BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.8 Skin analyzer
Skin analyzer merupakan sebuah perangkat yang dirancang untuk
mendiagnosis keadaan pada kulit. Skin analyzer mempunyai sistem terintegrasi untuk mendukung diagnosis dokter yang tidak hanya meliputi lapisan kulit teratas, melainkan juga mampu memperlihatkan sisi lebih dalam dari lapisan kulit.
Tambahan rangkaian sensor kamera yang terpasang pada skin analyzer menampilkan hasil dengan cepat dan akurat (Aramo, 2012).
Pengukuran kulit dengan menggunakan skin analyzer secara otomatis akan menampilkan hasil dalam bentuk angka yang didapatkan akan secara langsung disesuaikan dengan parameter yang telah diatur sedemikian rupa pada alat. Ketika hasil muncul dalam bentuk angka, secara bersamaan kriteria hasil pengukuran muncul dan dapat dimengerti dengan mudah oleh operator yang memeriksa ataupun pasien. Parameter hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Parameter hasil pengukuran dengan skin analyzer (Aramo, 2012)
Pengukuran Parameter
Kadar air (Moisture)
Dehidrasi Normal Hidrasi
0-29 30-50 51-100
Kecil Besar Sangat besar
0-19 20-39 40-100
Noda (Spot)
Sedikit Sedang Banyak
0-19 20-39 40-100
Keriput (Wrinkle)
Tidak berkeriput Berkeriput Berkeriput parah
0-19 20-52 53-100
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Penelitian meliputi pembuatan sediaan losion skin anti-aging, menggunakan ekstrak kulit pisang raja dengan konsentrasi 2,5% (F1), 5% (F2), dan 7,5% (F3). Evaluasi stabilitas sediaan losion (bau, warna, pH, viskositas, tipe emulsi dan homogenitas), uji iritasi dan uji aktivitas skin anti-aging. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Fitokimia, Kosmetologi dan Farmasi Fisik Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan.
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitan ini adalah skin analyer (Aramo-SG), moisture checker (Aramo-SG), alat gelas, lumpang dan alu, penangas air, pH meter (Hanna), neraca analitik (Boeco Germany), viskometer (Brookfield).
3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstrak kulit pisang raja (Musa paradisiaca L), asam stearat, setil alkohol, vaselin, minyak mineral, isopropil palmitat, gliserin, trietanolamin, nipagin, parfum, akuades.
3.3 Sukarelawan
Sukarelawan yang dijadikan panelis adalah mahasiswi Farmasi USU.
Syarat-syarat yang digunakan adalah sebagai berikut (Ditjen POM RI, 1985) : 1. Wanita berbadan sehat
2. Usia antara 20-25 tahun
3. Tidak ada riwayat penyakit yang berhubungan dengan alergi 4. Bersedia menjadi sukarelawan
3.4 Pengumpulan dan pembuatan sampel 3.4.1 Pengumpulan Sampel
Pengambilan bahan dilakukan secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Sampel yang digunakan adalah kulit pisang raja (Musa paradisiaca L.) yang sudah cukup tua dan berwarna kuning yang diperoleh dari Bandar Setia, Percut Sei Tuan.
3.4.2 Identifikasi sampel
Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen Biologi FMIPA USU.
3.4.3 Pengolahan sampel
Buah pisang raja yang telah dikumpulkan, dicuci bersih dengan air mengalir, dikupas dan diambil bagian kulitnya, kemudian kulit pisang raja dikumpulkan sebanyak 15 kg dan dipotong sepanjang + 4 cm. Kulit buah ini dikeringkan di lemari pengering pada suhu 40°C - 60°C hingga kering, jika simplisia tersebut sudah kering dapat dipatahkan, simplisia ditimbang sebagai berat kering, kemudian simplisia diserbuk menggunakan blender, disimpan dalam wadah plastik yang tertutup rapat dan terlindung dari panas dan sinar matahari. Serbuk simplisia yang diperoleh sebanyak 1,5 kg.
3.5 Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia serbuk simplisia kulit pisang raja (Musa paradisiacal L.) meliputi pemeriksaan senyawa golongan flavonoid, alkaloid, saponin, tannin, glikosida, dan steroid/triterpenoid.
