• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKORING SWOT

Dalam dokumen CAKUPAN PELAYANAN NIFAS (Halaman 33-41)

Tabel 5.5 Skoring SWOT

Strength Weakness Opportunity Threat

Poin Nomor Skor Poin Nomer Skor Poin Nomer Skor Poin Nomer Skor 1 5 1 3 1 5 1 3 2 5 2 5 2 5 2 3 3 4 3 4 3 5 3 3 4 4 4 5 4 4 4 5 5 5 5 4 5 3 5 4

Total 23 Total 21 Total 22 Total 18

Tabel 5.6 Hasil skor SWOTHasil :

Presentase Daya Dorong : 45

X 100% = 53,57 % 84

Presentase Daya Hambat : 39

X 100% = 46,42 % 84

34

Tabel 5.7 Matrix Internal Factor Evaluation (IFE Matrix) Faktor Internal Bobot Ratin g Skor bobot Kekuatan

1. Sumber daya manusia untuk melaksanakan program yang terdiri dari 6 orang bidan.

0,14 3 0,42

2. Adanya pelayanan spesialis Kebidanan 0,11 2 0,22 3. Kelengkapan sarana dan prasarana KIA dalam

melaksanakan program

0,09 2 0,18

4. Penggunaan teknologi tepat guna 0,09 1 0,09 5. Adanya pelayanan Persalinan dan perawatan

pasca persalinan

0,12 4 0,48

Kelemahan

1. Belum semua petugas mendapatkan pelatihan berkesinambungan terhadap pelayanan nifas.

0,07 2 0,14

2. Belum stand by nya peralatan emergensi (O2) 0,11 3 0,33 3. Kurangnya kunjungan ibu nifas yang drop out 0,09 2 0,18 4. Kurangnya pendataan bagi ibu nifas risiko tinggi

pengguna KB yang tidak melanjutkan KB

0,12 1 0,12

5. Belum maksimalnya penggunaan IUD pada ibu post partum

0,08 2 0,16

Total :

Selisih kekuatan-kelemahan = 1,39-0,93= 0,46

1 2,32

Tabel 5.8 Matrix External Factor Evaluation (EFE Matrix) Faktor Internal Bobot Ratin g Skor bobot Kesempatan

35

diberlakukannya Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang yang besar bagi Puskesmas untuk memperbaiki sistem, rencana strategik, dan rencana operasional, mengembangkan program dan kegiatan Puskesmas secara mandiri sesuai kebutuhan masyarakat dan potensi yang tersedia. 2. Sistem JKN yang diberlakukan sejak 1 Januari 2014 memberikan fasilitas bagi seluruh pesertanya untuk melakukan pelayanan ANC secara gratis, layanan persalinan, nifas, dan tatalaksana neonatus risiko tinggi.

0,14 4 0,56

3. Adanya target Indonesia sehat tahun 2015 yang mengacu pada target MDG’s yang salah satu poinya adalah menurunkan angka kematian ibu, yang salah satunya ditentukan oleh faktor pelayanan nifas sesuai standard

0,13 2 0,26

4. Tersedianya sarana pelayanan persalinan dan perawatan pasca persalinan di Puskesmas Pembina

0,1 2 0,2

5. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas

0,07 3 0,21

Ancaman

1. Masih banyak masyarakat yang kurang pengetahuan sehingga masih belum tahu tentang pelayanan nifas.

0,07 2 0,14

2. Pengetahuan Ibu yang kurang mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas dan keadaan risiko bagi bayi.

0,08 2 0,16

3. Masih banyak masyarakat yang belum aktif dalam menyukseskan progam dan belum

36

meratanya kader yang terlatih di tiap RT.

4. Kerjasama yang belum berjalan baik antara Puskesmas dan lembaga- lembaga lintas sektoral.

0,15 2 0,30

5. Alokasi dana yang masih kurang maksimal untuk menunjang petugas dalam melaksanakan program.

0,11 1 0,11

Total : Selisih kesempatan-ancaman: 1,5-0,77= 0,73 1 2,27 Tabel 5.9 Matrix SWOT

Kekuatan (S)

 Sumber daya manusia untuk melaksanakan program yang terdiri dari 6 orang bidan.

 Adanya pelayanan Sp.OG

 Kelengkapan sarana dan prasarana KIA dalam melaksanakan program  Penggunaan teknologi tepat guna  Adanya pelayanan Persalinan dan

perawatan pasca persalinan

Kelemahan (W)

Belum semua petugas mendapatkan pelatihan berkesinambungan terhadap pelayanan nifas.

