• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah skor maksimal

x 100%

Rata−rata Presentase = Jumlah Skor persen

Jumlah total persen

Teknis analisis data yang digunakan adalah penafsiran persentase. Utari (2010:48), Tafsiran persentase digunakan untuk menggambarkan kecenderungan data. Data hasil perolehan observasi, hasil tes, hasil penilian produk diidentifikasi kemudian dianalisa dengan menggunakan tafsiran persentase sebagai berikut :

Tabel 3.3. Tafsiran persentase No Persentase (%) Tafsiran 1 0 Tidak ada 2 1-25 Sebagian kecil 3 26-49 Hamper setengah 4 50 Setengahnya 5 51-75 Sebagianbesar 6 75-99 Hampir seluruhnya 7 100 Seluruhnya 3.7.2. Kualitatif

Menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2011:336) menyatakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga data sudah jenuh. Aktifitas dalam analisis data ini terdiri dari, reduksi data, kategorisasi, validasi data dan interpretasi data.

49

Yayan Nuryanah, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN OSEAN DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Data yang diperoleh peneliti dari dalam pasti akan banyak dan beragam bentuk. Agar lebih mudah dalam mengolah dan menganalisis data, maka peneliti melakukan taha reduksi data. Dalam tahap ini data-data yang didapat dari lapangan dipilih dan difokuskan sesuai dengan rumusan permasalahan. Sehingga, tujuan penelitian dapat dicapai dengan optimal.

2) Kategorisasi

Dalam tahap ini, data-data yang telah direduksi digolongkan kedalam beberapa kategori. Kategorisasi dimaksudkan agar data tidak tercampur dan pengolahan data bisa lebih optimal. Karena dengan kategorisasi ini ketercapaian setiap aspek bisa terlihat secara langsung. Dalam penelitian ini, kategori yang dibuat adalah: a) proses pembelajaran, b) aktifitas kelas

3) Validasi data

Hopkins (2011:228) memberikan beberapa validasi yang dapat dilakukan dalam penelitian tindakan kelas, yaitu member check, triangulasi, audit trail, expert opinion, dan key respondent view.

a) member check, yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi yang diperoleh selama observasi, apakah keterangan atau informasi bersifat tetap atau berubah sehingga didapatkan data yang dapat diperiksa kebenerannya.

b) Triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk dan analisis yang ada dengan membandingkan hasil dari orang lain. c) Audit trail, mengecek kebenaran hasi penelitian beserta prosedur dan

metode pengumpulan data dengan mengkonfirmasikan buku-buku temuan.

d) Expert opinion, yaitu pengecekan terakhir terhadap temuan-temuan penelitian oleh pakar yang ahli dibidangnya, yaitu dosen pembimbing.

e) Key respondent view, yaitu meminta orang yang mengetahui lebih mendalam mengenai penelitian tindakan kelas untuk memeriksa draft penelitian dan meminta pendapatnya.

50

Yayan Nuryanah, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN OSEAN DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu 4) Interpretasi data

Tahap ini bertujuan untuk memberikan makna pada data-data yang telah diperoleh sehingga bisa menjawab permasalahan penelitian. Tahap ini juga dilakukan untuk menafsirkan keseluruhan temuan yang diperoleh dalam penelitian. Proses interpretasi data terdiri dari beberapa tahapan yaitu:

a) Mendeskripsikan perencanaan pelaksanaan tindakan untuk siklus berikutnya

b) Mendeskripsikan pelaksanaan tindakan disetiap siklus c) Mendeskripsikan hasil observasi tindakan disetiap siklus d) Menganalisis hasil observasi dan temuan disetiap siklus

87

Yayan Nuryanah, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN OSEAN DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan mengoptimalisasikan bahan ajar, media pembelajaran dan metode ilmiah, peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal yaitu:

1. Peningkatan keterlaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah yaitu:

 Pada siklus I, keterlaksanaan pembelajarannya 82%

 Pada siklus II, keterlaksanaan pembelajarannya 85%

 Pada siklus III, keterlaksanaan pembelajarannya 87%.