3.5.1 Pemeriksaan Flavonoid
Sebanyak 10 g serbuk simplisia ditambah air panas, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Ke dalam 5 ml filtrat ditambahkan 0,1g serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 1 ml amil alcohol, dikocok dan dibiarkan memisah. Flavonoid positif jika terjadi warna merah kekuningan atau jingga pada lapisan amil alkohol (Farnsworth, 1966).
3.5.2 Pemeriksaan Alkaloid
Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5g kemudian ditambahkan 1 ml asam klorida 2N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk uji alkaloida: diambil 3 tabung reaksi, lalu ke dalamnya dimasukkan 0,5ml filtrat.
Pada masing-masing tabung reaksi : a. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer b. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat c. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff
Alkaloida positif jika terjadi endapan atau kekeruhan pada paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas (Depkes, 1995).
3.5.3 Pemeriksaan Saponin
Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 0,5g dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10cm yang stabil tidak kurang dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2N menunjukkan adanya saponin (Depkes, 1995).
3.5.4 Pemeriksaan Tanin
Serbuk simplisia ditimbang sebanyak 1g, dididihkan selama 2 menit dalam 100 ml air suling lalu didinginkan dan disaring. Pada filtrat ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) kolrida 1%.Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Farnsworth, 1966).
3.5.5 Pemeriksaan Steroid/Triterpenoid
Sebanyak 1g serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama 2 jam, lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan beberapa tetes pereaksi Liebermann-Burchard. Terbentuk warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Harborne, 1987).
3.5.6 Pembuatan Ekstrak
Pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% (Ditjen POM RI, 1979).
Sebanyak 500 gram serbuk pisang raja dimasukkan ke dalam sebuah bejana, dituangi dengan 75 bagian (3,75 liter) etanol 96%, ditutup, dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, diserkai, diperas.
Ampas diremaserasi lagi dengan 1,25 liter etanol selama 2 hari lalu dienaptuangkan. Kemudian dipekatkan dengan alat rotary evaporator pada suhu 40°C (Ditjen POM, 1979) lalu diletakkan di atas penangas air pada suhu 70-80°C sampai diperoleh ekstrak kental.
3.6 Formulasi Sediaan 3.6.1 Formulasi standar
Formula standar yang digunakan (Schmitt, 1996)
R/ Asam stearat 2,5%
Prinsip pembuatan losion adalah pencampuran beberapa bahan yang disertai pengadukan dan pemanasan yang sempurna. Bahan dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu bahan yang larut dalam minyak dan bahan yang larut dalam air.
Bahan-bahan yang termasuk fase minyak antara lain asam stearat, setil alkohol, vaselin album, paraffin cair, dan isopropil palmitat. Bahan-bahan yang termasuk fase air antara lain gliserin, triethanolamin, air suling dan nipagin.
Fase minyak dicampur sampai homogen disertai pemanasan dengan suhu 70-80°C sehingga terbentuk massa A. Fase air pun dicampur sampai homogen disertai pemanasan dengan suhu 70-80°C sehingga terbentuk massa B. Setelah homogen, kedua massa tersebut dicampur didalam lumpang yang telah dipanaskan sehingga terbentuk massa C. Ekstrak kulit pisang raja dicampur pada massa C. Kemudian ditambahkan pewangi. Setelah penambahan pewangi, pengadukan terus dilakukan sehingga terbentuk losion ekstrak kulit pisang raja.
Tabel 3.1 Perbandingan konsentrasi ekstrak kulit pisang raja dengan dasar losion
Bahan
F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
3.7 Evaluasi Sediaan
Evaluasi terhadap sediaan losion meliputi uji homogenitas sediaan, uji tipe emulsi sediaan, uji pH, uji stabilitas, pemeriksaan ukuran partikel, uji viskositas.
3.7.1 Pengamatan homogenitas sediaan
Sejumlah tertentu sediaan jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM RI, 1979).
3.7.2 Penentuan tipe emulsi sediaan
Sejumlah tertentu sediaan diletakkan diatas objek gelas, ditambahkan 1 tetes metil biru ke dalam sediaan lalu diaduk. Kemudian tutup dengan kaca penutup dan diamati. Bila metil biru tersebar merata berarti sediaan tersebut tipe emulsi m/a, tetapi bila hanya bintik-bintik biru berarti sediaan tersebut tipe emulsi a/m (Ditjen POM RI, 1985).