Tidak tersedianya peralatan emergensi Belum stand by nya peralatan

emergensi (oksigen)

Kurangnya pendataan bagi ibu nifas risiko tinggi pengguna KB yang tidak melanjutkan KB

Belum maksimalnya penggunaan IUD pada ibu post partum

Peluang (O)

 Kebijakandesentralisasi sebagaimana diberlakukannya Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004.  Sistem JKN yang diberlakukan sejak

1 Januari 2014 memberikan fasilitas

Ancaman (T)

 Masih banyak masyarakat yang kurang pengetahuan sehingga masih belum tahu tentang pelayanan nifas.  Pengetahuan Ibu yang kurang

mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas dan keadaan risiko bagi bayi.  Masih banyak masyarakat yang

37

bagi seluruh pesertanya untuk melakukan pelayanan ANC secara gratis, layanan persalinan, nifas, dan tatalaksana neonatus risiko tinggi.  Adanya taregt Indonesia sehat tahun

2015 yang mengacu pada target MDG’s yang salah satu poinya adalah menurunkan angka kematian ibu, yang salah satunya ditentukan oleh faktor pelayanan nifas sesuai standard.

 Tersedianya sarana pelayanan persalinan dan perawatan pasca persalinan di Puskesmas Pembina.  Meningkatnya kepercayaan

masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas

belum aktif dalam menyukseskan progam dan belum meratanya kader yang terlatih di tiap RT.

 Kerjasama yang belum berjalan baik antara Puskesmas dan lembaga-lembaga lintas sektoral.

 Alokasi dana yang masih kurang maksimal untuk menunjang petugas dalam melaksanakan program.

Strategi SO

 Monitoring dan evaluasi program setiap bulan dilingkungan Puskesmas demi meningkatkan cakupan puskesmas.

 Dilakukan penyuluhan tentang pentingnya pelayanan nifas kepada seluruh ibu hamil, bersalin, dan masyarakat secara umum.

 Meningkatkan program kunjungan rumah kepada ibu/neonatus yang drop out dari pelayanan Puskesmas.

Strategi WO

 Pelatihan program pelayanan nifas dan penanganan/ rujukan neonatus risiko tinggi kepada seluruh petugas Puskesmas sehingga dapat dideteksi dan mencapai target di tahun selanjunya.

 Pengurangan beban pekerjaan yang satu orang petugas merangkap berbagai macam progam lain yang tidak berkaitan dan penambahan petugas progam supaya program dapat berjalan maksimal.

38

Strategi ST

 Peningkatan kerjasama antara institusi pemerintah dan swasta, atau institusi pemerintah dan pemerintah, memiliki potensi untuk memperluas dan memelihara kesinambungan cakupan pelayanan

 Pelengkapan alat-alat dan pelatihan kepada petugas untuk meningkatkan cakupan pelayanan.

Strategi WT

 Semua pelayanan kesehatan milik pemerintah yang mengelola program, diharapkan benar-benar menggratiskan seluruh pasien.  Penguatan jejaring di Posyandu,

poskesdes, atau kader untuk mendeteksi dan mengedukasi target-target program pelayanan.

Peluang (O)

Kuadran I (Strategi SO) 0,73

Kelemahan (W) 0,46 Kekuatan (S)

Ancaman (T)

Gambar 3. Diagram Cartesius SWOT

Berdasarkan hasil analisis tabel faktor internal dan eskternal sebelumnya didapatkan nilai S-W: 0,46 dan nilai O-T: 0,73. Kedua nilai tersebut dimasukkan dalam diagram kartesius SWOT dan didapatkan terdapat pada kuadran 1. Yang berarti sebuah organisasi yang kuat dan berpeluang, Rekomendasi strategi yang diberikan adalah Progresif, artinya organisasi dalam kondisi prima dan mantap

39

sehingga sangat dimungkinkan untuk terus melakukan ekspansi, memperbesar pertumbuhan dan meraih kemajuan secara maksimal.

Berdasarkan tabel matrik SWOT maka strategi yang diambil adalah strategi SO yaitu:

1. Monitoring dan evaluasi program setiap bulan dilingkungan Puskesmas demi meningkatkan cakupan Puskesmas

2. Dilakukan penyuluhan tentang pentingnya pelayanan nifas kepada seluruh ibu hamil, bersalin, dan masyarakat secara umum.

