 Pupuk UREA 2252887 1585786 -29,61 Benih 92302725 47793431 -48,22
Outputs Produksi 215890620 2,16E+08 0
Sumber: Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 3
Kabupaten Deli Serdang memiliki luas panen sebesar 80508 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 446055 ton serta produktivitas sebesar 55,41 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh kabupaten Deli Serdang dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 94,74 persen. Melalui perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usahatani padi sawah di kabupaten Deli Serdang memperoleh pendapatan dari hasil produksi padi sebesar Rp 2.158.906.200.000. Pengeluaran biaya tenaga kerja aktual sebesar Rp 1.352.519.000 . Namun dari hasil analisis, jumlah biaya tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 828.461.900 sehingga pengeluaran untuk tenaga
kerja di kabupaten ini telah mengalami inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 38,76 persen. Biaya aktual pupuk organik sebesar Rp 484.500.000. Target biaya untuk pupuk organik sebesar Rp 62.488.200 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 87,1 persen, Biaya aktual pupuk NPK sebesar Rp 2.203.975.000. Target biaya untuk pupuk NPK sebesar Rp 20.881.060.000 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 5,26 persen. Biaya Aktual pupuk ZA sebesar Rp 7.498.400.000. Target biaya untuk pupuk ZA sebesar Rp 4.080.535.000 sehingga terjadi inefisiensi pada pupuk ZA dan butuh pengurangan biaya sebesar 45,58 persen. Biaya aktual untuk pupuk Urea sebesar Rp 22.528.870.000. Target biaya untuk pupuk Urea sebesar Rp 15.857.860.000 sehinga terjadi inefisiensi pada pupuk Urea dan butuh pengurangan biaya sebesar 29,61 persen. Biaya aktual untuk benih sebesar Rp 923.027.250.000. Target biaya untuk benih padi sebesar Rp 477.934.310.000 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya penggunaan benih sebesar 48,22 persen di kabupaten Deli Serdang tahun 2012. Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara. Sehingga untuk meningkatkan produksinya perlu meningkatkan lahan padi sawah serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Langkat
Adapun tabel efisiensi kabupaten Langkat adalah sebagai berikut : Tabel 4.10
Efisiensi Kabupaten Langkat
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 76232,87 76232,87 0 Pupuk Organik 5750 5750 0 Pupuk NPK 1921420 1921420 0 Pupuk ZA 375480 375480 0 Pupuk UREA 1459198 1459198 0 Benih 43978250 43978250 0
Outputs Produksi 198656832 1,99E+08 0
Sumber: Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 3
Kabupaten langkat memiliki luas panen sebesar 79519 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 410448 ton serta produktivitas sebesar 51,62 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh oleh kabupaten Langkat berdasarkan perhitungan DEA menunjukkan angka 100 persen. Melalui perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam usahatani padi sawah di Langkat pada tahun 2012, baik dalam pemakaian benih, pupuk Urea, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk organik, tenaga kerja, dan memperoleh hasil produksi yang maksimum berdasarkan faktor-faktor produksi yang digunakan. Kabupaten Langkat merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara. Sehingga untuk meningkatkan produksinya perlu meningkatkan lahan padi sawah serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Samosir
Adapun tabel efisiensi kabupaten Samosir adalah sebagai berikut : Tabel 4.11
Efisiensi Kabupaten Samosir
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 21649,49 8661,04 -59,99 Pupuk Organik 25750 1667,23 -93,53 Pupuk NPK 212750 210544,9 -1,04 Pupuk ZA 106260 44476,64 -58,14 Pupuk UREA 157053 155425,2 -1,04 Benih 12325950 5092974 -58,68 Outputs Produksi 21566072 21566072 0
Sumber: Hasil pengolahan dengan Banxia Frontier Analysis 3
Kabupaten Samosir memiliki luas panen sebesar 8891 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 44558 ton serta produktivitas sebesar 50,12 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh kabupaten Samosir dengan menggunakan perhitungan DEA menunjukkan angka 98,96 persen. Melalui perhitungan yang lebih terperinci maka diketahui bahwa usahatani padi sawah di kabupaten Samosir memperoleh pendapatan sebesar Rp 215.660.720.000. Pengeluaran biaya tenaga kerja aktual sebesar Rp 216.494.900. Namun dari hasil analisis, jumlah biaya tenaga kerja yang dibutuhkan hanya sebesar Rp 86.610.400 sehingga pengeluaran untuk tenaga kerja di kabupaten ini telah mengalami inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 59,99 persen. Biaya aktual pupuk organik sebesar Rp 257.500.000. Target biaya untuk pupuk organik sebesar Rp 16.672.300 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar 93,53 persen, Biaya aktual pupuk NPK sebesar Rp 2.127.500.000. Target biaya untuk pupuk NPK sebesar Rp 2.105.449.000 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya sebesar
1,04 persen. Biaya Aktual pupuk ZA sebesar Rp 1.062.600.000. Target biaya untuk pupuk ZA sebesar Rp 444.766.400 sehingga terjadi inefisiensi pada pupuk ZA dan butuh pengurangan biaya sebesar 58,14 persen. Biaya aktual untuk pupuk Urea sebesar Rp 1.570.530.000. Target biaya untuk pupuk Urea sebesar Rp 1.554.252.000 sehinga terjadi inefisiensi pada pupuk Urea dan butuh pengurangan biaya sebesar 1,04 persen. Biaya aktual untuk benih sebesar Rp 123.259.500.000. Target biaya untuk benih padi sebesar Rp 50.929.740.000 sehingga terjadi inefisiensi dan butuh pengurangan biaya penggunaan benih sebesar 58,68 persen di kabupaten Samosir tahun 2012. Kabupaten Samosir bukan merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kabupaten Serdang Bedagai