3.7.3 Pengukuran pH sediaan
Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi menggunakan larutan dapar standar netral (7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut.
Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tisu.
Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 gram sediaan dan dilarutkan dalam 100 ml air suling. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2002).
3.7.4 Pengamatan stabillitas sediaan
Sebanyak 50 ml dari masing-masing formula sediaan dimasukkan ke dalam pot plastik 100 ml. Selanjutnya dilakukan pengamatan berupa pecah atau
tidaknya emulsi, perubahan warna, dan perubahan bau pada saat sediaan selesai dibuat serta dalam penyimpanan selama 1, 4, 8, dan 12 minggu (Ansel, 2005).
3.7.5 Pengujian viskositas sediaan
Pengujian viskositas sediaan menggunakan viskometer Brookfield.
Caranya : sediaan dimasukkan kedalam gelas beker sampai mencapai volume 100 ml, lalu spindel 63 diturunkan hingga spindel tercelup ke dalam cairan.
Selanjutnya alat dihidupkan dengan menekan tombol ON. Kecepatan spindel diatur 12 rpm , kemudian dibaca skalanya (dial reading) dimana jarum merah yang bergerak telah stabil. Nilai viskositas (ɳ) dalam sentipoise (cps) diperoleh dari hasil perkalian skala baca (dial reading) dengan faktor koreksi (f) khusus untuk masing- masing kecepatan spindel.
3.7.6 Uji Iritasi Terhadap Sukarelawan
Percobaan ini dilakukan pada 12 orang sukarelawan. Sediaan sebanyak 500 mg dioleskan dibelakang telinga dengan diameter 3 cm, kemudian dibiarkan selama 24 jam dan lihat perubahan yang terjadi berupa kemerahan, gatal, dan pembengkakan pada kulit (Wasitaatmadja, 1997).
3.7.7 Pengujian aktivitas anti-aging
Pengujian aktivitas anti-aging menggunakan sukarelawan sebanyak 12 orang dan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
Kelompok I : 3 orang sukarelawan untuk losion F0 (blanko)
Kelompok II : 3 orang sukarelawan untuk losion F1 (konsentrasi 2,5%) Kelompok III : 3 orang sukarelawan untuk losion F2 (konsentrasi 5%) Kelompok IV : 3 orang sukarelawan untuk losion F3 (konsentrasi 7,5%)
Semua sukarelawan diukur terlebih dahulu kondisi kulit punggung tangan awal (tanpa perlakuan) dengan menggunakan perangkat skin analyzer.
Pengukuran meliputi : 1. Moisture (kadar air)
Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer. Caranya dengan tekan tombol power pada moisture checker dan tunggu hingga menunjukkan angka 00.0. Letakkan moisture checker diatas permukaan kulit yang akan diukur. Angka yang ditampilkan pada alat merupakan persentase kadar air dalam kulit.
2. Pore (Pori)
Pengukuran perbesaran pori pada kulit dilakukan dengan menggunakan perangkat skin analyzer pada lensa perbesaran 60x dan menggunakan lampu sensor biru (normal). Caranya dengan skin analyzer yang telah terpasang lensa di atas permukaan kulit yang akan diukur kemudian tekan tombol capture untuk memfoto dan secara otomatis hasil akan tampil pada layar komputer.
3. Spot (Noda)
Pengukuran banyaknya noda pada kulit dilakukan dengan menggunakan perangkat skin analyzer pada lensa perbesaran 60x dan menggunakan lampu sensor jingga (terpolarisasi). Caranya dengan skin analyzer yang telah terpasang lensa di atas permukaan kulit yang akan diukur kemudian tekan tombol capture untuk memfoto dan secara otomatis hasil akan tampil pada layar komputer.
4. Wrinkle (Keriput)
Pengukuran keriput pada kulit dilakukan dengan menggunakan perangkat skin analyzer pada lensa perbesaran 10x dan menggunakan lampu sensor
biru (normal). Caranya dengan skin analyzer yang telah terpasang lensa di atas permukaan kulit yang akan diukur kemudian tekan tombol capture untuk memfoto dan secara otomatis hasil akan tampil pada layar komputer.