2. Peningkatan OSEAN (Observation QueStioning Experimenting Associating CommuNicating) berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada setiap siklus terjadi peningkatan, yaitu:

 Pada siklus I, rata-rata frekuensi kemunculan masing-masing kegiatan OSEAN di siklus I adalah mengamati 47%, menanya 44%, mencari data 39%, mengasosiasi 23% dan mengkomunikasikan 38%.

 Pada siklus II, rata-rata frekuensi kemunculan masing-masing kegiatan OSEAN di siklus II adalah mengamati 75%, menanya 40%, mencari data 36%, mengasosiasi 41% dan mengkomunikasikan 42%.

 Pada siklus III, rata-rata frekuensi kemunculan masing-masing kegiatan OSEAN di siklus III adalah mengamati 86%, menanya 51%, mencari data 51%, mengasosiasi 50% dan mengkomunikasikan 50%. 3. Peningkatan OSEAN (Observation QueStioning Experimenting Associating

CommuNicating) berdasarkan lembar kerja ilmiah pada setiap siklus terjadi peningkatan, yaitu:

88

Yayan Nuryanah, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN OSEAN DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

 Pada siklus I, menghasilkan rata-rata skor 2,64 dari skor maksimal 4,00 dengan presentase siswa 46% yang skornya sudah melampaui skor standar (2,64).

 Pada siklus II, menghasilkan rata-rata skor 3,06 dengan seluruh siswa sudah mencapai standar skor.

 Pada siklus III, menghasilkan rata-rata skor 3,69 dengan seluruh siswa sudah mencapai standar skor.

4. Peningkatan pemahaman konsep setelah dilakukan pembelajaran, yaitu:

 Pada siklus I, menghasilkan nilai rata-rata 69, dengan 68% dari keseluruhan siswa yang nilainya sudah melampaui nilai KKM.

 Pada siklus II, menghasilkan nilai rata-rata 70, dengan 29% dari keseluruhan siswa yang nilainya tidak melampaui nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM).

 Pada siklus III, menghasilkan nilai rata-rata 83, dengan 100% dari keseluruhan siswa yang nilainya sudah melampaui nilai KKM.

B. Saran

1. Sebelum memberikan materi sebaiknya sekilas mengulang materi sebelumnya dan jika memungkinkan hubungkan dengan materi yang akan dibahas saat itu.

2. Susunan kalimat pertanyaan pada evaluasi tes diakhir pembelajaran harus lebih sederhana agar mudah dimengerti oleh siswa SMP.

Yayan Nuryanah, 2015

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN OSEAN DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMP

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Aktamis, Hilal. The Effect of Scientific Process Skills Education on Students’

Scientific Creativity, Science Attitudes and Academic Achievements, Turkey Journal of Science Education Department. Volume 9 ((2008), p.2 Etherington, M.B., Investigative Primary Science: A Problem-based Learning

Approach, Australian Journal of Teacher Education. 36 (2011), p. 36-57 Fiqroh, Nida. (2014). Proposal Penelitian Pendidikan Fisika pada Jurusan

Pendidikan Fisika FPMIPA UPI: tidak diterbitkan

Hidayat, Sholeh. (2013). Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: Rosda

Kemmis, S & McTaggart, R. 1998. The Action Research Planner, Third Edition. Victoria: Deakin University

Krathwohl, D. R. 2002. A Revision of Bloom’s Taxonomy: An Review. Theory Into Practice. Volume 41, Number 4. College Education. The Ohio State University.

Mugia, Suci. (2014). Proposal Penelitian Pendidikan Fisika pada Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI: tidak diterbitkan.

PERMENDIKBUD NOMOR 65. Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. 2013

PERMENDIKBUD NOMOR 68. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah. 2013

PERMENDIKBUD NOMOR 81A. Implementasi Kurikulum. 2013

PERMENDIKNAS NOMOR 16. Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.2007

SISDIKNAS NOMOR 20. Sistem Pendidikan Nasional.2003

Taksonomi Bloom-Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas,dari http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi Bloom diakses tanggal 13 September 2011

Trianto, (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media

Dokumen terkait