3. Meningkatkan program kunjungan rumah kepada ibu/neonatus yang drop out dari pelayanan Puskesmas.

BAB VI

KESIMPULAN

40

a. Penyebab cakupan pelayanan nifas lengkap masih dibawah target adalah data ibu hamil dan bersalin yang kurang akurat sehingga menyulitkan pihak Puskesmas dalam mendata ibu hamil yang akan bersalin di luar Puskesmas serta data ibu bersalin yang memerlukan pelayanan nifas. Perpindahan penduduk yang tidak terdata secara rutin juga menyulitkan Puskesmas dalam melayani neonatus risiko tinggi. Selain itu, kurangnya tenaga di Puskesmas dan SDM yang pensiun atau pindah tugas. Hal ini menyebabkan pelayanan menjadi tidak maksimal sebab terbatas oleh sumber daya yang akan melakukannya. Kegiatan yang melibatkan instansi lintas sektoral yang belum maksimal, yaitu antara Puskesmas dengan bidan-bidan praktek swasta, dokter umum, ataupun klinik-klinik setempat sehingga Puskesmas tidak memiliki data mengenai ibu nifas yang ditangani atau dirujuk setiap bulannya. Lingkungan masyarakat yang kebanyakan berstatsus ekonomi rendah mengakibatkan banyak masyarakat berpendidikan rendah sehingga tidak mengetahui mengenai pentingnya pelayanan nifas, serta masih kurangnya informasi/ penyuluhan yang diberikan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelayanan nifas oleh pihak Puskesmas.

b. Keunggulan dan keuntungan pelayanan nifas lengkap adalah pelayanan dilakukan oleh 6 orang bidan dan seorang dokter spesialis obstetri dan gineklogi, didukung oleh sarana dan prasarana yang tersedia untuk program KIA, dan teknologi tepat guna yang tersedia yaitu USG. Pelayanan nifas yang lengkap dapat membantu ibu dan tenaga kesehatan mendeteksi adanya komplikasi persalinan dan kelainan pada neonatus.

c. Kelemahan dan kekurangan dari program pelayanan nifas lengkap adalah petugas KIA tidak semuanya mendapatkan pelatihan berkesinambungan terhadap pelayanan nifas sesuai standard, peralatan emergensi yang belum siap pakai, kurangnya kunjungan rumah ibu nifas yang drop out, dan kurangnya pendataan bagi ibu nifas risiko tinggi pengguna KB yang tidak melanjutkan KB Belum maksimalnya penggunaan IUD pada ibu post partum

41

d. Kesempatan dan peluang yang didapatkan melalui program pelayanan nifas lengkap antara lain kebijakan desentralisasi sebagaimana diberlakukannya Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang yang besar bagi Puskesmas untuk memperbaiki sistem, rencana strategik, dan rencana operasional, mengembangkan program dan kegiatan Puskesmas secara mandiri sesuai kebutuhan masyarakat dan potensi yang tersedia. Sistem JKN yang diberlakukan sejak 1 Januari 2014 memberikan fasilitas bagi seluruh pesertanya untuk melakukan pelayanan ANC secara gratis, layanan persalinan, nifas, dan tatalaksana neonatus risiko tinggi, adanya target Indonesia sehat tahun 2015 yang mengacu pada target MDG’s yang salah satu poinya adalah menurunkan angka kematian ibu, yang salah satunya ditentukan oleh faktor pelayanan nifas sesuai standard, tersedianya sarana pelayanan persalinan dan perawatan pasca persalinan di Puskesmas Pembina, selain itu hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas

e. Hambatan yang dapat terjadi dalam pelaksanaan pelayanan nifas lengkap antara lain masih banyak masyarakat yang kurang pengetahuan sehingga masih belum tahu tentang pelayanan nifas, pengetahuan Ibu yang kurang mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas dan keadaan risiko bagi bayi, masih banyak masyarakat yang belum aktif dalam menyukseskan progam dan belum meratanya kader yang terlatih di tiap RT, kerjasama yang belum maksimal antara Puskesmas dan lembaga- lembaga lintas sektoral, dan lokasi dana yang masih kurang maksimal untuk menunjang petugas dalam melaksanakan program.

Dalam dokumen CAKUPAN PELAYANAN NIFAS (Halaman 33-41)

Dokumen terkait