3.8 Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 21. Data terlebih dahulu dianalisis distribusinya
menggunakan Shapiro-Wilk Test. Selanjutnya data dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis Test untuk mengetahui aktivitas skin anti-aging pada kulit di antara formula. Selanjutnya untuk menganalisis pengaruh formula tehadap kondisi klit selama empat minggu perawatan menggunakan Mann-Whitney Test
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan
Hasil identifikasi sampel tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen Biologi FMIPA, USU menunjukkan bahwa sampel adalah kulit buah pisang raja Musa paradisiacal L. suku Musaceae. Hasil dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 52.
4.2 Skrining Fitokimia
Hasil pemeriksaan skrining simplisia fitokimia dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan skirining simplisia dan ekstrak kulit buah pisang raja
No Identifikasi Simplisia Ekstrak
1 Flavonoid + +
2 Alkaloid - -
3 Saponin + +
4 Tanin + +
5 Steroid/Terpenoid - -
4.3 Hasil Ekstraksi
Hasil ekstraksi 500 g simplisia kulit buah pisang raja dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% diperoleh ekstrak kulit buah pisang raja sebanyak 61,7 g. Hasil ekstrak kulit buah pisang raja dapat dilihat pada Lampiran 2, Halaman 54.
4.4 Hasil Pembuatan Sediaan Losion
Sediaan losion dibuat dengan menggunakan formula standar losion (Schmitt, 1996). Formula standar ini kemudian dimodifikasi dengan pengurangan gliseril monostearat, PEG-40 stearat, carbomer 934 dan penambahan ekstak kulit pisang raja sebagai bahan aktif. Konsentrasi ekstrak kulit pisang raja yang dipakai adalah 2,5%, 5% dan 7,5%. Sediaan yang diperoleh berupa cairan kental bewarna cokelat.
4.5 Hasil Analisis Sediaan Losion
4.5.1 Hasil pengamatan homogenitas losion
Hasil pemeriksaan homogenitas terhadap sediaan losion menunjukkan bahwa semua sediaan tidak memperlihatkan adanya butir-butir kasar pada saat sediaan dioleskan pada kaca transparan. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat memiliki susunan yang homogen (Ditjen POM RI, 1979). Hasil pengujian homogenitas dapat dilihat pada Lampiran 10 halaman 62.
4.5.2 Hasil penetuan tipe emulsi sediaan
Hasil penentuan tipe emulsi sediaan losion dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan Lampiran 10. Menurut Ditjen POM RI (1985) penentuan tipe emulsi sediaan dapat ditentukan dengan pewarna biru metilen, bila biru metilen tersebar merata
berarti sediaan tipe minyak dalam air (m/a), tetapi jika warna hanya berupa bintik-bintik biru maka tipe sediaan adalah air dalam minyak (a/m). Dari hasil tipe emulsi sediaan losion pada tabel menunjukkan warna biru metil dapat larut dalam losion bahwa sediaan losion yang dibuat mempunyai tipe emulsi minyak dalam air (m/a). Tipe emulsi ini memiliki keuntungan yaitu lebih mudah menyebar di permukaan kulit, tidak lengket dan mudah dihilangkan dengan adanya pencucian.
Tabel 4.2 Data penentuan tipe emulsi sediaan losion
No. Formula Kelarutan metil biru pada losion
Ya Tidak
F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
4.5.3 Hasil pengamatan stabilitas sediaan
Evaluasi stabilitas sediaan dilakukan selama 12 minggu penyimpanan dengan interval pengamatan pada minggu ke 4, 8, dan 12. Sediaan losion disimpan pada suhu kamar dan diamati perubahan bau dan warna. Hasil pengamatan organoleptis dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil pengamatan organoleptis sediaan losion
F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
Hasil pengamatan sediaan losion menunjukkan bahwa warna dan bau sediaan losion tidak mengalami perubahan selama 12 minggu penyimpanan pada suhu kamar. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan losion yang dibuat stabil.
4.5.5 Hasil pengukuran pH sediaan
Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter (Hanna).