Adapun tabel efisiensi kabupaten Serdang Bedagai adalah sebagai berikut : Tabel 4.12
Efisiensi Kabupaten Serdang Bedagai
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 57860,6 57860,6 0 Pupuk Organik 50800 50800 0 Pupuk NPK 2583923,5 2583924 0 Pupuk ZA 1166340 1166340 0 Pupuk UREA 1847118 1847118 0 Benih 58910000 58910000 0
Outputs Produksi 180900324 1,81E+08 0
Kabupaten Serdang Bedagai memiliki luas panen sebesar 68753 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 373761 ton serta produktivitas sebesar 54,36 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh oleh kabupaten Serdang Bedagai berdasarkan perhitungan DEA menunjukkan angka 100 persen. Melalui perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam usahatani padi sawah di Serdang Bedagai pada tahun 2012, baik dalam pemakaian benih, pupuk Urea, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk organik, tenaga kerja, dan memperoleh hasil produksi yang maksimum berdasarkan faktor-faktor produksi yang digunakan. Kabupaten Serdang bedagai merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara. Sehingga untuk meningkatkan produksinya perlu meningkatkan lahan padi sawah serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
Kotamadya Pematang Siantar
Adapun tabel efisiensi Kotamadya Pematang Siantar adalah sebagai berikut : Tabel 4.13
Efisiensi Kotamadya Pematang Siantar
Variabel Aktual (0000) Target (0000) Potential Improvement Inputs TK 8688,17 8688,17 0 Pupuk Organik 12750 12750 0 Pupuk NPK 126500 126500 0 Pupuk ZA 64470 64470 0 Pupuk UREA 42744 42744 0 Benih 6162975 6162975 0 Outputs Produksi 10665908 10665908 0
Kotamadya Pematang Siantar memiliki luas panen sebesar 3896 hektar dan jumlah produksi padi sebesar 22037 ton serta produktivitas sebesar 56,56 kw/ha. Nilai efisiensi yang diperoleh oleh kabupaten Pematang Siantar berdasarkan perhitungan DEA menunjukkan angka 100 persen. Melalui perhitungan terperinci bahwa diperoleh efisiensi yang maksimum dalam usahatani padi sawah di Pematang Siantar pada tahun 2012, baik dalam pemakaian benih, pupuk Urea, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk organik, tenaga kerja, dan memperoleh hasil produksi yang maksimum berdasarkan faktor-faktor produksi yang digunakan. Kotamadya pematang Siantar bukan merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Sumatera Utara karena memiliki luas panen kecil dan jumlah produksi padinya tergolong sedikit. Sehingga dianggap perlu untuk meningkatkan lahan pertanian padi sawah demi meningkatkan produksi padi serta melakukan efisiensi input berdasarkan analisis DEA tersebut.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis efisiensi dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA) yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Dari 11 kabupaten/kota yang menjadi sampel penelitan, terdapat 5 kabupaten/kota yang memiliki usahatani padi sawah yang efisien dengan skor efisiensi 100 persen. Sehingga kelima kabupaten/kota tersebut lebih efisien dibandingkan 6 kabupaten lainnya yang memiliki skor efisiensi kurang dari 100 persen. Kabupaten/kota yang efisien tersebut adalah : Tapanuli Selatan, Simalungun, Langkat, Serdang Bedagai dan Pematang Siantar. Hal ini menandakan bahwa faktor-faktor produksi yang digunakan dalam usahatani padi tersebut telah efektif dan efisien disbanding dengan kabupaten yang memiliki skor efisiensinya kurang dari 100 persen.
2. Hasil yang dilakukan dengan analisis spesifik melalui model aplikasi Data Envelopment Analysis (DEA) menunjukkan bahwa kabupaten/kota yang tidak efisien dalam faktor-faktor produksinya dapat diperbaiki kembali agar menjadi efisien sesuai dengan target produksi yang ditentukan. Sehingga apabila pengeluaran pada pupuk Urea tidak efisien, maka jumlah pupuk yang dialokasikan terlalu banyak atau boros. Begitu juga dengan pupuk NPK,
pupuk ZA, pupuk organik, tenaga kerja maupunb benih yang digunakan dalam usahatani. Dari hasil analisis tersebut menjelaskan bahwa untuk memproduksi padi dengan jumlah yang sama, perlu mengevaluasi efisiensi faktor-faktor produksi yang digunakan. Sehingga faktor-faktor produksi tersebut bekerja secara efisien.
3. Dengan adanya inefisiensi pada pengeluaran faktor-faktor produksi seperti: tenaga kerja, benih, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk Urea dan pengeluaran pada pupuk organik di beberapa kabupaten/kota yang memiliki nilai efisiensi kurang dari 100 persen disbanding dengan kabupaten/kota yang memiliki usahatani padi sawah yang bekerja secara efisien.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan dan keterbattasan penelitian maka saran yang dapat diberikan oleh penulis agar tingkat efisiensi usahatani padi sawah di Sumatera Utara memiliki kinerja yang baik adalah seperti:
1. Melakukan pengurangan jumlah faktor-faktor produksi seperti: tenaga kerja, benih, pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk Urea dan pengeluaran pada pupuk organik di beberapa kabupaten/kota yang tidak efisien sesuai dengan persentase masing-masing jumlah yang terdapat dalam hasil analisis per kabupaten.
2. Menambahkan subsistem hilir untuk menampung tenaga kerja yang tidak efisien dibeberapa kabupaten dan sama hal nya juga dengan faktor produksi lainnya.
3. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat sebaiknya penelitian ini didahului oleh penelitian tingkat kabupaten untuk memperoleh gambaran rata-rata alokasi input/faktor-faktor produksi agar ketepatan data lebih baik.