Dari percobaan yang diperoleh hasil pengukuran pH dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Data pengukuran pH sediaan losion No Formula
pH rata-rata selama 12 minggu penyimpanan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. F0 6,8 6,8 6,8 6,8 6,8 6,7 6,7 6,7 6,7 6,7 6,6 6,6 2. F1 6,6 6,6 6,6 6,6 6,6 6,6 6,6 6,6 6,6 6,5 6,5 6,4 3. F2 6,6 6,6 6,6 6,6 6,6 6,5 6,5 6,5 6,5 6,5 6,4 6,4 4. F3 6,5 6,5 6,5 6,5 6,5 6,5 6,4 6,4 6,4 6,4 6,3 6,2
Keterangan :
F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
Berdasarkan data pada Tabel 4.4 pengukuran pH sediaan losion pada saat selesai dibuat, diperoleh bahwa pH pada sediaan losion F0 : 6,8; losion F1 : 6,6;
losion F2 : 6,6; losion F3 : 6,5. Sedangkan setelah penyimpanan 12 minggu terjadi perubahan pH pada setiap sediaan yaitu losion F0 : 6,6; losion F1 : 6,4; losion F3:
6,4: losion F4 : 6,2. Setelah penyimpanan 12 minggu pH yang diperoleh mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan pH sediaan pada saat selesai dibuat. Semakin banyak konsentrasi ekstrak kulit pisang raja yang ditambahkan ke dalam sediaan losion maka pH semakin menurun atau semakin asam. Penurunan pH juga terjadi dengan bertambahnya waktu penyimpanan namun pH yang diperoleh berada dalam rentang persyaratan pH yang diizinkan yaitu pH 5-8 (Harry, 2000). Kestabilan pH merupakan salah satu parameter penting yang menentukan stabil atau tidaknya suatu sediaan. Derajat keasaman (pH) merupakan pengukuran aktivitas hidrogen dalam lingkungan air. Nilai pH tidak boleh terlalu asam karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit sedangkan jika pH terlalu basa dapat menyebabkan kulit bersisik.
4.5.6 Hasil pengukuran viskositas sediaan
Hasil pengukuran viskositas dapat dilihat pada Tabel 4.5. Berdasarkan hasil dapat dilihat bahwa viskositas losion yang diperoleh berkisar antara 5800 cp sampai 7466 cp. Hasil ini sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Food and Drug Administration (FDA) bahwa viskositas losion yang baik berada dibawah 30.000 cp (Katadi, dkk., 2015).
Tabel 4.5 Data pengukuran viskositas sediaan losion
F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
Viskositas merupakan parameter penting dalam produk emulsi, khususnya losion karena viskositas berkaitan dengan stabilitas emulsi. Viskositas menunjukkan kekentalan suatu bahan. Viskositas yang baik akan mempunyai nilai yang tinggi karena semakin tinggi viskositas suatu bahan maka pergerakan partikel akan cenderung makin sulit sehingga bahan akan semakin stabil (Dewi, 2014).
4.6 Hasil Uji Iritasi Terhadap Kulit Sukarelawan
Berdasarkan hasil uji iritasi yang dilakukan pada 12 sukarelawan yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan losion pada kulit belakang telinga, menunjukkan bahwa semua sukarelawan memberikan hasil negatif terhadap parameter reaksi iritasi. Parameter yang diamati yaitu adanya kulit merah, gatal-gatal, ataupun adanya pembengkakan. Dari hasil uji iritasi tersebut yang
disimpulkan bahwa sediaan losion yang dibuat aman untuk digunakan (Tranggono dan Latifah, 2007). Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil uji iritasi terhadap kulit sukarelawan
Pengamatan
F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
4.7 Hasil Pengujian Aktifitas Anti-Aging
Pengukuran efektivitas anti-aging dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat skin analyzer Aramo. Pengukuran efektivitas anti-aging dilakukan dengan mengukur kondisi kulit sukarelawan selama empat minggu yang meliputi kadar air (moisture), jumlah pori (pore), banyak noda (spot) dan jumlah kerutan (wrinkle). Hal ini bertujuan agar bisa melihat seberapa besar pengaruh losion yang mengandung ekstrak kulit pisang raja yang digunakan dalam perawatan kulit yang mengalami penuaan dini, dilihat dari persen
pemulihan. Berdasarkan uji normalitas dengan Shapiro-Wilk test, diperoleh nilai p
< 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan uji non parametrik Kruskal Wallis dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney.
4.7.1 Kadar air (moisture)
Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer Aramo. Pada Tabel 4.7
dapat dilihat bahwa perawatan yang dilakukan menunjukkan adanya efek peningkatan kadar air pada kulit sukarelawan setelah pemakaian losion yang mengandung ekstrak kulit pisang raja, yaitu kondisi kulit yang memiliki kelembapan kulit dehidrasi menjadi normal. Persentase kadar air pada kulit punggung tangan sukarelawan meningkat yaitu sebesar 14,4% (F1), 22,6% (F2), 30,9% (F3). Sedangkan persentase kadar air kulit pada blanko merupakan peningkatan paling rendah yaitu hanya naik sebesar 7,3%. Grafik peningkatan kadar air kulit pada pemakaian losion yang mengandung ekstrak kulit pisang raja selama empat minggu dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa pemakaian losion memberikan efek terhadap peningkatan kadar air kulit punggung tangan sukarelawan. Kadar air kulit meningkat setelah penggunaan losion yang mengandung ekstrak kulit pisang selama empat minggu perawatan.
Data selanjutnya dianalisis dengan Kruskal Wallis Test untuk mengetahui efektivitas formula terhadap kadar air sukarelawan dan diperoleh nilai p < 0,05 yaitu adanya perbedaan statistika yang signifikan antar formula. Data selanjutnya diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda.
Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara F0 dengan F1, F2 dan F3 (nilai p < 0,05).
Tabel 4.7 Data hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Dehidrasi 0-29; Normal 30-50; Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012) F0 : Losion tanpa ekstrak kulit pisang raja (blanko)
F1 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 2,5%
F2 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 5%
F3 : Losion dengan ekstrak kulit pisang raja konsentrasi 7,5%
Gambar 4.1 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap kadar air (moisture) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Menurut Mitsui (1997), nutrisi, aktivitas, serta lingkungan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kadar air dalam epidermis dan dermis. Kulit harus mampu menjaga kadar air untuk mempertahankan fungsinya sebagai kulit yang sehat.
Kandungan air pada kulit sehat sebesar 60% agar kulit tetap lembut, cerah, memasok sel nutrisi yang cukup sehingga kulit tetap lembut dan berfungsi dengan baik. Untuk fungsi fisiologisnya, kulit memerlukan lemak dan air. Lapisan lemak dipermukaan kulit dan bahan-bahan dalam stratum korneum yang bersifat higroskopis dapat menyerap air dan berada dalam hubungan yang fungsional disebut Natural Moisturizing Factor. Kemampuan stratum korneum untuk mengikat air sangat penting bagi fleksibilitas dan kelenturan kulit (Tranggona dan Latifah, 2007). Kemampuan kulit dalam menyerap (absorbsi) sangat dipengaruhi oleh metabolisme, kelembaban dan ketebalan kulit (Darmawan, 2013).
4.7.2 Pori (pore)
Pengukuran besar pori (Pore) dilakukan dengan menggunakan perangkat skin analyzer Aramo lensa perbesaran 60x dan mode pembacaan normal dengan
Kadar Air (Moisture) Kulit Sukarelawan
F0 (Blanko) F1 (2,5%) F2 (5%) F3 (7,5%)
dilakukan menunjukkan adanya efek penurunan besar pori pada kulit sukarelawan setelah pemakaian losion yang mengandung ekstrak kulit pisang raja. Persentase besar pori pada kulit punggung tangan sukarelawan meningkat yaitu sebesar 19,1% (F1), 30,5% (F2), 40,6% (F3). Sedangkan persentase besar pori kulit pada blanko merupakan penurunan paling rendah yaitu hanya turun sebesar 5,2%.
Grafik penurunan besar pori kulit pada pemakaian losion yang mengandung ekstrak kulit pisang raja selama empat minggu dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap besar pori (pore) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Gambar 4.2 menunjukkan bahwa pemakaian losion memberikan efek terhadap penurunan besar pori kulit punggung tangan sukarelawan. Besar pori
Gambar 4.2 menunjukkan bahwa pemakaian losion memberikan efek terhadap penurunan besar pori kulit punggung tangan sukarelawan. Besar pori